
...'Gak baik berprasangka buruk sama orang. Baiknya, berprasangka buruk sama doi, yang suka gantungin status hubungan kalian.' ...
...----------------...
Rayla turun dari atas motor Edward, ketika Edward sudah memberhentikan motornya tepat di depan gerbang rumahnya.
"Makasih," ucap Rayla sembari berusaha membuka helm yang masih bertengger manis di puncak kepalanya.
Edward tersenyum, kemudian membantu Rayla untuk melepas helm yang Ia kenakan.
"Mau mampir dulu?" tanya Rayla, setelah Edward berhasil membuka kait helm yang Ia kenakan.
Edward melirik sekilas, ke arah pintu rumah Rayla.
"Boleh."
Rayla mengangguk, kemudian menyuruh Edward agar memarkir motornya di halaman rumah saja. Karena bisa bahaya jika di parkir di depan gerbang rumahnya. Syukur-syukur entar yang hilang cuma helmnya saja, kalau sampai motornya yang hilang kan bisa berabe.
"Siang tante," ucap Edward, ketika melihat Mama Rayla yang membukakannya pintu.
"Eh si ganteng, tumben mampir?" ucap Mama Rayla, sembari membalas uluran tangan Edward yang ingin menyaliminya. Ah, idaman sekali Edward itu, pikir Mama Rayla.
"Iya tan, di ajakin Effie tadi," jawab Edward. Sedangkan Rayla tengah menahan malu, karena Edward memanggilnya dengan nama awalnya. Sesuai dengan ucapannya beberapa pekan yang lalu.
Mama Rayla mengangguk mengerti, kemudian atensinya teralih karena melihat ada yang berbeda pada anaknya.
"Ini, tangan kamu kenapa!?" tanya Mamanya dengan heboh.
Rayla meringis, ketika Mamanya dengan tidak sadar menekan luka yang ada di tangannya.
"Ke gores ranting kayu tadi, pas jalanin hukuman," jelas Rayla.
"Kok kamu bisa di hukum?" tanya Mamanya, heran.
"Bukan cuma Ayla aja Ma, tapi satu kelas kena hukuman buat bersihin kebun belakang sekolah."
"Lah, lah, kok bisa?"
"Suruh duduk dulu kenapa Ma? Capek tau berdiri," ucap Rayla.
"Ah iya, tante sampai lupa. Ayo Ed masuk," ucap Mama Rayla sembari menggiring Edward dan juga Rayla ke arah ruang tamu.
Edward dan Rayla duduk bersebelahan di atas sofa yang ada di ruang tamu, sedangkan Mama Rayla menduduki single sofa yang tak jauh dari sofa yang mereka tempati.
"Jadi, gimana jalan ceritanya, sampai satu kelas kena hukuman?"
Rayla memutar bola matanya malas, Mamanya ini memang memiliki kadar keingintahuan yang tinggi. Sekarang Rayla jadi tahu, darimana asal muasal Ia memiliki kadar kepo yang tinggi. Ternyata oh ternyata, menurun dari Mamanya.
"Tadi temen kelas kita, gak sengaja mecahin jam dinding kesayangannya wali kelas kita, terus karena kesel, akhirnya kita sekelas di hukum buat bersihin kebun belakang sekolah sampai bersih," jelas Edward.
Mama Rayla manggut-manggut mengerti, "Terus ini? Kenapa tangan anak tante bisa luka?"
Edward menggaruk tengkuknya, "Emm itu--," ucapan Edward terhenti karena Rayla yang memotongnya.
"Udah di bilang, engga sengaja ke gores," potong Rayla tiba-tiba.
"Lagian ceroboh banget, ntar itu bekas lukanya gak bisa hilang gimana?"
"Mama jangan nakut-nakutin Ayla dong!" sungut Rayla kesal.
"Lah? Yang nakut-nakutin siapa?"
"Terserah Mama lah, Ayla mau ke kamar dulu," ucap Rayla kemudian langsung bangkit dan berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua, tanpa memperdulikan Edward.
"Maafin anak tante ya Ed, emang gitu orangnya."
"Iya, gak papa kok tan."
"Ngomong-ngomong, baju kamu kenapa? Kok ada noda darahnya?" tanya Mama Rayla, ketika dirinya tak sengaja melirik ke arah baju Edward yang terdapat noda darah di bagian dadanya.
Edward mengikuti arah pandang Mama Rayla kemudian tersenyum kikuk, "I-ini darah Rayla tan. Gak sengaja kena baju Edward tadi."
"Ganti aja bajunya, masak kamu mau pakai baju kotor kayak gitu?"
Edward tersenyum canggung, "Gak usah tan."
"Udah ganti aja ya, pakai baju nya Devan aja dulu," ucap Mama Rayla kemudian melenggang pergi.
"Nih, kamu ganti aja pakai ini, setelah itu kita makan bareng," ucap Mama Rayla sembari menyodorkan hoodie dan celana training yang dibawanya tadi.
"Makasih tan, besok atau lusa mungkin Edward kembaliin," ucap Edward sembari menerima hoodie dan celana training yang tengah di sodorkannya.
Mama Rayla tertawa, "Gak usah kamu kembaliin juga gapapa Ed. Si Devan juga gak bakal peduli."
Edward tersenyum kikuk, "Gak enak, tan."
"Santay aja, Devan orangnya baik kok. Mending kamu sekarang ganti baju dulu, di kamar tamu. Ayok tante anter."
Edward mengangguk, kemudian membuntuti langkah Mama Rayla.
"Makasih tan," ucap Edward, saat sudah sampai di depan pintu ruang tamu.
"Iya sama-sama, nanti kalau udah selesai gantinya, langsung nyusul ke meja makan ya. Kita makan bareng," ucap Mama Rayla.
"Siap tan," ucap Edward.
Setelah Mama Rayla beranjak pergi, Edward pun segera memasuki kamar tamu, kemudian langsung mengganti seragam nya yang kotor oleh darah Rayla dengan hoodie milik Devan.
Lima menit kemudian, Edward telah usai berganti pakaian. Ia pun segera menyusul ke meja makan, sesuai dengan perintah Mama Rayla.
Sampai di meja makan, Edward melihat Rayla dan juga Mamanya sudah ada di sana, menunggu ke datangannya.
"Maaf ya tan, Edward lama," ucap Edward meminta maaf.
"Gak papa, Rayla juga barusan kok datangnya," ucap Mama Rayla sembari tersenyum.
Edward mengangguk, kemudian langsung duduk di hadapan Rayla.
Mama Rayla dengan sigap, mengisi piring milik Edward dan Rayla dengan nasi beserta dengan antek-anteknya yang lain. Kemudian menyerahkannya pada dua anak manusia yang saat ini tengah memperhatikannya.
"Ayok di makan Ed, ntar kalau kurang, ambil lagi," ucap Mama Rayla sembari menyodorkan piring yang di atasnya sudah berisi nasi dan juga lauk pauk.
Edward tersenyum, merasa tidak enak, "Makasih tan."
Mama Rayla hanya mengangguk, kemudian menyantap makanannya. Mereka makan dengan khidmat hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar.
Beberapa menit kemudian, mereka telah usai menyantap makan siangnya. Saat Mama Rayla hendak mengambil piring kotor yang ada di hadapan Edward, Edward mencegahnya.
"Biar Edward aja tan, yang nyuci piringnya," tolak Edward halus.
"Gak papa, biar tante aja."
"Edward gak enak tan, jadi biar Edward aja."
"Lo, gak ada niatan buat mecahin semua piring yang ada di rumah gue kan?" tanya Rayla dengan tatapan menyelidik.
Edward memutar bola matanya malas, "Enggak lah!"
Baru saja ingin membalas ucapan Edward, suara Mamanya menginterupsi Rayla agar menghentikan protesannya.
"Kalau gitu, kamu temenin Edward," ucap Mamanya tak ingin di bantah.
"Kok Ayla sih, Ma?"
"Kan kamu, yang panik kalau Edward bakal mecahin semua piring yang ada di sini. Kalau Mama sih, percaya sama Edward. Dia itu, tipe calon mantu idaman Mama."
Edward tersenyum canggung, sedangkan Rayla mendengus mendengar ucapan ngawur Mamanya.
"Mama mending nonton TV aja, ini biar Edward sama Ayla yang beresin," ucap Rayla, mencoba meminimalisir ucapan ngawur Mamanya.
Mamanya mengangguk setuju, "Yaudah. Tapi, jangan sampai ini dapur bukannya tambah rapi, tapi tambah abstrak."
Edward dan Rayla kompak mengangguk, kemudian tak lama setelah itu. Mama Rayla pun, berlalu dari dapur menuju ruang keluarga untuk menonton TV. Sedangkan Edward saat ini tengah menatap Rayla. Sadar dirinya di tatap, Rayla pun mengalihkan pandangannya ke arah Edward.
"Kenapa?"
"Ini, nyucinya dimana?" tanya Edward.
"Di situ," ucap Rayla sembari menunjuk wastafel yang tak jauh dari meja makan.
Edward mengangguk, kemudian langsung mengangkut semua piring kotor yang ada di atas meja makan ke wastafel yang ditunjukkan oleh Rayla tadi.