
...'Semua manusia pasti berbeda-beda dalam menilai sikap seseorang. Tapi kebanyakan manusia hanya melihat dari sudut pandangnya saja tanpa mau melihat gambaran besarnya seperti apa.'...
...----------------...
Rayla mengerutkan keningnya bingung ketika merasakan seseorang yang duduk didepan mejanya, seingatnya orang yang duduk dihadapannya tadi tengah berkeliling kelas dan akan kembali jika guru sudah datang. Kesambet kali ya, makanya balik pas guru belum dateng. Pikir Rayla. Tak mau melihat apalagi melirik, Rayla pun kembali menenggelamkan kepalanya kedalam lipatan tangannya.
Edward terkekeh ketika melihat Rayla yang sama sekali tidak berniat untuk meliriknya sama sekali, Ia pun dengan sengaja menyentuh tangan Rayla yang tengah berada di atas mejanya. Rayla berdecak kesal ketika merasakan tangan seseorang yang menyentuh tangannya, Ia pun mendongak dan siap melayangkan protes kepada orang yang telah berani-berani nya mengganggu ketenangannya. Raut wajahnya berubah terkejut ketika melihat siapa orang yang telah berani mengganggunya.
"Kenapa?" tanya Edward sembari tersenyum ketika melihat wajah terkejut Rayla.
"Ngapain lo disini?" tanya Rayla sembari menetralkan raut wajahnya.
"Nyamperin lo," ucap Edward santai. Tapi tidak dengan Rayla, dua kata yang mampu membuat pipinya terasa panas.
"Ngapain?" tanya Rayla ketika Ia sadar Edward tengah menatapnya dengan intens. Ia berdoa semoga saja Edward tidak menyadari pipinya yang sedikit memerah itu.
Edward tersenyum jail, "Pipi lo kenapa?"
Sial, padahal Rayla sudah mati-matian berdoa agar Edward tidak menyadarinya.
"Gak kenapa-napa," elak Rayla.
"Yakin?" tanya Edward sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Rayla.
"Ya-yakin," jawab Rayla gugup.
"Gugup, hmm?" tanya Edward sembari tersenyum miring. Rayla menahan nafasnya, sial ni orang kenapa sih?! Rutuk Rayla dalam hati.
"Ngapain sih lo deket-deket, sana jauh-jauh!" ucap Rayla sembari mendorong kening Edward agar menjauh.
Edward terkekeh kemudian menormalkan kembali posisi duduknya.
"Satu kelompok bareng gue," ucap Edward.
"Ogah!" jawab Rayla malas.
"Gue gak nerima penolakan!"
"Gue gak nerima pemaksaan!"
"Ya udah kalau gitu gue yang nerima kebijakan."
Sontak Rayla dan Edward mengalihkan fokusnya pada orang yang baru saja ikut dalam perbincangan mereka.
"Apa?" tanya Sean sembari memasang wajah polosnya ketika Rayla dan Edward memandanginya.
"Enggak papa," jawab Rayla. Sean hanya mengangguk kemudian pergi dari hadapan Rayla dan Edward.
"Jadi?" tanya Edward.
"Jadi apa?" beo Rayla yang tidak mengerti dengan pertanyaan Edward.
"Lo tetep satu kelompok bareng gue," ucap Edward santai.
"Sebenarnya lo kenapa sih?" tanya Rayla.
"Gue?" tanya Edward yang dijawab anggukan oleh Rayla.
"Gue sehat kok, gak sakit."
Rayla menatap Edward dengan tatapan menyelidik, "Lo gak lagi kerasukan kan?"
Edward tersenyum ketika mendengar ucapan Rayla, "Gue gak lagi sakit ataupun kesurupan nona Effie."
Rayla bergidik ngeri, "Jangan panggil gue pakai nama itu."
Edward mengerutkan keningnya, "Kenapa? Itu kan nama awalan lo."
"Aneh aja, lo orang pertama yang manggil gue pakai nama awal gue," jelas Rayla.
Edward tersenyum ketika mendengar penjelasan Rayla, "Kalau gitu, mulai sekarang gue bakal manggil lo Effie."
"Kenapa? Kan gue udah bilang jangan manggil gue pakai nama itu," ucap Rayla bingung.
"Biar beda dari yang lain."
"Terserah lo lah, asal jangan manggil gue Wi-fi."
Edward tergelak ketika mendengar ucapan Rayla, Ia bahkan tidak ada pikiran untuk memplesetkan nama Effie menjadi Wi-fi.
"Di bilangin serius malah ketawa," ucap Rayla kesal.
"Ada unsur humornya, makanya gue ketawa."
Rayla memutar bola matanya malas mendengar ucapan Edward.
"Besok kerjain tugas dari bu Citra, mumpung besok hari sabtu libur," ucap Edward setelah beberapa saat hening diantara mereka.
"Ngerjainnya di apartemen gue," lanjut Edward.
"Enggak!" jawab Rayla cepat.
"Tadi katanya, atur aja sesuka lo," ucap Edward sembari menirukan nada suara Rayla ketika mengucapkan kata atur aja sesuka lo.
"Gue tarik kalimat gue yang itu," ucap Rayla.
Edward terkekeh, "Jadi ngerjainnya mau dimana?"
"Rumah gue aja," jawab Rayla.
"Ok," final Edward.
Rayla menatap Edward heran ketika Ia tidak kunjung beranjak dari kursi yang tengah Ia duduki. Edward yang sadar dengan tatapan Rayla kemudian mengangkat suara.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" tanya Edward.
"Gak papa, kenapa lo masih disini?"
"Ini kan kelas gue juga."
"Bukan itu maksud gue."
"Terus?"
"Kenapa lo masih duduk disitu, gak niat balik ke bangku lo atau ke kantin?"
"Lo sendiri ngapain masih duduk disini, enggak ke kantin?" nah kan, dibalikin kata-katanya.
"Ditanya malah balik nanya," ucap Rayla jengah.
Edward terkekeh, kemudian bangkit dari kursi yang Ia duduki.
"Gue mau ke kantin, lo mau ikut gak?" tanya Edward.
Rayla menggelengkan kepalanya, "Takut."
Edward menaikkan sebelah alisnya, "Takut kenapa?"
"Fans lo lebih banyak dari Sam," lanjut Rayla.
"Terus?" tanya Edward tidak mengerti.
"Lemot banget sih lo!" ucap Rayla kesal.
Edward mengernyit, "Emang kenapa sih?"
"Lo lupa gimana ganas-ganasnya fans lo pas nyindir gue di koridor sekolah?" desis Rayla.
Edward terkekeh, "Kan udah gue bilang, gak usah di dengerin."
"Gampang kalo ngomong doang, ngelakuinnya mah susah kali!"
"Udah, gak usah dipikirin. Yang tau diri lo yang sebenernya cuma lo doang, jadi gak usah perduli sama omongan orang yang cuma nilai lo dari luar doang."
Rayla terdiam ketika mendengar ucapan Edward. Memang benar, yang mengetahui diri kita sepenuhnya hanya kita. Orang lain hanya menilai dari apa yang kita lakukan tanpa mau mencari tau motif dibalik kita melakukan suatu tindakan.
"Kelamaan," ucap Edward kemudian langsung menarik tangan Rayla untuk bangkit kemudian menariknya ke luar kelas.
"Heh, lo mau bawa gue kemana?!" ucap Rayla memekik kaget. Pasalnya Edward langsung menariknya dan tidak memberikannya jeda untuk menyeimbangkan tubuhnya. Untung enggak jatoh!
Rifki yang dari tadi memang memperhatikan mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya, "Temen gue udah bisa deketin cewek ternyata."
"Lo nya kapan?" celetuk Rian yang entah bagaimana ceritanya sudah ada di belakangnya.
Rifki membalikkan badannya, "Calon udah ada, tapi masih mikir-mikir lagi buat pdkt nya."
"Calonnya gaib kan? Makanya lo mikir-mikir lagi buat pdkt nya," ucap Rian santai.
"Sembarangan lo kalo ngomong!" ucap Rifki sembari memukul lengan Rian.
"Kalo marah gini sih, biasanya bener."
"Coba sini cerita, lo ada masalah apa?"
"Gue gak bisa liat lo seneng," ucap Rian santai.
"Untung gue sabar punya temen kayak lo," ucap Rifki sembari mengelus dadanya.
"Sorry, gue gak punya temen modelan kayak lo," ucap Rian kemudian langsung berlalu dari hadapan Rifki.
"Kenapa temen gue gak ada yang bener sih?" gumam Rifki. Beberapa saat kemudian Ia menggidikkan bahunya acuh kemudian langsung melangkah pergi keluar kelas. Di pikirannya adalah, menemukan Edward dan juga Rayla. Lumayan dapet tontonan gratis, pikirnya.