
...'I will catch you!' ...
...----------------...
Setelah beberapa jam mereka berkeliling, akhirnya Darrel dan Jali menemukan sesuatu yang bisa Edward jadikan bukti. Dengan segera Darrel mengabari anak buahnya dan juga Edward untuk berkumpul di tempat mereka berkumpul tadi.
"Gue nemuin rekaman CCTV, pas Sam ngobrol sama Jason," ucap Darrel kemudian memutar rekaman CCTV yang sempat Ia dan Jali minta pada petugas yang ada di sana.
Semua orang merapat, untuk melihat rekaman yang tengah terputar di ponsel Darrel. Di sana nampak Sam dan juga Jason yang tengah berbincang. Dan tak lama kemudian, Sam menyerahkan sebuah kotak, yang ditengahnya berisi tang kepada Jason.
"Sepupu lo bar-bar juga ya Al," celetuk Jali setelah menonton video rekaman CCTV tersebut.
Alan menoleh ke arah Jali, "Iya. Gue juga gak nyangka dia bisa bar-bar kayak gitu."
Darrel memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket, ketika video rekaman CCTV tersebut telah selesai di putar sampai habis.
"Jadi, sekarang lo mau gimana, Ed?" tanya Darrel sembari menatap Edward, yang kini tengah mengotak-atik ponselnya.
"Gue mau nemuin barang yang ada di kotak yang di kasi Sam ke Jason. Itu bisa jadi bukti, kalau kecelakaan gue, emang murni karena unsur kesengajaan."
"Eh Al, kenapa gak lo aja yang nyari itu barang bukti?" ucap Jali.
Alan mengerutkan keningnya, "Caranya?"
"Lo pura-pura main gitu ke rumah sepupu lo nanti, nah ntar lo cari deh itu tang yang di pake nyabotase motornya si Edward. Siapa tau si Jason nyembunyiin itu barang bukti di rumahnya," jelas Jali.
Darrel bertepuk tangan, setelah mendengar ucapan Jali yang panjang lebar, "Makan apaan lo tadi? Tumben banget otaknya encer."
"Gak sengaja nyebur ke kolam lele tadi, terus gue di sengat sama kumisnya."
Teman-teman Darrel yang lain, berdecak malas ketika mendengar jawaban Jali yang mulai nyeleneh kembali.
"Al, mending lo sekarang ke rumah sepupu lo. Terus lo geledah dah itu kamar, siapa tau dia nyembunyiin barang buktinya di sana," ucap Darrel.
Alan mengangguk, "Yaudah. Kalau gitu, gue cabut duluan."
"Bentar," ucap Edward, yang membuat semua orang mengalihkan padangan ke arahnya.
"Kenapa lagi, Ed?" tanya Darrel.
Edward memandang ke arah Alan dengan serius, "Sepupu lo bisa aja bakal ikut terseret ke dalam penjara karena kasus kecelakaan gue, kalau lo sampai nemuin barang buktinya. Lo gak keberatan emangnya?"
Alan terkekeh, "Sama sekali enggak. Dia emang salah, dan dia harus nerima akibat dari perbuatannya dia. Dan untuk masalah orang tuanya, nanti biar gue yang bantu urus."
Edward tersenyum ke arah Alan, "Thanks bro."
"Kalo lo bilang makasi sekali lagi, bisa-bisa lo dapet piring cantik dari gue," canda Alan.
Edward tersenyum tipis menanggapi candaan Alan.
"Kalau gitu, gue cabut duluan ya," pamit Alan pada semua orang yang ada di sana.
"Yoi, hati-hati bro," ucap Jali dan teman temannya yang lain.
"Balik ke markas nih sekarang?" tanya Jali.
"Lo mau nginep di sini emangnya?" tanya Darrel.
"Asalkan ada orang yang ditumbalkan buat ikut sama gue nginep di sini, gue si ok, ok aja."
Darrel tak menanggapi ucapan Jali, perhatiannya teralih pada Edward yang kini tengah memakai jaketnya yang Ia lepaskan tadi.
"Gue ada urusan, kalian balik aja ke markas, nanti gue nyusul. Thanks buat hari ini," ucap Edward yang kini sudah berada di atas motornya.
"Perlu bantuan?" tanya Darrel.
Edward menggeleng, "Gue bisa sendiri."
Darrel mengangguk, "Kalau semisal ada apa-apa, jangan lupa hubungin gue."
Edward mengangguk, kemudian melajukan motornya. Tujuannya sekarang adalah, mencari pelaku yang telah menabrak Rayla.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, Edward sampai di tempat lokasi Rayla mengalami kecelakaan. Dengan segera Edward memarkirkan motornya di dekat sana.
Edward memperhatikan sekitar, kemudian perhatiannya tertuju pada CCTV yang terpasang di dekat tiang yang ada di sana. Dengan segera, Edward bergegas untuk memeriksa rekaman CCTV yang ada.
"Permisi pak, saya mau nanya. Kalau mau periksa CCTV yang di sana, saya harus kemana ya?" tanya Edward pada salah satu warga yang ada di sana.
"Mas bisa langsung ke post satpam yang ada di sini," jawab warga tersebut.
"Terimakasih pak, kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Edward yang hanya di angguki oleh warga tersebut.
Edward pun melangkah menuju ke post satpam yang di maksud oleh warga tadi. Setelah sampai, Edward langsung mengutarakan maksudnya kepada petugas yang ada di sana, untuk mengecek rekaman CCTV tepat di hari dimana Rayla mengalami kecelakaan.
Setelah mendengar penjelasan Edward, satpam yang bertugas di sana pun menyetujui untuk memeriksa rekaman CCTV pada hari yang disebutkan oleh Edward.
Setelah rekaman CCTV mulai terputar, Edward dengan seksama memperhatikan setiap gerak-gerik yang muncul pada remakan CCTV tersebut.
"Stop pak!" ucap Edward ketika melihat sosok Bela yang tengah berbincang pada seorang laki-laki paruh baya. Edward meneliti wajah laki-laki paruh baya yang ada bersama Bela, hingga Ia teringat dengan sopir yang dulu selalu mengantar Bela ke sekolah.
"Lanjut pak," ucap Edward.
Video itu pun berlanjut, adegan berikutnya menampilkan Bela yang memberikan sebuah kunci mobil kepada sopirnya. Sopir tersebut terlihat ragu ketika menerima kunci yang Bela sodorkan. Bela yang terlihat tidak sabar tersebut, langsung memberikan kunci tersebut dengan kasar kepada sopirnya.
Akhirnya dengan pasrah sopir tersebut menerima kunci mobil yang Bela berikan. Tak lama kemudian, sopir tersebut masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan Bela yang tengah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Edward menghela nafas ketika video rekaman CCTV tersebut berhenti.
"Pak boleh saya minta salinan videonya?" pinta Edward pada petugas satpam disana.
"Oh boleh mas," jawab satpam tersebut.
"Tolong salin ke ponsel dan flashdisk ini ya pak," ucap Edward sembari menyerahkan sebuah ponsel dan flashdik pada satpam tersebut.
"Oke, di tunggu sebentar ya mas."
Edward mengangguk, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana sembari menunggu petugas tersebut memindahkan rekaman CCTV ke dalam ponsel dan juga flashdik nya.
Beberapa menit kemudian, petugas tersebut menghampiri Edward, dan menyerahkan ponsel beserta flashdisk miliknya.
"Salinannya udah saya simpen di ponsel sama flashdisk nya, ya mas," ucap petugas satpam tersebut.
Edward mengambil ponsel dan juga flashdisk nya, "Makasih ya pak."
"Iya, sama-sama mas. Ada yang bisa saya bantu lagi?"
Edward menggeleng, "Enggak ada pak. Sekali lagi terimakasih, saya permisi dulu."
"Iya, hati-hati mas."
Edward mengangguk, kemudian berlalu pergi dari post satpam tersebut. Edward memejamkan matanya, "Sebentar lagi. Sebentar lagi, semuanya akan terungkap Ay," ucap Edward dalam hati.