Please Feel My Love

Please Feel My Love
Fall Off



...'Sekarang aku hanya bisa menanggung segalanya sendiri. Kamu, yang dulu menjadi sandaran ku telah pergi.'...


...----------------...


Edward duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU. Ini sudah pukul tiga pagi, tetapi Ia masih terjaga. Ayahnya baru siuman satu jam yang lalu, dan Edward yang tengah berada di luar pun langsung bergegas menuju Rumah Sakit ketika mendengar kabar tersebut.


Edward memijit pangkal hidungnya, Ia harus bisa menemukan pendonor dengan segera demi kesembuhan Ayahnya. Tadi, Ia bertemu dengan dokter Kendrick. Dan sampai sekarang belum ada pendonor yang bersedia. Padahal Edward telah meminta dokter Kendrick mencarikan pendonor untuk Ayahnya dari satu tahun lalu, untuk berjaga-jaga seperti saat ini. Tetapi sampai sekarang, pendonor yang Edward cari-cari, belum juga ketemu.


Edward bangkit kemudian melihat kondisi Ayahnya melalui kaca kecil yang ada di pintu masuk ruang ICU. Tak banyak yang bisa Edward lakukan selain berdoa untuk kesembuhan Ayahnya. Bahkan untuk menjenguk pun, Edward harus menunggu sampai hari esok tiba. Menghela nafas, Edward kembali duduk di kursi ruang tunggu, kemudian berusaha terlelap di sana. Ia masih harus ke sekolah besok, Ujian Nasional sudah dekat. Sebagai siswa kelas XII, kehadiran dalam mengikuti pelajaran sangat penting agar tidak tertinggal materi.


Edward terbangun ketika waktu telah menunjukkan pukul lima pagi. Itu artinya Ia hanya terlelap selama dua jam. Edward meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, karena Ia terlelap dengan posisi duduk bersandar di kursi tunggu Rumah Sakit.


Merasa matanya masih mengantuk, Edward pun pergi ke kantin yang ada di rumah sakit dan memesan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, Edward beranjak menuju parkiran guna kembali ke apartemennya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, Edward sampai di apartemennya. Ia segera bergegas menyiapkan tas sekolah, kemudian pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


Edward mengenakan pakaian sekolahnya dengan asal-asalan. Kancing baju yang tak terkancing semua, dasi yang tak tersimpul sempurna, dan rambut yang terlihat agak berantakan. Edward datang ke sekolah dengan penampilan seperti itu, yang sontak menarik perhatian para warga sekolah yang melihat atau berpapasan dengannya di sekolah. Tak jarang penampilan Edward yang seperti itu, mengundang tanda tanya besar di kepala orang-orang yang mengenalnya. Pasalnya Edward sangat memperhatikan penampilan, jadi Edward yang sekarang mereka lihat, tidak seperti Edward yang sebelum-sebelumnya mereka kenal, dimana sangat peduli terhadap penampilannya.


Edward tak menghiraukan pandangan-pandangan aneh yang di layangkan oleh teman-teman yang mengenalnya. Ia sedang tidak ingin di ganggu.


Dengan langkah gontai, Edward melangkah menuju ruang kelasnya. Saat ingin memasuki ruang kelas, Edward tak sengaja berpapasan dengan Rayla. Baik Rayla maupun Edward sama-sama diam, dan memperhatikan satu sama lain.


Rayla memperhatikan penampilan Edward yang urakan, tidak seperti Edward yang Ia kenal. Rayla beralih menatap rambut Edward yang sedikit berantakan, yang sialnya membuat kadar ketampanan Edward bertambah. Dengan segera Rayla menepis pemikirannya itu. Kemudian, Rayla beralih menatap wajah Edward yang nampak lesu dan tidak bertenaga. Dahi Rayla mengernyit, ada apa dengan Edward?


Tetapi alih-alih bertanya. Rayla malah langsung melenggang pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Edward yang melihat itu pun tersenyum sendu. Bukankah hal ini yang Ia inginkan? Rayla menjauh dari kehidupannya.


Dengan segera Edward masuk ke dalam kelas, ketika menyadari Ia telah cukup lama berdiri di depan pintu kelas. Rifki mendongak ketika Edward melewati meja miliknya. Kening Rifki sontak berkerut ketika melihat Edward yang tampak seperti gelandangan. Dengan segera, Rifki memutar tubuhnya menghadap Edward.


"Kenapa lo? Perasaan, kemarin pas gue pamit pulang dari apartemen lo, lo masih baik-baik aja," tanya Rifki sembari memperhatikan Edward yang kini tengah menyimpan tas miliknya.


"Bokap gue masuk Rumah Sakit," jawab Edward sembari memijit pangkal hidungnya, guna meringankan rasa pening yang mendera kepalanya.


Mata Rifki membola, "Kok bisa?!"


"Serangan jantung."


Rifki menepuk pundak Edward yang kini tengah menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya.


"Yang sabar bro, gue yakin om Heru pasti sembuh," hibur Rifki.


"Bokap gue perlu donor jantung segera," lirih Edward.


Rifki yang mendengarnya menjadi tidak tega, "Iya. Nanti gue bantu cari."


Setelah usai menelisik para murid-murid yang akan mengikuti pelajarannya, bu Citra pun langsung menerangkan materi dan memberikan soal latihan setelahnya. Edward menatap soal latihan yang ada di papan tulis, cukup mudah, tetapi Edward sedang tidak ada niat untuk mengerjakannya. Alhasil, Ia lebih memilih untuk menenggelamkan kembali kepalanya ke dalam lipatan tangan.


Edward tersentak ketika bu Citra meneriakkan namanya.


"Edward, apa ini jam untuk tidur?" tanya bu Citra sembari menatap Edward. Teman-temannya yang lain pun, sontak mengalihkan pandangan mereka dari buku tulis ke arah Edward, termasuk Rayla. Ia memperhatikan Edward yang memang sepertinya tengah menghadapi masalah.


Edward menunduk meminta maaf, "Maaf bu."


Bu Citra menghela nafas, "Kamu sedang ada sakit? Tidak biasanya kamu lesu seperti ini."


Edward menggeleng pelan, "Tidak."


"Kalau begitu, coba kamu kerjakan soal yang ada di papan tulis," titah bu Citra.


Edward perlahan bangkit menuju papan tulis, dan mengambil spidol yang bu Citra sodorkan. Dengan cepat, Edward mengerjakan soal yang ada. Tiga menit kemudian, Edward pun usai menjawab soal. Ia menyodorkan kembali spidol yang Ia pakai kepada bu Citra.


Bu Citra pun memeriksa apakah jawaban Edward benar atau tidak. Setelah memastikan, bu Citra tersenyum puas.


"Kamu boleh kembali ke tempat," ucap bu Citra.


Dengan segera Edward beranjak menuju mejanya. Sedikit melirik ke arah Rayla, yang kini tengah fokus mencatat sesuatu di bukunya. Edward yakin, Rayla tengah mencatat jawaban yang Edward tulis di papan tulis.


Pelajaran pun berlanjut hingga jam istirahat berbunyi. Bu Citra pun, mengakhiri sesi belajarnya hari ini.


"Karena jam istirahat telah tiba, pelajaran hari ini, Ibu cukupkan sampai di sini. Selamat beristirahat," ucap bu Citra, kemudian mengemasi buku-buku miliknya dan melenggang pergi dari ruang kelas menuju ruang guru.


Rifki memutar tubuhnya, "Mau ke kantin gak?"


Edward menggelengkan kepalanya, "Lo aja."


"Lo udah makan?"


Lagi-lagi Edward menggeleng sebagai jawaban, "Gue minum kopi aja tadi pagi."


Rifki menghela nafas, "Lo harus makan, siapa yang bakal ngurus bokap lo kalau lo sakit? Saudara sama Ibu tiri lo, emang bisa di andelin?" tanya Rifki memelankan ucapannya yang terakhir.


Edward menegakkan tubuhnya, "Jangan bahas mereka kalau lagi di lingkungan sekolah!" ucap Edward penuh penekanan.


"Sorry. Sekarang, lo harus ikut gue ke kantin," ucap Rifki sembari menarik tangan Edward agar mengikutinya.


Edward pasrah, kemudian mengikuti langkah Rifki yang saat ini tengah menariknya menuju kantin. Benar kata Rifki, kalau dia sakit, siapa yang akan mengurus Ayahnya? Sam dan juga Marina tidak bisa di harapkan. Bahkan mereka sama sekali tidak ada di rumah sakit saat Edward menerima kabar, bahwa Ayahnya telah sadar. Kesembuhan Ayahnya, ada pada usaha Edward untuk menemukan pendonor dengan segera.