Please Feel My Love

Please Feel My Love
End



...'Thank you for everything. You will always have a special place in my heart.'...


...----------------...


Tak terasa hari-hari begitu cepat berlalu. Sebulan sudah Edward berusaha mencari Rayla, sembari mempersiapkan dirinya untuk memasuki bangku kuliah. Tetapi pencariannya sama sekali tidak membuahkan hasil, Rayla menghilang bak ditelan bumi.


Dan hari ini, Edward akan berangkat menuju Amerika untuk melanjutkan pendidikannya di kampus yang sudah menjadi impiannya sejak dulu, yaitu Massachusetts Institute of Technology atau yang lebih dikenal dengan Kampus MIT. Edward berhasil masuk dengan beasiswa Undergraduate Financial Aid.


Rifki masih saja anteng duduk diatas kasur milik Edward, sembari memperhatikan sang empu kamar yang tengah bersiap untuk terbang ke Amerika pagi ini. Bahkan Rifki sampai menginap di rumah Edward, sehari sebelum jadwal keberangkatan Edward.


"Lo serius mau kuliah di luar?" tanya Rifki, yang masih setia mengawasi setiap gerak-gerik Edward.


"Iya," jawab Edward singkat.


Rifki memasang muka memelas, "Kenapa lo gak lanjut kuliah disini aja sih? Bareng gue."


Edward menghentikan aktivitas mengecek kopernya, kemudian menengok ke arah Rifki.


"Belajar mandiri dari sekarang, biar lo gak ketergantungan."


Rifki mendengus, "Gue khawatir bukan karena gue yang bakalan pisah sama lo."


"Terus?" tanya Edward, sembari melanjutkan aktivitasnya yang tertunda karena menengok ke arah Rifki tadi.


"Gue khawatir sama lo."


Edward sekarang benar-benar menghentikan aktivitasnya, kemudian mengalihkan semua atensinya kepada Rifki.


"Khawatir sama gue?" tanya Edward, sembari menunjuk dirinya sendiri.


Rifki mengangguk.


Edward mengerutkan alisnya bingung, "Khawatir kenapa?"


"Gue takut disana lo gak ada temen," ucap Rifki dramatis, dan berhasil membuatnya mendapatkan lemparan kunci dari Edward. Dengan sigap Rifki menangkapnya sebelum kunci tersebut mengenai wajahnya.


"Lempar kunci sembarangan, gak bisa buka gemboknya, tau rasa lo," sungut Rifki.


Edward menghampiri Rifki, kemudian merebut kembali kunci yang baru saja Ia lemparkan.


"Makanya gue lempar ke lo, bukan ke samudra."


Rifki menatap Edward kesal, "Mau pergi, bukannya baik-baikin gue, malah buat kesal lo."


Edward menggidikkan bahunya acuh, "Gak penting juga."


Rifki menghembuskan nafasnya, "Tapi serius Ed, gue khawatir lo gak dapet temen di sana."


Edward memutar bola matanya malas, "Lo kira, gue gak bisa kenalan sama bule di sana? Bahasa Inggris gue gak jelek-jelek amat, Rif."


"Bukan masalah Bahasa Inggris lo bagus atau enggak. Buktinya, Bahasa Indonesia lo selalu dapet nilai bagus, tapi lo cuma punya temen yang bisa di hitung jari."


"Temen gue banyak, tapi lo gak tahu aja," alibi Edward.


"Temennya ghoib pasti," balas Rifki, sembari memasang muka menyebalkan miliknya.


Sedangkan Edward, lebih memilih tidak menanggapi ucapan Rifki.


"Oh iya. Flight lo jam berapa?" tanya Rifki sembari melirik jam dinding yang ada di kamar Edward.


"Jam tujuh kurang dua puluh lima menit," jawab Edward.


"Enam tiga lima maksud lo?" tanya Rifki memastikan.


Edward mengangguk, sebagai balasannya.


"Berangkat sekarang?" tanya Rifki, setelah mengecek kembali jarum jam yang telah menunjukkan pukul empat lewat lima menit.


"Yup," jawab Edward.


"Oke," ucap Rifki, sembari bangkit dari duduknya, kemudian melenggang pergi dari kamar Edward. Tetapi belum sempat Rifki melewati pintu kamar Edward, Edward telah lebih dahulu menarik kerah leher Rifki di bagian belakang.


"Iya-iya! Tapi lepas dulu, astaga!" ucap Rifki sembari menepuk lengan Edward.


Edward pun melepaskan tangannya dari kerah baju Rifki.


"Woy lah, kira-kira dong lo! Ini kalo gue laporin, lo bisa batal terbang ke Amerika karena kasus pembunuhan berencana seorang Rifki Myron Deswara!"


"Sorry, gak sengaja," ucap Edward kalem.


"Udah siap berangkat?" tanya Ayah Edward yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


"Tinggal bawa ke bawah aja kok, Yah," jawab Edward.


Ayah Edward mengangguk, "Ayah panggil sopir buat bantuin."


"Ide bagus, Om," ucap Rifki.


Ayah Edward pun berlalu untuk memanggil sopir yang akan mengantar mereka ke bandara hari ini.


"Gak ada yang ketinggalan lagi, Ed?" tanya Ayah Edward, ketika semua koper Edward sudah berada di bagasi mobil.


"Enggak, Yah," jawab Edward sembari meneliti koper yang ada di dalam bagasi.


"Kalau gitu, kita berangkat sekarang."


Mereka berempat pun, termasuk sopir yang akan mengantar mereka, masuk ke dalam mobil. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya mereka pun sampai di Bandara Internasional Soekarno Hatta.


"Jaga diri baik-baik ya, jagoannya Ayah," ucap Ayah Edward, sembari memeluk putranya.


Edward pun membalas pelukan Ayahnya, "Iya. Ayah juga, jaga kesehatan, kalau ada apa-apa telepon Rifki, atau bilang sama bibik di rumah."


"Pasti," balas Ayahnya sembari tersenyum, kemudian melepaskan pelukannya.


Kini, Edward beralih pada Rifki.


"Jangan lupain gue, mentang-mentang lo nanti udah punya temen baru disana," ucap Rifki sembari memeluk Edward.


Edward membalas pelukan Rifki, sembari tertawa, "Oke. Tolong jagain Ayah gue ya, Rif."


Rifki mengangguk sembari mengurai pelukannya dengan Edward, "Pasti."


"Edward berangkat dulu ya, jaga diri kalian baik-baik," ucap Edward sembari mengambil luggage cart yang berisi koper-koper miliknya.


"Take care yourself, dan jangan lupa kabarin Ayah kalau udah sampai."


"Pasti," jawab Edward sembari tersenyum.


"Gue berangkat dulu, Rif," ucap Edward sembari menepuk pundak Rifki.


Rifki mengangguk, "Jangan lupa, oleh-oleh bule Amerika satu."


Edward terkekeh, "Kalau dia mau sama lo, ya."


Rifki hanya tersenyum, sejujurnya Ia tidak rela jika Edward harus pergi. Mereka telah bersama dalam kurun waktu yang bisa dibilang tidak sebentar. Dan ini, merupakan kali pertama mereka akan berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama.


"Makasi pak, udah nganter Edward. Edward berangkat dulu ya," ucap Edward kepada sopir yang telah mengantarnya ke bandara.


"Sama-sama den. Hati-hati di jalan ya."


Edward mengangguk, "Edward berangkat, see you soon," ucap Edward sembari melambaikan tangannya.


Ayah Edward, Rifki, dan sopirnya membalas lambaian tangan Edward. Ketika punggung Edward sudah tidak terlihat oleh pandangan mereka, mereka pun berbalik dan bersiap untuk kembali pulang ke rumah.


Edward menatap pemandangan yang terpampang dari kaca jendela pesawat, dengan pikiran yang menerawang jauh. Satu jam yang lalu, pesawat yang Ia tumpangi telah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, menuju Bandara Internasional Narita, Jepang. Edward akan transit di sana, kemudian dari Bandra Internasional Narita Jepang, Ia akan terbang kembali menuju Bandara Internasional Logan di Massachusetts, Amerika Serikat.


Edward menghela nafasya, ketika bayangan sosok Rayla kembali terlintas di pikirannya. Edward merogoh saku jaketnya, kemudian mengeluarkan sapu tangan milik Rayla yang kini selalu di bawanya. Pikiran Edward kembali berandai-andai. Andai saja Ia tahu kebenarannya terlebih dahulu, maka perasaan bersalah yang Edward rasakan tidak akan sedalam ini. Dan mungkin saja Rayla masih bersamanya kini.


Edward mengelus perlahan sapu tangan milik Rayla, "We started with a simple hello, but ended with a complicated goodbye," lirih Edward.


...End...