
...'Eits, turun dikit. Egonya ketinggian.'...
...----------------...
Edward memarkirkan motornya di basement apartemennya. Ia turun dari atas motor, dan di ikuti oleh Rayla. Setelah memastikan motornya terparkir dengan aman. Edward pun menarik Rayla agar mengikutinya masuk ke dalam lift, dan menaikinya untuk bisa sampai di unit apartemennya.
"Lo tinggal sendiri di sini?" tanya Rayla, ketika dirinya memasuki unit apartemen Edward.
Edward menoleh ke arah Rayla, kemudian menjawab, "Iya."
Rayla manggut-manggut, kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu milik Edward.
"Lo mau minum apa?" tanya Edward.
Rayla nampak berpikir, "Apa aja deh. Yang penting dingin."
"Jus jambu, mau?" tawar Edward.
"Mau!" jawab Rayla dengan bersemangat.
Edward melirik sejenak ke arah Rayla, "Yaudah. Tunggu bentar."
Rayla hanya menganggukkan kepalanya mendengar perintah Edward. Tak lama kemudian, Edward muncul dari arah dapur apartemennya. Dengan membawa nampan yang berisi segelas jus jambu, dan beberapa makanan ringan.
"Nih, minum," ucap Edward, sembari meletakkan nampan yang berisi jus jambu dan makanan ringan.
"Makasih," ucap Rayla, sembari mengambil gelas yang berisi jus jambu yang nampak sangat menggoda iman.
Edward mengangguk, "Lo tunggu disini, gue mau ganti baju dulu."
"Ok, jangan lama-lama!" peringat Rayla.
Edward tak menanggapi ucapan Rayla, dengan segera Ia memasuki kamarnya dan berganti pakaian di sana. Sedangkan Rayla, masih duduk manis di atas sofa ruang tamu milik Edward, sembari menikmati makanan dan minuman yang Edward suguhkan.
Sepuluh menit kemudian, Edward telah usai berganti pakaian, lengkap dengan tas nya, yang sudah bertengger manis di punggungnya. Ia pun menghampiri Rayla yang tengah meminum jus jambu yang Ia bawakan tadi.
"Udah selesai?" tanya Rayla, ketika dirinya baru menyadari keberadaan Edward di dekatnya.
Edward menganggukkan kepalanya, "Berangkat sekarang?" tanya Edward.
"Iya."
"Langsung ke rumah lo atau mau mampir kemana?"
Rayla nampak ragu untuk mengutarakan maksudnya. Sebenarnya Ia saat ini tengah kelaparan, terbukti dengan nampan yang Edward bawa tadi. Isinya sudah ludes, dan berpindah masuk ke dalam perutnya. Dan hanya tinggal menyisakan, satu bungkus chiki saja di atasnya.
Rayla menggigit bibir bawahnya, matanya melirik beberapa kali ke arah chiki yang masih ada di atas nampan. Edward yang menyadari hal itupun terkekeh geli.
"Ambil aja, masih ada banyak stok di dapur gue," ujar Edward, mempersilahkan Rayla untuk mengakuisisi chiki nya
Rayla nampak menunduk malu, "Gak usah."
"Serius?" tanya Edward, sembari menahan tawanya karena melihat raut wajah Rayla.
Rayla semakin menundukkan kepalanya, tak berani menatap Edward. Edward tersenyum, kemudian mengambil ponselnya yang Ia taruh di saku celananya, dan mengotak-antik nya. Setelah selesai, Ia pun menaruh ponselnya kembali, ke dalam saku celananya.
"Berangkatnya bentar lagi," ucap Edward, kemudian mengambil tempat untuk duduk tepat disebelah Rayla.
"Kenapa?" tanya Rayla, yang kini mendongak, menatap bingung ke arah Edward.
"Tunggu bentar lagi," ucap Edward, tak ingin dibantah.
Rayla pun mengangguk patuh, padahal di dalam hatinya, Ia ingin segera sampai di rumahnya dan memakan segala makanan yang tersedia di dapurnya nanti. Tapi nampaknya, segala ekspetasinya harus buyar. Karena Edward, yang saat ini masih duduk santai di sebelahnya. Dan tidak ada niatan, untuk segera mengantarnya pulang.
"Siapa?" tanya Rayla, kepada Edward.
"Manusia," jawab Edward asal.
Rayla mendengus, ya iyalah manusia. Yakali setan. Kalau setan mah gak perlu mencet bel, langsung nyolong masuk, juga bisa! Gerutu Rayla dalam hati.
Tak lama kemudian, Edward datang dengan kantong kresek yang ada di tangannya.
"Ikut gue," ucap Edward, kemudian langsung pergi mendahului Rayla sebelum Rayla sempat menjawab.
Mau tak mau, akhirnya Rayla menuruti perintah Edward. Ia pun mengekori Edward ke arah dapur. Rayla mengerutkan keningnya bingung, ketika Edward mengambil dua buah piring.
"Lo mau ngapain?" tanya Rayla.
"Nanam padi."
Rayla merenggut mendengar jawaban Edward. Sedangkan Edward, menahan senyumnya melihat wajah kesal milik Rayla.
"Duduk, terus makan," ucap Edward, sembari menyodorkan piring yang berisi satu bungkus nasi goreng seafood.
Rayla nampak berbinar melihat makanan yang ada dihadapannya. Ia berganti melihat Edward. Sadar ditatap oleh Rayla, Edward pun bertanya.
"Kenapa?"
"Ini, buat gue?" tanya Rayla, sembari menunjuk sepiring nasi goreng seafood yang ada dihadapannya.
"Iya. Buruan makan, gue gak mau dituduh atas kasus dugaan tak berperiketemanan, karena ngebiarin temennya kelaparan."
Rayla tergelak mendengar ucapan Edward, ternyata Edward orangnya pekaan, ucap Rayla dalam hati
"Makasih, atas makanannya."
"Sama-sama. Buruan makan, keburu dingin, ntar gak enak."
Rayla mengangguk, kemudian langsung duduk di salah satu kursi meja makan yang tersedia di dapur Edward. Rayla memakan makanannya dengan lahap, membuat Edward tersenyum tipis melihatnya.
Sepuluh menit kemudian, Edward lebih dulu selesai memakan makanannya. Ia pun beranjak untuk mencuci gelas, sendok dan piring yang Ia gunakan. Setelah selesai, Edward lebih memilih meninggalkan Rayla di dapurnya. Sedangkan Ia, beranjak menuju ruang tamu dan merapikan meja yang ada di sana.
Edward membawa nampan yang tadi ada di meja ruang tamu, Ia melihat Rayla yang tengah membilas tangannya. Edward menghampiri Rayla, kemudian berdiri tepat di belakangnya, sembari memperhatikannya. Rayla yang tak menyadari keberadaan Edward pun, terlonjak kaget ketika membalikkan tubuhnya.
"Ngagetin aja lo!" ucap Rayla, sembari mengelus dadanya.
Edward hanya terkekeh, "Sana siap-siap. Kita berangkat sekarang."
"Terus, lo?" tanya Rayla, yang melihat Edward masih mencuci gelas yang tadi Ia gunakan saat meminum jus jambu.
"Lo tunggu aja di ruang tamu, habis ini, gue nyusul ke sana," ucap Edward tanpa mengalihkan perhatiannya dari gelas yang saat ini tengah ada di tangannya.
Rayla mengangguk, kemudian berlalu menuju ruang tamu Edward. Beberapa saat kemudian, Edward datang. Sudah lengkap dengan jaket denim yang membalut tubuhnya.
"Ayo, berangkat," ucap Edward, sembari berjalan ke arah pintu unit apartemennya. Rayla mengekori langkah Edward.
Setelah memastikan pintu unit apartemennya terkunci dengan rapat, Edward dan Rayla beranjak menuju lift. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Tak lama kemudian, lift pun berhenti. Edward dan Rayla segera melangkah keluar dari sana.
Edward menarik Rayla, ketika gadis itu ingin menghampiri tempat dimana motornya terparkir.
"Kenapa?" tanya Rayla dengan kening yang mengkerut bingung.
"Kita naik mobil, mendung. Takut hujan," jelas Edward.
Rayla hanya ber oh ria, kemudian masuk ke dalam mobil Edward ketika lelaki itu telah membuka kuncinya. Setelah memastikan Rayla mengenakan safebelt dengan benar, Edward pun mulai menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya keluar dari basement apartemennya.