
..."Tuhan telah memberikan kita kesempatan untuk dapat menikmati indahnya dunia. Tetapi sebagai gantinya, ada tugas yang harus kita emban yaitu mencari tahu mengapa kita di lahir kan kembali ke dunia."...
...----------------...
Edward menarik lengan Rifki dengan kasar ketika melihat sahabatnya itu akan menjalankan misinya yang sempat tertunda tadi, umpatan yang di layangkan Rifki kepadanya tidak Ia pedulikan sama sekali.
"Apa-apaan sih lo Ed, gue tuh mau jalanin misi gue!" ucap Rifki kesal.
"Batalin misi lo," jawab Edward ketus.
"Gak bisa kayak gitu dong! Uang jajan gue di zona merah kalo gue gak jalanin misi gue!"
"Apa perjanjian lo sama Rian?" tanya Edward.
"Ngapain lo nanya-nanya?"
"Gak usah banyak tanya!"
"Calm down, gak usah ngegas!"
"Lo nya yang ngeselin!"
"Gini nih kalo ngomong suka ga ngaca dulu!"
"Buruan kasi tau!"
"Iya-iya, sabar elah."
Edward tak menanggapi ucapan Rifki, Ia fokus untuk mendengarkan apa isi perjanjian unfaedah antara Rian dan Rifki.
"Jadi gini, kalo gue berhasil dapet nomor handphonenya Rayla gue bakal di traktir sama Rian besok. Sedangkan kalo gue gak berhasil, gue yang harus traktir Rian besok!"
Edward menatap datar Rifki, bisa-bisanya membuat perjanjian seperti itu.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu? Gue ganteng yak?"
Selain suka menghalu Rifki juga memiliki kadar ke pede-an yang amat tinggi, jadi harap di maklumi ya pemirsa.
"Batalin, sebagai gantinya gue yang bakal traktir Rian besok." jawab Edward.
Rifki yang mendengarnya hampir saja tersedak ludahnya sendiri.
"Lo gak salah makan kan Ed?"
"Tadi kan gue gak jadi makan,"
"Bukan yang tadi maksud gue saleh, tapi yang kemaren!" jawab Rifki geregetan.
"Mana gue tau, lo gak jelas ngomongnya." jawab Edward santai.
"Ed, lo serius mau traktir Rian besok?" tanya Rifki ingin memastikan apa yang Ia dengar tadi.
"Hmm," jawab Edward.
"Hmm apaan dah, iya apa enggak!"
"Iya," jawab Edward malas.
"Yes!" teriak Rifki sembari mengayunkan kepalan tangannya ke udara. Edward sampai berjingkat kaget di buatnya.
"Gak usah lebay deh lo!"
"Suka-suka gue lah, intinya makasih ya Ed."
"Eits, gak gratis dong!"
"Gak ikhlas banget lo nolongnya!"
"Terserah gue dong!"
"Ya udah buruan, lo mau gue ngapain?"
"Beliin gue minum,"
"Kenapa lo gak beli pas di kantin tadi sih?" tanya Rifki heran.
"Gue hausnya baru sekarang,"
"Untung temen Ed!" ucap Rifki geregetan melihat tingkah sahabatnya yang satu ini.
"Sana cepetan beli, jangan sampai gue dehidrasi gara-gara lo yang kelamaan beliin gue minum!"
Rifki mendengus kesal mendengar ocehan Edward, memangnya dia sedang berada di gurun sahara apa. Sampai-sampai jika sedikit saja Ia telat meminum air maka Ia akan mati.
"Buruan!" ucap Edward ketika melihat Rifki yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Iya sabar elah, nih sekarang gue beliin." ucap Rifki dan langsung buru-buru menuju kantin sebelum Edward berubah pikiran dan tidak jadi mentraktir Rian besok.
Setelah Rifki pergi menuju kantin, Edward mengalihkan pandangannya ke arah Rayla. Ia memperhatikan Rayla yang sedang menulis sesuatu di atas bukunya, entah apa yang Ia tulis Edward juga tidak tahu.
Rayla yang merasa dirinya tengah di perhatikan pun menoleh ke belakang untuk memastikan, dan pandangannya langsung bertemu dengan pandangan Edward. Sempat terjadi kontak mata di antara mereka, tetapi itu tidak berselang lama karena Edward segera memutus kontak mata mereka. Rayla hanya menggidikkan bahunya kemudian kembali fokus untuk melanjutkan acara menulisnya.
Edward kembali memandang ke arah Rayla ketika merasa Rayla sudah tidak memandang ke arahnya, kegiatan yang di lakukan gadis itu masih sama menulis di atas bukunya. Tak bisa Edward pungkiri melihat wajah serius Rayla membuatnya tersenyum tipis.
"Senyum-senyum sendiri kek orang gila aja lo!" ucap Rifki yang saat ini sudah kembali dari kantin.
Edward terlonjak kaget mendengar suara Rifki yang saat ini sudah berada di hadapannya, Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Rifki karena terlalu fokus memperhatikan Rayla.
"Ngagetin aja lo!" ucap Edward kesal.
"Gimana gak kaget, ngeliatin orang aja sampai kayak gitu. Gue yang dateng bawa minum aja gak di peduli in, padahal tadi ngotot banget minta di beliin minum!" cibir Rifki.
"Berisik!" ucap Edward dan langsung menyambar air mineral yang baru saja di belikan oleh Rifki.
"Makasih," sindir Rifki.
Edward hanya melirik Rifki tanpa berniat untuk menanggapi sindiran yang baru saja Rifki lontarkan.
Suasana kelas XII IPA 2 menjadi semakin ramai ketika Dean dan kawan-kawannya melaksanakan acara cover dance dadakan, semua penghuni kelas bersorak ramai ketika melihat Dean dengan tampang sok cool nya melangkah dengan percaya diri seperti dancer profesional.
"Jadi berdirinya saya di sini,--" ucap Dean terpotong karena ucapan Rifki.
"Akan membahas hari kanak-kanak," ucap Rifki kemudian tertawa.
"Lo kira, gue lagi cosplay jadi Upin Ipin apa?!" ucap Dean kesal karena acaranya terganggu oleh Rifki.
"Enggak cocok sih lo kalo cosplay jadi Upin Ipin, mending cosplay jadi pengemis jalanan aja." ucap Rifki santai.
"Dih cocokan lo yang cosplay jadi pengemis jalanan!" ucap Dean tak terima.
"Gue sekarang lagi berperan jadi netizen di sini, jadi tugas gue ya ngomentarin lo." balas Rifki.
"Harusnya lo jadi komentator, bukan netizen bambang."
"Gak seru kalo gue cuma jadi komentator, gak bisa provokasi orang nanti buat hujat lo. Mendingan gue jadi netizen, jadi gampang kalo mau ngehujat." ucap Rifki yang kemudian di sambut gelak tawa oleh penghuni kelas.
"Sialan lo!" umpat Dean.
"Udah buruan dance nya! Lumutan nih gue nungguin nya." ucap Rifki.
"Gimana mau cepet orang lo ajak ngobrol terus!"
"Salah sendiri kenapa di jawab,"
Dean mendengus kesal mendengar ucapan Rifki, dasar mulut netizen! umpat Dean dalam hati.
Memilih tidak membalas ucapan Rifki barusan, Dean dengan segera memberi kode kepada teman-temannya untuk segera mengambil posisi. Dance yang akan mereka cover adalah, How You Like That dari girl group Blackpink.
Rifki bersorak heboh ketika lagu mulai di putar, bahkan Ia dengan semangat ikut berjoged walaupun gerakannya seperti ikan lumba-lumba. Asikin aja, masalah gerakan bisa belakangan!
Begitulah kelas XII IPA 2 menghabiskan waktunya, membangun kebersamaan agar nanti dapat di ingat hingga hari tua. Mengingat mereka yang akan segera berpisah dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan, membuat mereka memanfaatkan jam kosong tersebut untuk mengukir kenangan indah di masa abu-abu mereka.
Dance cover yang di adakan oleh Dean di tutup dengan lagu Boombayah, bahkan dengan semangat Rifki ikut maju ke depan dan ikut bergoyang mengikuti alunan musik yang sudah sangat Ia hafal. Jangan lupakan fakta bahwa Rifki adalah Blink sejati kawan-kawan.