
...'Ngapain disayang kalau ujung-ujungnya disakitin?'...
...----------------...
Edward berjalan beriringan bersama Rayla menuju ruang kelas mereka. Banyak kasak-kusuk yang sudah terdengar sedari tadi, hampir semua orang yang mereka jumpai di koridor sekolah menatap sinis kearah Rayla. Bahkan ada yang terang-terangan menyindir Rayla dengan kata-kata pedasnya, terutama bagi siswi perempuan. Edward sendiri dibuat geram mendengar cibiran yang mereka layangkan kepada Rayla, akhirnya Ia pun merapatkan tubuhnya kearah Rayla yang saat ini tengah berjalan sembari menundukkan kepalanya.
"Gak usah didengerin, anggap mereka gak ada," bisik Edward.
Rayla mendongak ketika mendengar bisikan Edward, dan mendesis.
"Gue kapok berangkat sama lo."
Edward tergelak mendengar ucapan Rayla, kemudian tanpa aba-aba. Tangan Edward melingkar dengan sempurna di pinggang Rayla, membuat beberapa siswa yang ada di sana memekik kaget begitu juga dengan Rayla.
"Ngapain sih lo, lepas gak!" ucap Rayla sembari berusaha melepas tangan Edward yang melingkar di pinggangnya.
"Diem," ucap Edward tidak ingin di bantah. Tak ingin berdebat, akhirnya Rayla memilih untuk diam saja, membiarkan tangan Edward melingkari pinggangnya.
Ketika sudah sampai diruang kelas, mereka di sambut dengan tatapan heran sekaligus godaan yang dilayangkan oleh siswa laki-laki. Terutama Rifki.
"Bau PJ tercium kuat nih!" ucap Rifki ketika Edward melawati mejanya.
Edward menoleh kebelakang ketika mendengar ucapan Rifki, "Lo ngomong sama gue?" setelah melihat kebelakang tidak ada siapa-siapa. Melainkan tembok yang berwarna putih.
"Gak. Gue ngomong sama kursi," ucap Rifki kesal.
"Dapet ilmu darimana?" tanya Edward.
"Mbah Kulin," jawab Rifki asal.
Edward hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Lo gak piket?" tanya Edward setelah beberapa saat hening.
"Lo kira gue pembantu di kelas ini apa!" jawab Rifki ngegas.
"Lah? Kan gue cuma nanya."
"Kenapa gue bisa temenan sama lo sih, astaga. Piket kelas kan ada jadwalnya sutarno!"
"Masa?"
"Bodo amat!"
Edward terkekeh kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rayla yang saat ini tengah duduk sembari menyembunyikan kepalanya di dalam lipatan tangannya. Mungkin Ia merasa malu mendengar godaan yang di lemparkan oleh teman-teman sekelasnya. Memikirkan itu semua, membuat Edward tersenyum geli. Rifki yang melihat itupun hanya geleng-geleng kepala.
"Orang kasmaran, ternyata bisa sebelas dua belas sama orang gila," pikir Rifki.
Tak lama kemudian, guru yang akan mengisi pembelajaran pagi ini memasuki ruang kelas mereka. Sontak semua penghuni kelas menjadi hening, ketika guru tersebut menginjakkan kaki ke dalam ruang kelas XII IPA 2.
"Selamat pagi bu," jawab serentak dari seluruh penghuni kelas XII IPA 2.
"Baik hari ini kita akan mempelajari materi baru yaitu Gas Mulia, tapi sebelum itu silakan kumpul terlebih dahulu tugas yang saya berikan minggu lalu," ucap bu Citra. Kemudian tanpa aba-aba lagi, semua murid baik laki-laki ataupun perempuan berlomba-lomba untuk segera mengumpul tugas yang diberikan minggu lalu. Setelah merasa semua muridnya telah mengumpulkan tugas yang diminta, bu Citra mengangkat suara.
"Ada yang belum mengumpul?" tanya bu Citra sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas.
"Siap, sudah semua bu," ucap Sean sebagai perwakilan teman-temannya. Bu Citra kemudian mengangguk dan kembali bersuara.
"Baiklah, silakan kalian buka buku halaman 174. Kita akan membahas materi terlebih dahulu, kemudian baru akan Ibu berikan tugas," ucap bu Citra kemudian mulai menulis materi di atas papan tulis. Semua murid memperhatikan dengan seksama memperhatikan materi yang diterangkan oleh bu Citra, karena mereka sudah hafal sekali dengan karakteristik tugas yang akan diberikan oleh bu Citra. Tentunya, tugas yang diberikan akan menguras kewarasan semua murid-murid yang diajarnya.
Selang tiga puluh menit berlalu, bu Citra memberi jeda sejenak untuk anak didiknya bertanya apakah ada yang tidak dimengerti. Tapi seperti hukum kelas, ketika guru bertanya,"Sudah mengerti atau belum?" pastinya murid-murid yang berada di kelas itu akan menjawab, "Sudah," entah mereka benar-benar mengerti atau tidak. Yang ada di pikirannya hanyalah cepat-cepat jam istirahat atau jam pulang agar bisa membebaskan diri dari belenggu suatu mata pelajaran.
Bu Citra pun angkat suara ketika mendengar jawaban dari anak didiknya yang mengatakan sudah mengerti dengan materi yang diberikannya.
"Baik kalau memang sudah mengerti, saya akan memberikan pertanyaan dan yang menjawab akan saya tunjuk secara acak," ucap bu Citra kemudian bersiap-siap untuk memberikan pertanyaan kepada anak didiknya.
Suasana tiba-tiba tegang, semua murid yang ada didalam kelas XII IPA 2 mulai merapal kan doa dalam hati agar tidak ditunjuk untuk menjawab soal yang akan diberikan oleh bu Citra. Di tengah ketegangan yang sedang menyelimuti atmosfer dikelas XII IPA 2, Sean yang notabenenya adalah ketua kelas mengangkat suara.
"Bu waktu pelajaran Ibu hanya tersisa sepuluh menit lagi, untuk tugas yang Ibu berikan apakah jadi atau tidak? Karena jika kita melakukan sesi tanya jawab sekarang, waktunya tidak akan cukup untuk membahas tugas yang akan Ibu berikan," ucap Sean.
Teman-temannya menatap Sean dengan sarat ucapan terimakasih karena telah menyelamatkan mereka dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan oleh bu Citra.
"Terimakasih sudah mengingatkan Sean, baiklah untuk sesi tanya jawabnya kita tunda saja dulu. Sekarang saya akan menjelaskan mengenai tugas yang harus kalian kerjakan dan selesai minggu depan pada saat jam pelajaran Ibu," ucap bu Citra yang membuat murid-murid di dalam kelas itu bersorak gembira dalam hati.
"Siapkan kertas kosong bila kalian ingin mencatat poin-poin penting dari tugas saya," jeda sejenak kemudian bu Citra melanjutkan ucapannya.
"Untuk tugas, saya ingin kalian membentuk kelompok. Satu kelompok terdiri atas dua orang anggota, masing-masing kelompok harus terdiri dari satu wanita dan satu laki-laki. Untuk anggota kelompok, kalian bebas memilih dengan siapa kalian nyamannya berkelompok. Tugasnya membuat satu powerpoint mengenai materi yang baru saja saya jelaskan, dan dipresentasikan minggu depan. Ada yang kurang jelas?" tanya bu Citra setelah menjelaskan panjang kali lebar.
"Siap tidak," jawab serentak murid yang berada di kelas XII IPA 2.
"Baik kalau tidak ada yang di tanyakan kembali, pelajaran hari ini cukup sampai disini saja. Selamat siang, dan selamat beristirahat," ucap bu Citra kemudian berjalan menuju ruang guru.
Sontak semua murid bersorak heboh dengan tugas yang di berikan oleh bu Citra, ada yang mulai ke sana kemari membujuk orang yang menurut mereka bisa di jadikan partner untuk tugas Kimia yang diberikan oleh bu Citra.
"Ed, aku satu kelompok bareng kamu ya," ucap Bela. Bela adalah salah satu teman sekelas Edward, anaknya baik, cenderung pendiam dan jarang bergaul. Dan entah kenapa sekarang Ia berani meminta Edward untuk menjadi teman sekelompok nya.
Edward melirik sekilas pada orang yang mengajaknya berbicara, "Gak."
Bela tersenyum miris melihat penolakan yang dilontarkan oleh Edward, "Ya udah kalau gitu, aku balik ke bangkuku dulu ya."
Edward diam, tidak ada niat untuk merespon ucapan Bela barusan. Melihat tidak ada respon dari lawan bicaranya, Bela pun segera pergi dari hadapan Edward.
"Anak orang lo apa in tuh?" tanya Rifki ketika melihat Bela berjalan menuju mejanya sembari menundukkan kepalanya.
Edward menggidikkan bahunya acuh, kemudian tanpa mengatakan sepatah katapun Ia bangkit dan meninggalkan Rifki menuju meja seseorang yang sedari tadi muncul di kepalanya. Tentunya sebagai partner nya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh bu Citra.