Please Feel My Love

Please Feel My Love
Ichi Ocha Pereda Nyeri Hati



...'Di perlukan AC untuk mengobati gerah body. Untuk mengobati gerah hati? Cukup dengan senyuman tulus milikmu saja.'...


...----------------...


Rifki dengan semangat berjalan dari parkiran sekolah menuju ruang kelasnya, senyum cerah tak pernah luntur dari bibirnya. Sapaan dari gadis-gadis yang ada di koridor Ia balas dengan senyuman terbaik yang Ia miliki. Akhirnya setelah melewati beberapa menit, akhirnya Rifki pun sampai di kelasnya. Ia langsung menuju tempat duduknya ketika melihat Edward yang baru saja meletakkan tasnya. Sepertinya Ia juga baru sampai sama seperti dirinya, pikir Rifki.


"Ekhem!" Rifki berdeham ketika dirinya sudah ada di depan meja Edward. Edward menolehkan kepalanya dan menatap bingung Rifki yang tengah senyum-senyum sendiri.


"Kerasukan apa lo pagi-pagi gini?" tanya Edward ketika Rifki tak kunjung membuka suara. Malah Ia menatap dirinya dengan pandangan yang membuatnya bergidik ngeri.


"Gue kena phobia," jawab Rifki masih dengan senyum yang terukir di bibirnya.


"Phobia? Kok bisa?!" tanya Edward terkejut.


"Jadi gini-," ucap Rifki menggantung kalimatnya.


Edward memutar bola matanya malas, "Buruan!"


"Lo nge-gas mulu kalo sama gue, kemaren aja sabar banget nemenin anak gadis nungguin jemputannya dateng," cibir Rifki.


Edward terkejut mendengar ucapan Rifki, tetapi Ia berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya itu.


"Gak usah sok tau lo!" ucap Edward.


Rifki terkekeh, "Udah lah gak usah malu gitu, gue tau kok. Lo kemaren nemenin Rayla nungguin sepupunya si Devan. Dan yang jadi pertanyaan gue adalah, kenapa gak lo ajakin pulang bareng aja sih?!"


"Lo ngikutin gue?" tanya Edward memicingkan matanya curiga.


"Bukan ngikutin, gue gak sengaja liat," bantah Rifki.


"Sama aja lo ngikutin gue!" balas Edward.


"Gue tuh bukannya ngikutin, gue cuma kepo aja. Daripada gue mati penasaran, mending gue cari tahu lah!" protes Rifki.


Edward mendengus, "Terus masalah lo kena phobia gimana?"


"Ow, masalah itu. Ya gara-gara lo gue jadi kena uwu phobia!" jelas Rifki.


Alis Edward mengernyit heran, "Uwu phobia?"


"Ah, gini nih anak yang bergaulnya sama buku mulu. Trend masa kini pun Ia tak tau," ucap Rifki.


"Lebih mending gue banyakan bergaul sama buku, daripada gue lebih sering bergaul sama lo. Yang ada makin nambah spesies orang absurd di bumi," balas Edward.


"Duh bibir mas nya, lemes bener ngatain orang ya."


"Duh beruntung banget gue jadi temen lo ya Ed, dimana lagi gue bisa nemuin temen macam lo," ucap Rifki sembari mengelus dadanya. Sabar-sabar, orang sabar di sayang Jennie. Rapal Rifki dalam hati.


Edward hanya manggut-manggut saja mendengar ucapan Rifki. Dan tak lama kemudian bel tanda pelajaran pertama di mulai pun berbunyi, semua murid yang ada di kelas XII IPA 2 membenarkan posisi duduk mereka untuk menyambut Pak Aban yang notabenenya adalah guru kesenian.


Pelajaran pertama pun dimulai, Pak Aban mulai menjelaskan materi tentang seni musik. Semua murid kelas XII IPA 2 mendengarkan dengan seksama semua penjelasan yang keluar dari bibir Pak Aban. Jangan salah, walaupun Pak Aban itu ganteng parah. Tetapi Ia termasuk ke dalam kalangan guru 3G alias Ganteng-Ganteng Garang.


Beliau menyudahi sesi pembelajarannya ketika menyadari bel pergantian pembelajaran akan segera berbunyi. Sebelum meninggalkan kelas, beliau berpesan bahwa minggu depan nanti Ia akan mengadakan tes seni musik. Anak didiknya di persilahkan untuk tampil solo, duet, atau trio.


"Lo mau duet sama gue gak?" tanya Rifki kepada Edward ketika Pak Aban sudah meninggalkan ruang kelas mereka.


"Ogah!" jawab Edward malas.


"Buju buset, punya temen gini amat," ucap Rifki sembari mengelus dada. Sedetik kemudian senyum licik tersungging di bibirnya. Ah terimakasih otakku, kau memang jenius, ucap Rifki bangga kepada dirinya sendiri.


"Kalo lo gak mau duet sama gue, mending gue ajak duet Rayla. Kan lumayan tuh, bisa modus," ucap Rifki sembari berusaha menahan tawanya.


"Lo bisa tampil solo, gak usah duet!" balas Edward kesal.


"Kan terserah gue, siapa tau Rayla kepincut sama gue," ucap Rifki dengan pedenya.


Edward tersenyum miring mendengar ucapan Rifki, "Dia kepincut sama lo? Jangan mimpi!"


"Wes, jadi ceritanya Rayla cuma boleh kepincut sama lo gitu?" tanya Rifki sembari menaik turunkan alisnya untuk menggoda Edward.


"Gak jelas!" ucap Edward melengos.


Rifki hanya terkekeh mendengar jawaban Edward. Dan ketika Ia melihat ke depan kelas, matanya tak sengaja melihat Rayla yang tengah menghampiri seseorang di luar pintu kelas mereka. Sontak Rifki membulatkan matanya melihat pemandangan yang ada di luar pintu kelasnya.


"Emm, kayaknya Rayla gak bakal kepincut sama lo deh Ed," ucap Rifki prihatin.


Edward menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Rifki.


"Tuh lo liat sendiri, udah ada yang buat dia kepincut duluan," ucap Rifki sembari mengkode Edward agar melihat ke luar kelas.


Edward pun mengikuti arah pandang Rifki, dan gotcha. Manik matanya menangkap sosok Rayla yang tengah tertawa bersama Samuel, ketua OSIS SMA Fulminans Zapota. Entah apa yang mereka tertawa kan, tapi sepertinya bukan sesuatu yang lucu bagi Edward. Hingga tawa mereka terhenti ketika Sam, memberikan sebuah paper bag yang sedari tadi Ia pegang kepada Rayla. Rayla pun menolaknya, tetapi Sam terus memaksanya dan akhirnya Ia pun mengalah dan menerimanya. Sam tersenyum ketika Rayla menerima pemberiannya, Ia pun pamit undur diri ketika dirinya sudah memberikan paper bag itu kepada Rayla. Dan sebelum pergi, Sam sempat mengacak-acak rambut Rayla yang di hadiahi pekikan kesal darinya.


Edward membuang pandangannya ketika melihat Samuel menyentuh rambut Rayla. Sedangkan Rifki ingin tertawa terbahak-bahak saja rasanya melihat wajah kaget Edward ketika Sam menyentuh rambut Rayla.


"Aduh, kayaknya gue perlu ke kantin sekarang deh. Ada orang yang perlu banget sama teh ichi ocha, buat nyegerin gerah body sama hatinya," sindir Rifki kepada Edward.


Edward tak memperdulikan ucapan Rifki, yang ada di pikirannya saat ini adalah. Kenapa Rayla bisa dekat dengan Sam? Padahal Rayla adalah murid baru di sekolah ini. Apakah mereka sebelumnya pernah bertemu? Tetapi rasanya mustahil, mengingat Rayla yang merupakan murid pindahan dari Amerika. Dan yang paling membuatnya penasaran adalah, apa yang di berikan Sam kepada Rayla? Semua pertanyaan itu berputar di otaknya. Ia heran dengan dirinya sendiri, baru pertama kalinya Ia sangat ingin mengetahui urusan orang lain. Biasanya, Ia tak pernah mengambil pusing urusan orang-orang di sekitarnya. Terkecuali urusan sahabat dan juga keluarganya.


Rifki hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Edward yang seperti pacar sedang cemburu saja. Padahal mereka tidak ada ikatan apa-apa selain teman sekelas, atau mungkin sebentar lagi akan ada ikatan lain yang terjalin di antara mereka? Kita lihat saja nanti.