
...'Semudah itu kah laki-laki berpaling?'...
...----------------...
Devan kali ini benar-benar berhasil membuat Rayla berkeinginan untuk mengusirnya dari rumah. Setelah dua hari lalu mengganggu acara rebahan dan acara maraton drakornya di hari libur. Kali ini, Devan kembali mengacaukan acara yang telah Ia susun untuk di lakukan di malam mingu seperti ini. Tentunya dengan ancaman yang sama.
"Mending lo pulang ke rumah lo deh," usir Rayla ketika Devan mengancam akan mengambil semua album dan lightstick yang pernah Devan berikan padanya.
"Nanti. Kalau Rosa udah berhasil gue buat bertekuk lutut," jawab Devan santai.
Rayla memutar bola matanya malas, "Harusnya kalau lo mau buat Rosa cepet bertekuk lutut sama lo. Yang lo ajak keluar pas malam minggu itu dia, bukan gue!"
"Gue tuh kasian sama lo, yang setiap malam minggu malah mendekam di kamar mulu. Keliatan banget jomblonya."
"Bisa gak, gak usah bawa-bawa status?" ucap Rayla kesal.
"Udah lah gak usah banyak debat. Mending lo cepetan ganti baju, mumpung gue lagi baik mau ngajak lo malam mingguan. Biar lo pernah ngerasain yang namanya jalan pas malming," jelas Devan panjang lebar.
Rayla mendengus, "Siapa bilang gue gak pernah jalan pas malam minggu?"
Devan membulatkan matanya, "Jadi, lo udah pernah malam mingguan?"
Rayla menganggukkan kepalanya mantap, "Udah dong!"
"Sama siapa?" tanya Devan penasaran.
"Kepo! Udah sana lo keluar, gue mau ganti baju."
"Kasi tau dulu lah," desak Devan.
"Gak. Sana buruan keluar!" ucap Rayla sembari mendorong Devan agar segera keluar dari kamarnya.
Devan lebih memilih mengalah, kemudian keluar dari kamar Rayla menuju kamar yang Ia tempati selama mengungsi di rumah Rayla untuk mengambil kunci mobil dan juga jaketnya.
Rayla turun setelah lima belas menit menghabiskan waktu untuk memilih pakaian yang akan dikenakannya. Devan tak dapat menyembunyikan raut kesal ketika Rayla menghampiri dirinya yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Lo lama banget. Tinggal make baju doang padahal," keluh Devan.
"Itu yang gue rasain dua hari lalu, pas nungguin lo bersolek di depan cermin!" sinis Rayla.
Devan meringis, "Ya maaf. Udah lewat juga."
"Udah lewat, tapi masih berbekas di ingatan!"
"Iya-iya. Bawel lo ah, ayok buruan berangkat," ucap Devan sembari bangkit dari sofa yang Ia duduki, dan memutar kunci mobil yang ada di genggamannya.
"Bentar. Lo udah izin sama bokap nyokap gue?" tanya Rayla.
"Udah."
"Di izinin?"
"Kalau gak, mana mungkin lo udah rapi begini," ucap Devan gemas.
Rayla manggut-manggut, "Ada benernya juga. Yuk berangkat," ucap Rayla kemudian langsung melenggang pergi tanpa menunggu Devan.
"Untung sepupu," gerutu Devan.
Devan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi, sedangkan Rayla sudah asik dengan dunianya sendiri. Beberapa kali nampak Rayla tertawa dengan apa yang muncul di layar ponselnya. Devan yang merasa di acuhkan pun membuka suara.
"Lo ngapain sih ketawa-ketawa enggak jelas?" tanya Devan sembari melirik sekilas ke arah Rayla, kemudian kembali memfokuskan atensinya ke arah jalanan.
"Lagi lihat calon masa depan," jawab Rayla tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel miliknya.
"Percaya diri banget ya bang. Sayangnya, gue lebih suka lihat muka mereka setiap hari, daripada lihat muka lo yang belum genap seminggu ngungsi di rumah gue."
Devan memutar stir mobil, kemudian menanggapi ucapan Rayla.
"Setidaknya, gue lebih mudah di gapai daripada mereka. Mereka tau lo hidup aja engga," cibir Devan.
Rayla menatap Devan kesal, "Terus kenapa? Setidaknya mereka bisa buat gue ketawa, di saat gue lagi butuh hiburan."
"You win," ucap Devan yang tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Sebenarnya, lo mau ngajak gue kemana sih?" tanya Rayla ketika mereka tak kunjung sampai ke tempat tujuan.
"Taman kota," jawab Devan singkat.
"Ngapain ke sana?"
"Mancing kuda laut."
Rayla menatap Devan aneh, "Buat apa mancing kuda laut?"
"Di jadiin lauk buat makan siang besok."
Rayla bergidik, "Lo aja lah yang makan, gue sih ogah."
Devan memutar bola matanya malas, "Yakali mancing kuda laut di taman kota. Gue mau nyari cadangan."
Rayla mengerutkan alisnya, "Cadangan apa?"
"Cadangan, buat jaga-jaga semisal Rosa nolak gue."
Sekarang giliran Rayla yang memutar bola matanya malas, "Awas, karma lo lagi on the way."
Devan tak menimpali ucapan Rayla, dirinya tengah sibuk memarkir mobil di dekat taman kota yang nampak ramai oleh pengunjung, namun di dominasi oleh pasangan kekasih.
Rayla dan Devan turun dari dalam mobil, kemudian berjalan beriringan memasuki kawasan taman kota yang ramai oleh pasangan muda-mudi yang tengah menghabiskan waktu bersama.
"Mau jagung bakar gak lo?" tanya Devan kepada Rayla.
Rayla mengangguk dengan semangat, "Mau lah!"
"Ya udah, lo tunggu di sini, jangan kemana-mana," peringat Devan sebelum pergi, dan Rayla hanya mengangguk mengiyakan.
Rayla tersenyum senang ketika melihat Bela, salah satu teman sekelasnya yang juga berada di sana. Dengan semangat, Rayla mendekati Bela. Tetapi langkah Rayla memelan, ketika melihat sosok laki-laki yang menghampiri Bela dan memberikannya sebuah es krim cone. Bela nampak sangat antusias menerima es krim yang laki-laki itu sodorkan, kemudian memakannya. Rayla mematung, ketika menyadari siapa lelaki yang baru saja menghampiri Bela, itu Edward.
Rayla semakin di buat tertegun, ketika Edward melepaskan jaketnya, kemudian menyampirkan nya pada pundak Bela, Bela pun kemudian merebahkan kepalanya pada pundak Edward. Entah kenapa, dadanya terasa sesak melihat pemandangan yang ada di depannya. Rayla menggelengkan kepalanya, guna menepis perasaan aneh yang muncul ketika melihat kebersamaan antara Bela dan Edward. Dengan cepat Rayla menjauh, sebelum Bela ataupun Edward menyadari keberadaannya.
Tak lama kemudian, Devan datang dan menghampiri Rayla sembari membawa dua buah jagung bakar di tangannya. Dengan semangat, Devan mengajak Rayla untuk menikmati jagung bakar mereka, sedetik kemudian dahi Devan berkerut, ketika menyadari ada yang berbeda dari raut wajah Rayla.
"Lo kenapa?" tanya Devan khawatir.
"Kepala gue tiba-tiba pusing. Kita pulang aja, yuk?" ajak Rayla.
Devan meneliti wajah Rayla, kemudian Ia mengangguk.
"Kayaknya lo masuk angin. Lebih baik kita pulang sekarang," putus Devan sembari memasukkan kembali jagung bakar yang sempat Ia keluarkan dari tempatnya.
Rayla mengangguk, kemudian langsung beranjak pergi menuju tempat dimana Devan memarkir mobilnya. Sedangkan Devan, mengikuti Rayla. Tanpa Rayla sadari, seseorang tengah memperhatikannya dengan senyum miring yang telah menghiasi bibirnya.
"Permainan baru saja di mulai. Now, let's move on to the next game," seringai orang tersebut, kemudian langsung melenggang pergi dari tempatnya berdiri.