
...'Liat lo di lirik cowok lain aja gue kacau!' ...
...----------------...
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Rayla nampak tengah merapikan alat tulis yang baru saja di gunakan nya untuk mencatat materi yang di tuliskan oleh gurunya di papan tulis. Setelah di rasa semua alat tulisnya sudah Ia masukkan ke dalam tasnya, Rayla pun langsung pergi menuju ruang OSIS untuk menyusul Sam. Sam tadi berpesan padanya untuk menyusulnya ke ruang OSIS karena Ia ada sedikit urusan. Jika saja Rayla tidak ingat bahwa Ia tadi berangkat bersama Sam, mana mau Rayla menunggu Sam di ruang OSIS yang menurutnya membosankan itu.
Rayla membuka pintu OSIS ketika sudah mengetok pintu dan mendengar sahutan orang dari dalam. Entah siapa yang menyahut Rayla tidak tahu, tapi jangan sampai setan penghuni ruang OSIS nya yang menyahut. Kalau itu sampai terjadi, bisa di pastikan Rayla akan pingsan di tempat. Kan gak estetik pingsan di lantai, banyak kumannya!
"Udah selesai belum?" tanya Rayla ketika melihat Sam yang tengah berkutat dengan laptop yang ada di hadapannya. Bisa Rayla lihat, orang-orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut melihat kehadirannya. Tetapi Ia tidak peduli sama sekali, Ia hanya ingin urusan Sam cepat selesai dan dengan begitu Ia bisa dengan cepat pulang ke rumahnya.
"Bentar lagi," jawab Sam sembari melirik Rayla sekilas.
"Untung gue orangnya sabar," ucap Rayla sembari mengambil posisi duduk di sebelah Sam.
Bisa di pastikan, besok mereka akan menjadi tranding topik di sekolahnya. Jangankan besok, hari ini saja mereka sudah menjadi tranding topik. Dari mulai berangkat sekolah bersama, hingga makan di kantin berdua. Dan sekarang di tambah Rayla yang menghampiri Sam ke ruang OSIS. Wah, sungguh gosip yang sangat pas sekali untuk di jadikan bahan ghibah.
"Berasa di tungguin istri pas suaminya lagi kerja gue," ucap Sam sembari menatap jail Rayla yang tengah duduk di sebelahnya.
Rayla mendengus mendengar ucapan Sam, "Gak usah ngaco deh lo!"
Sam tertawa melihat raut wajah kesal milik Rayla.
"Kerjain tuh tugas lo, gue mau cepat pulang!" ucap Rayla menatap jengkel ke arah Sam yang malah menggoda dirinya bukannya mengerjakan tugasnya agar cepat selesai.
"Siap calon istri," ucap Sam kemudian kembali berkutat dengan laptop yang ada di hadapannya. Sedangkan Rayla mendelik kesal mendengar ucapan Sam.
"Sabar Rayla, ntar lo pulangnya nebeng dia loh. Kalo lo geplak ntar lo di turunin di tengah hutan," ucap Rayla dalam hati.
Di lain tempat, tetapi di waktu yang sama. Edward tengah duduk di koridor dekat ruang kelasnya bersama Rifki yang masih setia menemaninya.
"Ck," decakan kesal keluar dari bibir Edward.
"Daripada lo gundah gulana, meriang tanpa ada penenang. Mending lo samperin aja ke ruang OSIS si Rayla," ucap Rifki memberi saran kepada Edward.
"Daripada lo kesel gak jelas di sini," ucap Rifki yang masih berusaha untuk meyakinkan Edward menyusul Rayla ke ruang OSIS. Edward tidak memperdulikan ucapan Rifki, lebih baik Ia tetap berdiam diri di sini.
Sebenarnya tidak ada yang perlu di cemaskan di sini, hanya saja mulut si Rifki itu yang meresahkan. Ia dengan segala kebobrokan yang ada di otaknya berhasil mempengaruhi otak Edward yang IQ nya jauh di atasnya. Ia mengatakan kepada Edward bahwa Sam akan menyatakan perasaannya kepada Rayla hari ini sepulang sekolah, dan entah mengapa kata-kata Rifki yang ngaco itu di dukung oleh fakta Rayla yang menghampiri Sam ke ruang OSIS. Sungguh mencengangkan, seorang peramal pun mungkin akan terkagum-kagum jika mengetahui kehebatan Rifki dalam mempengaruhi otak encer Edward.
Dan yang lebih ajaibnya lagi adalah, Edward yang dengan mudah percaya dengan apa yang telah Rifki ucapkan. Padahal Ia tau sendiri, se-absurd apa Rifki itu. Ia juga tidak percaya mengapa Ia bisa terpengaruh oleh ucapan Rifki. Yang pasti Ia hanya tidak ingin melihat Rayla berpacaran dengan Sam. Dan satu hal yang baru Edward sadari adalah, Edward tidak suka kedekatan Rayla dengan Sam. Catat itu! Bila perlu garis bawahi, cetak miring dan cetak tebal!
Bahkan jika Rifki mengetahui hal itu, Ia mungkin sudah bergegas untuk mendaftarkan nya untuk menjadi salah satu bagian dari keajaiban dunia.
"Duh itu pasangan makin lengket aja ya, apa jangan-jangan mereka udah pacaran lagi Ed?" tanya Rifki ketika matanya menangkap Rayla dan Sam yang berjalan beriringan setelah tiga puluh menit lamanya Ia duduk berdua dengan Edward seperti orang yang tengah berpacaran.
Tetapi bukan mereka yang berjalan beriringan yang menjadi fokusnya, tapi tangan Sam yang menganggur itu yang bisa membuat Edward terbakar. Bagaimana tidak, tangan Sam yang menganggur itu malah merangkul pundak Rayla yang menyebabkan jarak antara mereka sangat minim untuk di temukan.
Edward menatap tajam tangan Sam yang dengan tidak berdosa nya menyampir di pundak Rayla. Tetapi Sam dan juga Rayla tidak menyadari tatapan tajam Edward yang menghunus ke arah mereka.
"Udah deh, ngeliatin nya gak usah kek gitu. Bola mata lo kayak mau ke luar aja," gurau Rifki yang merasa ngeri melihat tatapan tajam milik Edward.
Edward tidak menjawab gurauan Rifki, matanya masih sibuk memperhatikan Sam dan juga Rayla yang jaraknya semakin dekat ke arahnya. Tepat saat Rayla dan Sam akan berlalu di hadapannya, Edward tiba-tiba berdiri dan langsung menyeret Rifki untuk bangun dari duduknya dan berjalan cepat menuju parkiran sekolah. Sedangkan Rayla menatap terkejut Edward yang masih berada di sekolah, padahal bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tiga puluh menit yang lalu.
"Pelan-pelan bisa kali, gak usah langsung tarik-tarik gue kayak gini. Jadi berasa kambing kan gue!" gerutu Rifki kesal. Ia menghempaskan tangan Edward yang masih menariknya.
Edward tak peduli, Ia langsung mempercepat langkahnya menuju parkiran sekolah. Dan mau tak mau, Rifki pun juga ikut mempercepat langkahnya untuk menyamai langkah Edward.
Setelah sampai di parkiran sekolah, dengan cekatan Edward langsung mengenakan helmnya dan naik ke atas motornya.
"Eits, mau kemana lo buru-buru amat?!" ucap Rifki sembari menarik tas Edward ketika melihat sahabatnya itu akan segera melajukan sepeda motornya.
"Bukan urusan lo!" jawab Edward ketus.
"Emang bukan urusan gue, tapi gue gak mau ngeluarin uang buat ngelapor ke kantor polisi dengan kasus orang hilang!" jawab Rifki berusaha melawak.
"Lepas," ucap Edward dingin. Ok, sepertinya Edward sedang tidak dalam mode jinak. Tak ingin membuat jiwanya dalam bahaya, Rifki pun melepaskan tangannya dari tas Edward. Tepat saat Rifki melepaskan tangannya, Edward langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hingga Rifki sampai mengelus dada di buatnya.