Please Feel My Love

Please Feel My Love
Semakin Menjauh



...'Saat ini, aku hanya tengah menjalankan peranku sebagai orang asing di hidupmu.'...


...----------------...


Hari demi hari telah terlewati. Dan dalam kurun waktu kurang dari dua bulan lagi, Ujian Nasional akan dilaksanakan. Semua anak didik kelas XII pun, sudah mulai mempersiapkan diri mereka demi mendapatkan nilai yang memuaskan di ujian nanti. Tak jarang, banyak siswa yang bandel berubah menjadi siswa yang rajin, demi di doakan mendapatkan nilai yang bagus saat ujian nanti oleh orang-orang terdekatnya. Ya, minimal nilai standar lah.


Sam menghampiri Rayla yang tengah duduk di taman belakang sekolah sembari membaca buku. Akhir-akhir ini Rayla lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca buku ataupun mengerjakan soal-soal Try Out di taman belakang sekolah. Tak jarang pula, Sam menghampirinya sembari membawa makanan seperti saat ini.


"Makan," ucap Sam sembari menyodorkan sebungkus roti pada Rayla.


Rayla tersenyum kemudian menerimanya, "Makasih."


Sam mengangguk, "Lagi baca buku apa?"


"Rumus Matematika."


"Pinjem bentar dong."


Rayla menyerahkan bukunya, "Nih."


"Makasih."


"Lo udah makan?" tanya Rayla sembari mengunyah roti pemberian Sam.


Sam mengangguk, "Udah."


"Lo gak bawa minum?" tanya Rayla sembari memperhatikan Sam yang tengah membaca buku miliknya. Buka apa-apa, hanya saja Ia termasuk orang yang tidak bisa tidak meminum air setelah memakan sesuatu.


Sam menoleh, "Enggak."


"Lain kali, kalau mau ngasi gue makanan harus lengkap sama minumnya ya!"


Sam tersenyum, "Siap laksanakan!"


"Sip lah! By the way, gue mau balik ke kelas sekalian nyari minum. Lo mau balik ke kelas sekarang bareng sama gue, atau mau di sini dulu?" tanya Rayla sembari bersiap-siap untuk pergi.


"Balik bareng lo lah. Yakali gue di sini duduk sendirian. Yang ada, ntar gue di kira jadi penunggu taman," jawab Sam cepat.


"Gue duduk di sini sendiri sebelum lo dateng, kalau lo lupa," ucap Rayla datar.


Sam tertawa canggung, "Gak ada niat ngatain kok gue, suer," ucap Sam sembari mengangkat tangan kanannya membentuk simbol peace.


Rayla mendengus, "Pura-pura percaya aja lah gue," ucapnya kemudian langsung melenggang pergi dari hadapan Sam.


Dengan cepat Sam mengejar langkah Rayla, kemudian melingkarkan tangannya di bahu Rayla ketika Ia telah berhasil menyetarakan langkah mereka.


Murid-murid yang melihat kedekatan mereka hanya bisa diam sembari sesekali berbisik mengenai hubungan yang terjalin diantara Rayla dan Sam. Banyak yang meyakini bahwa mereka telah memiliki hubungan khusus. Tetapi baik dari Rayla maupun Sam, tidak ada yang mengkonfirmasi kebenaran dari desas-desus isu tersebut.


Sebelum kembali ke ruang kelas masing-masing, mereka berdua mampir ke kantin untuk membeli minum. Setelah mendapatkan apa yang Rayla mau, Sam pun mengantar Rayla ke kelasnya karena bel tanda jam pelajaran akan di mulai telah berbunyi.


"Nanti sore belajar bareng gue, mau?" tanya Sam sebelum Rayla memasuki ruang kelasnya yang sudah ramai oleh penghuninya.


"Boleh. Dimana?"


"Ok. Nanti kabarin aja jam nya. Gue masuk kelas dulu," ucap Rayla berpamitan.


Sam mengangguk, "Belajar yang bener. Gue ke kelas dulu," ucap Sam sembari mengacak-acak rambut Rayla.


Rayla menepis tangan Sam yang masih setia merusak tatanan rambutnya.


"Rambut gue jangan di acak-acak dong!" omel Rayla.


Sam tertawa, "Sorry."


"Sana balik ke habitat lo," usir Rayla.


"Iya. Gue balik dulu, jangan kangen," ucap Sam sembari tersenyum menggoda yang hanya di balas delikan sebal dari Rayla. Menyadari Rayla yang sudah kesal karena ulahnya, Sam pun dengan cepat pergi dari hadapan Rayla, sebelum dirinya menjadi sasaran keganasan Rayla ketika kesal.


Rayla masuk ke dalam ruang kelas, beberapa teman sekelas menatapnya penasaran dengan isi percakapan antara Ia dan Sam di depan kelas tadi. Sedangkan Rayla hanya tersenyum menanggapi raut penasaran yang sangat kentara dari wajah teman-temannya.


Lima menit kemudian, guru yang mengajar sampai di kelas mereka. Tanpa menunggu lama, pelajaran pun segera dimulai. Semua murid memperhatikan dengan khusyuk penjelasan yang di sampaikan oleh guru mereka, yang kini tengah menulis di papan tulis sembari menerangkan materi yang di berikan nya.


Tak terasa beberapa jam telah mereka lewati dengan dua guru yang berbeda di setiap mata pelajarannya. Kini bel pulang sekolah yang merupakan surga bagi siswa seperti mereka telah berbunyi. Dengan semangat, semua siswa siswi di setiap kelas mengemasi alat-alat tulis mereka. Dan dengan tergesa-gesa berlomba untuk melewati gerbang sekolah, demi bisa cepat sampai di rumah kemudian bermanja-manja ria dengan kasur kesayangan.


Sam menghampiri Rayla ke kelasnya. Sengaja Ia keluar terlebih dahulu dari kelas, demi bisa menunggu Rayla di depan kelas gadis tersebut. Setelah beberapa saat Sam menunggu, akhirnya yang di tunggu-tunggu keluar juga. Dengan senyum yang mengembang, Sam merangkul Rayla. Rayla yang mendapatkan serangan secara tiba-tiba, sontak terkejut dan langsung melihat sang pelaku.


"Gak usah ngagetin dong! Untung gue gak punya penyakit jantung, kalau ada, mungkin gue udah bertamu ke tempat para malaikat sekarang," omel Rayla, sembari melepas rangkulan Sam secara paksa.


Sam tertawa mendengar ocehan Rayla, "Pulang bareng?"


"Sekedar mengingatkan. Yang kemarin malem chat gue nawarin pulang bareng siapa?"


Sam terkekeh, "Siapa?"


Rayla memutar bola matanya malas, "Orang yang sekarang ada di samping gue!"


"Ngegas mulu ngomongnya. Gak baik tau, ntar cepet tua."


"Emang harus pake urat ngomong sama lo. Kalau di lembutin, gak bakal paham-paham."


"Tega banget lo sama gue Ay," ucap Sam pura-pura sedih.


Rayla menggidikkan bahunya acuh, "Kenapa kita malah berantem gak berfaedah gini? Kita jadi pulang gak sih?"


"Dari awal tujuan gue emang mau ngajakin lo pulang."


"Ya terus ngapain lo gak jalan-jalan ke parkiran?"


"Kan nungguin lo," jawab Sam gemas.


Rayla manggut-manggut, "Bener juga. Yasudah, mari kita sudahi ke randoman ini, dan segera pulang."


Sam mengangguk setuju, kemudian langsung menarik tangan Rayla ke arah parkir yang sudah nampak sepi. Hanya tersisa beberapa mobil dan juga sepeda motor, milik siswa yang ada kegiatan tambahan di sekolah. Dengan segera Rayla masuk ke dalam mobil Sam, kemudian menyuruh Sam untuk segera melajukan mobilnya. Rayla sudah tidak sabar bertemu dengan kasur dan juga bantal guling kesayangannya.


Tanpa Rayla sadari, sedari Ia dan Sam berbincang di depan kelas. Edward memandang sinis ke arah mereka. Apakah sebutan cewek ganjen dan label numpang pamer dari Edward belum cukup membuat Rayla menjauh dari Sam? Mengapa sepertinya, setelah Ia memberikan label tersebut Rayla dan Sam malah semakin dekat, bukannya semakin menjauh? Edward jadi kesal sendiri ketika melihatnya.