Please Feel My Love

Please Feel My Love
Rifki Bertingkah



...'Everything that happens has a reason.'...


...----------------...


Rifki telah selesai bersiap-siap. Dengan tas ransel yang sudah bertengger manis di punggungnya, Rifki berpamitan pada Ibunya untuk pergi ke apartemen Edward dengan alasan ingin belajar bersama guna mempersiapkan Ujian Nasional yang semakin dekat. Ibunya pun menyetujui dengan mudah tanpa bertanya apa-apa lagi. Karena Ibu Rifki juga telah mengenal Edward lama.


Sebenarnya tujuan Rifki ke apartemen Edward untuk belajar bersama, itu hanyalah dalih semata untuk menutupi tujuan utama maksud kedatangannya. Maka, setelah mendapatkan izin, Rifki langsung tancap gas menuju kediaman Edward. Ia tiba di apartemen Edward setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit. Dengan bermodal martabak manis sebagai penyogok agar Edward mau mengizinkan dirinya masuk, Rifki pun naik ke lantai di mana apartemen Edward berada.


Rifki memencet bel apartemen Edward dengan sopan, tak seperti biasanya. Ingat, dia tidak boleh membuat Edward kesal, atau usahanya ke sini akan sia-sia.


Tak lama kemudian, Edward membuka pintu apartemennya. Rifki pun langsung memasang senyum manis, ketika Edward menatapnya dengan pandangan bingung.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Edward sembari menaikkan sebelah alis nya.


Rifki masih mempertahankan senyumnya, "Gue bawain lo martabak," ucap Rifki sembari mengangkat tas kresek yang ada di tangan kirinya.


Edward mengambil martabak yang di maksud Rifki, "Thanks."


Rifki mengangguk, "Lo gak ada niat nawarin gue masuk?"


Edward mengernyitkan alis nya, "Loh? Bukannya tujuan lo ke sini cuma ngasi gue martabak?"


Rifki mengumpat dalam hati, sabar-sabar, inget tujuan lo ke sini.


Rifki pun memaksakan sebuah senyuman, "Gue ke sini mau belajar bareng sama lo."


"Ceritanya lo lagi nyogok gue pake martabak?"


Rifki cengengesan, "Tau aja."


Edward memutar bola matanya malas, "Tumben lo niat belajar. Kesambet apa?"


"Gue mimpi di tolak sama Jennie Blackpink gara-gara nilai UN gue hancur," jawab Rifki sembari tersenyum tanpa dosa.


"Mau nilai lo setinggi menara Eiffel juga, Jennie gak bakal mau sama lo," cibir Edward.


Rifki hanya mengiyakan, "Gak ada niat buat ngobrol di dalem aja?"


Memang, mereka saat ini masih mengobrol di depan pintu apartemen Edward.


"Masuk," ucap Edward sembari memberikan celah agar Rifki bisa masuk ke apartemen nya.


Senyum Rifki langsung mengembang, tanpa menunggu lebih lama lagi Rifki langsung masuk, sebelum Edward berubah pikiran dan menyuruhnya untuk pulang.


"Lo tunggu di sini, gue ambil buku sama minum dulu," ucap Edward sembari meletakkan martabak yang Rifki beri ke atas meja yang ada di ruang tamu.


Rifki mengangguk, kemudian duduk lesehan di atas lantai. Sembari menunggu Edward datang, Rifki mengeluarkan bukunya. Rifki berencana, akan bertanya ketika mereka telah usai belajar. Jadi, Ia harus sabar menunggu hingga beberapa jam ke depan, guna bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang selalu berputar di otaknya selama ini.


Edward datang sembari membawa nampan yang berisi dua gelas air putih di atasnya.


"Minum air putih aja, biar gampang fokus," ucap Edward setelah meletakkan nampan yang Ia bawa ke atas meja, kemudian berbalik kembali guna mengambil buku-buku miliknya.


Rifki tak niat menjawab, Ia mengambil gelas yang berisi air putih kemudian meneguk nya.


"Mau belajar apa lo?"


"Yang tersusah se dunia. Matematika!" seru Rifki.


Edward mengambil salah satu buku yang Ia bawa barusan, "Nih, gue ada catatan rumus-rumus Matematika lengkap. Kalau lo mau, lo boleh pinjem buat di fotocopy."


Rifki menerima buku yang Edward sodorkan, "Gue pinjem yak. Besok gue kembaliin."


"Oke. Sekarang, kita review materi dari kelas X sampai XII," jelas Edward.


Rifki mengangguk setuju, kemudian mengambil bukunya dan mulai fokus untuk belajar. Tak jarang, Ia akan bertanya pada Edward mengenai rumus yang tidak Ia mengerti.


Tak terasa dua jam telah berlalu. Rifki pun sudah mulai merasakan otaknya memanas saat mereview materi dari kelas X sampai XII. Jika di paksakan lebih lama lagi, Rifki yakin, otaknya yang tidak seberapa itu akan over limit dimana akan menyebabkan kebakaran karena terlalu panas, dan berujung dirinya yang jatuh sakit. Ok, sedikit lebay. Tapi sungguh Rifki sudah tidak kuat untuk melanjutkan. Yang ada materinya enggak bakal masuk otak sama sekali. Bahkan materi yang Ia pelajari selama dua jam ini, Ia tidak yakin jika itu benar-benar masuk ke dalam otak. Karena biasanya, materi yang Ia pelajari akan hinggap sejenak, kemudian pergi dengan cepat. Seperti kupu-kupu yang menghisap nektar pada bunga.


"Ed, udahan dulu ya. Otak gue enggak kuat," keluh Rifki.


Rifki pun mencomot martabak manis yang tadi Ia bawa, sudah dingin. Tapi apa boleh buat, intinya masih layak di makan.


"Oh iya. Gue mau nanya sesuatu sama lo," ucap Rifki sembari mengunyah martabak nya.


Edward menghentikan aktivitas merapikan bukunya, "Nanya apa?"


Rifki dengan cepat menelan martabak yang masih tersisa di mulutnya, kemudian menegak air putih dengan cepat.


"Sebenernya, lo sama Rayla itu kenapa?" tanya Rifki.


Raut wajah Edward berubah datar, "Gak kenapa-napa."


"Terus, ngapain lo waktu ini ngatain dia di depan banyak orang? Lo tau, dia nangis setelah lo katain," jelas Rifki.


"Gue cuma berbicara fakta."


"Yang mana yang lo sebut fakta? Rayla yang centil, atau Rayla yang numpang tenar?"


"Dua-duanya," jawab Edward singkat.


"Gue rasa, lo udah kenal Rayla lumayan lama. Bahkan, dulu kalian deket."


Rifki melanjutkan kalimatnya ketika melihat Edward yang hanya diam, "Terus, apa hubungan lo sama Bela?"


Edward menatap Rifki, "Pacaran, maybe."


Rifki membulatkan matanya, "Heh! Jangan ngadi-ngadi!"


"Gue gak bercanda."


Rifki menggelengkan kepalanya tak percaya, "Kok lo bisa pacaran sama Bela?"


"Ya bisa, kenapa enggak?"


Rifki menatap Edward kesal, "Bukan itu maksud gue. Kita satu kelas sama Bela dari kelas X, tapi lo gak ada tanda-tanda deket sama dia. Terus kenapa sekarang lo tiba-tiba pacaran sama Bela? Lo PDKT nya kapan?!"


Edward memijit pangkal hidungnya ketika mendengar rentetan kalimat Rifki.


"Gue di jodohin," ucap Edward.


Satu detik, dua detik, tiga detik. Rifki langsung memekik heboh.


"KOK BISA?!"


Edward mengusap telinganya yang berdengung karena pekikan Rifki, "Bokap gue yang minta."


"Dan lo gak nolak?"


Edward menghela nafasnya, "Gue udah berusaha nolak. Tapi--,"


"Tapi?" desak Rifki tak sabaran.


"Dokter Kendrick bilang, penyakit jantung bokap gue udah makin parah. Dan dokter Kendrick berpesan sama gue, jangan sampai bokap gue stress, apalagi sampai denger berita yang buat beliau kaget, karena itu bakal berakibat fatal untuk jantungnya. Gue akhirnya setuju sama perjodohan ini, karena gak mau bokap gue drop," ucap Edward sembari meremas rambutnya.


Rifki menghembuskan nafasnya, ketika mendengar ucapan Edward. Ia kemudian mendekat ke arah Edward, kemudian menepuk pundaknya.


"Gue yakin, bokap lo pasti sembuh. Lo yang sabar, gue bakal minta bantuan Ayah gue buat nyariin donor jantung buat bokap lo."


Edward menatap Rifki, "Thanks Rif."


Rifki tersenyum, "Kayak sama siapa aja lo. Intinya lo harus sabar, dan banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan bokap lo."


Edward menganggukkan kepalanya, "Lo bisa bijak juga."


Rifki tersenyum angkuh, "Calon suami Jennie nih bro."


Edward langsung merubah raut wajahnya, Ia menyesal telah memuji Rifki. Harusnya Ia sadar, Rifki memang akan selalu besar kepala jika sudah di puji. Dan Edward menyesal telah melupakan fakta sebesar itu.