Please Feel My Love

Please Feel My Love
Basketball



...'Saling lirik, tapi gantian. Ego terlalu tinggi untuk mengakui sebuah perasaan.' ...


...----------------...


Edward mengalihkan perhatiannya ke arah Rayla, Ia tersenyum geli ketika Rayla memperhatikannya tanpa berkedip.


"Gak usah liatin gue sampai segitunya, gue tau kok, kalau gue itu ganteng," ucap Edward dengan penuh percaya diri.


Rayla gelagapan, ketika Edward mengetahui bahwa dirinya, tengah memperhatikan lelaki itu dengan tatapan yang, terpesona?


"S-siapa yang lagi liatin lo coba, ge-er banget," ucap Rayla, sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Edward terkekeh, "Gak usah malu gitu, gue engga masalah kok kalau lo mau liatin gue. Jangankan beberapa menit, satu hari pun gue izinin," ucap Edward semakin gencar menggoda Rayla.


Rayle menundukkan kepalanya, pipinya merona malu mendengar ucapan Edward.


"Gombal," gumam Rayla, yang masih dapat di dengar oleh Edward, walaupun samar.


"Jadi latihan gak? Keburu habis entar waktunya," tanya Edward sembari mendribble bola basket yang ada di tangannya, kemudian dengan sekali hentakan, bola itu masuk dengan sempurna ke dalam ring.


Rayla mengangguk, "Jadi."


Edward kemudian berjalan menuju ke arah Rayla, dan menyerahkan bola basket yang tadi dipegang nya kepada Rayla.


"Coba," ucap Edward.


Rayla menerima dengan ragu bola basket yang di sodorkan oleh Edward.


"Rileks, pandangan lo harus fokus ke arah ring. Perhatiin, kotak kecil yang ada di papan ring. Fokus, biar bolanya pas kena di tengah-tengahnya," ucap Edward yang mulai memberi arahan kepada Rayla.


Rayla mengangguk, kemudian mulai menerapkan apa yang Edward ajarkan kepadanya. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk fokus. Kemudian, dengan sekali hentakan, Ia melempar bola basket tersebut, dan.... Gotcha! Bola basket tersebut, masuk dengan sempurna ke dalam ring.


Edward bertepuk tangan melihat keberhasilan Rayla, "Bagus. Sekarang, lo latihan terus, sampai lo bener-bener familiar sama gerakannya."


Rayla mengangguk, kemudian berlatih kembali. Sekarang, giliran Edward yang memperhatikan Rayla. Beberapa kali, Edward nampak tersenyum tipis, melihat bagaimana antusiasnya Rayla ketika berhasil memasukkan bola ke dalam ring.


Lima menit kemudian, Pak Yoga membunyikan peluit nya. Dimana itu tandanya, pengambilan nilai praktik akan segera dilaksanakan.


"Baik, saya rasa sudah cukup latihannya. Sekarang, saya akan mulai mengambil nilai praktik kalian. Bagi namanya yang saya sebut, silakan maju ke tengah lapangan untuk mengambil posisi dan bisa langsung melakukan shooting, ketika sudah merasa siap, " jelas Pak Yoga.


Murid-murid mengangguk paham, tak lama kemudian. Pak Yoga, mulai memanggil satu persatu nama anak didiknya. Rayla sudah gugup setengah mati, pasalnya Ia takut jika nanti, Ia tidak bisa melakukannya sama seperti pada waktu latihan bersama Edward tadi.


Edward baru saja melakukan shooting dengan sangat sempurna, bahkan beberapa anak perempuan yang sengaja berdiri di pinggir lapangan bersorak ketika Edward berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Tapi, Edward sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Fokusnya sekarang, hanya pada Rayla yang nampak gelisah menunggu gilirannya.


"Jangan tegang, ntar lo malah gak bisa fokus," ucap Edward, kepada Rayla.


Rayla hanya mengangguk saja mendengar ucapan Edward, tak lama setelahnya. Namanya pun di panggil, Rayla menghembuskan nafasnya kasar, kemudian berjalan perlahan menuju ke tengah lapangan. Edward terus memperhatikan Rayla, tak sedetik pun luput segala pergerakan Rayla dari matanya. Sedangkan Rayla, masih berusaha menenangkan dirinya. Ia bertambah gugup, ketika beberapa anak perempuan yang berada di pinggir lapangan, bersorak meremehkannya. Tangannya pun mulai gemetar saat memegang bola basket.


Setelah beberapa kali menghembuskan nafas dan merasa dirinya sudah mulai rileks, Rayla mulai fokus untuk melakukan shooting. Segala saran dan petuah dari Edward Ia terapkan, dengan harapan, shooting nya tidak mengecewakan. Rayla memejamkan matanya, kemudian dengan sekali dorongan, Ia melempar bola basket yang ada di tangannya ke arah ring. Ia menahan nafasnya, menunggu. Apakah bola yang Ia lempar, tepat sasaran atau tidak.


Rayla bernafas lega, ketika bola nya dapat masuk ke dalam ring. Tidak terlalu mengecewakan. Rayla kembali ke pinggir lapangan dengan perasaan yang lega.


"Udah jago ya sekarang, shooting nya," puji Edward.


Edward tertawa, "Yang penting berhasil."


Rayla mengangguk, "Iya. Syukur berhasil."


Edward mengalihkan pandangannya ke tengah lapangan, ketika sekarang giliran Rifki yang melakukan shooting. Edward geleng-geleng kepala, melihat Rian yang saat ini tengah berusaha memecah konsentrasi Rifki. Kadang Edward heran, mereka berdua selalu saja bertengkar, tapi dengan cepat juga mereka berbaikan.


Setelah melakukan shooting, Rifki melempar bola basketnya dengan kesal ke arah Rian. Untung tadi Ia bisa memasukkan bolanya, walaupun diganggu oleh Rian. Sedangkan Rian, tertawa puas melihat wajah kesal miliki Rifki.


Dengan berhasilnya Rifki memasukkan bola ke dalam ring, berakhir sudah jam pelajaran olahraga kali ini. Semua murid yang baru saja usai mengikuti pelajaran olahraga, nampak berhamburan menuju kantin tak lama setelah dibubarkan oleh Pak Yoga.


"Lo satu kelompok sama siapa, ngerjain tugas kimia?" tanya Edward kepada Rifki yang saat ini menghampiri dirinya yang tengah berjalan beriringan bersama Rayla.


"Sama si Rian," jawab Rifki, dengan malas.


"Bukannya harus laki-laki sama perempuan, ya?" tanya Rayla.


"Iya, suruhannya emang begitu. Tapi mau gimana, orang kelas kita banyakan cowok daripada cewek. Ya, walaupun selisihnya cuma satu, yang cowok ada sembilan belas, yang cewek ada tujuh belas."


Rayla manggut-manggut mengerti, sedangkan Edward diam menyimak.


"Jadi, lo yang kebagian sama cowok?" tanya Edward, memastikan.


"Iya, mana sekelompok bareng si Rian lagi," gerutu Rifki.


Edward tertawa, "Jalanin aja. Siapa tau, lo jadi lebih deket sama Rian setelah ini."


Rifki mendengus, "Sialan lo!"


Rifki beralih bertanya kepada Rayla, "Ay, lo satu kelompok bareng siapa?"


"Edward," jawab Rayla.


Rifki tersenyum jail, "Hati-hati, Ay."


Dahi Rayla mengkerut bingung, mendengar ucapan Rifki.


"Hati-hati kenapa?"


"Ada beruang kutub lepas kandang, mau nyari mangsa," ucap Rifki kemudian langsung kabur setelah mengatakannya. Karena tidak ingin terkena amukan Edward, yang sudah menatapnya seakan-akan ingin mengulitinya saat itu juga.


"Maksudnya?" tanya Rayla, yang menatap Edward meminta penjelasan.


"Gak usah dipikirin, Rifki orangnya suka ngaco."


Rayla mengiyakan saja, "Btw. Entar sore jadi?"


"Jadi," jawab Edward singkat.


Rayla mengangguk, kemudian lebih memilih untuk diam dan fokus ke jalan yang ada di hadapannya, dengan sesekali mengusap keringat yang ada di dahinya, menggunakan punggung tangannya. Sedangkan Edward, diam-diam melirik ke arah Rayla, yang nampak semakin cantik dengan rambut yang di cepol asal dan beberapa anak rambutnya yang menjuntai di sekitar pelipisnya. Edward menggelengkan kepalanya, guna menyadarkan dirinya sendiri yang mulai hanyut ke dalam perasaan yang selama ini belum pernah Ia rasakan, ketika berdekatan dengan seorang perempuan.