
...'Membicarakan keburukan orang lain itu memang dosa, tapi entah kenapa manusia tidak bisa berhenti dari kebiasaan buruk itu'...
...----------------...
Bel istirahat sudah berbunyi dari lima menit yang lalu, semua murid pun sudah mulai berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
Rayla hanya berdiam diri di kelas, Ia masih belum terlalu mengenal lingkungan sekolahnya. Itulah sebabnya Ia lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kelas sembari memainkan ponselnya.
Di lain tempat, Rifki sedang menatap layar handphonenya dengan pandangan yang berbinar-binar. Bagaimana tidak, di layar handphonenya menayangkan The Album concept teaser video dari girlband favoritnya yaitu Blackpink. Bahkan makanan yang tadi sudah Ia pesan pun belum Ia sentuh sedikit pun, semua fokusnya teralihkan pada video yang sedang terputar di layar handphonenya. Sedangkan Edward, Ia memandang jengah ke arah Rifki. Kalau sudah urusan k-pop bisa di pastikan Rifki akan lupa segalanya.
"Lo mau sampai kapan cengar-cengir kayak orang gila begitu?" tanya Edward yang sudah jengah melihat kelakuan Rifki.
"Bentar lagi Ed," jawab Rifki tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya.
"Gue tinggal kalo lo gak ngabisin makanan lo sekarang!" ancam Edward.
Rifki mendongak ketika mendengar ancaman Edward.
"Selain ngancam, lo jago ngapain lagi si Ed?" tanya Rifki jengkel akibat Edward yang selalu saja mengancamnya.
"Balapan," jawab Edward enteng.
"Budu amat!" jawab Rifki kesal dan langsung memakan makanan yang sempat Ia abaikan tadi.
Edward hanya menggidikkan bahunya acuh, dan menunggu Rifki sampai usai memakan makanannya. Tak berselang lama kemudian, Rifki pun sudah menghabiskan makanannya.
"Makan kayak di kejar setan aja lo!" ucap Edward yang melihat Rifki sudah menyelesaikan makannya dalam waktu lima menit.
"Gue bukannya di kejar setan," jawab Rifki sok serius.
Edward mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya.
"Gue di tungguin setan!" lanjut Rifki yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Edward.
"Maksud lo, lo nyamain gue sama setan?" tanya Edward tidak terima.
"Iya, mirip"
"Sialan, bergaul di mana si lo?"
"Sama lo lah!"
"Gue gak punya temen modelan kayak lo!"
"Halah, ngomongnya aja begitu! Padahal nyatanya lo gak bisa jauh-jauh dari gue kan?" tanya Rifki sembari menaik turunkan alisnya menggoda Edward.
Edward tak menanggapi ucapan Rifki, Ia hanya menatap Rifki kemudian bangkit dari kursinya dan segera berlalu dari kantin. Rifki pun tersenyum geli dan segera menyusul Edward.
"Acie, bener ya lo gak bisa jauh-jauh dari gue?" ucap Rifki yang semakin gencar menggoda Edward.
Edward tetap tidak menanggapi apa yang di ucapkan oleh Rifki.
"Ah gak asik lo mah! Di tanya malah enggak di jawab!" dumel Rifki.
"Owh, lo dari tadi ngomong sama gue?" tanya Edward dengan raut wajah yang menyebalkan.
"Susah ngomong sama orang yang gak peka!"
"Siapa yang lo bilang gak peka?"
"Lo lah! Masak gue. Gini-gini kadar kepekaan gue tuh tinggi, menandingi sensitivitas ujung kumis Pak Darso!"
"Pak Darso?" beo Edward tidak mengerti.
"Iya Pak Darso si guru BK berkumis melintang, bahkan lintang kumisnya menandingi lintang Utara sama lintang Selatan!"
"Emang lo pernah ngukur?" tanya Edward tidak percaya.
"Gue sih gak pernah ngukur, tapi kata anak-anak OTR si gitu." jawab Rifki dengan mendekatkan dirinya kepada Edward dan bersuara seperti berbisik-bisik. Rifki tidak tau saja, mau Ia berbisik atau tidak suaranya tetap saja sama! Udah kayak toa masjid.
"Ngomongin guru sendiri itu dosa! Gue gak mau ikut-ikutan nanggung dosanya, dosa yang gue buat sendiri aja udah banyak ini malah lo tambahin lagi!"
"Gampang ntar dosanya kita bagi dua, lo sembilan puluh persen gue sepuluh persen." jawab Rifki dengan bangga.
Edward memukul pundak Rifki ketika mendengar jawabannya, "Enak aja, kenapa gue yang lebih banyak nanggung dosanya ketimbang lo?!"
"Ya kan sesama teman sendiri harus saling tolong menolong!"
"Ya gak gitu juga konsepnya marjuki!"
"Salah lagi gue, emang ya gue gak pernah bener di mata lo Ed." ucap Rifki dengan dramatis.
"Ah lo mah! Gak bisa apa sekali-kali ikutin drama yang gue ciptain!"
"Nanti,"
"Nanti kapan?!" tanya Rifki dengan raut wajah yang sumringah. Akhirnya Edward mau juga di ajak drama!
"Kalo ayam udah bisa beranak!" jawab Edward kemudian tertawa.
"Sampai lebaran monyet juga ayam gak bakal bisa beranak sutet!" ucap Rifki dengan raut wajah yang kesal. Heran temen gue kok begini amat ya?
"Dih gak usah ngegas dong!"
"Lo nya kayak pengen di sembelih tau gak!"
"Siapa bilang gue mau di sembelih!"
"Gue lah!"
"Udah lah, debat sama lo gue gak dapet apa-apa. Mending kalo debat di bayar kayak pengacara, kan lumayan dapet duit. Lah ini debat sama lo gak ada faedahnya sama sekali!" ucap Edward yang ingin mengakhiri perdebatan unfaedah yang terjadi di antara mereka.
"Lo yang mancing," jawab Rifki tak terima.
"Gue gak bawa kail buat mancing,"
"Au ah, Rifki ngambek sama Edward!" ucap Rifki kemudian berjalan mendahului Edward.
"Mimpi apa gue punya temen kayak begitu," gumam Edward.
Edward pun mengikuti langkah Rifki menuju ke kelasnya, Ia tidak berniat untuk membujuk Rifki sekarang. Biarkan saja nanti juga balik sendiri, begitulah pikirnya.
Sampai di kelasnya, Rifki segera menuju tempat duduknya dan menaruh kepalanya di atas lipatan tangannya. Edward yang melihat itu pun merasa heran, karena biasanya Rifki akan bergosip ria dulu bersama teman satu organisasinya baru Ia akan kembali ke tempat duduknya. Itupun jika ada guru yang memasuki kelas, jika tidak Ia akan tetap bergosip ria atau membuat kerusuhan lainnya seperti bernyanyi atau bermain kejar-kejaran dengan teman-teman satu organisasinya.
"Beneran ngambek ni anak?" tanya Edward kepada dirinya sendiri. Edward pun menghampiri tempat duduk Rifki.
"Woi Rif," ucap Edward sembari mencolek lengan Rifki.
"Apa sih colek-colek emang gue sabun colek apa!"
"Lo beneran ngambek?"
"Menurut lo?"
"Enggak," jawab Edward dengan polos sampai-sampai Rifki ingin menampar wajah polos Edward.
"Lo sebenernya temen gue bukan sih?!" tanya Rifki kesal.
"Bukan,"
"Gue ngumpat boleh gak sih?!"
"Ngumpat mah ngumpat aja tapi ingat dosa tanggung sendiri gak usah bagi-bagi!"
"Gue masih ngambek ya sama lo, gak usah ngajak gue ngomong!" ucap Rifki yang baru sadar bahwa Ia masih dalam mode ngambek.
Edward menggelengkan kepalanya tak habis pikir, "Ya udah ngambek sana, padahal gue baru mau ngajakin lo buat nonton Lovesick Girls MV!"
Rifki yang mendengar itu pun sontak mendongak.
"Yang bener lo? Ntar lo malah ngibulin gue lagi," tanya Rifki yang masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Edward barusan.
"Iya beneran,"
"Bentar deh gue mikir-mikir dulu," ucap Rifki yang tidak mau di sogok dengan mudah.
"Penawaran gue gak bakal berlaku lagi setelah satu menit di ucapkan,"
"Ok deh, ntar nontonnya di apartemen lo ya"
"Ini nih namanya udah di kasi hati minta jantung!"
"Lo yang ngajak kan?"
"Iya gue yang ngajak, tapi awas aja nanti kalau kulkas gue sampai kosong!"
Rifki menyengir lebar, "Gak janji ya Ed."
Edward pun hanya mendengus kesal, pasalnya jika Rifki sudah ke apartemennya bisa di pastikan kulkasnya akan terkuras isinya. Dan akibatnya Ia harus membeli lagi isi kulkasnya, bukan masalah uangnya tapi ini masalah mood untuk berbelanja ke supermarketnya!