
...'Namanya juga penolakan, mau itu secara halus atau kasar pasti orang yang ditolak itu akan kecewa.'...
...----------------...
Edward duduk dihadapan meja belajarnya, Rifki baru saja pulang setelah makan malam dan numpang mandi di apartemennya. Pengen banget di cemplungin ke kolam lele kayaknya si Rifki itu, berasa rumah sendiri dia tuh kalau udah di apartemen Edward.
Tidak mau memikirkan kelakuan Rifki yang seenak jidatnya dan lebarnya seperti lapangan bola itu, Edward beralih untuk memasukkan buku yang akan Ia bawa ke sekolah besok ke dalam tas sekolahnya. Setelah mengecek daftar tugas yang belum Ia kerjakan, Edward beralih untuk membuka ponselnya. Semua tugas sudah selesai Ia kerjakan, tinggal menunggu eksekusi dari guru mata pelajarannya saja, apakah tugasnya sudah benar atau belum.
Jemarinya menari lincah di atas keyboard ponselnya, tertera nama Effie di room chat yang sedang Edward buka. Setelah memejamkan matanya, dan menguatkan tekadnya. Akhirnya Edward mengirim pesan yang sudah selesai Ia ketik satu menit yang lalu tetapi masih ragu untuk mengirimkannya. Edward menaruh ponselnya ketika melihat keterangan bahwa kontak yang baru saja Ia kirimi pesan berubah menjadi online, padahal tadi masih offline. Menghembuskan nafas kasar, Edward meyakinkan dirinya bahwa tindakan yang baru saja Ia lakukan tidak berlebihan.
Rayla mengerutkan keningnya bingung ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, Ia pun mengecek terlebih dahulu profil yang digunakan oleh orang yang baru saja mengirimkannya pesan. Ia semakin di buat bingung karena profilnya sama sekali tidak menunjukkan wajahnya, karena Ia berpose dibawah senja dan fotonya diambil dari samping. Karena penasaran akhirnya Rayla pun memberanikan diri membuka pesan dari nomor yang tidak Ia kenal yang baru saja masuk ke ponselnya.
+62 832-511-623-***
Sv
^^^Maaf siapa ya?^^^
Edward langsung mengambil ponselnya ketika melihat balasan Rayla.
Tmn kls lo
^^^Temen yang mana ya?^^^
^^^Maaf, blm kenal sama semua temen yang ada di kelas^^^
Yg td ngntrn plng,
Otak Rayla berputar mencoba mencari jawaban dari clue yang di berikan, hingga ada satu kemungkinan yang Rayla sadari.
^^^Edward?^^^
Hmm
^^^Ok^^^
Bsk brngkt brng sp?
Rayla mendengus melihat pesan Edward yang hampir sama sekali tidak ada huruf vokalnya, berasa lagi belajar bahasa lagi ini mah.
^^^Gak tau^^^
Ok brngkt brng gw
Gk ad penolakan,
Bsk gw jmpt
^^^Kesambet apaan lo?^^^
Gk ush bnyk tanya,
Bsk gw jmpt
Skrng mndng lo tdr, biar bsk gk tlt bngn.
^^^Gue blm blng setuju ya!^^^
Udh gw blng td,
Gw gk nerima penolakan
^^^Kok lo maksa?!^^^
Trsrh gw lah,
^^^Gw gk mau!^^^
Iya, bsk gw jmpt kok
^^^Gila!^^^
^^^Edan!^^^
Read
Edward tertawa melihat kembali isi pesannya bersama Rayla. Sedangkan Rayla mendengus kesal melihat pesan terakhirnya yang hanya dibaca saja oleh Edward tanpa diberikan balasan. Dasar orang aneh! Umpat Rayla dalam hati.
Tidak mau membuang tenaganya hanya karena pesan menjengkelkan dari Edward yang tiba-tiba saja memaksanya untuk berangkat bersama, Rayla pun meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas yang ada didekat tempat tidurnya. Ia pun merebahkan tubuhnya keatas kasur kesayangan miliknya dan perlahan menutup matanya guna mengarungi dunia mimpi. Berharap bahwa Edward tidak benar-benar serius untuk menjemputnya besok pagi.
💐💐💐
Sinar mentari perlahan menyinari bumi, menghapus embun pagi. Udara hangat perlahan menyelimuti bumi, memaksa semua insan tuk beraktivitas kembali.
Rayla turun ke lantai dasar ketika dirinya sudah usai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia mengerutkan keningnya bingung ketika menyadari ada anggota baru yang bergabung bersama kedua orang tuanya dimeja makan. Matanya membulat sempurna ketika berhasil mengenali sosok yang kini tampak tengah asik berbincang bersama Papanya.
"Lo ngapain pagi-pagi udah disini?" tanya Rayla dengan raut wajah kesal. Harapannya tadi malam ternyata tidak menjadi kenyataan, yang ada malah sekarang Edward tengah duduk manis sembari berbincang dengan Papanya seperti teman lama yang baru berjumpa.
"Ayla gak boleh kayak gitu ke Edward, dia udah nyempetin waktunya loh buat jemput kamu ke sini," ucap Mamanya sembari memberi kode kepada Rayla agar bersikap sopan terhadap Edward.
"Tapi Rayla kan bisa berangkat bareng Papa, Ma," rengek Rayla.
"Gak bisa, Papa hari ini ada meeting penting," sambar Papanya cepat.
Baru saja Rayla ingin melayangkan protes, Mamanya buru-buru menyela.
"Udah, kamu berangkat bareng Edward aja. Sekarang cepatan kamu duduk terus sarapan. Kasian Edward nunggu kamu lama dari tadi!" ucap Mamanya tanpa bisa diganggu gugat.
Rayla merenggut, tapi tak ayal Ia pun melangkah menuju kursi meja makan yang ada dihadapan Edward. Ia menatap Edward yang juga saat ini sedang menatapnya sembari tersenyum kemenangan. "Kalau aja gak ada Mama sama Papa, udah gue cakar-cakar tuh muka!" gerutu Rayla dalam hati. Sedangkan Edward hanya bisa menahan senyumnya ketika melihat Rayla memakan roti selainya dengan pipi yang menggembung dan ditambah dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Selang lima menit kemudian Rayla sudah menyelesaikan sarapannya, melihat Rayla yang telah usai memakan sarapannya. Edward pun segera bangkit dan berpamitan kepada orang tua Rayla, dan diikuti oleh Rayla.
"Om, tante. Kita berangkat dulu ya," ucap Edward sembari mencium punggung tangan orang tua Rayla.
"Ok, hati-hati ya ganteng. Jangan sampai anak tante nanti pulangnya lecet ya, skincare nya dia mahal soalnya," ucap Mamanya sembari terkekeh.
"Mama!" pekik Rayla kesal ketika mendengar ucapan Mamanya. Edward pun ikut terkekeh, sebelum merasakan tangannya ditarik paksa oleh Rayla. Ia pun tersenyum melihat wajah kesal Rayla, setelah berpamitan sekali lagi kepada orang tua Rayla. Edward pun mengikuti langkah Rayla yang menggiringnya menuju halaman depan rumahnya.
Tepat saat mereka keluar dari pintu utama rumah Rayla, sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumah Rayla. Rayla terdiam begitu juga dengan Edward, keduanya masih sama-sama menunggu siapa gerangan orang yang berada dibalik kemudi mobil tersebut.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu tiba, Sam keluar dari balik pintu kemudi kemudian berjalan menuju tempat dimana Rayla dan Edward terdiam dengan tangan Rayla yang masih memegang tangan Edward.
"Pagi cantik," sapa Sam kepada Rayla. Sedangkan Edward sudah memasang wajah dinginnya.
"P-pagi," jawab Rayla canggung.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Sam tanpa memperdulikan Edward. Atensinya hanya kepada Rayla.
"Iya," jawab Rayla seadanya.
"Ya udah kalo gitu, ayo," ucap Sam sembari menarik tangan Rayla yang bebas.
Baru saja ingin melangkah, tiba-tiba Sam merasakan cekalan yang cukup kuat di pergelangan tangannya. Dan tak lama kemudian, Ia merasakan tangannya dihempaskan.
"Dia berangkat bareng gue," ucap Edward dingin.
Sam tertawa, "Sejak kapan Rayla mau berangkat sama lo?" ucap Sam meremehkan.
Edward mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Sam, "Bukan urusan lo!"
"Jelas sekarang jadi urusan gue! Rayla berangkat sama gue," ucap Sam tak ingin dibantah.
Edward tersenyum sinis, "Mending tanya ke orangnya langsung. Dia mau berangkat bareng siapa."
Merasakan atmosfer yang ada di sekitarnya semakin memanas, Rayla akhirnya angkat bicara.
"Gue berangkat bareng Edward," ucap Rayla. Entah mengapa nama Edward yang keluar dari mulutnya, padahal tadi Ia sangat kesal mengetahui keberadaan Edward di rumahnya.
"Tapi Ay lo--," ucapan Sam terhenti karena Rayla langsung menyelanya.
"Sorry Sam, gue duluan," ucap Rayla kemudian langsung menarik Edward menuju motor lelaki itu. Sebelum pergi, Edward dan Sam sempat bersitatap sejenak. Sam terus mengawasi Edward dan juga Rayla, sampai motor yang mereka tumpangi sudah tak terlihat lagi melalui retina matanya. Sam menyunggikan senyum misterius, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan pekarangan rumah Rayla.