
...'Ciptakan lah kebahagiaan dari hal yang paling sederhana, karena setidaknya kamu sudah berusaha untuk bahagia dengan cara mu sendiri. Bukan dengan jalan, merebut kebahagiaan orang lain.'...
...----------------...
Edward dengan hati-hati meletakkan piring kotor yang di bawanya ke dalam wastafel. Kemudian mulai menyalakan keran air, dan dengan cekatan Ia mencuci semua piring kotor tersebut. Rayla yang baru saja selesai membersihkan meja makan pun, menengok ke arah Edward, yang nampak tidak kesulitan sama sekali. Karena penasaran, akhirnya Rayla pun menghampiri Edward.
"Udah selesai belum?'' tanya Rayla, ketika dirinya sudah berada di dekat Edward.
"Bentar lagi," jawab Edward, tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring-piring yang ada di hadapannya saat ini.
"Gue bantu bilas," ucap Rayla, kemudian langsung membantu Edward.
Edward melirik ke arah Rayla, yang kini fokus membilas piring. Dengan jail, Edward mencipratkan sedikit air ke arah Rayla. Sontak, Rayla terperanjat kaget. Kemudian menatap tajam ke arah Edward, yang kini memasang wajah polos nya.
"Kenapa?" tanya Edward, seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Rayla berdecak, kemudian tanpa berpikir panjang, langsung menampung air yang keluar dari keran wastafel nya kemudian mencipratkannya ke arah Edward.
"Impas," ucap Rayla, sembari tersenyum puas.
Edward terkekeh, kemudian mencipratkan kembali air ke arah Rayla, "Dua, satu."
Rayla memberengut kesal, "Gak usah ngajakin war deh lo. Gue lagi gak mood."
"Yang ngajak war siapa? Lagian, gue juga mikir-mikir kalau mau ngajak lo war."
Alis Rayla menukik, sebagai tanda tak paham atas ucapan Edward.
"Maksud lo?"
"Kalau gue ngajak lo war, pasti gue kalah duluan sebelum bertarung."
"Hah?"
"Lo cewek, gak seharusnya gue ngelawan yang sepatutnya harus di lindungi sama kaum cowok."
Pipi Rayla bersemu merah, mendengar penuturan Edward barusan. Padahal, itu mencakup secara garis besar semua kaum wanita yang ada di dunia, dimana sudah sepatutnya di lindungi oleh kaum pria.
Edward, tersenyum geli melihat Rayla yang saat ini pipinya memerah.
"Lo kenapa?"
"Gak papa."
"Kok gue gak percaya?" tanya Edward, sembari mendekat ke arah Rayla. Membuat Rayla ketar-ketir sendiri, karena Edward semakin mengikis jarak yang ada diantara keduanya.
"L-lo mau ngapain?" tanya Rayla, ketika Ia sudah tidak bisa mundur karena tembok yang ada di belakangnya. Sedangkan Edward, masih beranjak untuk mengikis jarak diantara mereka.
Rayla menutup matanya, ketika Edward mendekatkan wajahnya. Edward tersenyum geli melihat tingkah Rayla.
"Buka mata lo," ucap Edward, berbisik tepat di depan wajah Rayla.
Rayla, perlahan membuka matanya. Manik matanya, langsung bersitubruk dengan manik mata milik Edward. Rayla menahan nafas, ketika menyadari jarah wajahnya dan Edward hanya beberapa senti saja. Sumpah, kenapa sih, cowok suka nya buat cewek deg-degan gak karuan!?
Keduanya saling menatap dengan jarak yang sangat dekat, hingga suara teriakan yang berasal dari ruang keluarga, berhasil membuat mereka terperanjat kaget. Edward pun, langsung memberi jarak antara dirinya dan Rayla setelah mendengar suara teriakan dari arah ruang keluarga.
"Udah selesai belum? Nyuci piring sama rapiin meja makannya?" tanya Mama Rayla, yang berteriak dari arah ruang keluarga.
"Udah, ini lagi ngeringin tangan!" sahut Rayla, ikut berteriak.
"Kalau udah, cepetan ke sini!" titah Mama Rayla.
Edward melirik ke arah Rayla.
"Lo mau langsung pulang?" tanya Rayla, saat dirinya sadar tengah di lirik oleh Edward.
"Lihat situasi," jawab Edward, sembari mengekori langkah Rayla yang kini tengah melangkah menuju ruang keluarga.
Rayla mengangguk saja, mendengar ucapan Edward.
"Kalian nyuci piring atau lagi ngitungin butiran air yang jatoh dari keran?" tanya Mama Rayla, ketika Edward dan Rayla sudah berada di hadapannya.
Rayla menggelengkan kepalanya, ketika pertanyaan tak ber faedah itu ditanyakan oleh Mamanya.
"Siapa tahu kan?"
"Terserah Ma, terserah," desis Rayla frustrasi.
Edward memandang ke arah Rayla, dan Mama Rayla bergantian. Kemudian, Ia pun memilih untuk angkat bicara, daripada hanya menjadi penyimak perdebatan yang terjadi, diantara Ibu dan anak.
"Edward pamit pulang ya, tan," ucap Edward sembari menghampiri Mama Rayla yang kini tengah duduk di salah satu sofa.
"Loh? Kok udah mau pulang?"
"Udah sore tan," ucap Edward dengan kikuk.
Mama Rayla mengangguk mengerti, "Yaudah. Kamu hati-hati pulangnya. Ngebut boleh, tapi inget keselamatan yang utama!"
"Iya tan, kalau gitu Edward pamit pulang ya. Makasih udah izinin Edward minjem baju bang Devan, sama makan siang disini," ucap Edward sembari menyalimi tangan Mama Rayla.
"Iya, sama-sama."
"Ay, anterin Edward ke depan gih. Mama mau lanjut nonton TV," ucap Mama Rayla, memerintah.
Rayla memutar bola matanya malas, "Iya, Ma."
"Salam sama om, tante," ucap Edward sebelum benar-benar pergi pulang.
"Iya, nanti tante salamin."
Setelah berpamitan kepada Mama Rayla, dan tak lupa menitip salam untuk Papa Rayla. Edward beranjak menuju pintu utama rumah Rayla, dan di ikuti oleh Rayla di belakangnya.
"Gue pulang dulu," ucap Edward ketika sudah sampai di pintu utama rumah Rayla.
Rayla mengangguk, "Hati-hati."
"Besok gue jemput."
"Gak usah! Gue berangkat bareng sopir aja besok," tolak Rayla cepat, teringat dengan bagaimana ganasnya setiap fans-fans fanatik Edward.
Edward mengerutkan keningnya tak suka, mendengar penolakan yang Rayla berikan.
"Kenapa?"
"Yaaa... Gak papa."
Edward mengernyit, "Yaudah. Berangkat bareng gue."
Rayla menghembuskan nafasnya kasar, "Takut." cicitnya.
Edward tersenyum lembut, "Gak usah takut. Ada gue," ucap Edward meyakinkan.
Rayla menatap ragu ke arah Edward, Edward yang seakan mengerti arti tatapan Rayla pun kembali membuka suaranya.
"Kalau ada yang gangguin lo, bilang sama gue. Jangan di sembunyiin," ucap Edward yang masih berusaha meyakinkan Rayla.
Akhirnya, Rayla pun mengangguk. Meski ragu.
Edward tersenyum, kemudian mengacak pelan rambut Rayla.
"Edward!" pekik Rayla, tidak terima.
Edward terkekeh, melihat raut wajah Rayla yang nampak kesal.
"Gue pulang dulu, besok gue jemput. Jangan berangkat bareng sopir!" ucap Edward mewanti-wanti.
Rayla memberengut, "Iya-iya."
"Good girl," ucap Edward sembari mengelus puncak kepala Rayla. Sedangkan empunya, sedang berusaha menahan semburat merah yang mulai muncul di pipinya. Yah, walaupun hasilnya sia-sia.
"Gue pulang dulu," ucap Edward, yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Rayla.
Edward melangkah menuju tempat dimana motornya terparkir, kemudian dengan cepat Ia mengenakan helm nya dan men-starter motornya. Menoleh sekali lagi, ke arah Rayla kemudian membunyikan klaksonnya. Edward langsung melenggang pergi, meninggalkan halaman rumah Rayla. Setelah punggung Edward sudah tidak terlihat, Rayla pun beranjak masuk ke dalam rumahnya.