Please Feel My Love

Please Feel My Love
Trouble



...'Maaf, jika di saat kamu dekat dengan ku, kamu selalu dirundung masalah.'...


...----------------...


Pesta masih terus berlanjut, tetapi Rayla lebih memilih untuk menyingkir dari keramaian yang tercipta. Pikirannya terus tertuju pada kejadian yang baru saja terjadi. Ada rasa bahagia, namun juga ada rasa khawatir yang Rayla rasakan. Khawatir jika tadi ada yang melihat hal yang Ia lakukan bersama Edward, dan melaporkannya pada Bela, dan Bela memberitahu Ayah Edward.


Membayangkannya saja, sudah membuat Rayla ingin menangis. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang muncul, antara dirinya dan juga Bela.


Rayla terkesiap, ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia menatap terkejut ke arah Edward yang saat ini telah duduk di sebelahnya.


"Gak takut hantu? Di sini gelap loh," ucap Edward ketika Ia telah duduk di sebelah Rayla.


Rayla menggeleng sebagai jawaban.


"Tumben," ucap Edward heran.


"Gue lebih takut sama lo," ucap Rayla tanpa melihat kearah Edward.


"Sama gue?" tanya Edward sembari menunjuk dirinya sendiri, "Emang gue kenapa?"


"Gue gak mau ada yang salah paham, karena lo deket-deket sama gue," cicit Rayla.


Senyum Edward yang tadi menghiasi bibirnya, seketika sirna ketika mendengar ucapan Rayla.


"Kenapa? Apa ada peraturan yang larang gue, buat deket sama lo?"


Rayla memberanikan diri menoleh kearah Edward, yang kini tengah menatapnya dengan intes.


"But people, will think we're close again."


"So what?''


"I don't want them to think like that."


Edward menghembuskan nafas kasar, "Lo pacaran sama Sam?"


Rayla hanya diam ketika Edward bertanya seperti itu.


Edward tersenyum getir ketika melihat keterdiaman Rayla, "Jadi bener?"


Rayla masih saja diam.


"Gue anggap, jawaban lo iya. Dan, alasan sebenernya lo gak pengen kita deket, karena lo takut Sam salah paham, kan?"


Rayla memejamkan matanya, "Gue pamit," ucap Rayla sembari bangkit dari duduknya.


Langkah Rayla terhenti, ketika merasakan Edward mencekal pergelangan tangannya.


Rayla menatap bingung kearah Edward, "Lepas, Ed."


Edward menggeleng, "Gue gak bakal lepasin sebelum lo denger penjelasan gue."


Rayla tersenyum, "Lo gak usah jelasin apa-apa. Sekarang gue minta tolong, lepasin tangan gue," ucap Rayla sembari menarik tangannya dari cekalan Edward, dan melangkah menjauh darinya.


Edward kecewa? Tentu saja.


Langkah Rayla tiba-tiba berhenti, ketika kalimat tersebut meluncur dari mulut Edward.


Edward melanjutkan kalimatnya, ketika melihat Rayla yang diam tak bergeming dari posisinya berdiri, "Dia kakak tiri, yang gue ceritain. Dia gak sebaik keliatannya. So please, lo jauhin dia."


Rayla membalikkan tubuhnya, "Do you think you better than him?"


Edward tersenyum, "I told you to stay away from him. Not to tell you that I'm better than him."


Rayla hanya diam, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ia berbalik, kemudian langsung berlari pergi dari hadapan Edward. Edward mengacak rambutnya frustrasi, ketika melihat Rayla berlari menjauh darinya. Dengan segala pertimbangan, akhirnya Edward memilih untuk segera menyusul Rayla. Ia tidak ingin hubungannya menjadi semakin menjauh karena obrolan mereka kali ini. Cukup beberapa bulan ini saja, Edward merasa uring-uringan karena hubungan antara dirinya dan Rayla yang tidak baik.


Dengan cepat Edward berlari, dan menghampiri Rayla yang saat ini tengah bersiap untuk menyeberang jalan. Edward meraih tangan Rayla, kemudian menariknya ke dalam dekapannya.


Rayla memejamkan matanya, meresapi hangatnya dekapan Edward. Beberapa detik kemudian, Rayla sadar, dan mendorong paksa tubuh Edward agar melepaskan dekapannya.


"Gue mohon sama lo, jangan kayak gini," lirih Rayla.


"Ay, gue cuma gak mau lo pergi dari kehidupan gue," ucap Edward sendu.


"Jangan egois Ed. Lo udah gak butuh gue lagi sebagai tempat buat lo berkeluh kesah. Ada Bela yang sekarang bakal selalu ada di sisi lo," tegas Rayla dengan nada suara yang bergetar.


Edward memejamkan matanya, "Lo tau kan, kalau gue sama Bela dijo--,"


"Stop Ed. Gue gak peduli tentang apapun yang terjadi diatara lo sama Bela. Dan gue minta, mulai sekarang, lo berhenti buat ikut campur sama hubungan gue dan Sam. Karena yang bakal ngejalanin hubungan itu gue, bukan lo."


Lagi dan lagi, Edward tertegun mendengar kalimat yang Rayla ucapkan. Edward hanya mampu menatap Rayla, tanpa mampu untuk mengucapkan sepatah katapun. Lidah nya terasa kelu, hanya untuk mengeluarkan sepatah kata saja Ia tak mampu.


Rayla yang melihat keterdiaman Edward pun, hanya bisa menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ini demi kebahagiaan Edward, dan juga dirinya. Rayla tidak ingin hubungan antara Edward dan Ayahnya kembali retak karena ke egoisannya untuk tetap bisa berada menemani Edward di sampingnya.


Dengan segera Rayla berbalik, dan berlari pergi. Edward hanya bisa melihat kepergian Rayla, tanpa mampu mencegahnya lagi. Sepertinya, hubungannya dengan Rayla berakhir sampai di sini. Edward menunduk, kemudian mengepalkan tangan. Ia marah pada dirinya sendiri, karena tidak bisa mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Ia merasa menjadi pecundang saat ini.


Edward dengan reflek mendongak ketika mendengar suara benturan yang cukup keras. Mata Edward terbelalak, ketika menyadari seseorang baru saja tertabrak. Dengan jantung yang berdegup kencang, Edward berlari ke lokasi kejadian yang telah ramai di kerumuni oleh warga sekitar yang ada di sana. Ia berharap, apa yang terlintas di otaknya tidak benar-benar terjadi.


Edward menerobos kerumunan demi bisa melihat korban yang baru saja mengalami kecelakaan. Lutut Edward terasa lemas, ketika melihat Rayla yang telah terkapar tak berdaya dengan tubuh yang berlumuran darah di atas aspal.


Dengan segera Edward berlutut di dekat Rayla, kemudian memangku kepala Rayla yang berlumuran darah, tanpa memperdulikan pakaiannya yang akan kotor terkena darah Rayla.


"Ay, sadar. Lo jangan tutup mata lo," ucap Edward sembari menepuk-nepuk pipi Rayla agar Rayla tetap sadar.


Rayla tersenyum tipis, kesadarannya semakin menipis saat ini. Edward yang melihat hal itu pun semakin di buat panik.


"Ay gue mohon, jangan tutup mata lo, bentar lagi ambulance bakal datang, lo harus bertahan," ucap Edward semakin khawatir ketika darah tak berhenti mengalir keluar dari hidung Rayla. Dengan tangan gemetar, Edward menghapus darah yang terus mengalir dari hidung Rayla.


Rayla tersenyum tipis, ketika melihat Edward yang terus mengajaknya berbicara agar Ia tetap sadar.


"M-makasih," ucap Rayla terbata.


Edward menatap Rayla tepat di matanya, "Please Ay, jangan tutup mata lo," ucap Edward dengan nada bergetar, sembari semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Rayla.


Rayla menggeleng tipis, Ia sudah tidak sanggup untuk menjaga raganya untuk tetap sadar. Perlahan mata Rayla mulai tertutup, hal itu pun semakin membuat Edward panik. Edward terus memanggil nama Rayla, namun tidak ada respon sama sekali. Tak lama kemudian, suara sirine ambulance pun terdengar. Dengan segera Edward mengangkat tubuh Rayla, ke atas brankar ambulance. Di dalam mobil ambulance tak sedetik pun, Edward melepaskan genggamannya pada tangan Rayla. Seolah-olah, Edward tengah menyalurkan kekuatannya agar Rayla dapat bertahan.


"Please Ay, lo harus bertahan," lirih Edward.