Please Feel My Love

Please Feel My Love
Khawatir 2



...'Jangan tersenyum hanya ketika kamu merasa bahagia, tetapi tersenyumlah untuk bahagia.'...


...----------------...


Rifki menemani Rayla yang belum sadar dari pingsannya. Kata dokter tadi, Rayla mengalami shock karena trauma yang ada pada dirinya. Memang, Rayla tidak memberi tahu dokter bahwa Ia memiliki trauma terhadap jarum suntik.


Rifki mengalihkan pandangan dari ponsel yang di tangannya, ketika mendengar Rayla melenguh dan perlahan membuka matanya. Hal yang pertama kali Rayla lihat adalah, Rifki yang tengah menatapnya dengan ekspresi wajah khawatir.


"Masih pusing?" tanya Rifki ketika melihat Rayla memegangi kepalanya.


"Sedikit," gumam Rayla, tapi masih dapat di dengar oleh Rifki.


"Lo ke sini sama siapa?" tanya Rifki ketika melihat Rayla yang perlahan bangkit dari posisi tidurnya.


"Sopir gue."


"Dia nunggu dimana?" tanya Rifki.


Rayla menegakkan tubuhnya, Ia baru ingat, bahwa tadi setelah Ia turun dari mobil, Ia langsung berlari masuk ke dalam Rumah Sakit tanpa berkata apa-apa lagi pada Pak Santoso.


"Kayaknya nunggu di parkir deh," jawab Rayla pada akhirnya.


Rifki mengerutkan keningnya, "Kok kayaknya?"


"Gue tadi gak sempet nyuruh Pak Santoso buat nunggu di lobby, gue langsung keluar pas mobil berhenti di parkiran," ringis Rayla.


Rifki mengangguk mengerti, "Lo mau pulang sekarang? Biar gue anterin sampe parkiran."


Rayla menggeleng, "Keadaannya Edward gimana?"


Rifki menghembuskan nafas kasar, "Edward koma."


Mata Rayla membulat mendengar jawaban Rifki, dan dengan segera Rayla berusaha untuk mencoba turun dari atas brankar Rumah Sakit, tetapi ditahan oleh Rifki.


"Lo mau kemana?"


"Liat keadaannya Edward," jawab Rayla dengan nada khawatir yang tidak dapat Ia sembunyikan.


"Pelan-pelan turunnya. Ntar lo jatuh lagi," ucap Rifki sembari membantu Rayla untuk turun dari atas brankar.


"Kan gak lucu kalau lo yang lupa ingatan, padahal Edward yang kecelakaan," lanjut Rifki.


Rayla mendelik kesal ke arah Rifki, "Kata-kata lo di filter dikit napa."


"Emang kenapa sama kata-kata gue?"


"Gue gak bakal lupa ingatan, cuma gara-gara jatuh dari atas brankar doang."


"Siapa tau kan, lo jatuhnya dengan kepala bagian belakang yang nyungsep duluan."


Rayla mendengus kesal, "Terserah!"


Rifki pun mengikuti Rayla yang melangkah keluar, dari ruangan bercat putih tersebut.


Rifki terkekeh, "Gue udah kabarin Ayahnya Edward."


Rayla menaikkan sebelah alisnya, "Terus?"


"Ayahnya Edward sekarang lagi nemeni Edward, tapi--,"


"Tapi?" beo Rayla.


"Ayahnya Edward dateng sama Bela."


Langkah Rayla pun terhenti, begitupun dengan langkah Rifki.


"Lo gak papa?" tanya Rifki hati-hati, ketika melihat perubahan raut wajah Rayla.


Rayla menoleh ke arah Rifki, "Emang gue kenapa? Wajar kan Bela dateng, dia kan pacarnya Edward," ucap Rayla sembari tersenyum, kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


"Ribet banget sih, hubungan lo berdua," bisik Rifki kepada dirinya sendiri, kemudian berlari kecil, guna menyusul langkah Rayla.


"Rencana lo mau lanjut kuliah kemana, Ay?" tanya Rifki, setelah Ia berhasil mengimbangi langkah Rayla.


"Amerika, maybe."


"Lo bakal pindah lagi?" tanya Rifki penasaran.


"Mungkin. Kalau lo sendiri, mau lanjut kemana?"


"Belum ada bayangan."


Rayla mengangguk saja.


"Lo serius mau pindah lagi? Padahal lo belum lama di Indonesia."


Rayla menghela nafas, "Gue belum tentu pindah. Itu semua tergantung sama kerjaan bokap gue."


Rayla memandang aneh ke arah Rifki, "Emang kenapa?"


"Gue gak bisa nahan tangis, kalau semisal nanti lo beneran pindah ke Amerika," jawab Rifki sok dramatis.


Rayla terkekeh ringan, "Gak usah lebay deh lo."


"Ngomong-ngomong, Edward dirawat dimana sekarang?" tanya Rayla ketika mereka sudah beberapa saat berjalan, tetapi belum sampai juga.


"ICU. Bentar lagi juga nyampe, di depan tinggal belok kiri."


Rayla hanya menurut, ketika Rifki menyuruhnya untuk belok ke arah kiri.


"Ayahnya Edward lagi di dalem, kalau si bunglon gue gak tau kemana," jelas Rifki ketika melihat Rayla yang mengedarkan pandangannya seperti mencari keberadaan seseorang.


"Bunglon siapa?" tanya Rayla tak mengerti.


"Bela," bisik Rifki, ketika melihat Bela yang datang dari arah berlawanan, dari posisi mereka yang saat ini tengah berdiri.


"Siapin mental, Ay," bisik Rifki kembali, sebelum mereka berdua berhadapan dengan Bela.


Rayla mengernyit bingung, ketika mendengar bisikan Rifki. Tak lama kemudian, Heru pun keluar dari dalam ruang ICU. Bertepatan dengan itu juga, Bela sampai di hadapan Rayla dan Rifki.


Heru tersenyum ketika melihat Rifki, begitupun Rifki yang membalas tersenyum ke arah Heru. Pandangan Heru teralih pada Rayla yang berdiri di sebelah Rifki.


"Kamu siapa ya?" tanya Heru kepada Rayla.


Rayla pun terkesiap mendengar pertanyaan Heru, "Saya Rayla, teman sekelas Edward."


Heru mengangguk, "Kamu ada keperluan apa kesini?"


"Eh?" Rayla terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Heru kepadanya.


Rifki yang melihat itu pun, langsung ikut menyelip masuk ke dalam obrolan yang terjadi antara Rayla dan Heru.


"Rifki yang ngajak Ayla ke sini, om," ucap Rifki.


Heru menatap Rifki, "Buat apa?"


Rayla meringis mendengar pertanyaan Heru, yang seakan-akan tidak suka dengan keberadaannya di sini. Sedangkan Bela, tengah menatap sinis ke arah Rayla.


"Saya cuma mau lihat keadaannya Edward," jawab Rayla.


"Edward gak bisa di jenguk, jam besuknya udah abis," jawab Bela ketus.


Heru mengangguk setuju, mendengar ucapan Bela, "Iya. Jam besuknya Edward sudah habis."


Kemudian Heru mengalihkan pandangannya ke arah Bela, kemudian seulas senyum terbit di bibirnya.


"Terimakasih Bela, kamu sudah menyelamatkan nyawa Edward, dengan mendonorkan darah kamu padanya," ucap Heru masih dengan senyum yang terukir di bibirnya.


Rayla dan Rifki sontak terkejut mendengar ucapan Heru, baru saja Rifki akan membuka suara, tetapi Rayla lebih dulu memberinya kode untuk tidak membeberkan fakta yang sebenarnya.


"Iya om, sama-sama. Lagian kan Edward calon tunangannya Bela," jawab Bela dengan menekankan kata calon tunangan dalam kalimatnya, sembari melirik Rayla dengan tatapan sinis.


Rayla hanya tersenyum, melihat Bela yang menatap sinis ke arahnya. Sedangkan Rifki, ekspresinya seperti ingin melempar Bela ke kebun binatang, agar bertemu dengan spesies bunglon lainnya.


"Kalau gitu, Rayla pamit pulang, om," ucap Rayla sembari berpamitan pada Heru.


Heru mengangguk.


"Rifki juga pamit, mau nganter Rayla," ucap Rifki.


Rayla menoleh ke arah Rifki, "Gak usah. Gue bisa sendiri."


"Udah gak papa," ucap Rifki meyakinkan Rayla. Rayla pun mengangguk pasrah, kemudian melangkah menjauh dari hadapan Heru dan Bela, bersama dengan Rifki yang melangkah


disebelahnya.


"Tunggu!" ucap Heru ketika Rayla dan Rifki baru melangkah beberapa kali.


Mereka berdua pun sontak menoleh ke arah Heru.


"Ada apa, om?" tanya Rayla.


Heru menghela nafasnya, "Sebaiknya kamu tidak usah menjenguk Edward, mulai besok dan seterusnya. Sudah ada Bela yang akan mengurusnya nanti."


Rayla tersenyum tipis, "Om tenang saja. Saya tidak berniat untuk merusak hubungan antara Bela dan juga Edward. Dan untuk permintaan om barusan--," Rayla mengambil nafas sejenak, "Saya akan berusaha untuk menjalankannya."


Rifki memandang terkejut ke arah Rayla, sedangkan Bela tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan Rayla.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Rayla ketika melihat Heru menganggukkan kepalanya. Ternyata ini maksud dari ucapan Rifki yang menyuruhnya untuk menyiapkan mental. Ayah Edward tidak suka kepadanya.


Dengan cepat Rifki menyusul langkah Rayla. Ada sedikit rasa kesal di dalam diri Rifki ketika melihat Heru menunjukkan secara terang-terangan rasa tidak sukanya terhadap keberadaan Rayla. Padahal Rayla lah yang menyelamatkan Edward, bukan si bunglon itu. Harusnya Heru berterimakasih kepada Rayla, bukannya malah mengusirnya!