Please Feel My Love

Please Feel My Love
Giveaway Dari Rayla



...'Siapa yang bisa mengerti sepenuhnya tentang urusan hati? ...


...Jawabannya opsoyo¹.'...


...----------------...


Bel pulang sekolah telah berkumandang memenuhi area sekolah SMA Fulminans Zapota, semua murid pun bersorak bahagia karena sebentar lagi mereka akan bertemu dengan pasangan setia mereka. Ya apalagi kalau bukan tempat tidur dan antek-anteknya.


"Yok ke parkir," ucap Rifki kepada Edward yang sedang memasukkan buku paket ke dalam tasnya.


"Hmm," jawab Edward kemudian menyampirkan tasnya ke pundak sebelah kanannya, sedangkan yang sebelah kiri Ia biarkan menganggur.


"Sepupu an sama Nisa Sabyan deh kayaknya temen gue ini," gumam Rifki kemudian menyusul Edward yang telah berada di luar kelas.


Ketika sudah sampai di parkiran sekolah, Edward pun langsung menuju motornya dan dengan segera mengenakan helmnya.


"Gue cabut duluan," ucap Edward kepada Rifki yang saat ini tengah mengaitkan helmnya.


"Ok, hati-hati. Jan lupa belokan lurus," ucap Rifki sembari terkekeh.


Edward hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar candaan Rifki. Ia pun dengan segera melajukan motornya menuju gerbang sekolah, tetapi netranya tak sengaja menangkap sosok Rayla yang sepertinya tengah menunggu jemputan. Entah setan dari mana, Edward pun melajukan motornya mendekat ke arah di mana Rayla tengah berdiri.


"Ngapain lo di sini?" tanya Edward ketika dirinya sudah berada di hadapan Rayla.


"Latihan jadi patung selamat datang!" jawab Rayla kesal. Sudah tau ini jam pulang sekolah, tentu saja Ia sedang menunggu jemputan agar bisa pulang ke rumahnya.


"Kenapa mesti latihan? Udah cocok kok lo jadi patung selamat datang," ucap Edward sembari mengulum senyumnya.


Rayla mendengus mendengar ucapan Edward, "Kok lo dateng-dateng buat gue darah tinggi sih?"


"Gue gak ngapa-ngapain tuh," jawab Edward enteng.


"Susah debat sama orang kepala batu!" jawab Rayla sembari membuang muka. Ilang dong? Ga deh canda.


"Kepala gue gak ada batunya," protes Edward.


"Cuma perumpamaan Sukirman!"


Edward mengerutkan keningnya bingung, "Sukirman siapa?"


"Abang-abang tukang go-jek yang gantung diri di pohon cabe!" ucap Rayla sembari tersenyum lebar. Caranya gimana ya?


Edward melongo mendengar jawaban absurd Rayla, ini sih kembaran Rifki kalo lagi absurd ucap Edward dalam hati.


"Devan lama banget sih! Tau gitu ogah gue di jemput sama itu bocah!" gerutu Rayla sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Lo lagi nunggu sepupu lo?" tanya Edward yang mendengar gerutuan Rayla.


"Iya."


Setelah mendengar jawaban Rayla, Edward pun lebih memilih untuk berdiam diri di sana. Ia pun menurunkan standar motornya dan melepas helm yang telah Ia gunakan.


"Ngapain lo masih di sini?" tanya Rayla yang keheranan melihat Edward.


"Lo gak lagi kerasukan kan?" tanya Rayla was-was.


Edward memutar bola matanya malas, "Enggak lah! Lagian lo aneh-aneh aja."


"Ya kan siapa tau," cicit Rayla pelan.


"Ngomong apa lo?" tanya Edward karena Ia tak mendengar dengan jelas apa yang gadis itu ucapkan.


"Bukan apa-apa," jawab Rayla cepat.


Edward pun menganggukan kepalanya kemudian lebih memilih untuk memainkan handphonenya, sedangkan Rayla. Ia saat ini tengah sibuk menghubungi Devan, yang sialnya tidak di jawab sama sekali oleh sepupunya itu. Menyerah dengan keadaan, Rayla pun lebih memilih untuk berhenti menghubungi Devan. Pikirannya tengah sibuk memikirkan hukuman apa yang cocok untuk sepupunya itu jika sudah datang nanti.


Seulas senyum licik terbit di bibir Rayla, lihat saja nanti apa yang akan dia lakukan terhadap sepupunya. Berani-beraninya dia menelantarkan Rayla di pinggir jalan seperti ini, mana panas lagi. Di kira beli skincare murah apa!


Untung ada Edward yang mau menemaninya. Eh Edward?


Rayla pun mengalihkan pandangannya ke arah Edward yang saat ini tengah sibuk memainkan handphonenya tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Jika di perhatikan dengan seksama, Edward memang sangat tampan. Tapi buru-buru Rayla menepis pikirannya itu, ganteng si ganteng tapi nyebelin nya minta ampun!


Setelah hampir tiga puluh menit menunggu kedatangan Devan, akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Dengan wajah bersalahnya Ia turun dari dalam mobil yang Ia kendarai.


"Maaf Ay, tadi gue ada kuliah tambahan," ucap Devan ketika melihat wajah Rayla yang sudah berubah menjadi sangar. Ia meringis membayangkan bagaimana nanti sepupunya itu akan membalas dendam padanya.


Perhatian Devan ter alih ke arah Edward yang saat ini juga tengah menatapnya.


"Edward kan?" tanya Devan.


Edward hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Devan tersenyum, "Thanks udah nemenin sepupu gue di sini. Gak tau deh kalo gak ada lo, mungkin dia udah nyabik-nyabik gue sekarang."


Bola mata Rayla membulat sempurna ketika mendengar ucapan Devan, Ia pun mencubit lengan sepupunya itu. Devan pun mengaduh kesakitan mendapat serangan dari Rayla. Sungguh, Rayla tidak main-main saat mencubitnya. Yup, inilah hadiah dari Rayla untuk Devan karena telah berani-beraninya menelantarkannya di pinggir jalan.


"Makasih Ed udah nemenin gue nungguin ini curut," ucap Rayla kepada Edward tanpa melepas cubitannya di lengan Devan.


"Not a big problem," jawab Edward. Rayla pun hanya menganggukkan kepalanya menanggapi jawaban Edward.


"Buruan masuk mobil, gue mau pulang!" ucap Rayla setelah melepaskan cubitannya pada lengan Devan. Ia pun langsung melenggang masuk ke dalam mobil Devan.


"Gue duluan Ed," pamit Devan kepada Edward yang hanya di balas anggukan saja olehnya.


Devan pun langsung masuk ke dalam mobilnya karena Ia tak ingin mendapat konseling gratis mengenai janji dan tepat waktu dari Rayla. Edward pun memperhatikan mobil yang di kendarai oleh Devan, ketika mobil tersebut sudah tidak dapat lagi di jangkau oleh retina matanya. Edward pun dengan segera menggenakan helmnya kembali dan menyalakan mesinnya, setelah itu Ia melajukan motornya menuju arah apartemennya.


Tanpa Edward sadari, Rifki mengetahui apa yang Ia lakukan sedari tadi. Mulai dari Edward yang menghampiri Rayla sampai Ia yang rela membuang waktunya hanya untuk menemani Rayla saja. Rifki terkekeh geli mengingat tingkah sahabatnya itu.


Rifki memang belum pulang karena tadi Ia tidak sengaja melihat Edward yang menghampiri Rayla, karena rasa penasarannya yang tinggi alias kepo nya sudah di atas batas normal. Akhirnya Rifki pun lebih memilih untuk memantau apa yang akan di lakukan oleh sahabatnya itu. Dan tanpa Rifki duga, Edward malah menemani Rayla untuk menunggu Devan. Kenapa gak langsung di tawarin pulang bareng aja coba!


Setelah mengingat waktu yang semakin sore, Rifki pun dengan segera mengenakan helmnya dan juga menghidupkan mesin motornya. Di perjalanan menuju rumahnya Rifki sudah memikirkan bagaimana Ia akan menggoda Edward besok di sekolah, pasti akan sangat menyenangkan sekali. Ah Rifki tidak sabar untuk menunggu hari esok tiba!


...----------------...


¹Opsoyo\=> Tidak ada