
...'I need someone.'...
...----------------...
Edward memakan makan malamnya sendiri. Tadi Ia sempat menawarkan pada Rifki agar makan malam bersamanya. Tetapi Rifki menolak dengan alasan bahwa Ibu nya meminta Ia agar cepat pulang. Edward pun maklum, dan membiarkan Rifki pulang.
Edward mencuci piring bekas Ia makan. Setelah usai, Ia kembali beranjak menuju kamarnya dan memulai kegiatan sebagai seorang pelajar pada malam hari. Apalagi kalau bukan belajar, atau sekedar membaca jadwal pelajaran yang akan di dapatkan esok.
Baru lima belas menit Edward duduk di depan meja belajarnya, tetapi dering ponsel yang berbunyi membuat konsentrasinya terganggu. Dengan kesal Edward mengambil ponsel yang Ia taruh di dekat nakas, kemudian langsung mengangkat panggilan tanpa melihat siapa nama pemanggil tersebut.
"Selamat malam, apa benar ini nomor telepon dari saudara Edward Rasia Nafandra?" sapa seseorang di seberang sana.
"Selamat malam. Iya benar, dengan saya sendiri."
"Kami dari Rumah Sakit Permata, ingin menginformasikan bahwa saudara Heru Aydan Nafandra baru saja masuk ke Rumah Sakit karena serangan jantung."
Deg!
Lutut Edward langsung lemas ketika mendengar penuturan dari petugas Rumah Sakit.
"Bagaimana sekarang keadaan Ayah saya?" tanya Edward dengan nada gemetar.
"Pasien saat ini masih menjalani pemeriksaan di ruang UGD. Jika anda ingin memastikan keadaannya, anda bisa datang kemari untuk menjenguknya," jelas petugas rumah sakit tersebut.
"Terimakasih atas informasinya. Saya akan segera ke sana," ucap Edward kemudian langsung menutup panggilan tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya. Persetan jika dia di anggap tidak sopan nanti.
Dengan segera Edward mengambil jaket kemudian mengganti celana santai yang Ia gunakan menjadi celana jeans berwarna hitam. Ia juga mengambil dompet dan kunci motor miliknya, kemudian dengan tergesa pergi menuju basement apartemen untuk dapat segera menuju Rumah Sakit dengan mengendarai motornya.
Edward sampai di Rumah Sakit dengan waktu tempuh dua puluh menit. Di perjalanan tadi, Edward mengendarai motornya seperti orang yang kesetanan. Setelah memastikan motornya terparkir dengan sempurna, Edward langsung berlari memasuki lobby Rumah Sakit menuju meja resepsionis.
"Permisi, ruang UGD dimana ya?" tanya Edward sembari berusaha menetralkan nafasnya.
"Dari sini, ke arah kanan, lurus, kemudian belok ke arah kiri," jelas resepsionis tersebut.
"Terimakasih," ucap Edward kemudian langsung bergegas menuju arah yang ditunjukkan oleh petugas resepsionis tersebut.
"Gimana om, keadaan Ayah?" tanya Edward pada Leon, sekertaris Ayahnya.
"Ayah kamu masih di periksa dokter," jawab Leon.
"Kenapa Ayah bisa kena serangan jantung?" tanya Edward sembari menatap Leon dengan tatapan tajam.
Leon menghembuskan nafasnya, "Pelaku penggelapan uang perusahaan tadi ketahuan. Ayah kamu marah besar, dan langsung mecat mereka. Kemudian gak lama setelah Ayah kamu mecat pegawai yang melakukan penggelapan uang perusahaan, beliau memegang dadanya kemudian langsung pingsan."
Edward mengangguk mengerti, "Mama tau kalau Ayah masuk Rumah Sakit?"
Edward menggeram, bisa-bisanya Marina tidak peduli dengan keadaan Ayahnya sekarang. Apa tadi Ia bilang? Urusan dengan teman-temannya? Cih, Edward berani bertaruh jika urusan yang di maksud Marina adalah masalah menyombongkan kekayaan di hadapan teman-teman arisannya.
"Sam. Apa om memberitahunya?"
Leon mengangguk sebagai respon, "Sam tengah ada acara OSIS, jadi Ia tidak bisa segera datang ke sini."
Edward mengepalkan tangannya. Ibu dan anak sama saja!
Tiga puluh menit kemudian, Sam dan Marina datang dengan langkah santai. Tidak ada raut khawatir yang tergambar di wajah mereka. Edward yang melihat kedatangan mereka pun langsung menghampiri Sam dan melayangkan sebuah pukulan ke wajahnya.
Sam yang tidak siap pun akhirnya limbung. Tetapi sebelum Sam sempat terjatuh ke atas lantai, Edward menariknya kemudian membenturkan tubuh Sam ke dinding kemudian menghujani Sam dengan pukulan bertubi-tubi. Sam yang mulai sadar pun, membalas pukulan Edward. Marina menjerit ketika Edward memukul wajah Sam, yang mengakibatkan sudut bibir Sam robek dan mengeluarkan darah.
"Anak macam apa lo yang gak punya rasa khawatir sama sekali pas bokap nya masuk Rumah Sakit!" ucap Edward emosi sembari mencengkeram kerah baju Sam.
"Bokap lo itu udah penyakitan, hidupnya juga gak bakal lama lagi. Jadi, buat apa gue khawatir sama orang yang sebentar lagi bakal berpulang?" jawab Sam santai.
Edward yang mendengar jawaban Sam pun, semakin gelap mata di buatnya. Dengan kasar, Edward membenturkan kembali tubuh Sam ke dinding kemudian memukul tepat di perut Sam. Tidak cukup sampai di situ, Edward pun kembali membanting tubuh Sam ke lantai, dan langsung mengunci pergerakan Sam kemudian memukul Sam berulang-ulang. Sam pun berusaha membalikkan keadaan, Ia berusaha menggulingkan tubuhnya, dan berhasil. Sekarang keadaan berbalik, Sam kini menghujani Edward dengan pukulan. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian tersebut hanya menonton tak berani melerai, hingga Leon tiba dengan tiga orang security.
Security tersebut langsung memisahkan Sam dan Edward.
"Ini Rumah Sakit, tempat orang sakit. Bukan arena pertarungan. Jika kalian masih ingin melanjutkan perkelahian, silakan mencari tempat yang lain, jangan di sini. Karena hal itu dapat mengganggu kenyamanan pasien yang ada di Rumah Sakit ini," ucap salah satu security.
Edward melepaskan kasar tangan security yang menahan tubuhnya ketika melihat dokter keluar dari ruangan Ayahnya. Dengan cepat Edward menghampiri dokter tersebut, tanpa memperdulikan Sam yang kini tengah di papah oleh Ibunya menuju salah satu bilik Rumah Sakit untuk mengobati luka-luka di tubuh Sam.
"Bagaimana keadaan Ayah saya, dok?" tanya Edward tanpa basa-basi.
"Kondisi beliau sangat tidak stabil. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang ICU agar mendapat penanganan yang intensif. Kita memerlukan donor jantung," jelas dokter tersebut.
"Kapan dok?"
"Segera."
Kaki Edward melemas, "Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Ayah saya."
"Kami tim medis akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan pasien. Kalau begitu saya permisi dulu, saya harus memeriksa pasien yang lain," ucap dokter tersebut kemudian pergi dari hadapan Edward.
Selepas dokter tersebut pergi, Edward duduk bersandar pada tembok sembari mengacak rambutnya frustrasi. Tak lama kemudian, Ayahnya pun di pindahkan ke ruang ICU. Leon juga telah meminta izin untuk pulang terlebih dahulu ketika Ayahnya telah di pindahkan.
Edward menatap nanar Ayahnya yang kini terbaring tak berdaya di atas hospital bed, dengan alat bantu pernafasan, dan beberapa peralatan lain yang menempel di tubuhnya, lewat jendela kecil yang ada di pintu masuk ruang ICU.
Edward menghalau air mata yang ingin turun dari pelupuk matanya. Dengan segera Edward menghampiri suster yang berjaga di ruang ICU tersebut untuk menitipkan Ayahnya. Setelah menitipkan Ayahnya pada suster yang berjaga di sana, Edward langsung melangkah pergi menuju area parkir. Ia harus segera bertemu dengan dokter Kendrick untuk membicarakan masalah kesehatan Ayahnya yang semakin menurun dan memerlukan donor jantung segera. Edward harus segera dapat menemukan pendonor yang bersedia. Harus.