
...'I did it.'...
...----------------...
Edward melangkahkan kakinya memasuki area kafe tempat dimana Ia menyuruh Jason untuk mengajak Sam untuk bertemu.
Darrel dan Jali pun, mengikuti langkah Edward yang berjalan mendekat ke arah Jason dan Sam.
Sam mendongak, ketika menyadari langkah seseorang yang mendekat ke arahnya. Ia tersenyum miring, ketika melihat Edward datang.
"Long time no see you, my step brother," ucap Sam masih dengan senyum miring yang menghiasi wajahnya.
"Setelah ini, gue harap lo masih bisa nampilin senyum itu," ucap Edward sarkas.
Sam terkekeh mendengar ucapan Edward, kemudian dalam sekejap, Sam menatap Edward dengan tatapan tajam.
"Mau ngapain lo ke sini?"
Kini, giliran Edward yang menampilkan senyum devil nya.
"Ngeliat lo kena karma? Bisa di bilang begitu."
Sam terkekeh sinis, "Mimpi lo?"
Edward hanya mengangkat bahunya acuh, kemudian merogoh saku celananya.
Sam memperhatikan setiap gerak-gerik Edward. Sedangkan Jason, hanya diam pasrah, menunggu dirinya untuk di giring oleh Polisi sebentar lagi.
Sam menatap aneh ke arah Edward, ketika Edward menampilkan layar ponselnya ke arah Sam. Edward mengisyaratkan lewat alis, agar Sam melihat ke arah layar ponsel yang tengah memutar sebuah video di hadapan Sam.
Dengan malas, Sam memperhatikan video yang tengah terputar di layar ponsel Edward. Dan betapa terkejutnya Sam, ketika melihat video tersebut, adalah video rekaman di saat Ia meminta Jason untuk menyabotase motor milik Edward.
"Are you surprised?"
Edward terkekeh ketika melihat Sam yang menatapnya dengan tajam.
"Hmm… I don’t think you need to respond, because I already know the answer."
Sam dengan cepat bangkit, kemudian merampas ponsel milik Edward kemudian menghapus video yang baru saja Edward perlihatkan kepadanya. Sedangkan Edward, hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah saudara tirinya itu.
"Gue kira lo pinter, ternyata--," Edward menjeda ucapannya, kemudian maju satu langkah mendekat ke arah Sam, "Loser,” bisik Edward di sebelah telinga Sam.
Sam yang geram pun, mencengkeram kerah baju Edward.
"Biar gue tunjukin, siapa loser yang sebenarnya," ucap Sam, kemudian melayangkan pukulan ke wajah Edward.
Tubuh Edward terhuyung kesamping. Darrel dan Jali yang sedari tadi hanya menyimak, dengan cepat membantu Edward.
Edward menahan Darrel dan Jali yang ingin membalas pukulan Sam.
Dengan santai Edward kembali melangkah mendekati Sam, tanpa menghiraukan sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Sedangkan Sam, bertambah geram ketika Edward memandangnya dengan pandangan meremehkan.
"Gue kasih lo kesempatan buat mukul gue hari ini. Sebelum nantinya, lo gak bakal bisa nyentuh gue, karena mendekam di balik jeruji besi," ucap Edward sembari menepuk pundak Sam.
Dengan cepat Sam mendorong tubuh Edward, kemudian melayangkan pukulan kembali ke arahnya. Edward dengan cepat pula, menahan serangan yang Sam layangkan kepadanya.
Edward membenarkan pakaiannya yang kusut, setelah berhasil membuat Sam terjatuh ke lantai, "Gue cuma ngizinin lo mukul gue sekali. Bukan berkali-kali."
Sam bangkit, walaupun sedikit terhuyung. Edward hanya diam memperhatikan Sam yang tengah menyeimbangkan tubuhnya. Baru saja Sam ingin kembali menyerang Edward, suara dari seorang Polisi menginterupsi gerakan Sam.
Dengan cepat, Sam berusaha untuk kabur, tapi dengan sigap Darrel dan Jali menggagalkan niatnya.
"Saudara Sam, anda di tangkap atas kasus pembunuhan berencana. Silakan anda ikut kami ke kantor," ucap Polisi tersebut, sembari memborgol tangan Sam.
"Saya tidak bersalah Pak!" ucap Sam sembari meronta, berusaha untuk melepaskan diri.
"Silakan anda nanti memberi penjelasan di kantor secara rinci. Sekarang anda harus ikut kami," ucap Polisi tersebut, kemudian menggiring Sam keluar dari Kafe.
Sam melayangkan tatapan benci ke arah Edward, ketika dirinya digiring secara paksa oleh para Polisi tersebut. Sedangkan Edward, hanya menatap Sam dengan tatapan datar miliknya.
Edward menghampiri Jason, ketika Ia akan digiring keluar kafe oleh Polisi.
"Thanks. Kalau bukan karena lo, gue gak mungkin bisa nemuin Sam secepat ini. Dan maaf, lo mungkin bakal mendekam di penjara setelah ini," ucap Edward sembari menatap Jason.
Jason tersenyum, "Gak masalah. Ini semua juga salah gue, jadi gue harus bertanggung jawab sama apa yang udah gue lakuin."
Edward tersenyum tipis, kemudian menepuk pundak Jason.
"Jaga diri lo baik-baik di sana."
Jason mengangguk, "Jangan lupa. Lo juga harus nemuin Bela secepatnya, sebelum dia kabur."
"Tenang aja. Gue udah susun rencana kok."
"Saudara Jason," interupsi seorang Polisi.
Jason pun mengangguk, kemudian melangkah meninggalkan kafe.
Darrel menghampiri Edward, "Sekarang lo mau kemana?"
Edward menatap Darrel dan Jali yang memperhatikannya.
"Gue harus nemuin Bela."
"Kita perlu ikut gak nih?" tanya Jali.
"Gak usah. Biar gue, sama Polisi yang nanti nemuin Bela."
"Padahal gue pengen liat, rupa aslinya si Bela," ucap Jali agak kecewa.
Darrel menempeleng kepala Jali, "Giliran cewe bening aja, cepet tuh otak lo."
Jali menatap kesal ke arah Darrel, "Jangan pegang-pegang kepala gue. Ntar gue makin bego gimana?"
"Itu mah bukan salah gue. Emang dari sananya lo udah di setting begitu," jawab Darrel santai.
"Pala kao setting," sarkas Jali.
"Lo jadi mau ikut gak?" tanya Edward memutus perdebatan antara Darrel dan Jali.
Edward mengangguk, "Boleh, Asalkan jangan malu-maluin."
"Siap bos ku."
"Jali doang nih yang di ajak?" tanya Darrel.
Edward menatap Darrel sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Lo mau ikut juga?" tanya Edward.
"Mau lah! Mau liat, gimana rupa cewek cantik, tapi psycho."
"Yaudah, ayok."
Mereka bertiga pun, beriringan keluar dari kafe dan melajukan motor mereka masing-masing ke arah rumah Bela. Sebelumnya, Edward telah mengabari Bela bahwa Ia akan datang untuk membicarakan sesuatu. Tentunya, hal itu sangat disambut baik oleh Bela.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga pun sampai di kediaman Bela. Edward turun terlebih dahulu dari atas motor miliknya, kemudian menghampiri Darrel dan Jali.
"Kalian tunggu di sini aja, biar gue yang masuk."
"Oke," jawab Darrel.
"Eh, pak pol nya mana?" tanya Jali sembari celingukan mencari sosok yang Ia tanyakan.
Darrel mengerutkan keningnya bingung, "Pak pol siapa? Saudaranya mbak kunti?"
"Pak Polisi maksud gue. Kudet bet lo, kaga tau singkatan begituan."
"Lagi on the way ke sini. Nanti kalau udah dateng, kalian masuk bareng aja."
Jali manggut-manggut, "Siap laksanakan!"
"Gue masuk dulu."
"Good luck, dude," ucap Darrel.
Edward hanya mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah Bela.
Setelah berada tepat di depan pintu utama rumah Bela, Edward pun merogoh ponselnya kemudian mendial nomor Bela.
"Gue udah di depan," ucap Edward ketika telepon mereka terhubung, dan langsung mematikannya tanpa menunggu balasan dari Bela.
Tak lama kemudian, Bela muncul dari balik pintu dengan senyum yang mengembang.
"Hai, udah lama ya?" tanya Bela sembari menghampiri Edward.
Edward hanya menatap Bela datar.
"Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Bela malu-malu.
"Mau buat lo tanggung jawab sama apa yang udah lo lakuin ke Rayla," ucap Edward dingin.
Bela menatap Edward terkejut, tapi dengan cepat Ia menetralkan raut wajahnya.
"Maksud kamu apa, Ed?"
Edward berdecak malas, kemudian menunjukkan video yang ada di ponselnya.
Wajah Bela mendadak pucat ketika melihat video yang Edward tunjukkan.
"Kamu dapet video ini darimana?" tanya Bela masih berusaha untuk mengelak.
"Gak penting gue dapet dari mana. Gak nyangka gue, lo yang gue kira baik ternyata cuman topeng doang. Beruntung pertunangan kita belum terjadi, kalau enggak. Gue merasa jadi cowok paling bodoh di dunia, karena berhasil lo tipu sama tampang baik lo itu."
"Ed, ini gak seperti yang kamu pikirin. Aku bisa jelasin semuanya kok," ucap Bela sembari meraih tangan Edward, tetapi langsung di tepis kasar oleh sang empunya.
"Gue gak bakal tertipu lagi sama sandiwara lo, Bel."
Edward mengalihkan tatapannya, ketika menangkap siluet seseorang yang mendekat ke arah mereka.
"Mending sekarang, lo pertanggung jawabin perbuatan lo di kantor polisi," ucap Edward sarkas.
Bela menggeleng, "Enggak! Aku gak mau masuk penjara! Ed kamu dengerin penjelasan aku dulu," ucap Bela sembari meraih tangan Edward.
"Bawa dia pak," ucap Edward dingin.
"Ed, kamu gak bisa perlakuin aku kaya gini! Apa sih kurangnya aku? Aku jauh lebih baik dari Rayla, Ed!" ucap Bela sembari meronta ketika tangannya diborgol oleh Polisi.
Edward mendekat ke arah Bela, mengusap pipinya, kemudian berbisik di telinga Bela, "Lo gak pantes buat dibandingin sama Rayla. Rayla jauh lebih baik daripada lo."
Usai mengatakan hal tersebut, Edward dengan segera menjauhkan tubuhnya dari Bela.
Bela menatap Edward dengan tatapan nyalang, "Aku pastiin kamu bakal nyesel Ed!" ucap Bela sebelum dirinya digiring paksa oleh para Polisi.
Darrel dan Jali pun mendekat ke arah Edward ketika Bela sudah di bawa oleh Polisi.
"Cantik sih, tapi sayang attitude nya kurang," ucap Jali.
Edward menghela nafas kasar, "Kalian balik aja. Thanks karena udah bantuin gue dari awal sampai akhir."
"Lo emang mau kemana? Gak balik bareng kita?" tanya Darrel.
Edward menggeleng, "Gue mau jenguk Rayla dulu."
Darrel mengangguk mengerti, "Yaudah. Gue balik duluan bareng Jali. Yok Jal," ucap Darrel sembari merangkul pundak Jali.
"Capcus lah kita. Oh iya, nitip salam ya sama Rayla dan keluarganya."
"Nanti gue sampai'in," ucap Edward.
"Gue duluan ya, bro," ucap Darrel.
"Hati-hati."
Setelah Darrel dan Jali menghilang dari hadapannya, Edward menatap rumah Bela. Sepertinya orang tua Bela sedang tidak berada di rumah. Edward pun mengirimkan pesan kepada kedua orang tua Bela, bahwa anaknya tengah berurusan dengan pihak berwajib.
Setelah usai mengirimi pesan, Edward pun beranjak pergi meninggalkan area rumah Bela. Tujuannya sekarang adalah, Rayla.