Please Feel My Love

Please Feel My Love
Malming Perdana



...'Nikmati aja alurnya. Lama-lama, juga terbiasa.' ...


...----------------...


Edward berjalan santai menuju basement apartemennya. Waktu baru menunjukkan pukul enam sore, tetapi Ia sudah rapi dengan hoodie hitam dan celana jeans yang berwarna senada dengan hoodie yang membalut tubuhnya. Di tangannya, terdapat totebag berwarna putih yang Ia jinjing. Rencananya, hari ini, Ia akan mengajak Rayla keluar. Ya, bisa di bilang malam mingguan. Sekalian, Ia juga ingin mengembalikan hoodie beserta celana training milik Devan, yang beberapa waktu lalu Ia pinjam.


Langkah Edward memelan, ketika menangkap sosok yang selama ini Ia hindari, tengah bersender pada motornya.


"Ancaman gue, cuma lo anggap angin lalu?" tanya Sam, dengan nada sinis.


Edward menatap datar ke arah Sam, "Apa gue harus peduli?"


Sam terkekeh sinis, "Gede juga nyali lo nantangin gue."


"Lo, merasa tertantang?" tanya Edward, meremehkan.


Sam mengepalkan tangannya mendengar nada meremehkan Edward.


"Gue ingetin lo untuk terakhir kalinya, jauhin Rayla. Dan lo sama bokap lo, bakal aman."


"Dan gue tekankan sekali lagi, gue gak bakal jauhin Rayla, ataupun biarin bokap gue dalam bahaya!"


Sam menyeringai, "Kita lihat nanti, sejauh mana lo bertahan," ucap Sam sembari menepuk pundak Edward, tetapi langsung di tepis olehnya.


Sam langsung melenggang pergi, setelah membisikkan sesuatu kepada Edward. Yang dimana, hal itu membuat Edward tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Edward menatap tajam punggung Sam yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Edward menghembuskan nafasnya kasar, berharap dengan itu, kegusarannya ikut pergi seiring dengan hembusan nafasnya. Munafik jika Edward tidak khawatir dengan ancaman Sam, apalagi setelah bisikan Sam barusan. Kegusaran nya bertambah.


Edward memejamkan mata, kemudian beranjak menuju motornya yang tengah terparkir rapi, kemudian mengeceknya. Ia tidak ingin ada berita kecelakaan yang nanti sampai ke telinga Ayahnya.


Setelah memastikan segalanya aman, dan tidak ada yang janggal. Edward pun langsung naik ke atas motornya kemudian mengenakan helm yang biasa Ia taruh di atas motornya. Tak menunggu lama, Ia pun beranjak pergi meninggalkan kawasan apartemen nya.


Waktu yang biasa Ia tempuh tiga puluh menit, berhasil Ia pangkas menjadi lima belas menit. Bisa dibayangkan, betapa kencang laju motor yang Ia kendarai saat di jalan raya tadi. Tapi itu tidak masalah bagi Edward, Ia sudah cukup sering kebut-kebutan di jalan raya. Bahkan pernah mengikuti balap liar, dan Ia berhasil memenangkannya. Dan karena itu juga, Ia di usir dari rumah, bahkan mendapatkan pukulan di wajahnya, serta kalimat menusuk hati. Dan tentunya, itu semua tidak luput dari campur tangan Sam dan Ibunya yang menghasut Ayahnya.


Edward turun dari motornya, kemudian langsung memencet bel rumah Rayla. Tak lama kemudian, Papa Rayla muncul membukakan pintu. Dengan sigap, Edward menyalaminya.


"Selamat malam, om."


"Malam, kamu nyari anak om?"


"Iya om. Effie ada?"


Papa Rayla sempat bingung dengan nama panggilan Edward kepada Rayla, tapi beberapa detik kemudian Ia paham.


"Ada, barusan masuk ke kamarnya. Ayo masuk dulu," ucap Papa Rayla, sembari mempersilakan Edward untuk masuk.


Edward mengangguk, kemudian masuk ke dalam rumah Rayla. Sampai di ruang tamu, Edward disambut oleh Mama Rayla. Edward pun langsung melakukan hal yang sama, kepada Mama Rayla. Menyalaminya.


"Mau malam mingguan?" tanya Mama Rayla, dengan senyum yang menggoda.


Edward mengangguk membenarkan, "Iya tan. Sekalian mau ngembaliin ini," ucap Edward sembari menyodorkan totebag yang Ia bawa.


"Apa ini?" tanya Mama Rayla, sembari menerima totebag yang Edward sodorkan.


"Hoodie sama celana training, yang Edward pinjem, tan."


"Padahal gak usah di balikin juga gapapa."


Edward tersenyum canggung, "Gak enak sama bang Devan. Kan gak lucu, kalau nanti bang Devan ketemu sama Edward di luar, dan bang Devan liat Edward yang pakai bajunya dia."


Mama dan Papa Rayla tertawa mendengar penuturan Edward.


"Tante manggil Ayla dulu ya, kamu ngobrol aja dulu sama om," ucap Mama Rayla, sembari membawa serta totebag yang Edward berikan tadi, ke kamar Rayla.


"Om, tante. Edward izin, mau ajak Rayla keluar ya," ucap Edward, meminta izin kepada kedua orang tua Rayla.


Mama Rayla langsung mengiyakan, "Iya. Kamu sering-sering ajak dia keluar ya, Ed. Biar kerjaannya gak rebahan mulu."


Edward tertawa mendengar ucapan Mama Rayla, sedangkan Rayla merenggut.


"Pulangnya jangan kemaleman!" pesan Papa Rayla, ketika Edward menyalaminya.


Edward mengangguk, sedangkan Rayla memutar bola matanya malas.


"Ayla sama Edward berangkat dulu," ucap Rayla, kemudian langsung menarik tangan Edward agar mengikutinya.


Sampai di samping motor Edward, Rayla menatap Edward dengan tatapan kesalnya.


"Lo ngapain sih?" tanya Rayla, masih dengan raut wajah kesalnya. Tentu saja Ia kesal, Edward mengacaukan acara me time nya karena kedatangan lelaki itu yang tiba-tiba.


"Ngajak jalan," jawab Edward, singkat.


"Ya enggak pas malam minggu juga kali!"


Edward mengernyit mendengar ucapan Rayla, "Emang kenapa?"


"Lo ganggu acara rebahan sambil maraton drakor gue," jelas Rayla, sembari mengerucutkan bibirnya.


Edward tergelak mendengar alasan Rayla, "Gak papa. Sekali-kali, keluar pas malam minggu. Biar engga di kira jones."


Rayla melongo mendengar ucapan Edward. Ini? Bener Edward Rasia Nafandra kan? Kok rasanya agak beda ya?


"Lo gak papa kan?" tanya Rayla, memastikan kondisi Edward.


"Gak papa, gue sehat kok. Emang kenapa?'' tanya Edward.


Rayla menggeleng, "Aneh aja lo ngomong kayak gitu."


"Kebanyakan bergaul sama Rifki kali," jawab Edward asal.


Rayla tertawa mendengar ucapan Edward, "Anak orang jangan di omongin."


Edward menggidikkan bahunya acuh, kemudian menyodorkan sebuah helm ke arah Rayla.


"Pake."


Rayla tak langsung mengambil helm yang di sodorkan oleh Edward, melainkan Ia menatap menyelidik ke arah Edward.


"Lo mau ngajak gue pergi kemana?" tanya Rayla, masih dengan tatapan menyelidik miliknya.


"Ke tempat, dimana orang pacaran biasanya malam mingguan," jawab Edward, santai.


Tetapi tidak dengan Raya, Ia menunduk dan merasakan pipinya memanas mendengar jawaban Edward. Bisa gak sih, gak usah bikin baper kalau ujung-ujungnya gak mau tanggung jawab?


"Lo kenapa?" tanya Edward, sembari berusaha melihat wajah Rayla yang menunduk.


"Gak papa," jawab Rayla, kemudian langsung menyambar helm yang masih ada di tangan Edward, untuk dikenakannya.


Edward terkekeh melihat tingkah Rayla. Kemudian, Ia pun segera mengenakan helm nya.


"Ayo naik," ucap Edward, ketika dirinya sudah siap di atas motor.


Rayla mengangguk, kemudian langsung naik ke atas motor Edward, dengan memegang pundak Edward. Setelah memastikan Rayla naik ke atas motornya, dan menempatkan dirinya pada posisi yang nyaman. Edward pun mulai melajukan motornya meninggalkan area pekarangan rumah Rayla. Menuju tempat, dimana orang pacaran biasa bermalam mingguan.