
...'Jangan menyombongkan kekayaan kita, ingatlah itu semua adalah hasil dari kerja keras orang tuamu. Bukan hasil kerja kerasmu!'...
...----------------...
Edward memandang jengkel manusia yang kini tengah berbaring di atas sofa yang ada di ruang tamunya, sepertinya gagasan untuk mengajak Rifki menonton Lovesick Girls MV sangat merugikan baginya. Lihat saja kelakuan Rifki sekarang, Ia sudah seperti tuan rumah saja.
"Sana pulang!" usir Edward ketika melihat tayangan yang berputar di televisinya sudah berakhir.
"Bentar elah, gue mau leha-leha dulu!" jawab Rifki yang sekarang malah memainkan ponselnya sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa yang Ia duduki.
Edward menimpuk wajah Rifki dengan bantal yang ada di hadapannya.
Rifki mengerang kesal ketika bantal yang Edward lempar tepat mendarat di atas wajahnya yang tampan.
"Apaan si Ed?!" tanya Rifki kesal. Terpaksa Ia bangun dari acara rebahan manjanya.
"Pulang sekarang, atau lo gue seret buat keluar dari sini!" ancam Edward.
"Gue masih pengen rebahan!"
"Di rumah lo kan bisa!"
"Beda suasana," jawab Rifki santai tanpa memperdulikan tatapan Edward yang seakan-akan ingin mengulitinya saat itu juga.
"Terserah!" ucap Edward kemudian berlalu menuju kamarnya.
Rifki yang melihat itu pun bukannya merasa bersalah, malah Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mencari posisi yang nyaman untuk melanjutkan acara rebahan manjanya.
Di dalam kamarnya, Edward tak henti-hentinya mengumpati Rifki yang mungkin sekarang sedang menikmati acara rebahan manjanya.
"Untung temen, coba aja kalau gak udah gue lempar dari balkon kamar gue," dumel Edward.
Tak mau memikirkan kelakuan Rifki yang sering membuatnya naik darah, Edward lebih memilih untuk naik ke atas tempat tidurnya dan merebahkan dirinya di sana. Perlahan Ia mulai memejamkan matanya, dan terlelap ke dalam alam mimpinya.
Rifki terbangun ketika merasa badannya pegal dan perutnya yang berdisko ria minta di isi, Ia meraih handphonenya yang tadi Ia letakkan di atas meja yang ada di dekat sofa yang Ia duduki. Matanya melotot kaget ketika jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, pantas saja perutnya sudah berdisko. Rifki pun bangkit dari sofa yang Ia duduki dan berjalan menuju kamar Edward.
Rifki menarik paksa selimut yang di pakai Edward dan dengan segala kejailannya Ia juga mencipratkan sedikit air yang Ia ambil dari gelas yang ada di nakas Edward.
Edward sontak membuka matanya ketika merasakan wajahnya seperti di guyur air, Ia pun menatap kesal Rifki yang saat ini tengah tersenyum tanpa dosa.
"Lo kenapa natap gue kayak gitu?" tanya Rifki dengan tampang polos yang Ia buat-buat.
Edward berdecak kesal mendengar ucapan Rifki, Ia pun melirik ke arah jam yang ada di atas nakasnya kemudian kembali menatap Rifki.
"Apa?" tanya Rifki yang tidak mengerti maksud tatapan Edward.
"Lo gak liat ini udah jam berapa? Lo gak ada niat mau pulang?"
"Gue nginep di sini ya Ed," ucap Rifki dengan tampang memelas.
Edward mengangguk-anggukkan kepalanya, "Boleh, tapi tidurnya di sofa kayak tadi."
Rifki langsung memukul pundak Edward ketika mendengar ucapannya, Ia kira Edward akan menyuruhnya untuk tidur di kamar tamu. Tau-taunya Ia di suruh tidur di sofa lagi.
"Lo kira enak tidur di sofa? Ini aja badan gue masih pegal gara-gara tidur di sofa!" ucap Rifki tak terima.
"Terserah gue lah, kan yang tuan rumah di sini gue bukan lo!"
"Stop dulu deh debatnya, mending kita nyari makan. Perut gue udah disko minta di isi," ucap Rifki sembari menepuk-nepuk perutnya.
"Dilivery order aja," saran Edward yang di setujui oleh Rifki.
Tiga puluh menit kemudian, seorang kurir datang dan membawakan pesanan yang sudah Rifki pesan. Rifki pun menerimanya dan segera membayarnya, sungguh perutnya sudah meronta-ronta sejak tadi.
"Nih makanan lo," ucap Rifki seraya menyodorkan makanan yang Ia pesan tadi kepada Edward.
"Thanks," ucap Edward yang menerima makanan yang Rifki sodorkan kepadanya.
Rifki hanya mengangguk sebagai jawaban, dan Ia mulai menyantap makan yang sudah sangat menggoda lidahnya untuk segera di cicipi. Hal yang sama pun di lakukan oleh Edward, tidak ada yang mengeluarkan suara selama mereka sedang menyantap makanan mereka masing-masing.
"Lo serius mau nginep di sini?" tanya Edward ketika Ia sudah menyelesaikan makannya.
"Enggak lah, besok kan sekolah. Gue gak bawa seragam buat besok," jawab Rifki.
"Gue kira jadi."
"Emang kenapa kalo jadi?"
"Gue mau suruh lo bersihin apartemen gue," jawab Edward santai.
"Sialan, lo kira gue pembantu lo apa?!" ucap Rifki dengan raut wajah kesalnya. Sayangnya Edward sama sekali tidak terpengaruh dengan raut wajah Rifki. Ia malah terkekeh.
"Kan lo mau nginep, jadi harus mandiri bersihin kamar tamunya sendiri."
"Sorry, gue gak jadi nginep!"
"Baguslah, gue jadi irit air buat besok mandi."
"Pelit bener jadi orang!"
"Bukan pelit, tapi menghemat pengeluaran!"
"Holkay yang merendah untuk meroket mah gini," cibir Rifki.
"Yang punya uang itu bukan gue, tapi bokap gue," jawab Edward dingin.
Rifki langsung tersentak ketika mendengar nada suara Edward yang berubah dingin, tamat riwayat gue. Lagian kenapa gue jadi bahas itu sih! sesal Rifki dalam hati.
"Sorry Ed, gue gak bermaksud," ucap Rifki yang merasa tidak enak hati.
"Hmm," jawab Edward.
Nah loh, keluar lagi dinginnya. Rutuk Rifki dalam hati.
"Gue pulang deh, udah malem juga," ucap Rifki seraya bangkit dari kursi yang Ia duduki.
"Ok," jawab Edward.
"Lo jangan kangen ya sama gue," ucap Rifki mencoba mencairkan suasana.
"Ngapain juga gue kangen sama manusia modelan kayak lo!"
"Halah, lain di mulut lain di hati."
Edward hanya menggidikkan bahunya acuh tanpa mau menjawab ucapan Rifki barusan.
"Udahlah, gue mau pulang. Bye!" ucap Rifki kemudian berlalu dari hadapan Edward menuju pintu apartemen Edward.
Edward hanya melirik sekilas ke arah Rifki sebelum anak itu benar-benar hilang dari jangkauan matanya, Ia pun bangkit dan membersihkan peralatan makan yang baru saja Ia pakai.
Edward mendudukkan dirinya di kursi meja belajarnya, kemudian mulai membuka buku Biologinya. Ia berencana besok akan mengikuti tes susulan Biologinya, baru membaca setengah materi Ia mengingat Rayla. Bukankah Ia juga belum melakukan tes susulan? Apakah Ia harus memberitahunya bahwa Ia akan mengambil tes susulan besok? Tetapi bagaimana caranya, kan Ia tidak punya nomor handphonenya. Setelah membuat pertimbangan, akhirnya Edward memutuskan untuk memberi tahu Rayla besok pagi dan menjalankan tes susulan setelah pulang sekolah saja.