
...'Kita akan tahu, siapa yang benar-benar perduli terhadap kita, ketika kita tengah berada di titik terendah. Karena orang yang tulus, adalah orang yang masih tetap perduli, ketika masalah datang menghampiri, dan mereka tetap berdiri menggenggam tangan kita, untuk mencari jalan keluar bersama.'...
...----------------...
Sudah dua minggu Ayah Edward menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Dan beberapa hari yang lalu, Ayahnya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap biasa, karena kondisinya sudah membaik.
Edward tengah memainkan ponsel, ketika Haru bertanya.
"Ibu mu dan Sam kemana? Kenapa Ayah tidak pernah melihat mereka menjenguk Ayah selama ini?" tanya Heru ketika hanya ada Ia dan Edward di kamar ruang inap.
Edward menoleh, "Ayah gak usah mikir yang macam-macam dulu. Lebih baik, Ayah fokus sama kesembuhan Ayah."
"Tapi Edward, mereka juga bagian dari keluarga kita. Ayah cuma bingung aja, kenapa mereka seolah-olah gak peduli sama kesehatan Ayah," ucap Heru sendu.
Edward menghela nafasnya, "Lebih baik Ayah istirahat. Edward mau keluar sebentar," ucap Edward kemudian beranjak pergi.
Heru menatap punggung Edward yang hilang di telan daun pintu. Jadi, selama ini, apa yang di katakan Edward benar? Bahwa Marina sama sekali tidak mencintainya, dan hanya menginginkan hartanya saja. Tak terasa, sebutir kristal bening jatuh dari pelupuk mata Heru. Mengingat, bagaimana perlakuannya terhadap Edward dulu, ketika Edward mengatakan hal-hal buruk tentang Marina dan juga Sam. Dan Heru, yang sudah termakan oleh hasutan Marina pun, dengan teganya memukul Edward dan melayangkan kata-kata kasar terhadapnya, demi membela Marina.
Edward bersandar pada tembok yang ada di sebelah pintu ruang inap Ayahnya. Ia keluar, semata-mata hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan Ayahnya layangkan. Edward belum siap untuk menjawab, dan Ia juga tidak tahu ingin menjawab apa. Jadi, lebih baik Ia keluar, untuk menghindar.
Rifki memutar bola mata malas, ketika melihat Bela yang terus menempel pada Edward seperti ulat. Ini jam istirahat, harusnya Ia dan Edward hanya duduk berdua di kantin ini. Tapi entah bagaimana ceritanya, Bela tiba-tiba datang dan ikut bergabung.
"Ed, nanti kamu temenin aku ke perpustakaan ya? Aku mau minjam buku," ucap Bela sembari tersenyum manis.
Edward hanya mengangguk, sedangkan Rifki memilih tak peduli dan melanjutkan acara memakan baksonya.
"Gimana keadaannya om Heru?" tanya Rifki setelah selesai menyeruput kuah bakso.
"Udah mendingan. Kalau hari ini kondisinya membaik, kemungkinan nanti malem udah boleh pulang," jawab Edward.
Bela mengerutkan keningnya, "Ayah kamu sakit?"
"Calon mertua sakit aja lo gak tau," cibir Rifki.
Bela sedikit terkejut dengan ucapan Rifki, "Kamu tau aku sama Edward di jodohin?"
Rifki memutar bola matanya malas, "Kalau bukan karena perjodohan, mana mau si Edward deket sama lo."
Bela mengangguk paham ,"Iya kamu bener. Enggak mungkin Edward mau deket sama aku, kalau bukan karena perjodohan."
"Sadar diri ternyata," ucap Rifki sinis, sedangkan Bela tersenyum masam.
Edward yang merasa hawa di sekitarnya tidak kondusif, akhirnya memilih untuk angkat bicara.
"Ke perpustakaannya bisa sekarang?" tanya Edward.
Bela mengangguk, "Bisa."
"Rif, gue duluan. Mau nganter Bela ke perpus dulu," pamit Edward.
Rifki hanya mengacungkan jempol, kemudian Edward langsung menarik tangan Bela menuju perpustakaan.
Edward menyusuri rak-rak tinggi, yang menyimpan berbagai macam buku di dalamnya. Sedangkan Bela, Ia juga tengah berkeliling untuk mencari buku yang akan di pinjamnya.
Langkah Edward terhenti, ketika netranya tak sengaja menangkap sosok Rayla yang tengah belajar sembari bersenda gurau dengan Sam. Edward terus memperhatikan interaksi mereka, sampai Sam dengan lembut mengusap puncak kepala Rayla. Edward yang melihat itu pun, entah mengapa ada rasa tidak suka yang amat kuat di dalam hatinya. Ia tidak suka, saat Sam ataupun lelaki lain menyentuh Rayla. Apa ini yang dinamakan cemburu?
Rayla hanya tersenyum ketika Sam mengusap puncak kepalanya. Ia mengalihkan pandangan, dan Ia terkejut ketika mendapati Edward yang tengah memperhatikannya. Edward terus menatap Rayla, hingga Bela tiba-tiba datang dan memeluk lengan Edward. Rayla melihat itu, dan Ia hanya tersenyum tipis, kemudian mengalihkan pandangan ke arah bukunya kembali.
Edward menyentak tangan Bela yang melingkari tangannya. Kemudian tanpa mengatakan sepatah kata pun, Edward meninggalkan Bela dan keluar dari ruang perpustakaan dengan tangan yang mengepal menahan amarah.
Rifki ikut serta mengemasi barang-barang yang ada di kamar inap Ayah Edward. Setelah menjalani pemeriksaan, Ayah Edward di nyatakan boleh pulang, dengan catatan, bahwa seminggu sekali harus datang kembali ke Rumah Sakit untuk kontrol.
"Makasih ya Rif, udah mau repot-repot bantuin om, sama Edward," ucap Heru ketika melihat Rifki yang tengah berkutat dengan ransel besar milik Heru.
Rifki mendongak, "Sama-sama, om."
"Rifki jangan keseringan di puji, Yah. Nanti yang ada, dia malah jadi besar kepala," ucap Edward yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iri? Bilang bos!"
Edward tak menanggapi ucapan Rifki, "Ayo Yah, kita pulang sekarang," ajak Edward.
Heru diam tak bergeming ketika mendengar ucapan Edward. Edward yang menyadari hal itu pun, mengerutkan keningnya.
"Apa ada yang sakit, Yah? Perlu Edward panggilin dokter?" tanya Edward khawatir.
Heru menggeleng, "Ayah udah gak papa."
Edward mengernyit, "Terus, Ayah kenapa?"
Heru menatap Edward, "Boleh sementara ini, Ayah ikut tinggal di apartemen kamu?"
Edward dan Rifki terkejut mendengar pertanyaan Heru.
"Ayah gak mau pulang ke rumah?" tanya Edward hati-hati.
Heru menggeleng, "Ayah mau tinggal bareng kamu."
Edward dengan ragu mengangguk, "Ya udah kalau gitu. Sekarang, kita pulang ke apartemen Edward."
Rifki menyerahkan kursi roda yang ada di dekat pintu kepada Edward, kemudian dengan perlahan Edward membantu Ayahnya untuk duduk di atas kursi roda. Mereka bertiga melangkah menuju parkir area Rumah Sakit. Dengan Edward yang mendorong kursi roda, sedangkan Rifki menjinjing ransel milik Heru.
"Buruan masuk, lo mau gue tinggal?" ucap Edward ketika Rifki masih menutup bagasi mobil milik Edward.
"Sabar napa. Kayak lagi di kejar rentenir aja lo!" gerutu Rifki sembari membuka pintu mobil Edward di bagian penumpang.
Heru hanya tersenyum melihat interaksi antara Rifki dan Edward. Jika di pikir-pikir, mungkin lebih peduli Rifki daripada Sam yang notabenenya adalah anak tirinya.
Heru menghela nafas, sebenarnya Ia telah menelepon Leon, sekretaris kepercayaannya untuk mengajukan gugatan cerai pada Marina tanpa sepengetahuan Edward. Sudah cukup dirinya dibodohi oleh Marina dan juga Sam. Kini, Ia hanya ingin menghabiskan waktunya, bersama Edward, putra kandungnya.