Please Feel My Love

Please Feel My Love
Lari Dari Nikmatnya Rebahan



...'Ketika sang mentari sudah muncul untuk melakukan tugasnya yaitu menyinari bumi, maka manusia juga harus bangun untuk melakukan aktivitasnya. Jan malah keasikan menyelam di dunia mimpi!'...


...----------------...


Edward berdecak kesal ketika handphone dan bel apartemennya tidak berhenti berbunyi, padahal hari masih sangat pagi. Rasanya Ia ingin menenggelamkan saja orang yang tidak henti-hentinya menelepon dan juga memencet bel apartemennya.


Dengan mata yang sedikit terpejam, Edward meraba nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Tanpa memperhatikan nama pemanggilnya, Edward langsung menggeser tombol warna hijau.


"Halo," ucap Edward dengan suara serak khas bangun tidur.


"Lo ganti password ya! Cepetan bukain pintunya, tangan gue udah otw nyatu ini sama bel apartemen lo!" ucap seseorang di seberang sana. Yang pastinya suaranya sudah Edward kenali, ya siapa lagi kalau bukan Rifki Myron Deswara.


Edward mengerang kesal, "Lo ngapain sih!"


"Bukain dulu pintunya, gue ada berita penting nih tapi enggak tau aktual atau enggak."


Rifki bawa berita penting? Jangan berharap banyak pemirsa, paling juga akal-akalannya supaya di bukakan pintu oleh Edward.


Edward berdecak kesal, "Pulang aja lo sono, gue gak minat dengerin berita lo yang pastinya enggak berfaedah sama sekali!"


"Bukain pintunya Junet! kalau gak gue bawain tukang kuli bangunan buat robohin pintu lo!" ancam Rifki.


"Bawain aja, gue masih mampu buat sewa orang untuk benerin."


"Ed, lo gak kasian sama gue yang udah jauh-jauh dateng buat berkunjung ke apartemen lo? Dan sampai sini, ketimbang bukain pintu aja lo enggak mau? Jahat lo Ed," rengek Rifki.


Di dalam kamarnya Edward memutar bola matanya malas mendengar rengekan Rifki, tanpa mengatakan sepatah katapun Ia memutus panggilannya sepihak. Bisa Ia pastikan Rifki saat ini tengah menyumpah serapahinya di depan pintu apartemennya. Edward melirik jam yang ada di handphonenya, dan sekali lagi Ia berdecak kesal mengingat jam baru menunjukkan pukul enam pagi dan Rifki sudah ada di apartemennya untuk bertamu? Ah bukan untuk bertamu, lebih tepatnya untuk menganggu acara tidur Edward.


Edward bangkit dari tempat tidurnya kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Bisa Ia dengar bel apartemennya yang sudah kembali heboh berbunyi dan juga di sertai dengan gedoran yang cukup keras. Edward berpikir, bahwa Rifki tidak main-main dengan ucapannya yang akan merobohkan pintu apartemennya. Tetapi biarlah, toh Ia juga masih mampu untuk memperbaikinya kembali. Ia pun melanjutkan langkahnya ke dalam kamar mandi untuk sekedar membasuh muka dan juga menggosok giginya, bukan untuk mandi. Ia juga termasuk manusia yang malas mandi ketika hari libur, kecuali ada kepentingan yang mendesak.


Edward membuka pintu apartemennya ketika dirinya sudah selesai dengan ritual di hari minggunya, bisa Ia lihat wajah kesal Rifki ketika Ia membuka pintu apartemennya.


"Tega lo sama gue! Gue hampir aja mau pingsan di sini gara-gara kelamaan berdiri!" semprot Rifki ketika Edward membukakan pintu untuknya.


"Sorry gue bukain pintu bukan buat lo, tapi buat abang go-food yang bakal nganterin makanan ke sini," jawab Edward sembari menyenderkan tubuhnya ke pintu apartemennya. Tentu saja hal yang di katakan Edward adalah sebuah kebohongan belaka, Ia hanya tidak ingin terlihat peduli kepada Rifki. Padahal nyatanya Ia sangat peduli dengan sahabat kampretnya itu.


"Salah gue apa sih Ed sama lo? Sampai tega-teganya lo buat gue kayak anak kost yang baru di usir dari kontrakannya terus ke rumah temennya buat numpang eh sampai di sana enggak di terima malah di usir," jelas Rifki panjang kali lebar kali tinggi bagi seratus.


"Banyak," jawab Edward singkat. Hanya satu kata, tetapi berhasil membuat Rifki menggeplak lengan Edward.


"Apaan sih lo, main geplak tangan orang aja," ucap Edward kesal.


"Masih untung cuma tangan, belum ginjal lo yang gue geplak."


"Halah, liat darah aja lo auto kejang-kejang. Gimana jalan ceritanya mau geplak ginjal coba?" cibir Edward.


"Pake ilmu hitam!"


"Sadis."


"Dah minggir sono, gue mau duduk!" ucap Rifki sembari mendorong tubuh Edward agar kembali masuk ke dalam apartemennya.


"Mandiri banget tamu gue yang satu ini, belum juga di suruh masuk udah masuk duluan," ucap Edward menyindir Rifki.


"Sembarangan kalo ngomong! Mana ada gue minim kesadaran sosial," ucap Edward tidak terima.


"Udah-udah gak usah debat dulu, gue haus pen minum."


"Ambil sendiri, biasanya juga lo ngambil sendiri!" ucap Edward sembari mendudukkan dirinya di sofa yang tidak jauh dari sofa yang Rifki duduki.


"Sebagai tamu yang telah ternistakan selama hampir empat puluh menit lamanya-,"


Ucapan Rifki langsung terhenti karena Edward menyelanya.


"Gak usah banyakan drama, kayak mau latihan jadi aktor sinetron aja lo!"


"Akting gue bagus ya? Sampai lo nyuruh gue latihan buat jadi aktor sinetron?"


Edward mendengus, "Keren enggak, lusuh iya!"


"Dah lah, punya temen satu begini amat," ucap Rifki meratapi nasibnya. Ia pun bangkit menuju dapur Edward untuk mengambil minum dan juga sesuatu yang bisa Ia makan.


"Ngomong-ngomong, ada apa lo ke sini pagi-pagi? Ganggu orang lagi tidur aja!" tanya Edward ketika melihat Rifki kembali dari dapurnya.


"Mau ngajakin lo joging," jawab Rifki sembari memakan roti yang Ia bawa dari dapur Edward.


"Ogah! Mending gue lanjut tidur lagi," jawab Edward malas.


"Lo itu udah lama gak olahraga, mau ntar kotak-kotak yang di perut lo ilang ketelen sama lemak lo?" ucap Rifki menakut-nakuti Edward.


"Tiap hari juga gue olahraga kali, lo aja yang gak tau," jawab Edward santai.


"Beneran? Lo olahraga di mana emang?" tanya Rifki antusias.


"Olahraga gue bisa tiap detik, menit, bahkan jam. Tempatnya bisa di sekolah, apartemen, dan di tempat umum," jawab Edward memberikan clue.


Rifki mengerutkan dahinya bingung, Ia sama sekali tidak mengerti dengan clue yang Edward berikan.


"Gue gak ngerti suer," ucap Rifki menyerah. Otaknya yang tidak seberapa itu sudah tidak sanggup mencerna informasi dari Edward.


"Gue setiap detik, menit bahkan jam. Entah itu di sekolah, apartemen atau di tempat umum. Selalu olahraga buat nahan diri gue untuk gak numbalin lo ke NASA!"


"NASA apaan? Serial kartun kakaknya Rara?" tanya Rifki yang gagal konek.


"National Aeronautics and Space Administration."


"Otak gue gak sanggup Ed," ucap Rifki sedih.


"Badan Penerbangan dan Antariksa yang ada di Amerika," ucap Edward menjelaskan.


"Gue tau nih, lo mau numbalin gue ke sana karena gue kelewat jenius kan?" tanya Rifki dengan pedenya.


"Iya jenius, sampai-sampai nyerempet ke gila!" jawab Edward prihatin.


Padahal di tumbalinnya untuk jadi kelinci percobaan, lah malah kepedean. Dasar Rifki!