Please Feel My Love

Please Feel My Love
Racer Edward Is Back



...'Skenario yang sudah pasti dalam sebuah cerita adalah, orang jahat akan dibiarkan menikmati kebebasannya terlebih dahulu, sebelum nanti menikmati buah hasil perbuatannya.'...


...----------------...


Masa-masa menakutkan bagi siswa-siswi kelas XII telah terlewati. Kini saatnya mereka bersantai ria, dan pasrah menunggu hasil, setelah selama empat hari memeras otak dan juga tenaga untuk mempersiapkan yang terbaik, pada hari yang dimana akan menjadi sejarah penentu kelulusan mereka dari masa putih abu-abu.


Dan kini, Edward tengah menghabiskan masa liburan setelah Ujian Nasional untuk membantu proses perceraian antara Ayahnya dan juga Marina. Sebenarnya Edward sangat terkejut, ketika Leon berkunjung ke apartemennya untuk bertemu dengan Heru dan tiba-tiba membicarakan hal mengenai gugatan cerai. Akhirnya setelah menyimak dengan baik apa yang dibicarakan antara Leon dan Heru, Edward dapat menyimpulkan, bahwa Heru sudah sadar bahwa selama ini Marina memang hanya menginginkan hartanya saja. Dan Edward, bersyukur akan hal itu.


Edward kembali ke kamarnya, setelah Leon berpamitan pulang. Edward melangkah mendekati meja belajar, kemudian mengambil ponsel yang sedari tadi Ia letakkan disana. Keningnya berkerut, ketika melihat sebuah notif pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


+62 878-8318-xxxx


What's up bro?


Want to join us?


It's me, Darrel


^^^No, thanks^^^


Darrel merupakan salah satu teman Edward di dunia balap malam. Edward tidak menyimpan nomor Darrel, karena Darrel sangat sering mengggonta-ganti nomor ponselnya demi mengelabui wanita-wanita yang sempat dikencaninya. Sebuah notif kembali masuk ke ponsel Edward, dengan segera Edward membukanya.


+62 878-8318-xxxx


C'mon, I haven't see you in a long time


Edward menatap lama pesan yang Darrel kirim, Darrel sudah beberapa kali mengiriminya pesan agar Edward mau bergabung untuk melakukan balapan lagi. Tapi Edward selalu menolak, dan hari ini Darrel kembali menghubunginya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya jari-jari Edward kembali menari di atas keyboard ponselnya untuk membalas pesan Darrel.


^^^Wait thirthy minutes^^^


Setelah mengetikkan balasan, Edward langsung bersiap untuk pergi ke tempat yang biasanya Ia bertemu dengan Darrel.


"Kamu mau kemana Edward?" tanya Heru ketika melihat Edward yang akan keluar dari apartement.


Gerakan membuka knop pintu Edward terhenti ketika mendengar suara Ayahnya.


"Edward mau pergi sebentar," jawab Edward.


Heru mengernyitkan alisnya, "Pergi kemana?"


"Ada urusan sama temen. Edward berangkat dulu, Yah," ucap Edward menghampiri Ayahnya dan berpamitan.


Heru menepuk pundak Edward, "Hati-hati di jalan."


Edward hanya mengangguk, kemudian langsung melenggang pergi dari apartemennya. Setelah punggung Edward menghilang dibalik daun pintu, Heru pun kembali masuk ke dalam kamarnya.


Edward melepas helm full face nya, ketika Ia telah sampai di tempat yang dimaksud oleh Darrel. Tak lama kemudian, seseorang menghampiri Edward yang baru saja turun dari atas motor, dan langsung memeluknya.


"Long time no see you," ucap Darrel setelah mengurai pelukan mereka.


"Sibuk," jawab Edward singkat.


Edward menggidikan bahunya.


"By the way, tumben lo mau ke sini," tanya Darrel sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Refreshing."


Darrel mengangguk, "Bener juga. Lo baru selesai Ujian Nasional kan?"


Edward hanya menanggapi pertanyaan Darrel dengan sebuah anggukan.


"Good choice to come here. So let's have fun!" ucap Darrel antusias sembari merangkul Edward dan menggiringnya menuju tempat teman-temannya yang lain berkumpul.


"Hey guys, hari ini kita kedatangan tamu spesial," ucap Darrel bersemangat, "The racer Edward is back!"


Teman-teman Darrel yang lain pun, sontak mengalihkan perhatian mereka dari aktivitas yang tengah mereka lakukan demi mencari tahu kebenaran yang diucapkan oleh Darrel. Edward tersenyum tipis, ketika melihat wajah teman-teman Darrel yang nampak terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


"Apa kabar, bro?" tanya salah satu dari mereka.


"Seperti yang kalian lihat."


"Gue yakin kita hari ini bakal menang taruhan, karena apa?" Darrel melirik sekilas ke arah Edward, "Pembalap sejati kita ada di sini."


Teman-teman Darrel sontak bersorak heboh mendengar ucapan Darrel.


"Siapa yang bakal gue lawan malam ini?" tanya Edward kepada Darrel.


"Orang yang pernah lo ajak balapan, dan taruhannya adalah motor kesayangan dia."


Edward menyeringai, "Him again?"


Darrel menaikkan sebelah alisnya ketika melihat senyum Edward.


"I'll show him, the shame of losing to the same person for the second time." Edward menoleh ke arah Darrel, "Kali ini, taruhannya apa?"


Darrel mendekat, kemudian berbisik di sebelah telinga Edward, "Apartement."


Edward menyeringai, "Taruhan yang cukup menarik."


Darrel langsung memerintahkan salah satu anak buahnya untuk melakukan proses pengecekan pada motor Edward. Setelah selesai, Edward langsung naik ke atas motornya dan melajukan motornya menuju garis start, yang dimana penantangnya telah siap untuk berlomba.


Edward melirik ke arah lawannya yang mengenakan helm full face sama seperti dirinya, Edward mengerutkan keningnya ketika merasa familiar dengan orang yang ada di balik helm full face tersebut.


Aba-aba dari seorang wanita yang berpakaian seksi dengan membawa bendera di tangannya, menyadarkan Edward. Edward pun mulai berkonsentrasi dengan aba-aba yang diberikan oleh wanita seksi tersebut. Setelah melihat bendera yang ada ditangan wanita tersebut telah menyentuh permukaan aspal, Edward dengan segera menarik pedal gas nya, dan melesat meninggalkan garis start dan juga lawannya malam ini.


Edward melirik lawannya dari spion yang terpasang pada motornya. Setelah merasa kemenangan telah berada di depan matanya, Edward kembali menarik pedal gasnya, dan membuat motornya melaju lebih kencang menuju garis finish.


Di detik-detik Edward akan memasuki garis finish, Edward berusaha mengurangi kecepatan motornya. Dan pada detik itu juga, Edward menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan motornya. Dengan sekuat tenaga, Edward berusaha mengurangi kecepatan motornya, tetapi hasilnya nihil. Motor yang dikendarainya masih melaju dengan sangat kencang, bahkan melewati garis finish. Semua orang yang ada di sana berteriak histeris, ketika dari arah berlawanan muncul sebuah mobil yang juga sama-sama melaju dengan kencang.


Edward dengan segera membanting stang motornya ke arah samping, guna menghindari benturan yang akan terjadi dengan mobil yang tengah melaju kencang tersebut. Benturan dengan mobil tersebut berhasil ter elakkan. Namun naas, Edward malah menambrak pembatas jalan dengan sangat keras, yang menyebabkan Edward terpelanting cukup jauh dari lokasi motornya. Orang-orang yang ada di sana, sontak berduyun-duyun menghampiri Edward yang sudah tergeletak di atas aspal dengan tubuh yang bersimbah darah, dan kesadaran yang kian menipis. Orang yang ada di balik kemudi mobil itu tersenyum miring, kemudian dengan segera ikut turun guna melihat kondisi Edward yang memprihatinkan. Sebelum kesadaran Edward benar-benar hilang, Edward dapat melihat seringai dari pengendara mobil tersebut, sebelum kegelapan mengambil alih semua kesadarannya.