Please Feel My Love

Please Feel My Love
Tak Seindah Ekspetasi



...'Ketika kenyataan yang kau hadapi, tak seindah ekspetasi yang telah kau buat sendiri.'...


...----------------...


Bel masuk kelas sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu, Pak Joko pun sudah masuk ke dalam kelas dan mulai mengabsen satu persatu anak didiknya. Hingga tiba giliran Rayla.


"Effie Rayla Zefanya," ucap Pak Joko, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas ketika Ia menyebut nama Rayla.


"Hadir Pak," jawab Rayla sembari mengangkat tangan kanannya. Pak Joko hanya manggut-manggut dan kembali melanjutkan absennya. Ketika semua muridnya sudah ter-absen, Pak Joko kemudian menutup lembar absensinya dan mengambil lembar jawaban hasil tes minggu lalu.


"Hari ini Bapak akan membagikan hasil tes kalian minggu lalu, bagi anak-anak yang nilainya di bawah rata-rata nanti akan ada remedial." ucap Pak Joko, kemudian mulai membagikan hasil tes anak didiknya. Hingga tiba giliran Rifki yang akan mengambil hasil tes Biologinya, Ia berjalan dengan raut wajah yang angkuh seakan-akan Ia akan mendapatkan nilai di atas rata-rata.


Tetapi itu tidak bertahan lama, ketika hasil tes Biologinya sudah ada di tangannya. Wajah yang tadinya berjalan angkuh di saat akan mengambil hasil tesnya, kali ini berubah menjadi masam. Menyadari perubahan raut wajah sahabatnya, Edward pun bertanya.


"Kenapa lo?" tanya Edward ketika Rifki sudah kembali duduk di bangkunya.


"Gue positif Ed," jawab Rifki lesu.


"Positif?! Maksud lo?" tanya Edward dengan ekspresi terkejut, mencoba mengenyahkan pemikiran negatif dari otaknya.


"Bukan positif hamil! Jan ngadi-ngadi lo," ucap Rifki yang seakan-akan tau apa yang ada di pikiran Edward.


"Ya kan sapa tau!" jawab Edward.


"Gue positif remedial," jawab Rifki dan di akhiri dengan cengiran khasnya.


Edward mendelik kesal, "Tinggal bilang lo remedial aja kebanyakan gaya lo!"


"Suka-suka gue lah!"


Perdebatan mereka harus terhentikan ketika Pak Joko mengangkat suaranya.


"Jika ada yang ingin protes terkait nilai yang mungkin tidak sesuai silakan angkat tangannya!"


Hanya ada beberapa murid yang bertanya terkait nilai yang mereka dapatkan, lain halnya dengan Edward dan juga Rayla. Mereka berdua hanya diam menyimak situasi yang ada, sebab Edward tidak mengikuti tes Biologi minggu lalu karena sakit dan Rayla yang notabenenya adalah murid baru.


Rifki tidak mau kalah, Ia pun menyuarakan keluhannya.


"Ya Rifki, ada masalah apa dengan nilai kamu?" tanya Pak Joko.


"Nilai saya kan tujuh puluh sembilan Pak, sedangkan rata-rata nilainya itu delapan puluh."


"Ya memang benar, lalu masalahnya di sebelah mana?" tanya Pak Joko kebingungan.


"Nilai saya kan cuma kurang satu biji Pak, nah boleh dong Pak Bapak lolosin saya. Gak usah ikutan remedial gitu saya nya Pak," ucap Rifki yang berusaha merayu Pak Joko agar mengijinkannya untuk tidak mengikuti remedial.


"Dih enak bener lo!" celetuk Rian tak terima.


"Lo sebenarnya ada masalah apa sih sama gue Yan?" tanya Rifki kepada Rian.


"Ya gue gak rela aja gitu, masak lo gak remedial!"


"Ini nih ciri-ciri orang yang tidak bahagia melihat kebahagiaan orang lain!"


"Kalo yang lagi berbahagia itu orang yang sukses karena jerih payahnya, gue mah dengan senang hati ikut berbahagia. Lah ini, lo yang berbahagia dengan cara licik ya mana mungkin gue ikut bahagia!"


"Gue bukan licik!"


"Ya terus apa namanya kalo bukan licik Jumardi!"


"Kelakuan lo barusan bukannya buat lo lebih jauh dari kejaran neraka, tapi malah buat lo makin deket dari kejaran neraka!" jawab Rian kesal. Heran kenapa ada manusia yang berfikiran seperti Rifki.


Rifki menggidikkan bahunya acuh kemudian bertanya kembali kepada Rian


"Nilai lo berapa emang?" tanya Rifki.


"Tujuh puluh delapan," jawab Rian.


"Yaelah beda satu biji doang sama gue, hayu lah sama-sama rayu Pak Joko biar kita gak di ikutin remedial." ucap Rifki yang penuh dengan hasutan setan.


"Ogah!"


"Sok-sokan gak mau lo! Kalo lo gak berani lari sendiri, ntar kita lari dari kejaran neraka nya bareng-bareng aja!" ucap Rifki yang masih saja berusaha membujuk Rian agar mengikuti langkahnya.


Sedangkan Pak Joko dan teman-teman sekelasnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan duo R itu.


"Tidak ada negosiasi nilai! Entah itu nilainya hanya kurang 1 biji, 2 biji ataupun hanya kurang 0,5. Bagi Bapak, itu tetap saja masih di bawah standar nilai rata-ratanya." ucap Pak Joko tegas.


Rifki pun hanya bisa pasrah jika Pak Joko telah berkata seperti itu, sekali remedial tetap remedial. Terima nasib sajalah.


"Untuk Edward dan juga Rayla, kalian bisa mengikuti tes Biologi susulan. Untuk waktu pengerjaannya, usahakan pada minggu ini. Agar nanti jika kalian mendapatkan nilai di bawah rata-rata, kalian bisa mengikuti remedial yang akan Bapak lakukan minggu depan." ucap Pak Joko, walaupun sebenarnya Ia yakin Edward tidak akan mendapatkan nilai di bawah rata-rata. Nilainya selalu di atas rata-rata, tetapi untuk Rayla Pak Joko masih agak ragu. Karena Rayla adalah murid baru, Pak Joko belum mengetahui kemampuan yang Rayla miliki.


"Gue doain lo remedial Ed," ucap Rifki tak berperikesahabatan.


Edward menggeplak kepala Rifki, "Doain yang baik kek!"


Rifki pun hanya terkekeh menanggapi perkataan Edward.


"Apa kalian mengerti Edward, Rayla?" tanya Pak Joko.


"Mengerti Pak," jawab Edward dan Rayla berbarengan.


Setelah itu Pak Joko memberikan tugas kepada anak didiknya, karena Pak Joko memiliki urusan dinas di luar sekolah jadilah Ia hanya memberikan tugas.


"Silakan di kerjakan tugas yang sudah Bapak berikan, harap jangan ada yang keluar kelas pada saat jam pembelajaran Bapak masih berlangsung!" ucap Pak Joko seraya merapikan perlengkapan yang Ia bawa tadi.


"Baik Pak!" jawaban serentak dari seluruh penghuni kelas XII IPA 2.


Pak Joko pun segera meninggalkan kelas dan berjalan menuju Ruang Guru, sepeninggal Pak Joko. Kelas yang tadinya hening berubah menjadi riuh, banyak murid yang mulai berhamburan di kelasnya. Ada yang mengadakan konser dadakan, ada yang berkumpul sembari bergosip ria, bahkan ada yang sampai menjerit-jerit melihat para idola mereka melalui aplikasi YouTube. Hanya sedikit manusia yang mengerjakan tugas dari Pak Joko.


Rayla tidak memperdulikan hingar-bingar yang terjadi di sekitarnya, Ia hanya fokus mengerjakan tugas yang di berikan oleh Pak Joko. Sama halnya dengan Edward, Ia juga memusatkan fokusnya kepada tugas yang di berikan oleh Pak Joko. Walaupun Rifki terus mengganggunya agar ikut bersamanya melihat koreografi dari girl band favoritnya itu. Ya tentu saja Blackpink.


"Nanti aja kerjainnya Ed, sekarang kita nonton YouTube dulu!" ucap Rifki menghasut Edward agar mengikuti kegiatannya.


"Sori gue gak gampang di hasut setan!" jawab Edward datar.


"Gak asik banget sih lo!" jawab Rifki kesal.


"Gue gak bakal ngasih lo contekan, kalo misalkan lo gak ngerjain tugasnya sekarang!"


Rifki mendelik kesal, "Lo mah ngancam nya gitu banget!"


Edward hanya menggidikkan bahunya acuh dan kembali fokus untuk mengerjakan tugasnya.


Rifki yang mendengar ancaman Edward pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk melihat koreografi girl band favoritnya, Ia pun mengambil buku tugasnya dan segera mengerjakan tugas yang di berikan. Walaupun ada rasa tidak rela karena Ia harus mengurungkan niatnya menonton girl band favoritnya, ya tapi mau bagaimana lagi. Ancaman yang di berikan Edward sungguh sangat mengerikan, mending Ia menunda menonton YouTube daripada harus mengerjakan tugasnya sendiri tanpa bantuan Edward.