Please Feel My Love

Please Feel My Love
You Back?



...'Sekali lagi, kamu berhasil menarik ku dari lembah kegelapan.'...


...----------------...


Rayla dengan malas bangkit dari kasur, karena mendengar teriakan Mamanya yang menggelegar menyusup ke dalam telinga. Demi keselamatan insan bersama, Rayla dengan cepat menghampiri Mamanya, sebelum ada amunisi lain yang di luncurkan.


"Mama ngapain sih teriak-teriak enggak jelas sambil manggil-manggil nama Rayla?" tanya Rayla ketika menghampiri Aleta yang tengah duduk manis di atas sofa ruang keluarga.


"Keluar gih," titah Aleta sembari mengganti channel TV menggunakan remote TV yang ada di tangan kanannya.


"Mama nyuruh Ayla minggat?!" pekik Rayla.


Aleta menatap datar Rayla, "Kamu mau jadi gelandangan?"


Rayla dengan cepat menggeleng, "Enggak lah!"


Aleta mengalihkan pandangan menuju acara TV kembali, "Sana ganti baju, habis itu keluar."


"Mama jangan ambigu dong! Keluar kemana emangnya?"


"Keluar buat belanja."


"Gitu kek dari tadi, kan Ayla gak salah paham."


"Emang dasarnya kamu yang lola. Coba pikir, emang ada, orang yang mau ngusir nyuruh buat ganti baju dulu?"


"Siapa tau kan. Zaman sekarang."


"Udah sana buruan keluar, ntar keburu malem."


"Baru jam dua siang, Ma," ucap Rayla sembari memutar bola matanya malas, "Lagian kenapa gak Mama aja sih yang ke luar buat belanja?" lanjut Rayla heran.


"Mama habis perawatan kulit kemarin. Mama gak mau kulit Mama gosong lagi, karena sekarang musim panas. Jadi, mending kamu aja yang keluar belanja," jawab Aleta santai.


Rayla melongo mendengar jawaban Aleta, "Tau ah."


Aleta mengibaskan tangannya, "Udah sana buruan ganti baju."


Rayla menaiki tangga dengan perasaan dongkol. Dengan malas, Ia berganti pakaian. Setelah usai, dengan cepat Ia kembali turun ke bawah menghampiri Mamanya.


"Ini uang sama daftar belanja. Tenang, ada sisanya kok," ucap Aleta sembari menyodorkan daftar belanja dan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Ayla berangkat sekarang kalau gitu," ucap Rayla sembari menyalimi tangan Mamanya.


Aleta mengangguk, "Hati-hati di jalan."


Rayla mengangguk, kemudian beranjak menuju pintu utama rumah. Di depan, sudah ada Pak Santoso yang siap mengantar. Mamanya memang sangat totalitas!


Rayla termenung di perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan. Pikirannya tertuju pada Edward yang kemarin terlihat sedang tidak baik-baik saja. Terlalu larut dalam dunianya sendiri, hingga Rayla tak menyadari jika mobil yang di kendarai oleh Pak Santoso sudah terparkir rapi di parking area salah satu pusat perbelanjaan.


"Non Ayla gak mau turun? Kita udah sampai," ucap Pak Santoso yang menyadarkan Rayla dari lamunannya.


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Rayla langsung membuka pintu mobil dan keluar.


Terhitung sudah tiga puluh menit Rayla mengelilingi rak yang berisi berbagai macam bumbu dapur dan keperluan dapur yang lainnya. Kini, Ia mendorong troli yang telah terisi dengan daftar belanja yang Mamanya berikan, ke arah susunan rak yang berisi berbagai macam makanan ringan. Bukankah Mamanya bilang ada sisa dari uang yang di beri untuk berbelanja kali ini? Jadi, Rayla ingin memakainya untuk membeli makanan kesukaannya.


Rayla keluar dengan menjinjing satu tas belanja dengan ukuran yang cukup besar. Pak Santoso yang melihat itupun, langsung dengan sigap membantu Rayla.


"Non Ayla mau langsung pulang?" tanya Pak Santoso sembari mengemudikan mobil.


"Bo--," ucapan Rayla terhenti, ketika netranya tak sengaja menangkap siluet motor yang Ia kenal.


"Pak, bisa ikutin motor yang di depan gak?"


Pak Santoso mengangguk, "Bisa, non."


Rayla terus memperhatikan motor yang melaju kencang di depan sana, "Ngebut, Pak!" perintah Rayla.


Tanpa bertanya lebih lanjut, Pak Santoso menambah kecepatan mobilnya. Dahi Rayla berkerut, ketika pengendara motor itu pergi ke tempat yang tidak asing baginya. Motor yang di kendarai Edward pun berhenti, sontak Pak Santoso pun menghentikan laju mobilnya. Dengan jelas Rayla dapat melihat wajah Edward yang nampak sendu, melangkah memasuki area danau.


Rayla berkali-kali melirik ke arah danau, berharap menemukan Edward. Tetapi sudah hampir lima menit, tidak ada tanda-tanda Edward akan pergi dari danau itu. Rayla menggigit bibir bawahnya. Pikiran Rayla mulai berkelana pada kejadian pertama kali Ia bertemu dengan Edward di danau ini. Bagaimana jika Edward mengulang kejadian itu? Apalagi, belakangan ini Edward memang terlihat sedang menghadapi masalah. Rayla menggelengkan kepalanya, menepis segala kemungkinan buruk yang melintas.


Setelah beberapa saat berperang dengan dewi yang ada di dalam dirinya, akhirnya Rayla memilih untuk turun dan menghampiri Edward. Ia harus memastikan sendiri, bahwa Edward tidak akan berbuat macam-macam.


"Bapak tunggu di sini sebentar ya. Ayla gak lama kok," pesan Rayla.


Pak Santoso pun hanya mengangguk, tanpa bertanya apa-apa.


Rayla segera turun dari dalam mobil, dan berlari kecil memasuki area danau. Matanya menyapu seluruh kawasan danau, untuk menemukan Edward. Rayla menghela nafas lega, ketika mendapati Edward yang tengah duduk di bawah pohon besar yang ada di sana.


Rayla terus memperhatikan Edward yang tengah menatap kosong ke arah air danau yang sedikit ber-riak. Dengan langkah ragu Rayla mulai mendekat ke arah Edward. Rayla berdehem kecil, ketika Edward juga belum menyadari keberadaan Rayla di dekatnya.


Edward sedikit melirik ke arah suara yang diciptakan Rayla. Edward nampak tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya ketika melihat Rayla yang tengah berdiri di dekatnya. Edward senang? Tentu saja! Ia sudah lama tak bertegur sapa dengan Rayla. Tetapi, Edward juga sadar. Mungkin saja Rayla tengah menunggu seseorang di sini, tidak mungkin bukan, Rayla dengan kebetulan ada di sini? Pasti ada alasan di baliknya.


Edward tersenyum tipis ketika Rayla duduk di sebelahnya, tetapi tetap dengan memberikan jarak. Tidak masalah untuknya, mengingat perlakuan yang Ia lakukan pada Rayla beberapa bulan yang lalu. Memang sudah sepantasnya Rayla membentangkan jarak diantara mereka.


Rayla menghela nafasnya, ketika sudah selama satu menit mereka hanya saling diam. Edward memperhatikan Rayla, hingga Rayla membuka suara.


"Kalau lagi ada masalah, cerita sama seseorang yang lo percaya. Jangan cuma di pendam sendiri. Karena sekuat apapun diri lo. Pada akhirnya, lo tetep bakal perlu seseorang yang lo ajak untuk bertukar pikiran. Pada hakekatnya, itulah fungsi dari manusia yang diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda. Untuk saling melengkapi."


Edward tersenyum tipis, bagaimana Ia bisa bercerita, jika orang yang selama ini Ia percaya tengah mengukir jarak karena tindakannya?


Dengan gugup, Rayla memberanikan diri menoleh ke arah Edward yang kini tengah menatapnya dalam. Rayla tersenyum canggung, kemudian memutus kontak mata mereka. Tanpa mengucapkan apa-apa, Rayla pun bangkit, dan melangkah menjauh dari Edward.


Edward masih diam memandangi Rayla yang semakin jauh melangkah. Tepat pada langkah kaki Rayla yang ke sepuluh, Edward memanggil nama Rayla. Langkah Rayla pun terhenti, dan dengan segera menoleh ke arah Edward.


Edward tersenyum tipis, "Thanks."


Rayla hanya mengangguk, kemudian melanjutkan kembali langkahnya. Sedangkan Edward, masih memperhatikan langkah Rayla yang menjauh darinya. Semakin menjauh, hingga netranya tak dapat lagi menangkap sosok gadis yang diharapkannya.