Please Feel My Love

Please Feel My Love
The Truth



...'Maaf jika selama ini aku membuat mu tersiksa karena kebodohan ku.'...


...----------------...


Sudah lebih dari seminggu ini Rayla di rawat di ruang ICU, dan selama itu juga Rayla masih betah memejamkan matanya. Kedua orang tua Rayla pun, saling bergantian untuk menjaga putri mereka. Tak jarang, Edward juga ikut untuk menjaga Rayla, yang tengah bermimpi indah, sampai enggan untuk membuka matanya. Sedangkan Sam? Oh, dia sama sekali tidak terlihat, sejak kejadian Rayla kecelakaan hingga sekarang. Entah kemana perginya makhluk yang satu itu, Edward tidak peduli.


Hari ini, Edward akan menjenguk Rayla kembali. Setelah selesai bersiap-siap, Edward dengan segera pergi ke luar dari apartemennya. Heru sudah tidak tinggal di apartmennya lagi, semenjak mengajukan gugatan cerai kepada Marina dan juga mengusirnya dari rumah, Heru kembali ke rumahnya yang dulu.


Edward memarkirkan motornya di salah satu kafe yang dekat dengan Rumah Sakit tempat Rayla di rawat. Rencananya, Ia akan membelikan makanan untuk Aleta dan juga Theo yang kini tengah menjaga Rayla.


Setelah memesan makanan yang akan di bungkus, Edward duduk di salah satu bangku selagi para pegawai kafe tersebut menyiapkan pesanannya. Kening Edward berkerut, ketika melihat sosok yang tak asing di matanya, tengah berjalan menuju kafe tempat Ia berada saat ini.


Dengan segera Edward menutup kepalanya, dengan kupluk hoodie yang di kenakannya. Tak lama kemudian, sosok itupun memasuki kafe, dan memilih duduk di meja yang tak jauh dari tempat Edward menunggu pesanannya.


Edward berpura-pura memainkan ponselnya, sembari sesekali melirik ke arah Bela. Tak lama kemudian, datang seseorang yang mengenakan hoodie berwarna hijau tua yang menghampiri Bela. Edward menatap tak percaya pada seseorang yang kini tengah bersama Bela.


"Gimana keadaan Rayla?" tanya Sam kepada Bela yang tengah santai memainkan ponselnya.


"Kritis," jawab Bela santai.


Sam menggeram marah, ketika mendengar jawaban Bela yang kelewat santai.


"Gue udah bilang sama lo, jangan sampai Rayla celaka! Tujuan kita misahin Edward sama Rayla, tanpa buat mereka berdua celaka!"


Bela menaruh ponselnya ke atas meja dengan kasar, "Tanpa celaka lo bilang!? Lo duluan yang buat Edward celaka, sampai masuk ruang ICU!"


"Lo jangan fitnah gue! Edward celaka itu, murni karena kecelakaan. Gak ada sangkut pautnya sama gue!"


"Halah, lo gak usah nutupin kejadian yang sebenernya deh. Gue tahu, lo yang buat Edward celaka dengan nyabotase motornya dia, sebelum pertandingan balap di mulai!"


Sam menyeringai, "Lo gak ada bukti, untuk nuduh gue."


Bela tersenyum sinis, kemudian mengambil kembali ponsel yang tadi Ia taruh ke atas meja kemudian, mengirimkan sesuatu ke ponsel Sam.


Sam masih memandang Bela dengan tatapan meremehkan, sebelum dirinya menegang karena sesuatu yang baru saja Bela kirimkan padanya.


Bela tersenyum pongah ketika melihat perubahan raut wajah Sam.


"Apa masih kurang bukti yang gue punya?"


Sam menatap Bela dengan tatapan intimidasi, "Lo dapet video ini darimana?"


Video yang Bela kirim, adalah video dimana Sam memerintah salah satu anak buahnya untuk menyabotase motor milik Edward pada hari kejadian.


"Informan gue banyak," jawab Bela enteng.


Sam meletakkan ponselnya ke atas meja, "Oke. Gak bakal ada masalah kalau kita berdua bisa jaga rahasia. Jadi sekarang gimana hubungan lo sama Edward?"


"Excellent! Dia merasa berhutang budi sama gue karena dia ngira gue yang udah donorin darah gue buat nyelametin dia. Padahal sebenernya, Rayla yang donorin darahnya buat Edward. Bahkan Rayla sampai pingsan setelah donorin darahnya buat Edward, karena dia shock."


"Shock?" beo Sam.


Bela mengangguk, "Rayla trauma sama jarum, tapi dia masih maksain diri buat donorin darahnya ke Edward, karena pas itu stock darah di Rumah Sakit lagi kosong sedangkan Edward butuh donor darah segera. Dan kebetulan golongan darah Rayla cocok sama Edward."


Sam menggelengkan kepalanya tak percaya, "Dan di depan Edward lo ngaku, kalau yang donorin darah buat Edward itu, lo?"


Bela mengangguk, "Bukan cuma di depan Edward aja, gue juga ngakuin itu di depan om Heru."


"Dan mereka percaya?"


"Yup."


"Yeah, mereka gampang di bodohin ternyata."


"Rencana lo sekarang apa?" tanya Sam.


"Mempercepat pertunangan gue sama Edward. Sebelum dia tahu kebenarannya, dan berujung batalin perjodohan yang udah gue impi-impikan dari kelas sepuluh. Lo sendiri?"


"Gue masih harus berusaha buat nyari perhatiannya Rayla."


"Belum ke notice juga lo? Kasian banget," ledek Bela.


"Lo gak bakal sedeket ini sama Edward, kalau semisal gue gak sabotase motor Edward pas balapan."


"Tapi gue penasaran."


"Penasaran soal apa?"


"Orang yang lo ajak kerja sama, pas buat Edward kecelakaan, siapa?"


Sam menyeringai, "Orang yang gak bakal mereka sangka sama sekali."


Bela mengerutkan keningnya mendengar jawaban Sam, "Maksud lo?"


"Lo bakal tau nanti."


Bela mengangguk, "Jangan lupa kenalin ke gue, siapa tahu suatu hari nanti gue perlu bantuannya."


"Bantuan buat? Tanya Sam tidak mengerti.


"Buat apa lagi? Tentunya untuk buat Rayla sama Edward makin jauh."


Sam tersenyum penuh arti, "Gue gak nyangka. Di balik sikap lo yang polos di sekolah, ternyata lo orang yang penuh ambisi."


Bela menggidikkan bahunya acuh, "Bahkan orang baik sekalipun, pasti bakal berbuat dosa kan?"


Sam mengangguk, "Oh iya. Untuk masalah yang sekarang nimpa Rayla, udah lo beresin?"


"Tenang aja. Gue main bersih. Orang yang nabrak Rayla dan mobilnya udah gue beresin."


"Maksud lo--?"


"Yup, gue bunuh dia. Dengan tangan gue sendiri tentunya," ucap Bela dengan senyum mengerikan yang terukir di bibirnya.


Sam menatap Bela, "Gila juga ni cewek," ucap Sam dalam hati.


"Gue duluan kalau gitu," ucap Sam sembari mengambil ponsel yang tadi Ia letakkan di atas meja.


"Mau kemana lo?" tanya Bela.


"Jenguk Rayla. Udah seminggu lebih dia di rawat, tapi gue gak sempet jenguk dia, karena nyokap gue yang baru cerai."


Bela mengangguk, "Kabarin gue, semisal di sana ada Edward."


Sam mengangguk mengiyakan. Tak lama kemudian, mereka berdua pun berpisah di kafe tersebut.


Edward yang sedari tadi mendengarkan semua pengakuan mereka hanya bisa menahan emosinya. Apalagi setelah mengetahui fakta bahwa, kecelakaan yang menimpa Rayla sudah di rencanakan oleh Bela. Dan juga, kecelakaan yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu, ternyata juga telah di rencanakan dan dalangnya adalah Sam.


Dengan emosi yang memuncak, Edward keluar dari kafe tersebut, tanpa mengindahkan panggilan dari pegawai kafe yang memberitahu bahwa pesanannya telah siap. Tujuan Edward sekarang bukan untuk menjenguk Rayla, tetapi mengumpulkan bukti kejahatan yang Bela dan Sam lakukan, kemudian melaporkan mereka terhadap pihak yang berwenang agar menerima ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan!