Please Feel My Love

Please Feel My Love
Ice Cream



...'Rasa nyaman dapat timbul dari hal-hal yang paling sederhana sekalipun, kesederhanaan mengajarkan kita akan pentingnya sebuah rasa menghargai apa yang kita dapat hari ini.'...


...----------------...


Dengan rasa jengkel Rayla melanjutkan kembali misi berburu camilannya, Ia menyusuri semua rak yang berisi berbagai macam merek camilan dan memasukkan asal ke dalam troli belanjanya yang menurutnya menarik. Setelah merasa trolinya full Rayla pun mendorongnya menuju meja kasir untuk membayar semua tagihan belanjanya, Ia perlu mengantri beberapa saat karena kasir cukup ramai. Rayla mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah, dan menikmati apapun yang bisa di tangkap oleh retina matanya. Setelah menunggu sepuluh menit lebih akhirnya tibalah gilirannya untuk membayar, Rayla memperhatikan dengan serius pegawai kasir yang sangat cekatan sekali mengambil dan memasukkan semua barang belanjaannya ke dalam tas yang lumayan besar.


"Mbak, ice creamnya jangan di taruh di dalam tas belanjanya. Biar saya pegang aja," ucap Rayla ketika sang penjaga kasir ingin memasukkan ice cream yang Rayla beli ke dalam tas belanjanya.


"Baik mbak," ucap penjaga kasir tersebut dengan tersenyum ramah yang di balas senyuman juga oleh Rayla. Tak berselang lama penjaga kasir tersebut menyebutkan nominal yang harus di bayarkan oleh Rayla, Rayla dengan segera menyerahkan kartu kreditnya agar urusannya cepat selesai dan Ia bisa memakan ice cream yang sudah menggodanya sedari tadi. Setelah pembayaran sukses di lakukan, Rayla menjinjing tas belanjanya keluar supermarket. Dengan tangan kiri yang menjinjing tas belanjanya dan tangan kanannya yang setia memegang ice creamnya, Rayla mendudukan dirinya di kursi yang tersedia di depan supermarket tersebut. Ia pun membuka bungkus ice creamnya kemudian mulai menikmati ice cream miliknya, matanya sesekali melirik ke arah jalanan di mana banyak motor dan mobil sedang berlalu lalang tiada henti.


Setelah menghabiskan ice creamnya, Rayla mengambil handphonenya yang Ia letakkan di dalam slingbagnya. Ia mengirimkan pesan kepada sopirnya agar menjemputnya kembali, tadi saat Ia ingin berangkat menggunakan taksi tiba-tiba sopirnya datang dan menawarkan diri untuk mengantarnya. Saat Rayla bertanya apakah sang sopir sudah menyelesaikan tugasnya untuk menjemput sang anak, sang sopir pun menjawab sudah dan akhirnya Rayla pun menyetujui untuk di antar oleh sopirnya.


Saat sampai di supermarket, sengaja Rayla tidak menyuruh sopirnya untuk menunggunya. Karena Ia ingin bebas berlama-lama dalam berbelanja tanpa ada rasa bersalah yang muncul saat dirinya kebablasan dalam memilih barang belanjaan dan mengakibatkan sopirnya menunggunya cukup lama. Walaupun tadi acaranya berburu camilan sedikit terganggu dengan tingkah menyebalkan Edward yang seenak jidatnya menambahkan susu penambah tinggi badan ke dalam troli belanjanya, berbicara tentang susu penambahan tinggi badan. Rayla akhirnya memutuskan untuk membelinya, supaya nanti Edward tidak akan mengejeknya pendek lagi. Perlu di garis bawahi, jika susu penambah tinggi badan tersebut bekerja secara efektif.


Setelah menerima balasan dari sang sopir, Rayla pun meletakkan handphonenya di atas meja yang terdapat di sana. Pandangannya Ia edarkan menuju ke arah jalan guna mewanti-wanti jika sopirnya sudah datang. Lumayan lama Ia memperhatikan jalanan, hingga sebuah suara menginterupsinya.


"Ngapain lo masih di sini?" tanya seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Tanpa menoleh pun Rayla tahu siapa orang yang baru saja mengeluarkan suara tersebut. Tentu saja Ia ingat, dia adalah orang yang mengatainya dengan kata pendek. Ya siapa lagi kalau bukan Edward. Tidak ada niat untuk menyahuti pertanyaan Edward barusan, bahkan Ia tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan yang rasanya lebih menarik ketimbang wajah orang yang ada di dekatnya.


Merasa pertanyaannya tidak di respon oleh Rayla, Edward pun kembali bersuara. "Gue ngomong sama lo Rayla, gak udah sok gak denger deh!"


Rayla akhirnya mengalihkan perhatiannya, yang tadinya melihat ke arah jalan menjadi melihat ke arah Edward.


"Lo ngomong sama gue?" tanya Rayla dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iyalah!" jawab Edward ketus.


"Owh, kirain lo ngomong sama abang-abang yang lagi ngangkut barang itu." jawab Rayla dengan santai, sembari menunjuk abang-abang yang di maksud dengan dagunya.


Edward memutar bola matanya malas menanggapi jawaban absurd Rayla, tapi tak urung juga Ia membalas perkataan Rayla.


"Kalo gue mau ngomong sama itu abang-abang, gue gak bakal berdiri di sini tapi di sana." ucap Edward dengan menunjuk tempat yang tak jauh dari abang-abang tersebut mengangkut barang.


"Ya kan siapa tau lo mau latihan jadi tarzan,"


"Huh?"


"Eh ralat deh, bukan latihan lagi tapi udah mirip kayak tarzan sih." ucap Rayla sembari memperhatikan serius Edward yang berdiri tak jauh darinya.


"Lo gak paham?"


Dengan polosnya Edward menganggukkan kepalanya.


"Ya sama gue juga,"


Sudah-sudah cukup, rasanya kepala Edward mendadak pusing dengan jawaban ngalor-ngidul Rayla. Sepertinya memahami perempuan lebih sulit ketimbang memahami soal-soal matematika.


"Lo gak ada niat buat nganterin gue pulang gitu?" tanya Rayla setelah melihat tak ada tanda-tanda sopirnya datang.


"Gak, bensin gue abis ntar." jawab Edward dengan cepat.


"Dasar pelit! Biasanya di novel-novel tuh cowoknya bakal mau nganterin ceweknya pulang. Lah ini apaan? Disuruh nganterin pulang alasannya takut bensinnya habis!" kata-kata tersebut meluncur dengan sangat lancar dari mulut Rayla.


"Apa-apaan lo banding-bandingin gue sama tokoh yang ada di novel-novel lo itu!" ucap Edward kesal.


"Suka-suka gue lah, mulut-mulut gue." jawab Rayla.


"Terserah!" balas Edward.


"Heh! kata terserah tuh cuma buat para perempuan tau!"


"Di buku UUD 1945, gak ada tuh yang menyatakan bahwa kata terserah hanya boleh di ucapkan oleh para perempuan."


"Ish! Lo jadi cowok ngalah dikit napa! Mau lo gue doain gak dapet jodoh hah?!"


Edward menggidikkan bahunya acuh, "Not my business."


Di saat mereka berdua sedang meributkan sesuatu yang tidak jelas, tiba-tiba sebuah klakson mobil berbunyi. Mereka pun menghentikan perdebatan yang tidak ada ujungnya, kemudian menoleh ke arah sumber suara. Rayla mengembangkannya senyumnya ketika menyadari mobil yang baru menyalakan klaksonnya adalah mobil yang di kemudikan oleh Pak Santoso, supirnya.


"Udah-udah cukup ributnya kali ini, besok kalo ada waktu kita lanjut. Sekarang gue mau pulang dulu," ucap Rayla sembari memasukkan handphonenya ke dalam slingbagnya dan mengambil tas belanjanya.


Rayla pun berjalan menuju mobil yang berhenti tak jauh dari tempatnya duduk tadi, baru beberapa langkah meninggalkan tempat duduknya tadi. Rayla membalikkan tubuhnya dan berkata dengan suara yang cukup keras.


"Thanks udah nemenin gue nungguin sopir tadi," ucapnya kemudian dengan segera berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalam. Sedangkan Edward, Ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh bin ajaib Rayla. Tak mau ambil pusing, Ia pun beranjak dari sana untuk segera pulang ke apartemennya.