
...'Karena pertemuan yang tidak di sengaja sekalipun dapat membuat kenangan yang akan berbekas di dalam ingatan.'...
...----------------...
Setelah sampai di kamarnya Rayla segera mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai, setelah selesai mengganti pakaiannya Rayla pun segera turun menuju lantai satu untuk makan siang.
"Mama udah makan?" tanya Rayla sembari menghampiri Mamanya yang sedang duduk di sofa.
"Udah," jawab Mamanya tanpa mengalihkan perhatian nya dari televisi yang sedang menayangkan acara sinetron kesukaannya.
Rayla hanya mengangguk kan kepalanya kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan dan di bawa ke kamarnya.
Di lain tempat Edward baru saja memasuki Apartemennya, Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang ada di ruang tamunya. Edward memejamkan matanya sejenak, Ia berdecak malas ketika perutnya berbunyi minta untuk segera di isi. Edward pun bangkit dari duduknya kemudian masuk ke kamarnya guna mengganti pakaiannya, setelah selesai Ia berjalan menuju dapurnya untuk memasak makanan. Jangan salah, Edward cukup mahir di dapur. Maklum Ia harus bisa memasak karena tinggal sendirian di apartemen nya, selain itu tidak mungkin juga kan Ia setiap hari harus memakan makanan instan.
Ia mengambil beberapa bahan nasi goreng di dalam kulkasnya dan meneliti isi kulkasnya.
"Kayaknya gue perlu belanja deh, stok makanan udah hampir abis." monolog Edward.
Edward segera membersihkan bahan-bahannya dan mulai memasak nasi goreng, tak membutuhkan waktu yang lama nasi gorengnya pun sudah jadi. Edward membawa semua peralatan kotornya ke dalam wastafel dapur, kemudian kembali lagi ke meja makan untuk menyantap nasi goreng buatannya.
Di waktu yang sama tetapi di tempat yang berbeda, Rayla turun dari kamarnya dengan pakaian rapinya. Mamanya pun mengalihkan perhatiannya sejenak ketika Rayla duduk di sampingnya.
"Mau kemana kamu Ay?" tanya Mamanya.
"Camilan Ayla stoknya udah menipis, gara-gara Mama yang juga suka ambil camilan aku kalo lagi nonton sinetron kesukaan Mama itu." jawab Rayla dengan bibir yang mengerucut.
"Ya tinggal beli lagi lah Ay, gitu aja kamu repot." jawab Mamanya santai.
"Mama ih," Rayla merengek mendengar jawaban Mamanya.
Mamanya menghembuskan nafas kasar, "Terus kamu maunya apa?"
Rayla tersenyum lebar, 'akhirnya Mama peka juga.' Sorak Rayla dalam hati.
"Minta uang buat beli camilan," ucap Rayla dengan menengadahkan tangannya di hadapan sang Mama tercintanya.
Mamanya memandang heran Rayla, "Bukannya udah Mama kasih ya?"
"Itu tuh uangnya Rayla mau simpan dulu, soalnya Rayla mau beli novel."
"Novel mulu yang kamu beli, gak cukup tuh novel yang udah hampir satu rak?"
Rayla mengerucutkan bibirnya, "Kan beda judul Mama ku sayang."
Mamanya memandang Rayla jengkel, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Tak lama kemudian, Mamanya menghampiri Rayla yang masih anteng duduk manis di atas sofa.
"Nih," ucap Mamanya sembari menyodorkan handphone nya.
Rayla memandang Mamanya dengan dahi yang berkerut.
"Apa nih Ma?"
Mamanya menghembuskan nafas kasar, begini lah jika Ia sedang berbicara dengan Rayla. Butuh kesabaran ekstra untuk berbicara kepada Rayla hingga Rayla bisa mengerti arah pembicaraannya, untuk anak coba aja kalo gak mungkin Mamanya akan segera resign untuk menjadi Mamanya.
"Baca dulu yang ada di layar handphone Mama," ucap Mamanya mencoba sabar.
Rayla pun menurut dan menyimak dengan seksama setiap kata yang tertera di layar handphone Mamanya, Ia berjingkat senang ketika mengerti maksud dari untaian kata per kata yang tertera di layar handphone Mamanya.
"Kalo gitu Ayla berangkat dulu ya Ma," ucap Rayla dan dengan segera mengecup punggung tangan Mamanya kemudian berlari menuju pintu utama.
Mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Rayla, "Ngidam apa aku pas hamil dia."
Rayla bersenandung kecil ketika memasuki salah satu supermarket yang cukup jauh dari rumah nya, alasannya simpel kenapa Ia memilih supermarket yang jauh. Hanya ingin menghirup udara Indonesia yang khas, sebab sudah 3 tahun lebih Ia meninggalkan tanah kelahirannya ini.
Rayla mengambil salah satu troli belanja yang tersedia di sana dan mulai menjelajahi supermarket yang Ia kunjungi, tujuannya hanya satu. Mengisi penuh troli yang Ia bawa dengan berbagai macam camilan yang Ia sukai. Rayla mendorong trolinya ke tempat di mana surganya berbagai macam camilan berada, Ia pun mulai memilih camilan mana yang ingin dia beli.
"Gue suka rasa coklat, tapi gue juga mau nyoba rasa strawberry sama rasa green tea. Jadi gue harus pilih yang mana?" tanya Rayla kepada dirinya sendiri ketika Ia sedang memilih untuk membeli snack Pocky dengan rasa apa.
Tiba-tiba Ia tersenyum kala mengingat sesuatu, "Camilan kali ini kan di sponsori sama Mama, jadi gue bebas mau beli camilan yang gue suka. Yang terpenting uang bulanan gue aman," Monolog Rayla, kemudian dengan gerakan cepat Ia memasukkan snack Pocky dengan berbagai varian rasa itu ke dalam trolinya. Ia pun memilih kembali camilan yang akan dia beli, matanya berbinar ketika melihat sereal kesukaannya yang terletak di bagian rak paling atas. Ia pun mencoba meraihnya dengan menjinjitkan kakinya, ya walaupun seberapa keras usaha Rayla untuk dapat meraih sereal itu. Tetapi tetap saja, Ia tidak dapat menjangkaunya.
"Ini kenapa rak nya harus tinggi sih? Gak bisa di pendekin bentar gitu, gue kan mau ambil serealnya! Lagian setau gue pegawai di sini gak tinggi-tinggi banget deh, kok bisa mereka naruh serealnya di tempat yang tingginya hampir nyamain tingginya halu gue?" dumel Rayla seorang diri.
"Karena lo pendek!" ucap seseorang yang berdiri di belakang tubuhnya, dengan cepat Rayla membalikan tubuhnya untuk mengetahui siapa orang yang berani-beraninya mengatai dirinya pendek. Ia berdecak kesal ketika mengetahui siapa orang yang berani-beraninya mengatainya dengan sebutan pendek.
"Perasaan Bumi luas deh, banyak juga orang yang hidup di Bumi. Tapi kenapa gue mesti ketemu lo lagi coba?" tanya Rayla keki kepada orang yang masih setia berdiri di belakangnya.
Dengan wajah datarnya Ia menjawab, "Lo kira gue mau ketemu sama lo lagi?"
Rayla memutar bola matanya jengah, "Heh tapir kuda, lo itu harusnya bersyukur bakal ketemu sama kembarannya mbak IU setiap hari di sekolah nanti."
Edward tak membalas ucapan Rayla, Ia hanya diam mendengarkan setiap ocehan kata yang keluar dari bibir mungil Rayla. Yup, yang mengatai Rayla pendek adalah Edward. Edward tak sengaja melihat Rayla di saat Ia sedang membeli keperluan dapurnya, Ia sebenarnya tidak mau menghampiri Rayla saat melihat gadis itu. Tetapi setelah memperhatikan sepertinya gadis itu perlu bantuan. Terlihat dari raut wajahnya yang kesal karena tidak dapat menjangkau bagian atas rak.
"Lo di suruh bersyukur malah diem aja,"
"Maksud lo, gue harus teriak-teriak karena satu sekolah sama lo gitu?"
"Ya kalo lo berani sih teriak-teriaknya," balas Rayla santai.
"Gak ngerti lagi gue jalan pikiran perempuan kayak gimana,"
"Nah, daripada lo pusing mikirin jalan pikiran perempuan. Mending lo bantuin gue buat ambilin tuh sereal yang ada di atas rak,"
"Dih emang lo siapa nyuruh-nyuruh gue?"
"Gue gak nyuruh, cuma minta tolong. Kita sesama makhluk hidup kan harus sali--,"
"Udah stop ceramahnya," ucap Edward menghentikan sedekah ilmu yang Rayla berikan. Ia pun berjalan menuju rak dan mengambil sereal yang Rayla inginkan.
"Yeay makasih," ucap Rayla ketika sereal yang Ia inginkan sudah ada di tangan Edward, saat ingin mengambil sereal tersebut. Edward malah menjauhkannya.
"Siniin serealnya!"
"Bentar," ucap Edward. Ia pun berjalan menuju rak di sebelahnya dan mengambil sesuatu.
"Nih buat lo," ucap Edward sembari menaruh kotak sereal yang Rayla inginkan plus kotak yang baru saja Ia ambil dari rak sebelah.
Rayla yang penasaran dengan kotak yang di ambil Edward dari rak sebelah pun mengeceknya, siapa tau dia naruh bom. Begitulah pikirnya.
Tetapi setelah membaca merek yang tertera pada kotak tersebut, bola matanya sukses membulat sempurna.
"Biar nambah tinggi," ucap Edward dengan menyunggingkan senyum mengejeknya dan segera melenggang pergi dari sana. Sedangkan Rayla Ia menyumpah serapahi Edward dalam hati, bisa-bisanya dia menambahkan susu penambah tinggi badan ke dalam troli belanjanya. Mentang-mentang Ia tidak bisa menjangkau bagian paling atas rak, padahal kan itu salah rak nya siapa suruh terlalu tinggi. Kan susah jadinya kalo mau ngambil barangnya.