Please Feel My Love

Please Feel My Love
Kena Prank



..."Kalo udah urusan ngerjain temen, di jamin bakal semangat. Lain hal kalo di suruh ngerjain soal ujian, di jamin bakal kabur duluan!"...


...----------------...


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit, kini Rayla sudah tiba di rumahnya Ia memasuki rumahnya dengan menjinjing tas belanjanya. Saat akan berjalan menuju dapur, suara Mamanya menginterupsinya untuk berhenti dan menghampiri Mamanya yang masih duduk manis di atas sofa ruang keluarga. Tetapi bedanya, Mamanya sudah berganti pakaian. Mungkin sudah selesai mandi pikir Rayla.


"Kenapa Ma?" tanya Rayla ketika sudah sampai di dekat Mamanya dan meletakkan tas belanjanya di atas meja yang ada di sana.


"Cuma mau minta camilan, Mama mau lanjut nonton sinetron lagi." ucap Mamanya dan meraih tas belanja yang baru saja di letakkan oleh Rayla.


Rayla memutar bola matanya malas, perasaan sinetron Mamanya tidak tamat-tamat dari jaman dulu. Mungkin sudah mencapai ratusan episode atau mungkin ribuan episode. Ia bingung kenapa Mamanya tidak bosan melihat pemain sinetron yang itu-itu saja, karena terlalu penasaran dia bertanya pada Mamanya kenapa tidak bosan melihat pemain yang ada di sinetron itu. Dan jawabannya sukses membuat Rayla melongo dan juga kesal karena Mamanya berkata, "Pemainnya ganteng-ganteng, terus di sini anaknya cantik dan penurut jadi Mama gak bosen lihatnya. Beda sama kamu, kerjaannya cuma buat Mama darah tinggi aja!"


Astaga! Ini Mamanya sendiri loh, ingin kesal tapi takut durhaka. Jadi serba salah kan.


Rayla tersentak ketika Mamanya bertanya dengan nada bingung yang amat kentara.


"Kok tumben kamu beli susu penambah tinggi badan Ay? Susu kamu yang di dapur kan masih banyak," tanya Mamanya heran.


Rayla hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, "Ayla pengen coba aja!"


Mamanya semakin mengerutkan dahinya bingung, mendapati jawaban yang di ucapkan oleh Rayla. Sadar akan Mamanya yang tak sepenuhnya percaya dengan jawabannya, Rayla buru-buru pamit untuk menuju ke kamarnya.


"Ma, Ayla ke atas dulu ya. Mau mandi soalnya badan Ayla udah lengket banget," ucap Rayla terburu-buru dan segera bangkit kemudian berlari menuju kamarnya.


"Ini camilannya gimana?" tanya Mamanya sedikit berteriak.


"Mama pilih aja yang mana Mama suka, nanti kalo udah selesai mandi Ayla beresin camilannya!" ucap Rayla balas berteriak karena Ia sudah sampai di lantai atas.


Sampai di kamarnya Rayla menggerutu kesal, "Kenapa gue mau-maunya si ngikutin sarannya si tapir kuda, kan jadinya susah sendiri gue mau nyari alasan kenapa beli tuh susu!"


Di lain tempat Edward memandang jengkel manusia yang saat ini tengah tertidur di sofa apartemennya, ya siapa lagi kalau bukan Rifki. Tunggu dulu, kenapa Rifki bisa masuk apartemennya? Sedangkan Edward tidak pernah memberi tahu Rifki mengenai password apartemennya, setelah sejenak berfikir akhirnya Edward menemukan jawabannya. Ia lupa, bahwa saat Ia di rawat di rumah sakit Ia pernah menyuruh Rifki untuk mengambil beberapa keperluan di apartemennya. Akhirnya Ia pun memberi tau Rifki password apartemennya, karena tidak mungkin kan Rifki bisa masuk ke dalam apartemennya tanpa password. Lain hal nya jika Rifki memiliki hubungan kekerabatan dengan sesepuh setan, bisa di pastikan Rifki tidak akan memerlukan kunci ataupun password ketika ingin memasuki suatu ruangan. Karena tubuhnya bisa menembus apapun, begitu juga dengan bepergian. Rifki tidak akan memerlukan sepeda motor ataupun alat transportasi lainnya karena Ia bisa pergi hanya dengan melayang, jauh lebih hemat dan praktis!


Tetapi itu semua bisa terjadi jika Rifki benar-benar memiliki hubungan kekerabatan dengan sesepuh setan!


Edward menghembuskan nafasnya kasar. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya, Edward pun tersenyum penuh arti. Dengan segera Ia mengambil handphonenya dan mengotak-atiknya, setelah selesai Ia berjalan perlahan-lahan mendekat ke arah Rifki. Edward meletakkan handphonenya di dekat Rifki, Ia menghitung dalam hati. Tepat di hitungan ke tiga, sebuah suara seperti sirine kebakaran berbunyi dari handphone Edward. Demi kelancaran aktingnya, Edward pun mengguncangkan badan Rifki sembari berteriak kebakaran.


"RIF BANGUN RIF, KEBAKARANNN!" teriak Edward di samping telinga Rifki sembari mengguncangkan badan Rifki. Rifki pun tersentak dari tidurnya dan segera bangkit, Ia ikut panik ketika mendengar suara sirine kebakaran.


"ASTAGA INI KENAPA BISA KEBAKARAN!" teriak Rifki panik.


"ED CEPETAN LO CARI KAIN BASAH, KITA HARUS CEPET KELUAR DARI SINI!" ucap Rifki tambah panik ketika melihat Edward yang masih santai-santai saja.


"ED CEPETAN! GUE GAK MAU MATI MUDA! KETEMU SAMA JODOH AJA GUE BELUM MASAK GUE UDAH MAU MATI AJA!" bentak Rifki kepada Edward yang sekarang malah duduk di sofa tempat Ia tadi tidur.


Dengan tergesa-gesa Rifki menghampiri Edward yang masih saja santai duduk di sofa.


"AYO ED CEPETAN KELUAR! SETIDAKNYA LO JANGAN MATI PAS ADA GUE DONG NTAR KAN DI KIRANYA GUE YANG MAU BUNUH LO!" ucap Rifki dengan membentangkan jaketnya di atas kepalanya. Edward mendengus, gayanya udah kayak penyelamat damkar aja lo Rif! ucap Edward dalam hati.


Edward yang merasa sudah cukup mengerjai Rifki pun mengambil handphonenya dan mematikan suara yang mirip seperti sirine kebakaran, setelah selesai Ia dengan santai kembali meletakkan handphonenya di atas meja dan menyenderkan punggungnya di sofa yang Ia duduki. Tetapi Rifki belum menyadari bahwa Ia hanya di prank oleh sahabatnya, Ia pun tambah panik.


"Ed, kita udah mati ya? Suara sirine kebakarannya udah gak bisa gue denger lagi," ucap Rifki dengan tertunduk lesu. Ia pun melanjutkan ucapannya kembali, "Gue banyak dosa Ed, gue belum siap kalo masuk neraka" ucap Rifki dengan nelangsa.


Edward yang sudah tidak kuat menahan tawanya pun tidak dapat menyembunyikannya lagi, Ia tertawa terbahak-bahak melihat wajah nelangsa Rifki. Rifki masih belum menyadari apa alasan Edward tertawa sampai seperti itu.


"Lo kok seneng sih Ed? Ini kita lagi otw ke neraka loh, kok lo malah ketawa sih?!" ucap Rifki kesal. Orang mau otw neraka kok malah ketawa-ketawa, situ waras?


Edward pun berusaha meredakan tawanya, perutnya sudah terasa keram akibat tertawa terlalu banyak.


"Lo itu polos apa pura-pura polos sih Rif?" tanya Edward.


"Maksud lo?" tanya Rifki yang gagal paham.


"Cubit pipi lo coba!" titah Edward yang di turuti oleh Rifki. Ia pun mencubit pipinya lumayan keras dan memekik sakit setelahnya.


"Aduh!" pekiknya, sedetik kemudian Ia tersadar akan sesuatu. "Eh, bentar. Kalo gue masih bisa ngerasain sakit berarti gue belum mati dong?"


"Emang lo belum mati,"


"Artinya gue masih hidup kan?"


"Iya,"


"Gue masih bisa ketemu sama jodoh gue kan?"


Tuh kan, bahas jodoh mulu! Dasar jomblo karatan!


Edward pun menggeplak kepala Rifki, saking gemesnya karena sedari tadi yang di pentingkan olehnya adalah bertemu jodohnya saja.


"Sakit sapri! Lo main geplak pala orang aja, ntar otak gue ke geser gimana?"


"Mau gue geplak kek kagak kek, tetep aja otak lo letaknya agak miring dikit!"


"Kalo di pikir-pikir bener juga sih apa yang lo bilang,"


Ok sip, sepertinya otak Rifki bertambah kadar kemiringannya. Buktinya Ia tidak menyangkal apa yang di ucapkan oleh Edward, dan malah membenarkannya. Semoga saja, ini pertanda yang baik bagi kelangsungan hidup otak Rifki. Mari kita berdoa bersama-sama demi kebaikan Edward, semoga saja Edward bisa menghadapi Rifki yang kadar kemiringan otaknya bertambah.