
...'Pertanyaan dan jawaban adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan.'...
...----------------...
Rayla menebalkan telinganya ketika Ia dan Edward berjalan menyusuri koridor sekolah yang ramai oleh siswa-siswi. Sudah Rayla bilang kan? Fansnya Edward lebih banyak daripada fansnya Sam. Dulu saat Ia berangkat bersama Sam, memang terdapat banyak gosip-gosip yang muncul. Tapi tidak separah saat Ia berangkat bersama Edward, gosip yang ditimbulkan oleh fans Edward lebih hebat! Kalau boleh milih, Rayla gamau berangkat bareng Edward lagi! Serius engga boong!
"Jangan kapok berangkat sama gue," ucap Edward berbisik disebelah telinganya.
Rayla mendongak terkejut mendengar ucapan Edward, kok dia bisa tau!?
"Keturunan cenayang lo ya?"tanya Rayla penasaran.
Edward terkekeh, "Bukan. Cuma keliatan aja dari raut wajah lo, kalau lo, lagi nyusun skenario biar engga berangkat bareng gue lagi."
Rayla manggut-manggut mengerti, "Gue kira, lo beneran keturunan cenayang."
"Seandainya emang begitu, gue keturunan setan dong?" gumam Edward.
"Lo ngomong apa barusan?" tanya Rayla yang merasa Edward baru saja mengatakan sesuatu.
"Gak ada," elak Edward dan Rayla percaya.
Rifki berteriak heboh ketika Rayla dan Edward memasuki ruang kelas mereka. Teman-teman sekelas mereka tampak tidak terlalu memperhatikan terikan heboh Rifki barusan. Biasalah!
"Ed, emergency!' pekik Rifki sembari menghampiri Edward dengan muka super paniknya. Edward hanya menatap datar kearah Rifki, sedangkan Rayla menatap Rifki bingung.
"Rifki kenapa?" tanya Rayla kepada Edward.
"Biasa, kalau dia habis nyemil lilin warna-warni pasti begini," ucap Edward santai.
Rayla melongo mendengar ucapan Edward. Tak lama setelahnya, Rifki sudah tiba dihadapan mereka berdua dengan raut yang masih sama. Panik.
"Kali ini apalagi yang ketinggalan? Topi, dasi, buku paket,buku tugas, pulpen, atau otak lo?" tanya Edward yang sudah hafal dengan tingkah laku sahabatnya ini.
Rifki mendengus, "Sembarangan ya kalo ngomong! Yakali otak gue ketinggalan!"
Rayla terkikik geli, kemudian lebih memilih untuk berlalu pergi menuju mejanya. Daripada harus menyimak perdebatan yang mungkin saja sebentar lagi akan terjadi.
"Siapa tau kan," Edward melangkah menjauh dari Rifki, dengan sigap Rifki mengikuti langkah Edward yang berjalan menuju mejanya.
"Sam," bisik Rifki.
Edward sontak menoleh kearah Rifki menuntut penjelasan lebih lanjut.
"Malam ini, taman biasa. Jam delapan," ucap Rifki serius.
Edward berdecih mendengar ucapan Rifki, Ia mengerti. Bahkan sangat mengerti, apa maksud dan tujuan dari kalimat yang baru saja Rifki ucapkan.
"Kapan?"
"Beberapa saat, sebelum lo dateng. Dia sempat cegat gue, dideket koridor ruang OSIS."
Edward mengangguk mengerti.
"Lo dateng?" tanya Rifki penasaran.
Edward menyeringai, "Buang-buang waktu."
Ok, Rifki udah connect dengan maksud kalimat Edward. Jadi sekarang waktunya buat lanjut ke informasi yang kedua.
"Ed, lo bawa topi lebih kagak?" tanya Rifki dengan tampang yang memelas.
Kan. Salah satu dari tebakan Edward benar.
"Gak usah pake topi."
Rifki membulatkan matanya, "Gila lo! Bisa-bisa gue dijadiin sasaran empuknya si Sam nanti!"
Edward melirik tidak minat ke arah Rifki.
"Habis huruf C huruf apaan?" tanya Edward.
Rifki melongo, ini dia nanya Edward bawa topi lebih apa enggak loh. Bukannya mau main tebak-tebakan. Rifki lagi mode kalem ini!
Dengan malas Rifki menjawab pertanyaan easy dari Edward, bahkan anak TK juga tau apa jawabannya. "D."
Edward mengangguk, "Habis huruf K?"
Edward menganguk puas, "Gabungin coba," perintahnya.
"DL," ucap Rifki polos. Sedetik kemudian, Ia pun tersadar.
"Sialan lo!" ucap Rifki sembari menggeplak pundak Edward.
Edward tertawa tanpa dosa, kemudian menyodorkan sebuah topi, "Nih."
"Aaaaa, Edward sosweet deh. Dedek Rifki jadi makin sayang."
Edward mendorong kening Rifki, ketika Rifki ingin memeluk tubuhnya.
"Gak usah aneh-aneh!"
"Gak asik lo!" ucap Rifki.
Edward tidak menghiraukan ucapan Rifki. Ia lebih memilih untuk segera menuju lapangan sekolah, dan bergabung dengan siswa-siswa dari kelas lain guna mengukuti upacara bendera.
Edward mengedarkan pandangannya kearah barisan kelasnya, Ia tersenyum ketika netranya menangkap sosok yang Ia cari. Tanpa membuang waktu lagi, Ia pun segera masuk ke dalam jejeran barisan teman-teman sekelasnya.
Upacara telah berlangsung selama sepuluh menit, dan sekarang memasuki agenda selanjutnya. Amanat Pembina upacara.
Edward memperhatikan Rayla dari tempatnya berdiri saat ini, beberapa kali Rayla tampak menyeka keringat yang ada di dahinya.
Edward memberi kode kepada Vika, yang berdiri tepat disebelah Rayla agar mau bertukar tempat dengannya. Dengan semangat, Vika mengiyakan permintaan Edward, setelah melihat tempat Edward berdiri, yang hanya sedikit terpapar sinar matahari. Maklum cewe emang suka gitu, kena panas dikit. Hebohnya udah kaya kena api neraka.
Dengan sekejap mata, posisi Edward dan Vika sudah bertukar. Vika bersorak senang dengan posisinya yang sekarang, Vika menggelengkan kepalanya ketika menyadari apa tujuan Edward menawarkan bertukar posisi padanya. Tapi tidak apa, Ia juga merasa diuntungkan.
Rayla mengerutkan keningnya bingung, ketika merasakan sinar matahari yang tadi terasa sangat menyengat kulitnya, sekarang sudah tidak terasa. Ia pun mendongak, dan terkejut mendapati Edward yang tengah berdiri tepat disebelahnya, dan menghalau sinar matahari menjangkau permukaan kulitnya. Edward yang merasa diperhatikan oleh Rayla pun, mengalihkan pandangannya kearah Rayla. Melihat raut wajah Rayla yang nampak bingung, Edward hanya tersenyum. Kemudian mengalihkan pandangannya kembali kearah Pembina upacara yang tengah mengoceh panjang kali lebar ditambah tujuh pengkolan sama dengan edan.
Lima belas menit kemudian, serangkaian prosesi upacara bendera telah usai dilaksanakan. Para siswa-siswi bernafas lega, ketika sang MC memberi arahan kepada pemimpin barisan untuk membubarkan barisannya.
"Makasih," ucap Rayla ketika barisan baru saja dibubarkan.
Edward menaikkan sebelah alisnya, "Buat?"
Rayla menunduk tak berani menatap Edward yang saat ini tengah menatapnya.
"Hei," ucap Edward lembut, sembari mengangkat dagu Rayla agar Ia dapat menatap wajah Rayla.
Pipi Rayla sontak memerah, kemudian dengan cepat Ia berjalan meninggalkan Edward yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Edward terkekeh, dan hendak menyusul Rayla sebelum atensinya teralih pada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan penuh akan sarat peringatan. Edward lebih memilih untuk mengacuhkannya, kemudian melangkah menyusul Rayla yang punggungnya semakin tertelan oleh jarak.
Edward merangkul Rayla, ketika dirinya sudah berhasil menyusul langkah Rayla. Yang dirangkul pun berusaha untuk melepaskan diri.
"Apa-apaan sih, Ed!? Lepasin. Gak enak dilihat sama yang lain," ucap Rayla sembari menggeliat, berusaha melepaskan rangkulan Edward pada dirinya.
"Jadi, kalau lagi jalan berdua, bebas kalau mau rangkul-rangkul, gitu?" tanya Edward dengan tatapan menggoda.
Rayla menatap horor kearah Edward, "Gausah ngaco deh lo!"
"Kantin yuk," ajak Edward.
"Lo mau ngajakin gue bolos?"
"Gak, temenin gue beli minum. Bentar doang, haus."
"Gak mau, pergi aja sendiri!"
"Temenin," ucap Edward tidak ingin dibantah.
"Gak mau, wlee," jawab Rayla sembari menjulurkan lidahnya meledek kearah Edward.
Edward tersenyum licik, kemudian langsung menggelitiki Rayla yang saat ini ada pada kuasanya. Rayla terpekik, kemudian tak lama setelahnya berusaha keras melepaskan diri dan menghindar dari serangan Edward.
Mereka berdua tertawa lepas, tanpa memperhatikan keadaan disekitar mereka. Sampai pada akhirnya, suara seseorang menginterupsi mereka.
"Kalian ini, bukannya masuk ke dalam kelas. Malah ketawa-ketiwi disini!" ucap salah satu guru yang mengajar disekolah mereka.
Edward dan Rayla saling pandang, kemudian meminta maaf dan langsung kabur dari tempat itu menuju ruang kelas mereka. Tapi sebelumnya, mereka sempat mampir sebentar ke kantin untuk membeli minum, sesuai dengan keinginan Edward.
Sedangkan, guru yang tadi menginterupsi aksi mesra-mesraan antara Rayla dan Edward hanya bisa menggerutu.
"Anak muda zaman sekarang, kalau lagi kasmaran gak mandang tempat buat mesra-mesraan. Buat yang jomblo ngiri aja!"