Please Feel My Love

Please Feel My Love
Club



...'Ketika rasa iri dengki telah berkuasa, semua hal yang di katakan oleh hati akan selalu kalah oleh logika yang dikendalikan oleh ego yang tinggi.'...


...----------------...


Sam memasuki kawasan Club malam yang terlihat ramai. Niat Ia ke sini bukan untuk bersenang-senang, tetapi bertemu seseorang yang akan membantunya menjalankan rencana miliknya.


Sam menyusuri setiap celah sudut yang ada di ruangan tersebut. Hingga netranya tak sengaja menangkap sosok yang Ia kenal. Tanpa menunggu lama, Sam langsung menghampiri orang tersebut.


"Long time no see," sapa Sam kepada orang tersebut. Orang tersebut kemudian mendongak, dan tersenyum saat menyadari siapa orang yang menyapanya.


"Lo aja yang susah buat di ajak ketemu."


Sam tertawa, kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan orang tersebut.


"Gue banyak urusan, maklum ketua OSIS. Gue harus beresin semua tanggung jawab gue, sebelum pergantian jabatan," ucap Sam.


"Eleh. Modelan kayak lo begini jadi ketua OSIS? Gak nyesel apa orang yang udah milih lo?" cibir orang tersebut.


"Mana mungkin mereka nyesel, yang ada mereka bangga, karena ketua OSIS nya ganteng kayak gue," jawab Sam dengan sangat percaya diri.


"Terserah apa kata lo, lah. Jadi, apa tujuan lo ngajak gue ketemu di sini?"


Sam tersenyum penuh arti, "Masih inget kejadian beberapa bulan lalu?"


"Kejadian apa?"


"Lo kalah balapan, dan harus nyerahin motor kesayangan lo."


"Kejadian itu gak pernah gue lupain. Apalagi setelah itu, dengan sombongnya orang itu malah balikin motor gue dan bilang motor gue gak sesuai sama seleranya. Gue merasa terhina di hadapan temen-temen gue yang lain," ucap orang tersebut sembari mengeraskan rahangnya.


"Lo tau orangnya?" tanya Sam


Orang tersebut menggeleng, "Dia pakai penutup wajah. Cuma matanya aja yang kelihatan."


Sam tersenyum miring, "You want to know?"


"Sure!"


"Edward," nama tersebut meluncur dari bibir Sam. Sedangkan orang tersebut membelalakkan matanya.


"Are you kidding me?"


"Sadly, no."


"Serius dia orangnya?" tanya orang tersebut masih tidak percaya.


"Yup. Kalau lo gak percaya, gue ada buktinya," ucap Sam sembari mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya kemudian memutar sebuah video dan di tunjukkan pada orang tersebut. Di dalam video tersebut, terlihat Edward yang melepas penutup wajahnya, kemudian membuangnya ke sembarang arah. Rahang orang tersebut mengeras, jadi selama ini orang yang ingin Ia beri pelajaran ada di dekatnya? Betapa bodoh dirinya yang tidak menyadari hal itu.


"Kenapa lo bisa ada di sana?"


"Gue sengaja ngikutin Edward dari rumah."


"Wait. Dari rumah?"


"Yup. Gue sama dia dulu tinggal satu atap," jelas Sam.


"Jangan bilang--,"


"Gue sama Edward tinggal satu rumah. Dan dengan berat hati, gue mengakui, kalau Edward adalah saudara tiri gue," potong Sam.


Orang tersebut menggelengkan kepalanya, "Kenyataan yang berhasil buat gue lebih terkejut, daripada kenyataan yang tadi."


Sam terkekeh, "Jadi, gue ada penawaran buat lo."


"Yes, penawaran. Orang yang kita incar sama, kenapa kita enggak kerja sama buat ngehancurin dia?"


Orang tersebut menyeringai, "Saudara macam apa lo, yang mau ngehancurin saudaranya sendiri?"


Sam berdecak, "Don't forget the fact that we're just half-brothers."


Orang tersebut menggelengkan kepalanya, "So, what's your plan?"


Sam tersenyum penuh arti, "Rencana awal gue udah berjalan, dan tinggal nunggu hasil aja. Dan rencana gue yang kedua--," Sam menggantung ucapannya, kemudian memperhatikan orang yang ada di hadapannya yang tengah serius mendengarkan ucapannya.


"Rencana lo yang ke dua?" tanya orang tersebut dengan tidak sabaran.


"Gue gak bisa ngelakuin itu sendiri. I need your help."


Orang tersebut mengernyit, "Bantuan apa?"


Sam mendekatkan dirinya, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga lawan bicaranya. Orang tersebut nampak membelalakkan matanya, ketika mendengar rencana Sam.


"Lo yakin mau ngelakuin hal itu?"


Sam mengangguk pasti, "Gue udah mikirin segala resikonya."


Orang tersebut nampak berpikir. Di satu sisi, Ia ingin membalas perbuatan Edward, di satu sisi Ia juga memikirkan resiko yang akan Ia tanggung jika menuruti rencana yang Sam susun.


"Jadi gimana?" tanya Sam setelah beberapa saat memberikan kesempatan untuk berpikir.


Orang tersebut mengangguk, "Ok. Gue mau bantu lo."


Sam menyeringai, "Kita bisa atur semuanya dari sekarang."


Orang tersebut mengangguk, "Masalah tempat, lo gak perlu khawatir. Gue dan temen-temen gue yang bakal handle itu."


Sam mengangguk, "Yang lainnya, biar gue yang urus."


"Lo yakin rencana ini bakal berhasil?" tanya orang tersebut yang sebenarnya ragu dengan rencana milik Sam.


"Lo tenang aja, gue tau gimana caranya buat mancing dia," ucap Sam sembari menatap lawan bicaranya.


Orang tersebut menganggukkan kepalanya, mencoba percaya dengan ucapan Sam.


"Ok. Cukup bahas masalah Edward. Now, it's time to go on the spree!" ucap Sam sembari mengangkat sebuah gelas yang telah berisi minuman beralkohol di dalamnya ke hadapan lawan bicaranya. Orang tersebut tersenyum, kemudian ikut mengambil gelas dan menuangkan beberapa mililiter minuman beralkohol ke dalamnya.


"Cheers."


Sam menyunggingkan senyum sinis, ketika mengingat kembali rencana yang akan Ia jalankan bersama dengan teman lamanya. Perlahan, Sam akan merebut Rayla dari Edward bagaimanapun caranya. Termasuk dengan cara kotor sekaligus.


"Jangan sampai lo mabuk, gue gak ada waktu buat ngurusin lo," ucap orang tersebut ketika melihat Sam yang telah menghabiskan gelas ke tiga nya.


Sam terkekeh, "Tenang aja. Gue gak bakal mabuk, cuma karena minum tiga gelas doang."


Orang tersebut mendengus mendengar jawaban Sam, "Terserah lo. By the way, gue cabut duluan. Ada hal yang harus gue urus."


Sam mengangguk, setelah itu orang tersebut bangkit dari duduknya kemudian menepuk pundak Sam sebagai salam perpisahan.


"See you later, bro," ucap orang tersebut sebelum benar-benar pergi dari hadapan Sam.


Selepas kepergian teman lamanya, Sam melanjutkan acara meminum minumannya. Sesekali Ia menggulir layar ponselnya, hingga satu notifikasi muncul pada layar ponselnya. Dengan cepat Sam melihat notifikasi tersebut. Bibirnya mengukir senyum sinis, ketika membaca pesan yang baru saja masuk. Dengan cepat Sam mengetikkan balasan, dan tak lama muncul kembali notifikasi yang membuat Sam kembali menyunggingkan senyum sinis.


Sam memasukkan kembali ponsel yang ada di genggamannya ke dalam saku jaket, kemudian menegak kembali alkohol yang masih tersisa setengah di gelasnya. Setelah menghabiskan alkoholnya, Sam pun memanggil bartender yang ada di sana untuk membayar minuman beralkohol yang Ia minum. Setelah selesai membayar, Sam pun melangkahkan kakinya keluar dari Club tersebut. Masih banyak yang harus Ia urus, lain waktu pasti Ia akan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di tempat ini. Jika rencana yang telah Ia susun berhasil tentunya.