
...'A slow smile at a slower pace'...
...----------------...
Bel pulang sekolah telah berbunyi, siswa siswi yang menghuni kelas XII IPA 2 sontak berlomba-lomba untuk segera keluar dari ruang kelas yang menjadi saksi bisu perjalan edukasi mereka. Lain hal nya dengan sekelompok manusia yang tengah bergiliran mengambil sapu ijuk yang terletak di almari belakang kelasnya, mereka harus merelakan waktu mereka terpotong karena harus melaksanakan tugas wajib sebagai seorang murid. Apalagi kalau bukan piket kelas! Sungguh menjadi piket kelas menjadi ujian mental yang berkedok kewajiban sebagai seorang siswa siswi yang masih mengenyam pendidikan di strata 3S, yaitu SD, SMP dan SMA/K.
"Tungguin gue ya Ed, hari ini gue piket kelas," ucap Rifki kepada Edward yang sedang menutup resleting tas nya.
"Ogah, gue mau pulang," jawab Edward malas.
"Lo tega sama gue?" tanya Rifki memelas, berharap Edward akan iba kepadanya.
"Kenapa enggak?" jawab Edward yang sungguh di luar dugaan pembaca, tapi tidak bagi Rifki.
"Sekali-kali bantuin temen napa Ed," ucap Rifki kesal.
"Gak ada untungnya gue bantuin lo," jawab Edward acuh.
"Dapet pahala Ed kalau lo bantuin gue," ucap Rifki yang masih berusaha membujuk Edward agar mau menunggu nya hingga tugasnya sebagai piket kelas hari ini usai.
"Ogah," jawab Edward yang masih kekeh dengan jawabannya tadi.
"Padahal gue piket nya bareng Rayla loh Ed," ucap Rifki jail.
Edward melengos ketika Rifki memandanginya dengan tatapan menggoda miliknya, yang sial nya membuat Edward ingin segera menumbalkan nya ke dukun beranak. Sejak kejadian kemarin, yang dimana dirinya secara terselubung menyampaikan bahwa Ia tidak suka kedekatan Rayla dengan Sam. Rifki semakin gencar menggodanya. Memang, Rayla dan Sam tidak terlalu mengambil pusing kalimat "Seru banget ya ngobrolnya,"
yang Edward ucapkan ketika mereka makan bersama di salah satu kafe dekat gramedia. Tapi Rifki, yang entah bagaimana caranya otaknya dapat connect dengan niat terselubung Edward mengucapkan kalimat itu.
"Udah deh, gak usah malu-malu lagi sama dedek Rifki. Ntar gue bantuin lo deket sama Rayla, gimana?" ucap Rifki sembari menaik turunkan alisnya menggoda Edward.
Edward yang memang gengsi hanya memandang sejenak ke arah Rifki kemudian kembali duduk di kursinya seperti semula tanpa menjawab tawaran yang Rifki ajukan kepadanya. Rifki pun tertawa geli dengan tingkah sahabatnya tersebut, tak ingin membuang waktu lagi Ia pun segera melangkah menuju almari yang ada di belakang kelasnya yang di mana menjadi tempat penyimpanan segala macam perkakas untuk membersihkan ruangan kelas.
Sembari menunggu Rifki yang masih menjalankan tugasnya sebagai piket kelas, Edward pun mengambil ponselnya kemudian membuka aplikasi instagram miliknya. Setelah beberapa menit, Ia pun menutup aplikasi dunia maya tersebut kemudian menaruh ponselnya ke dalam saku bajunya.
Pandangannya menjelajah ke seluruh penjuru kelas mengawasi teman-temannya yang sedang sibuk membersihkan bekas-bekas sampah yang di tinggalkan oleh penghuni kelas lainnya. Pandangannya terkunci ketika Ia melihat ke arah papan tulis, di sana seorang gadis yang sekarang tengah kesulitan menjangkau bagian atas papan tulis guna membersihkan coretan tinta yang terdapat di sana. Edward tersenyum geli melihat bagaimana usaha Rayla untuk menghapus bekas tinta yang ada pada bagian paling atas papan tulis tersebut, entah dorongan dari mana. Ia pun bangkit mendekat ke arah Rayla yang tengah kesusahan tersebut.
"Udah di minum belum sih susu yang waktu di supermarket gue rekomendasiin?" tanya Edward ketika dirinya sudah berdiri tepat di belakang Rayla.
Rayla sontak memutar balik tubuhnya ketika mendengar suara yang akhir-akhir ini familiar di telinganya, dan yup seperti dugaannya. Pemilik suara tersebut adalah Edward.
Rayla memandang Edward dengan tatapan jengkelnya, berbanding terbalik dengan Edward. Ia malah menyunggingkan senyum menyebalkan miliknya.
"Kalau gak mau bantu mending minggir," ucap Rayla kemudian membalikkan tubuhnya kembali menghadap papan tulis guna melanjutkan acara membersihkan papan tulis yang sempat tertunda beberapa detik karena kehadiran Edward.
Edward hanya tersenyum geli mendengar ucapan Rayla, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Ia maju satu langkah kemudian langsung merebut penghapus papan tulis yang ada di tangan Rayla. Rayla pun terkejut dengan tindakan tiba-tiba Edward, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya setelah menyadari jarak antara dirinya dan Edward sangatlah minim.
"Lain kali kalau kesusahan minta tolong, jangan cuma diem aja," ucap Edward sembari mengacak rambut Rayla. Kemudian menyodorkan penghapus papan tersebut ke arah Rayla.
Rayla hanya diam mematung menerima semua perlakuan Edward yang baginya sangat tiba-tiba. Kemarin Edward bersikap seperti tidak mengenal dirinya, dan hari ini Edward bersikap seolah sudah berteman lama. Sebenarnya ada apa dengan manusia yang ada di hadapannya ini?
"Hei!" ucap Edward sedikit keras ketika menyadari pikiran Rayla sedang tidak fokus, melainkan sedang berkelana.
"Eh, iya kenapa?" tanya Rayla ketika Ia sadar dari lamunannya.
"Makasih," ucap Rayla ketika Ia mengambil penghapus papan tersebut dari tangan Edward. Edward pun hanya mengangguk sebagai balasan ucapan terimakasih dari Rayla.
"Udahan romantisannya, mending sekarang pulang," celetuk Rifki dengan baju yang Ia keluarkan plus dua kancing teratasnya Ia buka, dasi yang sudah tidak terpasang lagi di lehernya melainkan di kepalanya, di tambah dengan sapu ijuk yang bertengger manis di pundak sebelah kanannya.
Rayla hanya menunduk malu mendengar ucapan Rifki, sedangkan Edward hanya melirik sekilas ke arah Rayla kemudian kembali memandangi penampilan Rifki saat ini. Seulas ide jahil muncul di otaknya
"Penampilan lo udah kayak orang suku pulu-pulu di serial Upin Ipin," ucap Edward.
Rifki mendengus mendengar ucapan Edward, "Ganteng begini di bilang suku pulu-pulu, sehat tuh mata lo?"
Edward mengangguk, "Sehatlah, kalau engga mana mungkin gue bisa nilai penampilan lo yang mirip sama suku pulu-pulu."
"Justru itu, prihatin gue sama kesehatan mata lo."
Edward hanya menggidikkan bahunya mendengar ucapan Rifki.
"Ay, lo pulang sama siapa?" tanya Rifki ketika dirinya melihat Rayla yang tengah menyimak perdebatan unfaedah antara dirinya dengan Edward.
"Engga tau," jawab Rayla.
"Lah kok bisa engga tau?" tanya Rifki kembali.
"Tadi gue berangkatnya bareng Papa, supir gue lagi ijin buat pulang kampung," jelas Rayla.
Rifki pun mengangguk-angguk kan kepalanya tanda mengerti, "Terus kalau Papa lo gak bisa jemput gimana?"
"Naik taksi atau nebeng sama Sam," jawab Rayla. Seketika raut wajah Edward berubah ketika mendengar nama Sam disebut, Rifki yang menyadari itu pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Daripada lo bingung mau pulang sama siapa, mending lo pulang bareng Edward aja," usul Rifki.
Rayla menggelengkan kepalanya, "Gak usah, ntar ngerepotin."
"Lo pulang bareng gue, sekalian gue mau beli martabak di deket komplek lo," sambar Edward dengan cepat.
Rayla mengerutkan keningnya bingung, "Kok lo tau?"
Edward menghela nafasnya, "Gue udah pernah ke rumah lo dua kali kalo lo lupa."
Rayla pun hanya mengangguk kan kepalanya mendengar ucapan Edward.
"Cepet ambil tas lo," perintah Edward. Padahal dirinya sendiri belum mengambil tas nya, dasar edan!
Rayla hanya mengangguk patuh kemudian meletakkan penghapus papan tulis yang sedari tadi masih Ia pegang ke tempatnya semula dan segera bergegas untuk mengambil tas nya. Hal yang sama pun di lakukan oleh Edward dan Rifki. Sesaat sebelum Edward melangkah pergi, Rifki berbisik kepadanya.
"Jangan kasih kendor, iklan Yamaha. Full gas pol!"
...----------------...
Maaf banget aku menghilang selama hampir dua bulan, dua bulan terakhir ini aku sibuk ulangan akhir semester dan seleksi online organisasi sekolah. Maaf banget atas keterlambatan update nya, so hari ini aku update dan akan aku usahakan lebih rajin lagi updatenya. Maaf kalo masih kurang dapat feel nya dan jangan lupa klik like dan bubuhkan beberapa kata di kolom komentar sebagai penyemangat aku untuk update chapter selanjutnya. Happy reading and love you guys❣️