
...'Apa aku boleh mengharapkan mu masih peduli terhadap ku?'...
...----------------...
Sudah seminggu ini, Edward masih saja betah memejamkan matanya. Entah mimpi apa yang Edward alami, hingga Ia sangat betah berlama-lama untuk tidak membuka matanya.
Rayla pun hanya bisa memandangi Edward dari luar ruang ICU saja. Ia tidak berani masuk ke dalam, karena takut, Heru, Bela, ataupun Rifki memergoki keberadaannya. Rayla memang bertandang mencuri-curi waktu, agar tak seorang pun mengetahui bahwa Ia sering menjenguk Edward, walaupun hanya dari luar ruangan saja. Perlu Rayla akui, Ia tidak dapat menjalankan perintah Heru, yang menyuruhnya untuk tidak menjenguk Edward sama sekali. Ia sangat khawatir, ketika belum melihat keadaan Edward secara langsung. Apalagi ketika mendengar fakta bahwa Edward tengah dalam masa-masa koma, yang entah sampai kapan Edward akan kembali membuka matanya.
Rayla menghela nafasnya, kemudian melirik waktu pada jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Rayla mengalihkan pandangannya kembali ke arah Edward, sebelum mulai beranjak pergi dari sana. Tanpa Rayla sadari, Rifki mengetahui fakta, bahwa Ia sering berkunjung untuk melihat keadaan Edward, meskipun dari jarak jauh.
Esoknya, Rayla menghela nafas lega, ketika Rifki mengabari bahwa Edward telah sadarkan diri. Rifki pun menyuruh Rayla agar menjenguk Edward, tetapi Rayla menolaknya dengan halus. Hari ini, pasti Heru dan juga Bela selalu ada di sebelah Edward. Dan Rayla tidak mau mengubah suasana menjadi canggung dengan keberadaannya.
Baru saja dokter usai memeriksa keadaan Edward, dan mengatakan bahwa Edward telah melewati masa koma nya, dan saat ini keadaannya telah membaik, serta malam ini sudah bisa dipindahkan ke ruang inap.
Rifki menemani Edward di dalam ruang inapnya, sedangkan Bela telah pulang terlebih dahulu beberapa saat setelah Edward dipindahkan ke ruang inap. Dan Heru, tengah mencari makan untuk dirinya sendiri dan juga Rifki.
"Lo cosplay jadi pembalap lagi?" tanya Rifki setelah beberapa saat hening.
"Iya. Sayangnya, cosplay gue gagal," jawab Edward.
Rifki terkekeh, "Selera humor lo membaik setelah kecelakaan."
"Ok, lupakan. Sekarang, bisa lo jelasin kenapa lo sampai bisa kecelakaan?" pinta Rifki, ketika Edward tak kunjung menjawab leluconnya.
"Motor gue di sabotase."
"Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya?" cerca Rifki.
Edward menghela nafas, "Gue belum tau kebenarannya. Tapi firasat gue, ada yang nyabotase motor gue. Pas gue berangkat dari apart ke tempat balapan, motor gue masih baik-baik aja. Tapi, pas perlombaan udah berlangsung dan gue hampir menang, tiba-tiba rem motor gue gak berfungsi. Akhirnya motor gue ngelewatin garis finish, dan tanpa gue duga ada mobil yang muncul dari arah berlawanan. Gue coba buat ngehindar, dan itu berhasil. Tapi gue malah nabrak pembatas jalan, dan gue mental."
Rifki mendengarkan dengan seksama penjelasan Edward, "Yang lo lawan siapa?"
"Orang yang pernah gue ajak balapan, dan taruhannya adalah motor kesayangan dia."
"Hmm," gumam Rifki sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada dagunya, seolah tengah berpikir keras.
"Yang ngajakin lo ke sana siapa? Darrel?" tanya Rifki.
Edward mengangguk, "Gue udah beberapa kali sempet di kontak sama Darrel. Tapi baru seminggu yang lalu, gue nerima tawarannya dia buat balapan lagi."
"Yang cek motor lo sebelum balapan dimulai siapa?"
"Anak buahnya Darrel."
"Lo sempet liat gak orang yang di dalam mo--,"
"Kok lo kayak polisi yang lagi introgasi tersangka sih?" potong Edward.
Rifki mendengus, "Gue tuh lagi berusaha merangkai kejadiannya. Siapa tau gue bisa nemu titik terang, siapa pelaku sebenarnya."
Rifki mendekat kemudian berbisik ke arah Edward, "Menurut gue, ini pasti ada hubungannya sama Sam."
Edward mengernyit, "Kok lo bisa berpikiran kesana?"
Rifki memposisikan tubuhnya kembali ke posisi semula, "Gini, bokap lo kan cerai sama nyokapnya Sam. Otomatis kan Sam dicoret dari kandidat pewaris harta bokap lo. Jadi, bisa aja itu jadi motif untuk buat lo celaka."
Edward berpikir sejenak, apa yang diucapkan Rifki ada benarnya juga.
"Dan juga--," Rifki sengaja menjeda kalimatnya, untuk memancing atensi Edward. Dan benar saja, Edward langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rifki.
Edward tertegun mendengar kalimat yang baru saja Rifki lontarkan. Bukan karena terkejut dengan fakta yang dibeberkan Rifki, tetapi pikirannya langsung melayang memikirkan Rayla. Apakah Rayla tahu, bahwa dirinya mengalami kecelakaan? Bagaimana reaksi Rayla ketika tahu, bahwa Ia tengah berbaring di kasur Rumah Sakit saat ini? Apakah kini Rayla tengah menghabiskan waktu berdua bersama Sam? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala Edward tanpa permisi. Akhirnya, Edward mencoba bertanya pada Rifki, apakah Rayla tahu dia tengah di Rumah Sakit sekarang.
"Rif, apa Rayla tahu kalau gue di ra--," ucapan Edward terpotong karena Rifki yang tiba-tiba saja beranjak dari duduknya.
"Kayaknya udah malem deh, gue pamit pulang dulu ya," potong Rifki. Bertepatan dengan itu, Heru memasuki kamar inap Edward.
"Loh? Rifki udah mau pulang? Ini om beliin kamu makanan lo," ucap Heru ketika melihat Rifki yang tengah mengenakan jaketnya.
"Iya om, udah malem. Takut di cariin," jawab Rifki.
"Makan dulu kalau gitu," tawar Heru.
Rifki tersenyum tak enak hati, "Gak usah om, Rifki makan di rumah aja."
"Kalau gitu, ini kamu bawa pulang aja," ucap Heru sembari menyerahkan kantong plastik pada Rifki.
Rifki menerima kantong plastik yang berisi makanan tersebut, "Makasih om. Maaf ngerepotin."
Heru tersenyum,"Justru om yang harusnya bilang makasih. Makasih ya kamu udah mau jagain Edward."
Rifki mengangguk, "Sama-sama om. Kalau gitu, Rifki pamit dulu. Bro, gue pulang dulu," ucap Rifki berpamitan pada Heru dan Edward.
"Ok. Hati-hati," jawab Edward.
Setelah itu Rifki langsung melangkah pergi meninggalkan kamar inap Edward. Sedangkan Edward menatap punggung Rifki yang menghilang dibalik daun pintu. Edward merasa, Rifki menghindar ketika Ia bertanya mengenai Rayla. Edward menghela nafasnya, kemudian beralih menatap Ayahnya.
"Ayah udah makan?" tanya Edward.
"Udah."
Edward mengangguk, kemudian memilih untuk memejamkan matanya.
"Edward--," panggil Heru.
Edward membuka matanya, ketika Heru memanggilnya.
"Kenapa, Yah?"
"Kalau Bela nanti ke sini, kamu jangan lupa berterimakasih sama dia," ucap Heru.
Edward mengerutkan keningnya, "Berterimakasih buat apa?"
"Waktu kamu kecelakaan, kamu kehilangan banyak darah, dan Bela donorin darahnya buat kamu," jelas Heru.
Edward terdiam, apakah benar Bela yang mendonorkan darah untuknya?
"Edward?" panggil Heru.
Edward terlonjak, "Kenapa?"
"Kamu kenapa bengong?"
"Gak papa, Yah."
"Jangan lupa sama pesan Ayah tadi ya," ucap Heru mewanti-wanti.
Edward hanya mengangguk, menuruti kemauan Heru. Memang apa yang bisa Ia lakukan selain menurut? Ia juga tidak tahu, apa yang terjadi saat Ia masih tidak sadarkan diri. Edward menghela nafas, sebelum mulai memejamkan matanya kembali, guna memasuki alam mimpi.