Please Feel My Love

Please Feel My Love
Dinner



...'Yang terbaik menurut kita, belum tentu itu yang terbaik menurut orang lain.'...


...----------------...


Edward menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sudah selesai bersiap, namun masih merasa enggan untuk beranjak pergi dari apartemennya.


Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya, membuat atensinya teralih. Edward membaca pesan tersebut, kemudian berdecih. Dengan segera Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, dan beranjak pergi dari apartemennya.


Edward memasuki kawasan restoran yang di jadikan tempat pertemuan antara Ayahnya serta mitra bisnisnya. Mata Edward menyusuri seluruh penjuru restoran tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Ayahnya, hingga seorang pelayanan restoran menghampiri dirinya.


"Permisi, dengan mas Edward Rasia Nafandra?" tanya pelayan tersebut.


Edward mengangguk sebagai jawaban.


Pelayan tersebut tersenyum, "Mas langsung naik ke lantai atas saja."


Edward mengangguk dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Setelah itu, Ia langsung bergegas pergi menuju lantai dua. Ia ingin makan malam membosankan ini cepat berakhir.


Ayah Edward tersenyum lebar, ketika melihat Edward datang. Ia langsung bangkit dan memeluk putranya yang sudah tidak Ia jumpai selama beberapa bulan ini. Sedangkan Edward membalas pelukan Ayahnya, tetapi hanya sebentar dan Ia langsung melepaskan diri dari pelukan Ayahnya.


"Kenalkan Rey, ini putraku. Namanya Edward," ucap Ayah Edward yang memperkenalkannya pada temannya.


"Ganteng, sama kayak kamu, Her," jawab istri Rey.


Edward hanya tersenyum tipis menanggapi pujian yang barusan dilontarkan oleh istri dari teman bisnis Ayahnya. Sedangkan Sam hanya menatap malas ke arah Edward dan Ayahnya. Sedangkan Marina--Ibu Sam, menatap geram pada suaminya, Heru.


"Tidak sopan berbicara sambil berdiri," ucap Marina sinis. Edward hanya memandang datar pada Marina, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Edward memilih duduk di kursi kosong sebelah Ayahnya.


Heru dan Rey terlibat pembicaraan bisnis yang sangat membosankan bagi Edward. Ia ingin segera pergi dari tempat ini, kemudian berbaring manja pada kasur empuknya sembari menjahili Rayla lewat chatting. Eh?


Edward hanya diam mendengar berbagai ocehan Marina yang membanggakan Sam kepada Violla, istri dari Rey. Sedangkan Sam beberapa kali tampak menanggapi obrolan antara Ibunya dan Violla.


Edward berdecak kesal, ketika acaranya belum dimulai. Sudah hampir tiga puluh menit percakapan membosankan itu berlangsung, tetapi tidak ada tanda-tanda Ayahnya maupun mitra bisnis Ayahnya untuk segera memulai acara makan malam ini. Baru saja Edward ingin angkat bicara, suara seseorang menginterupsinya.


"Maaf terlambat," ucap seorang gadis yang nampak cantik dengan balutan gaun berwarna peach.


"Kamu lama banget sih sayang, kasian Edward dan yang lainnya udah nunggu dari tadi," ucap Violla menyambut kedatangan anaknya.


"Maaf."


"Kenalkan Her, ini anakku, Bela. Dia satu sekolah dengan Sam dan Edward, barangkali mereka sudah saling mengenal," ucap Rey yang memperkenalkan Bela.


"Hai Bela, lo pasti kenal dong sama gue," sapa Sam.


Bela menganggukkan kepalanya, "Iya."


Edward hanya diam melihat interaksi manusia yang ada di hadapannya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan percakapan yang terjadi dihadapannya. Berbeda dengan Bela yang nampak beberapa kali mencuri pandang ke arah Edward. Penampilan Edward malam ini sangat mempesona menurutnya, dengan kemeja hitam yang Ia gulung sampai siku dan celana jeans dengan warna dark blue, menambah kesan misterius dan juga tegas pada Edward.


"Sebaiknya, acaranya kita mulai saja," ucap Heru yang sempat melirik ke arah Edward yang terlihat kesal karena acaranya tak kunjung dimulai.


Semua orang di meja tersebut mengangguk setuju, kemudian Rey menyuruh para pelayan untuk menata makanan di atas meja. Setelah semua makanan terhidang, mereka pun memulai acara makan malam mereka. Edward memakan makanannya dalam diam, berbeda dengan orang yang disekitarnya yang menyantap makanannya diselingi dengan beberapa obrolan.


Edward telah usai menyantap makan malamnya. Ia menunggu yang lain selesai, kemudian Ia langsung akan pamit untuk pulang lebih awal. Begitulah yang sudah Ia rencanakan sejak Ia menyuap makanannya yang pertama.Tetapi semuanya buyar ketika sang Ayah tak mengizinkannya pulang terlebih dahulu.


"Luangkan waktumu sebentar, ada hal yang akan kita bahas setelah makan malam usai," bisik Heru kepada Edward. Edward tak langsung mengiyakan, Ia menatap Ayahnya berapa detik sebelum mengangguk tanda setuju.


Setelah semua orang di meja tersebut menyelesaikan makan malam mereka, Rey mulai membuka pembicaraan.


"Edward," panggil Rey kepada Edward yang saat ini tengah memainkan ponselnya.


"Kamu mau lanjut kemana setelah lulus?" tanya Rey sembari tersenyum.


Edward mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan teman Ayahnya. Mendapati raut bingung dari Edward, Rey kembali angkat bicara.


"Tidak usah di jawab juga tidak apa-apa."


Edward mengangguk, kemudian kembali memainkan ponselnya.


"Jadi bagaimana dengan perjodohan antara Edward dan Bela?" tanya Marina yang membuat Edward mendongak karena terkejut.


"Kita bisa melangsungkan pertunangan setelah mereka lulus SMA," jawab Violla sembari tersenyum.


"Ide yang bagus, pernikahannya setelah Edward nanti berhasil menyelesaikan pendidikannya dan menggantikan ku," timpal Heru.


"Kamu mau kan nunggu sampai Edward lulus kuliah?" tanya Violla pada Bela.


Bela mengangguk malu-malu mendengar pertanyaan Mamanya. Sedangkan orang tua mereka hanya tertawa melihat tingkah Bela yang malu-malu.


Edward masih diam tak mengerti dengan pembicaraan Ayahnya.


"Perjodohan?" akhirnya Edward angkat bicara setelah beberapa saat Ia diam.


Heru mengangguk, "Iya. Ayah dan Rey berencana untuk menjodohkan kamu dengan Bela," jawab Heru disertai dengan senyuman.


"Edward enggak setuju!" ucap Edward dengan nada yang naik satu oktaf.


"Edward, jaga nada bicara kamu!" ucap Marina sinis.


Edward memandang tajam pada Marina, kemudian pada Sam yang tengah menyunggingkan senyum miring.


"Edward enggak setuju sama perjodohan ini," ucap Edward.


Bela menatap Edward dengan pandangan yang kecewa. Ia sudah mempersiapkan penampilannya yang terbaik malam ini, tapi Edward sama sekali tak meliriknya. Di tambah juga, Edward menolak mentah-mentah perjodohan diantara mereka. Hal itu membuat hatinya tercubit.


"Edward!" sentak Ayahnya.


Edward memandang Ayahnya, "Edward gak akan pernah setuju sama perjodohan konyol ini!"


"Ayah gak pernah ngajarin kamu buat ngebantah Edward!"


"Apa Ayah pernah minta persetujuan Edward tentang perjodohan ini?" tanya Edward dengan nada dingin.


Ayah Edward bungkam mendengar pertanyaan Edward. Edward hanya tersenyum kecut melihat keterdiaman Ayahnya.


"Saya rasa urusan saya di sini sudah selesai. Dan satu lagi, saya tidak akan pernah menerima perjodohan ini. Permisi," ucap Edward kemudian langsung melenggang pergi tanpa menghiraukan panggilan dari Marina. Sedangkan Heru hanya memandang sendu punggung Edward yang perlahan menjauh.


"Maaf atas kelakuan anakku Rey," ucap Heru yang merasa bersalah.


Rey menggeleng, "Tidak apa-apa. Mungkin Edward masih terkejut dengan perjodohan yang tiba-tiba ini, sebaiknya kita biarkan Edward untuk menenangkan diri, sebelum kita membahas masalah ini lebih lanjut."


Heru mengangguk, "Terimakasih atas pengertian mu Rey."


Sam mengambil ponselnya, kemudian mengirimkan sesuatu kepada Edward.


How was your surprise, interesting isn't?