Please Feel My Love

Please Feel My Love
Timezone



...'Bahkan, hal yang paling sederhana pun dapat membuat ku bahagia. Asal, ada kamu di sisiku.'...


...----------------...


Rayla tengah menunggu Edward yang tengah mengurus parkir motor. Ia menatap bangunan mewah yang ada di hadapannya. Jadi, tempat biasa orang malam mingguan yang dimaksud Edward adalah, mall?


"Ayo, masuk," ajak Edward sembari menggenggam tangan Rayla lembut, kemudian menuntun langkah Rayla agar mengikutinya.


Rayla hanya pasrah mengikuti langkah Edward, "Mau ngapain sih?" tanya Rayla, penasaran.


"Malam mingguan," jawab Edward.


Rayla mendengus, "Iya. Malam mingguan nya, mau ngapain ke mall?"


"Yang pasti, engga mancing ikan."


Rayla memutar bola matanya malas, "Terserah."


Edward terkekeh mendengar jawaban Rayla.


"Mau makan dulu?" tanya Edward, saat Ia dan Rayla melintasi salah satu restoran yang ada di dalam mall tersebut.


Rayla menoleh ke arah Edward, "Boleh."


Edward mengangguk, kemudian menarik Rayla, ke salah satu restoran western food.


"Mau pesan apa?" tanya Edward, ketika pelayan yang ada di restoran tersebut menghampiri meja yang mereka tempati kemudian menanyakan pesanan mereka.


Rayla masih melihat daftar menu yang di berikan, kemudian pilihannya jatuh pada spaghetti carbonara, sedangkan Edward memilih steak. Sedangkan untuk minumnya, Edward memilih limun, dan Rayla memilih ice lychee tea. Setelah membacakan kembali pesanan mereka, pelayan restoran itu pun pamit undur diri dan meminta agar Edward dan Rayla menunggu pesanan mereka. Dan mereka berdua hanya mengangguk mengiyakan.


Sembari menunggu pesanan mereka tiba, Rayla memberanikan diri bertanya kepada Edward.


"Sebenarnya, lo kenapa tiba-tiba ngajakin gue keluar?"


"Butuh alasan ya?"


Rayla menghembuskan nafasnya, "Iya lah!"


Edward terkekeh, "Santay aja. Gak usah ngegas."


"Suka-suka gue!" ucap Rayla sinis.


"Enggak ada alasan khusus sih, cuma mau ganti traktir lo aja. Kemaren, kan lo udah traktir gue. Hari ini, gantian gue yang traktir lo," jelas Edward.


Rayla meringis malu mendengar penuturan Edward. Ia jadi malu, karena kemarin Ia hanya mentraktir Edward mie ayam dan es jeruk. Sedangkan sekarang? Edward mentraktir Rayla di mall.


"Gak usah sampai segitunya juga, gue jadi malu," ucap Rayla, sembari menenggelamkan wajahnya di dalam lipatan tangannya.


Edward tersenyum melihat tingkah Rayla, kemudian tangannya ter ulur membelai puncak kepala Rayla.


"Gak usah malu, lo mau traktir gue aja. Gue bersyukur," ucap Edward lembut.


Rayla semakin menenggelamkan wajahnya di dalam lipatan tangannya. Rayla malu! Edward bisa gak sih, jangan buat Rayla baper!?


Beberapa saat kemudian, seorang pelayan restoran datang membawa pesanan mereka. Rayla pun terpaksa mendongak, dengan wajah yang masih memerah karena malu.


Edward tak bisa menyembunyikan senyumnya, ketika melihat wajah Rayla yang memerah karena malu.


"Makan gih," ucap Edward, sembari mendorong lebih dekat, piring yang berisi spaghetti carbonara ke arah Rayla.


Rayla hanya mengangguk, kemudian mulai memakan makanannya dalam diam. Begitu pun dengan Edward. Hanya hingar-bingar pengunjung restoran lain yang mengiringi acara makan malam mereka.


Edward lebih dulu menyelesaikan makannya. Ia memperhatikan Rayla, sembari meminum limun nya. Edward tersenyum jail, ketika melihat noda saus yang menempel di sudut bibir Rayla.


"Ada noda saos di bibir lo. Mau gue bersihin, atau bersihin sendiri?" tawar Edward.


Rayla gelagapan mendengar ucapan Edward, dengan terburu Ia meraih selembar tisu yang ada di meja mereka, kemudian dengan gerakan cepat Ia membersihkan area di sekitar bibirnya.


"Yah, milih opsi kedua ternyata. Padahal gue ngarepnya, lo milih opsi pertama."


Pipi Rayla kembali merona saat mendengar ucapan Edward, yang baru saja dilontarkannya. Lama-lama, bisa depresot gue kalau deket-deket terus sama Edward. Gumam Rayla, dalam hati.


Edward yang melihat keterdiaman Rayla pun, kembali angkat bicara.


"Lo udah selesai makannya?"


Edward mengangguk, "Ok. Gue bayar dulu."


Rayla mengangguk, tak lama kemudian. Edward pun bangkit menuju meja kasir, guna membayar makanan yang baru saja mereka pesan. Sedangkan Rayla, menunggu Edward sembari memainkan ponselnya.


Edward kembali setelah lima menit pergi, Ia pun menarik tangan Rayla agar segera mengikutinya keluar dari dalam restoran western tersebut.


"Mau kemana?" tanya Rayla, ketika Edward terus menggenggam tangannya, dan memaksa dirinya untuk mengikuti langkah Edward.


"Ikut aja. Dijamin seru," ucap Edward, sembari mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Rayla.


Rayla hanya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Edward. Tapi sedetik kemudian, senyumnya mulai merekah ketika Edward membawanya ke tempat yang sangat Ia senangi.


"Udah sampe," ucap Edward, sembari memperhatikan raut wajah Rayla yang kini nampak berseri-seri.


"Serius ke sini?" tanya Rayla, masih tak percaya.


"Iya."


Rayla memekik senang, kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia pun menarik tangan Edward agar segera memasuki wilayah, yang di atasnya terdapat tulisan TIMEZONE.


Sedangkan Edward tersenyum geli melihat tingkah Rayla. Sudah Ia bilang kan? Rayla pasti akan menyukainya, terbukti dengan raut wajah bahagianya yang amat kentara.


"Gue isi powercard dulu," ucap Edward, sembari menahan tangan Rayla, yang nampak sudah tak sabar mencoba segala permainan yang ada di sana.


"Cepetan!" ucap Rayla, yang sudah tidak sabaran ingin segera bermain.


Edward mengacak pelan rambut Rayla, "Iya, sabar."


Rayla menunggu dengan tidak sabar, matanya terus melirik ke arah area bermain dan Edward secara bergantian. Ia tersenyum lebar, ketika Edward menghampirinya.


"Ayok buruan, kita coba permainan itu," ucap Rayla sembari menarik Edward agar mengikuti langkahnya ke arah permainan dance-dance revolution.


Setelah sampai di tempat dance-dance revolution, Rayla dengan semangat memilih lagu, kemudian mulai bergerak, mengikuti instruksi yang terpampang di sana. Rayla bergerak lincah di atas injakan panah, sedangkan Edward hanya memperhatikan Rayla yang nampak sangat bahagia itu.


"Lo harus cobain, seru parah!" ucap Rayla, setelah Ia berhasil menyelesaikan satu lagu yang Ia pilih tadi.


"Gue gak jago nge-dance," tolak Edward.


"Coba dulu! Gampang kok, orang tinggal injek-injek doang," ucap Rayla, sembari menarik tangan Edward, agar ikut bergabung bersamanya.


Edward mendengus, injak-injak doang konon.


"Enggak. Lo aja yang main, gue tungguin," ucap Edward sembari mundur satu langkah ke belakang.


Rayla menggeleng, "Coba dulu. Gue jamin, sekali nyoba, lo bakal ketagihan," ucap Rayla, mencoba untuk meyakinkan Edward.


Edward masih menolak ajakan Rayla, "Lo aja."


Rayla masih tidak menyerah untuk membujuk Edward, "Coba dulu ih!"


Edward menghembuskan nafasnya kasar, "Lo aja yang main, gue engga bisa."


Rayla menyeringai, ketika mendengar ucapan Edward barusan.


"Gak bisa, atau takut kalah?" tanya Rayla meremehkan.


Edward menatap Rayla, "Gue? Takut kalah?"


Rayla mengangguk semangat, "Iyalah. Emang siapa lagi?"


"Ok. Gue ikut main, kalau lo kalah, jangan nangis," ucap Edward santai.


Rayla mendengus, "Emang gue anak kecil apa? Yang bakal nangis kalau kalah."


Edward menggidikkan bahunya, "Siapa tau kan?"


"Mending langsung mulai aja, daripada kebanyakan ngobrol."


Edward mengangguk, "Ok."


Edward langsung mengambil posisi di sebelah Rayla, kemudian Rayla langsung memilih lagu yang akan diputar. Berapa detik kemudian, lagu pun mulai terputar. Mereka berdua, sontak langsung gelagapan bergerak ke sana kemari. Beberapa kali, mereka nampak bersenggolan. Dan setiap bersenggolan pula, mereka tertawa bahagia. Seakan melepaskan segala beban yang sedang mereka hadapi saat ini.