
...'Ketika mata yang berbicara tentang apa yang sedang kau rasakan.'...
...----------------...
Rifki masih memandang kesal ke arah Edward, rasanya jika sehari saja Edward tidak mengerjainya rasanya akan ada yang hilang dari dalam dirinya.
"Lo hobi banget sih ngerjain gue," gerutu Rifki.
"Seneng kan lo di kerjain gue," goda Edward.
"Seneng kepala lo botak! Ya enggak lah!" jawab Rifki nge-gas.
"Gak usah nge-gas juga dong, bensin lo cepet abis nanti" ucap Edward.
"Biarin, gue masih mampu buat beli bensin. Depo pertamina sekalian gue beli" jawab Rifki sombong.
"Sombong banget lo jadi orang, inget tuh uang hasil kerja keras bokap sama nyokap lo. Bukan uang lo sendiri," ucap Edward bijak.
"Kepentok Merkurius lo ya? Jadi bijak begini," tanya Rifki bingung.
"Owh bukan, tadi gue kepentok Uranus pas otw ke sekolah."
"Kepentok di mana lo btw?"
"Depan komplek rumah gue," jawab Edward yang masih meladeni pembicaraan unfaedah antara dirinya dan Rifki.
"Perasaan lo kemarin tidur di apartemen, kenapa bisa depan komplek rumah jadinya?" tanya Rifki bingung.
"Jangan pasang muka bingung gitu dong Rif, gue gak tahan buat gak ngerjain nih jadinya" ucap Edward yang sudah gregetan melihat tampang bingung milik Rifki.
"Ternyata oh ternyata lo selama ini terpesona sama tampang bingung gue," ucap Rifki percaya diri.
"Mulai, salah ngomong kayaknya gue." gumam Edward.
"Ciee beneran ya lo terpesona sama tampang bingung gue," ucap Rifki semakin gencar menggoda Edward.
"Terserah lo deh mau nganggep gue terpesona kek apa kek, yang penting sekarang lo balik ke tempat duduk lo. Pak Selamet udah dateng tuh," ucap Edward sembari menunjuk Pak Selamet dengan dagunya.
Rifki pun mengikuti arah dagu Edward, dan benar saja Pak Selamet sudah berdiri di ambang pintu kelas. Rifki pun memperbaiki posisi duduknya yang tepat berada di depan Edward.
"Lo ngapain duduk di situ sih?" tanya Edward.
Rifki menghembuskan nafasnya kasar, "Perasaan lo di Rumah Sakit gak di kasi obat amnesia, kenapa sekarang pas keluar Rumah Sakit lo jatohnya kayak orang yang baru habis kena amnesia?"
"Emang gue kenapa?" tanya Edward polos.
"Tempat duduk gue emang di sini sukija," ucap Rifki kesal.
"Oh,"
Hanya Oh? Responnya cuman Oh? Timpuk orang pakek sepatu boleh kagak si?
Dengan perasaan dongkol Rifki mengubah posisinya menjadi menghadap ke depan, sudah nampak Pak Selamet sedang menaruh buku nya dan juga kertas absen di meja guru.
"Selamat pagi anak-anak," ucap Pak Selamet membuka pertemuan.
"Pagi Pak," jawaban serentak dari penghuni kelas XII IPA 2.
"Beli kemangi di pasar pagi," ucap Pak Selamet.
"Cakep!" seluruh siswa menjawab kompak.
"Apa kabar hari ini?" sambung Pak Selamet.
"Biji semangka biji kedondong," ucap Rian salah satu anggota OTR yang di ceritakan oleh Rifki.
"Cakep!" seru seluruh penghuni kelas.
"Baik-baik aja dong" lanjut Rian.
"Semakin pintar saja kamu membalas pantun saya Rian," ucap Pak Selamet memuji Rian.
"Ahay si Bapak bisa aja, saya jadi tersandung ini." jawab Rian dengan malu-malu dugong.
"Perlu di ingat wahai anak muda, jatuh di atas tanah tidak seindah jatuh cinta." celetukan Rifki membuat seisi kelas tertawa.
"Nyambung aja lo Junaedi," semprot Rian.
"Siapa Junaedi wahai kekasih ku, apakah kamu lupa bahwa namaku Sapri bukan Junaedi?" ucap Rifki memulai dramanya.
"Mas, kamu jangan salah paham dulu. Junaedi itu kurir yang biasa nya kirim paket ke rumah Mas," jawab Rian meladeni drama yang di mainkan oleh Rifki.
"Aku tidak percaya padamu, tega kamu menghianati aku Juleha."
"Aku tidak menghianati mu Mas,"
"Aku cuma coba-coba Mas,"
"Terus?"
"Eh gak tau nya malah kebablasan,"
Sontak semua penghuni kelas tertawa melihat adegan drama dadakan yang di lakukan oleh Rian dan Rifki, tak terkecuali Pak Selamet.
"Sudah-sudah nanti drama nya di lanjut saat ada praktek drama, sekarang Bapak mau ngenalin kalian sama murid baru pindahan dari Amerika." ucap Pak Selamet.
"Widih, cakep kagak Pak?" tanya Rian.
"Gak usah di tanya, cantik banget. Kalo Bapak belum punya istri juga mau jadi pacarnya," canda Pak Selamet.
"Si Bapak, inget istri sama umur Pak." ucap Rian.
"Nah, karena Bapak inget. Makanya Bapak gak jadi jadiin dia pacar Bapak," jawab Pak Selamet.
"Bagus Pak, biar dia jadi pacar saya aja nanti." ucap Rian.
"Halah, tampang kayak air comberan aja bangga lo!" celetuk Rifki.
"Emang air comberan kayak gimana Rif?" tanya Sean memancing.
"Butek!" jawab Rifki dan langsung menyemburkan tawanya dan di ikuti oleh teman-teman nya.
"Dih Mas nya gak pernah ngaca ya?" tanya Rian.
"Tiap hari gue ngaca," jawab Rifki.
"Bagus, jadi lo udah sadar kan tampang lo kayak gimana?"
"Oh jelas," jawab Rifki dengan mengulum senyumnya. "Tampang gue mah sebelas dua belas sama Kim Taehyung Bities."
"Mau rujak pakek kedondong, budu amat dong" jawab Rian.
"Sudah-sudah kenapa kalian yang ribut? Mau Bapak batalkan perkenalannya?"
"Jangan gitu dong Pak, masak main batalin aja sih. Rasanya tuh kayak saya udah Bapak ajak ke KUA tapi gak jadi nikah, rasanya tuh nyess Pak" ucap Rian dramatis.
"Kayak ada yang patah tapi bukan kayu Pak," timpal Rifki.
Pak Selamet hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rifki dan Rian, tak lama setelahnya seseorang mengetuk pintu kelas mereka. Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu, terkecuali Edward. Anak itu sedang sibuk mencorat-coret kertas yang ada di atas mejanya tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali ke arah pintu yang baru saja di ketuk oleh seseorang.
"Permisi, benar ini ruang kelas XII IPA 2?" tanya gadis itu dengan sopan.
"Iya benar silakan masuk Rayla," ucap Pak Selamet.
Gadis yang baru saja di panggil Rayla itu pun berjalan mendekat ke arah Pak Selamet berdiri.
"Silakan perkenalkan diri kamu," ucap Pak Selamet memberi kesempatan kepada Rayla untuk memperkenalkan dirinya.
"Hal-lo semuanya, selamat pagi. Kenalin nama aku Effie Rayla Zefanya, kalian bisa panggil aku Ayla. Aku pindahan dari Amerika, semoga kita bisa berteman dengan baik." ucap Rayla sedikit gemetar.
"Apakah kalian ingin bertanya kepada Rayla?" tanya Pak Selamet.
Rifki pun mengangkat tangannya.
"Ya, Rifki silakan kamu mau bertanya apa pada Rayla?"
"Kalo di panggil sayang boleh gak?" tanyanya yang membuatnya mendapatkan sorakan dari teman sekelasnya. Sedangkan Rayla hanya menyunggingkan senyumnya.
Tak mau kalah, Rian pun mengangkat tangannya.
"Kenalin atuh neng, nama saya Adrian Putra Sanjaya. Bisa di panggil Rian, kalo neng mau manggil sayang juga boleh." sama seperti Rifki, Rian pun mendapatkan sorakan dari teman-teman sekelasnya.
Tanpa mereka semua sadari, sedari tadi Edward memperhatikan Rayla dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Setelah mendengar suaranya, Edward merasa familiar. Ia pun menghentikan aktivitas mencorat-coret bukunya dan mengalihkan perhatian nya ke depan, dan Ia menemukan gadis itu. Gadis bersurai hitamnya.
Rayla hanya tersenyum ketika Rian menggodanya, matanya menjelajah ke seluruh penjuru kelas dan terhenti ketika matanya melihat ke arah pojok kelas. Matanya bertatapan dengan mata Edward yang juga sedang menatapnya, seperti berkomunikasi melalui tatapan mata mereka. Hingga suara Pak Selamet mengejutkan Rayla, dan dengan cepat Ia mengalihkan pandangannya dari Edward.
"Silakan kamu duduk di bangku yang kosong sebelah Vika, Vika tolong angkat tangan kamu" ucap Pak Selamet.
"Baik Pak terima kasih," ucap Rayla kemudian berjalan menuju bangku kosong yang ada di sebelah Vika.
Edward terus mengawasi Rayla, sampai Ia duduk di kursi kosong sebelah Vika. Ada rasa bahagia ketika bertemu kembali dengan gadis yang menggagalkan aksi bunuh dirinya, ya gadis yang di maksud Edward adalah Rayla.
"Baik anak-anak silakan buka buku kalian halaman 84, kita akan membahas tentang lima poin dalam penyampaian gagasan dan tanggapan dalam diskusi." ucap Pak Selamet, yang membuat Edward mengalihkan pandangannya ke arah bukunya.
Semua murid sontak menuruti perintah dari Pak Selamet dan mendengarkan dengan seksama penjelasan yang di berikan olehnya, hingga tak terasa sudah tiga jam waktu terlewat dan saat ini adalah waktunya istirahat.
"Baik anak-anak pertemuan kita cukup sampai di sini, ke empang bawa sendal. Selamat siang, muridku tersayang" ucap Pak Selamet dan melenggang pergi menuju ruang guru.
Semua murid bersorak ria dan segera merapikan alat tulis mereka, setelahnya ada yang pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan, ke perpustakaan dan ada pula yang hanya berdiam diri di dalam kelas bahkan untuk yang sudah memiliki pacar mereka akan mengajak pacar mereka untuk makan di kantin bersama ini khusus untuk para orang yang sudah memiliki pacar, untuk yang masih jomblo sampai sekarang harap sabar dan tenang karena jodoh anda kemungkinan masih di jaga oleh orang.