
...'Rasa suka adalah sebuah malapetaka ketika manusia tidak mampu lagi untuk mengendalikannya.'...
...----------------...
Satu jam telah berlalu, akhirnya Edward pun merampungkan proses ketik mengetik dan edit mengedit powerpoint nya. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, kemudian Ia menoleh ke arah Rayla yang tadi duduk disebelahnya. Edward mengerutkan keningnya bingung ketika Ia tidak mendapati Rayla di sebelahnya, kemudian Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu Rayla. Matanya terhenti pada suatu objek yang ada pada sofa di belakangnya, Ia tersenyum geli ketika melihat Rayla yang tertidur pulas di atasnya.
Edward perlahan mendekat ke arah Rayla, Ia memperhatikan wajah damai Rayla ketika tertidur. Ia pun tersenyum tipis, kemudian lebih memilih untuk merapikan semua alat-alat yang tadi Ia dan Rayla gunakan untuk membuat powerpoint.
"Udah selesai, Ed?" tanya Mama Rayla yang sekarang tengah menghampirinya.
"Udah, tan," jawab Edward.
"Rayla kemana, Ed?" tanya Mama Rayla yang tidak melihat keberadaan anaknya. Memang tubuh mungil Rayla tidak terlihat karena tertelan oleh sofa yang tengah di tidurinya. Sedangkan Mamanya berada di belakang sofa yang tengah Rayla tiduri, itulah sebabnya mengapa Mamanya tidak melihat keberadaan anaknya.
"Itu," jawab Edward sembari mengarahkan dagunya ke arah sofa dimana Rayla tengah mengarungi dunia mimpinya.
"Astaga anak ini, bukannya bantuin temennya beres-beres malah ketiduran," ucap Mama Rayla sembari geleng-geleng kepala. Saat Mama Rayla akan membangunkan Rayla, Edward mencegahnya.
"Biarin aja tan, jangan di bangunin. Kasian, pasti dia kecapean," ucap Edward.
Mama Rayla mengangguk mengerti, "Iya tante ngerti. Tapi kalau dia kelamaan tidur di sofa, ntar dia bangun-bangun ngeluh badannya sakit semua. Tante lagi gak mau denger rengekannya dia yang minta tante buat mijitin dia dan ganggu waktu tante sama om buat romantisan."
Edward mengerjapkan matanya mendengar rentetan kalimat yang di ucapkan oleh Mama Rayla, kemudian Ia tersenyum canggung.
"Kalau gitu, biar Edward gendong aja ke kamarnya tan."
Mama Rayla bertepuk tangan dengan heboh, "Boleh-boleh. Kamarnya ada di lantai atas, pintu warna biru muda."
Edward mengangguk, kemudian mendekat ke arah Rayla. Edward memindahkan Rayla ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati karena takut mengusik tidurnya. Setelahnya, Ia perlahan menaiki anak tangga untuk dapat sampai di kamar Rayla.
Edward membuka pintu kamar Rayla, dan langsung disambut dengan wangi vanila yang menguar. Edward berjalan menuju ranjang Rayla kemudian meletakkannya dengan sangat hati-hati. Setelah memastikan posisi tidur Rayla nyaman, Edward menarik selimut untuk menutupi tubuh Rayla sebatas dada.
Edward memandangi wajah Rayla sebentar, dengan pelan Ia menyingkirkan anak rambut yang mengganggunya untuk memandangi wajah Rayla. Sebelum pergi, Edward mengelus pelan rambut Rayla kemudian langsung beranjak dari kamar Rayla menuju ruang tamu untuk berpamitan pulang kepada Mama Rayla.
"Tante, Edward permisi mau pulang dulu," ucap Edward sembari menghampiri Mama Rayla yang kini tengah asik duduk sembari memakan camilan yang tersedia di meja.
"Kok buru-buru, main aja dulu di sini."
Edward tersenyum, "Udah sore tan, Edward juga ada urusan."
"Oalah, lagi ada urusan toh. Ya udah, kamu hati-hati ya pulangnya, ganteng." ucap Mama Rayla sembari bangkit dari duduknya.
"Iya tan, Edward pamit ya. Salam sama om," ucap Edward sembari mencium punggung tangan Mama Rayla.
"Iya, nanti tante salamin."
Edward mengangguk sembari tersenyum, Ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah Rayla. Setelah sampai di halaman depan, Ia pun segera mengenakan helm dan men starter motornya guna menuju tempat tujuan yang selanjutnya. Ya, kemana lagi kalau bukan ke apartemennya.
Edward mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, tiba-tiba tanpa Ia sadari dari arah belakang mobil dengan kecepatan tinggi menyalipnya dan menikung haluan yang seharusnya Edward lalui. Edward pun reflek mengerem motornya mendadak hingga menimbulkan suara gesekan antara ban dengan aspal yang cukup memekakkan telinga. Edward menggeram ketika mengetahui siapa pemilik mobil yang dengan seenak jidatnya memotong haluannya.
"Lumayan juga reflek lo," ucap seseorang yang baru saja turun dari balik kemudi mobil tersebut.
"Jauhin Rayla," ucap orang itu secara tiba-tiba.
Edward tersenyum miring mendengar ucapan orang yang ada di hadapannya saat ini. Ia pun melepas helmnya kemudian turun dari atas motornya guna menghampiri orang yang sedang berbicara dengan seenak jidatnya.
"Lo siapanya Rayla? Sampai berani ngelarang gue," tanya Edward dengan nada yang meremehkan.
Orang yang ada di hadapannya tersenyum mendengar nada meremehkan Edward.
"Gue calon pacarnya," jawab orang tersebut dengan sangat percaya diri.
Edward terkekeh mendengar ucapan orang tersebut, "Baru calonnya aja belagu."
"Gue gak main-main sama ucapan gue, jauhin Rayla!" ucap orang tersebut yang mulai terpancing emosi.
"Lo gak ada hak apa-apa, jadi jangan sok berkuasa!" balas Edward sengit.
"Gue bisa buat lo di usir dari rumah, jadi gak menutup kemungkinan gue juga bisa buat Rayla di drop out dari sekolah," ucap Sam sembari tersenyum miring.
Edward mengepalkan tangannya, "Urusan lo sama gue! Gak usah sangkut pautin Rayla!"
Sam terkekeh, namun sedetik kemudian matanya menatap tajam ke arah Edward.
"Jauhin Rayla, dan lo bakal aman. Kalau enggak--,"
"Ceritanya lo lagi ngancem gue?" sambar Edward.
Sam tersenyum, "Bisa di bilang begitu."
"Denger baik-baik, gue gak pernah takut sama ancaman lo!"
Sam terkekeh, "Gue bisa bertindak sesuka hati gue," jeda sejenak, kemudian Sam melanjutkan ucapannya. "Sekap Rayla dan ngehancurin masa depannya dia, atau mungkin buat penyakit jantung bokap lo kambuh."
Edward yang terbawa emosi pun mencengkeram kerah baju yang dikenakan Sam.
"Urusan lo itu sama gue! Jangan pernah bawa-bawa Rayla atau bokap gue," ucap Edward sembari menatap tajam ke arah Sam.
Sam tersenyum mengejek, "Gue gak pernah main-main sama ucapan gue! Jauhin Rayla atau gue bakal ngelakuin hal yang di luar ekspektasi lo!"
Edward yang terpancing emosi pun, melayangkan sebuah pukulan yang tepat mengenai rahang Sam.
"Dan gue gak akan pernah biarin lo nyakitin Rayla, ataupun bokap gue!"
Sam mengusap bekas pukulan Edward di rahangnya, jujur pukulan Edward tidak main-main. Bahkan Ia merasakan pening di kepalanya.
"Kita lihat nanti," seringai Sam. Ia pun segera melangkah pergi dan memasuki mobilnya, tanpa membalas bogeman yang di berikan oleh Edward. Masih ada banyak waktu untuk membalasnya, pikir Sam.
Edward terus memperhatikan gerak-gerik Sam, Ia sudah muak dengan saudara tirinya itu. Sam adalah kakak tirinya, Ayahnya menikah dengan Ibu Sam tak lama setelah Ibunya meninggal. Fakta bahwa mereka adalah saudara tiri hanya di ketahui oleh Rifki. Selebihnya tidak ada yang mengetahui, karena Edward menutup rapat hal-hal yang merupakan privacy nya. Menghembuskan nafasnya kasar, akhirnya Edward kembali menaiki motornya kemudian melajukan nya menuju apartemennya dengan kecepatan di atas rata-rata.