Please Feel My Love

Please Feel My Love
The Truth 2



...'Bertahanlah. Walaupun bukan karena aku yang menjadi alasan utamanya.'...


...----------------...


Edward memarkirkan motornya di dekat markas Darrel. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Edward segera masuk ke dalam. Semua orang yang berada di dalam sana mengerutkan keningnya bingung ketika melihat Edward yang sepertinya tengah mencari seseorang.


"Cari siapa, bro?" tanya salah satu anak buah Darrel.


"Darrel."


"Oh, dia lagi keluar buat beli makanan. Paling bentar lagi juga dateng."


"Udah lama perginya?" tanya Edward.


"Panjang umur, itu orangnya dateng," ucap anak buah Darrel, sembari menunjuk ke arah pintu masuk dengan dagunya.


Edward segera membalikkan tubuhnya, dan langsung melihat Darrel yang baru saja memasuki markasnya dengan menenteng beberapa kresek ukuran sedang ditangannya.


"Widih, ada angin apaan lo tiba-tiba main ke sini?" tanya Darrel sembari melangkah melewati Edward, kemudian menaruh kresek yang tadi Ia bawa ke atas meja yang ada di sana.


"Gue butuh bantuan lo," ucap Edward to the point.


Darrel mengernyitkan alisnya, "Bantuan apa?"


"Lo ingetkan, pas gue kecelakaan beberapa minggu yang lalu?"


Darrel mengangguk, "Emang kenapa?"


"Siapa orang yang ngecek motor gue sebelum balapan?"


Darrel terdiam mencoba mengingat-ingat, siapa orang yang sekiranya pada saat itu memeriksa kondisi motor Edward sebelum Ia turun ke arena balap.


Darrel menjentikkan jarinya, ketika Ia teringat akan sesuatu, "Al, bukannya lo yang gue tugasin buat ngecek motornya Edward?"


Alan yang tengah memainkan ponselnya, mendongak ketika merasa namanya di sebut-sebut dalam percakapan antara Darrel dan Edward.


Alan menggelengkan kepalanya, "Bukan gue. Tadinya emang gue yang mau ngecek motor Edward, tapi tiba-tiba nyokap gue telepon, suruh gue buat cepet-cepet pulang. Pas itu ada urusan urgent yang harus gue urus."


Darrel mengangguk, "Iya juga. Lo gak ada keliatan pas itu. Terus siapa yang ngecek motor Edward pas itu?"


Alan memperbaiki posisi duduknya, "Sepupu gue. Kebetulan pas itu dia ikut gue ke sana, terus gue minta tolong dia buat ngecek motor Edward. Dia anak SMA Fulminans Zapota juga kok," jelas Alan.


"Siapa namanya?" tanya Edward.


"Jason."


Edward memejamkan matanya, sudah pasti Jason merupakan orang suruhan Sam, untuk menyabotase motor miliknya. Mengingat mereka berdua bergelung di satu organisasi yang sama yaitu, OSIS.


"Thanks buat informasinya Al," ucap Edward. Alan hanya mengangguk sebagai respon, kemudian melanjutkan kembali acara bermain ponselnya.


"Mending kita duduk dulu deh, gak enak bicara sambil berdiri," tawar Darrel yang merasa kakinya pegal karena terlalu lama berdiri.


Edward mengangguk, kemudian mengikuti langkah Darrel menuju sofa yang ada di dekat sana.


"Ada masalah apa sebenernya?" tanya Darrel tak lama setelah mereka berdua duduk di atas sofa.


"Gue mau orang yang udah buat gue rebahan lama di atas kasur Rumah Sakit, nerima akibat dari perbuatan mereka."


"Jadi lo udah tau siapa pelaku yang nyabotase motor lo?"


Edward mengangguk.


"Jangan-jangan…?"


"Iya, Jason. Gue yakin dia di suruh sama mantan saudara tiri gue."


"Mantan saudara tiri?"


"Iya. Hubungan kita berdua emang gak baik. Lebih tepatnya, gak pernah baik."


"Terus sekarang gimana?"


"Gue mau ngumpulin bukti yang kuat, buat jeblosin Sam dan juga para antek-anteknya ke penjara."


"Thanks."


"Lo mau pergi ke arena balap lagi?"


Edward mengangguk, "Gue mau ngecek di sekitar TKP."


Darrel bangkit dari duduknya, "Okay! Tunggu apa lagi? Berangkat kita!"


"Mau kemana lo?" tanya salah satu anak buah Darrel.


"Cosplay jadi detektif."


"Gue ikut ya, siapa tau aura good looking gue bisa keluar pas ikut cosplay."


Darrel mengacungkan jempolnya, "Buat yang mau ikut, ayo berangkat sekarang. Buat yang enggak, jaga markas."


Setelah mendengar ucapan Darrel, mereka semua yang ada di markas tersebut bangkit dari duduknya kemudian mengenakan jaket mereka masing-masing.


"Loh? Gaada yang mau jaga markas?" tanya Darrel bingung.


"Gak. Lebih seru cosplay jadi detektif," ucap salah satu diantara mereka, dan di setujui oleh yang lainnya.


"Bilang aja kalian takut disamperin sama mpok cetar, gara-gara kebanyakan ngutang makanan di sana," cibir Darrel.


Dengan kurang ajarnya, semua anak buah Darrel langsung melesat pergi menuju motor mereka masing-masing ketika mendengar ucapan Darrel.


"Gak ada harga dirinya gue jadi ketua," gerutu Darrel.


"Ya kan, Ed?" tanya Darrel yang meminta pendapat Edward. Tapi hasilnya sama saja, Edward telah melangkah menuju keluar markas, meninggalkan Darrel yang kini tengah menggerutu.


"Bener-bener dah. Untung gue anaknya sabar," ucap Darrel kepada dirinya sendiri. Kemudian dengan sedikit berlari, Ia menyusul teman-temannya yang sudah siap di atas motor mereka masing-masing. Tak lupa sebelum meninggalkan markas, Darrel menguncinya terlebih dahulu, agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Mbok cetar yang tiba-tiba nangkring di atas sofa, misalnya.


Tak lama kemudian, mereka semua meluncur ke TKP, tempat dimana yang membuat Edward terbaring tak berdaya selama beberapa minggu di atas kasur Rumah Sakit.


Dalam hati Edward terus meyakinkan dirinya, bahwa Ia bisa menemukan bukti-bukti yang bisa Ia gunakan untuk membuat Sam membayar atas perbuatannya. Dan untuk Bela, akan Edward urus setelah Ia berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang Ia inginkan.


Tak lama kemudian, mereka semua telah sampai di TKP tempat Edward mengalami kecelakaan. Edward dan semua anak buah Darrel, bergegas turun dari atas motor, dan mengumpul mengelilingi Edward dan Darrel.


"Gue minta bantuan kalian buat nemuin bukti-bukti, bahwa kecelakaan gue beberapa minggu yang lalu itu, memang direncanakan," ucap Edward.


Pandangan Edward beralih pada Alan, "Al, gue mau ketemu sama sepupu lo, malam ini."


Alan mengangguk, "Mau ketemu di mana?"


"Markas kalian."


Alan mengangguk, kemudian merogoh ponsel yang ada di saku celananya untuk mengabari sepupunya.


"Udah gue kabarin, tinggal tunggu balasannya aja," ucap Alan sembari menunjukkan roomchat nya bersama Jason.


Edward mengangguk, "Gue minta beberapa orang buat cek CCTV yang ada di sekitar sini."


"Biar gue sama Jali aja," ucap Darrel.


Edward menganggukkan kepalanya, "Buat yang lainnya, kalian bisa nyebar di TKP, dan lapor setiap hal mencurigakan yang kalian temuin."


Anak buah Darrel dengan kompak menganggukkan kepalanya, ketika mendengar arahan Edward.


"Thanks, kalian udah bantuin gue," ucap Edward tulus.


"Santai aja bro. Kita juga gabut kalau cuma kumpul-kumpul terus mabar. Mending bantuin lo kan, lumayan bisa nambah tabungan pahala," jawab Jali.


Edward terkekeh ringan ketika mendengar pengakuan Jali.


"Cut! Yok kita mulai operasi cosplay jadi dektektif sekarang," sela Darrel.


Semuanya pun bersorak, kemudian langsung berpencar untuk menemukan bukti yang sekiranya tertinggal di sana. Edward pun berbaur dengan anak buah Darrel, untuk berkeliling di sekitar area balap.


"Lo harus sadar Ay. Supaya lo bisa liat orang yang udah buat lo berbaring di sana, nerima hukumannya," ucap Edward dalam hati.