Please Feel My Love

Please Feel My Love
Perlahan Memperjuangkan



...'Hanya sebuah rasa yang benar-benar takut kehilangan sehingga membuat kita bertindak diluar batas normal.'...


...----------------...


Rayla memasuki rumahnya yang nampak sepi itu, tanpa pusing-pusing berpikir Mamanya tengah dimana. Rayla malah langsung naik ke lantai dua tempat kamarnya berada, paling kalau gak ada di ruang keluarga pasti di dalam kamar dan bergelung dengan kasur favoritnya. Pikir Rayla.


Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian santai, Rayla merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangan miliknya. Matanya menatap langit-langit kamarnya, sebelum ingatannya tertuju pada martabak yang diberikan oleh Edward. Rayla melirik ke arah meja belajarnya, yang dimana di sana terdapat kantong plastik yang didalamnya berisi martabak pemberian Edward. Rayla pun beranjak dari atas tempat tidurnya menuju meja belajarnya dan duduk di kursi yang tersedia di sana. Ia pun membuka kantong plastik tersebut kemudian mengeluarkan kotak martabak dari dalam sana.


"Makanan gratis, pasti enak," ucap Rayla kemudian langsung melahap satu potong martabak manis tersebut. Satu persatu martabak tersebut berpindah dari bungkusnya ke dalam perut Rayla, hingga pada akhirnya tiba di satu suapan terakhir.


"Bisa gendut beneran kalo gue makannya kayak gini terus, tapi siapa yang perduli? Badan juga badan gue," monolog Rayla. Tadi saja sok-sokan memarahi Edward yang memberikannya makanan, tapi buktinya? Sekarang malah semua martabak itu sudah masuk ke dalam perutnya, mungkin sudah di cerna. Dasar Rayla, gengsi bilang iya padahal dalam hati meronta-ronta!


Di tempat lain, diwaktu yang sama. Edward baru saja memarkirkan motornya di basement apartemennya. Setelah memastikan motornya terparkir dengan sempurna, Edward melangkah menuju lift untuk bisa sampai di apartemennya. Di dalam lift hanya ada dirinya saja, Ia pun menekan tombol lantai 4 yang dimana adalah lantai tempat apartemennya berada. Beberapa detik kemudian lift yang membawa Edward sudah sampai di lantai tujuan, Edward langsung bergegas keluar begitu pintu lift terbuka. Matanya membulat sempurna ketika melihat Rifki yang seperti orang gelandangan didepan pintu apartemennya. Dengan baju yang kusut ditambah dengan celana jeans nya yang robek di beberapa bagian, didukung dengan posisinya yang tengah duduk selonjoran sembari memeluk tas ranselnya. Menambah kesan kengenesan yang Rifki ciptakan.


"Lo lama banget sih," keluh Rifki ketika Edward sudah berada dihadapannya, Ia pun terpaksa mendongak untuk melihat wajah Edward karena posisinya memang masih duduk selonjoran sembari memeluk tas ranselnya dengan punggung yang menempel sempurna dengan pintu apartemen Edward.


"Lo ngapain sih?" tanya Edward sembari memutar bola matanya malas.


"Suruh masuk dulu kek," protes Rifki.


"Minggir!" ucap Edward sembari memasukkan password apartemennya yang baru.


"Lo ngapain ganti password sih?!" tanya Rifki setelah duduk di sofa ruang tamu Edward.


"Biar gak ada setan gak diundang yang sembarangan masuk," jawab Edward santai.


"Sialan, lo nyamain gue sama setan?"


Edward menggidikkan bahunya acuh kemudian berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Sedangkan Rifki, merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu Edward. Nikmatnya rebahan memang tidak ada duanya. Beberapa menit kemudian, Edward muncul dengan pakaian santainya dan langsung duduk di sofa yang berada dihadapan Rifki.


"Ngapain sih lo ke sini? Pakai bawa tas ransel segala. Jangan bilang lo mau nginep disini? Gak, gak gue izinin. Sana pulang aja lo," cerocos Edward tanpa mau mendengarkan ucapan Rifki.


"Buset, satu-satu napa nanyanya. Udah kayak dijalan tol aja, nyerocos tanpa ada jeda," ucap Rifki sembari memperbaiki posisi rebahan nya menjadi duduk menyender pada sofa.


"Terserah gue lah, yang ngomong juga gue."


"Semerdeka lo aja deh."


"Pulang sono, ganggu aja lo."


"Bukannya ditawarin minum, malah diusir disuruh pulang."


"Ngapain gue tawarin lo minum, bikin repot gue aja."


"Duh gusti, sabar gue tuh punya temen modelan kayak lo."


"Lo itu harusnya bersyukur punya temen modelan kayak gue."


"Halah, bersyukur konon. Lo deketin cewek aja kagak berani," ejek Rifki. Edward melempar bantal yang ada disebelahnya ketika mendengar ucapan Rifki tersebut.


"Masnya nyindir diri sendiri itu namanya, wong saya udah punya pacar. Tapi lagi di Korea, nyari duit buat modal nikahan."


"Serah lo deh, mendingan lo pulang sekarang."


"Ngusir mulu deh lo dari tadi, gue ke sini tuh mau ngomong hal yang serius."


"Serius, seriusnya lo mah tetep aja enggak serius."


"Kali ini dijamin seratus sembilan puluh sembilan persen serius, ini tuh menyangkut masa depan."


"Gak yakin gue, tapi yaudah lah. Cepetan lo mau ngomong apa."


Rifki tersenyum manis ketika mendengar ucapan Edward, sedangkan Edward malah merasa ngeri melihat Rifki yang tersenyum seperti itu. Alamat bahaya didepan mata iki.


"Pinjem buku latihan Matematika sama Kimia dong Ed, besok kan jadwalnya." ucap Rifki masih dengan senyum manis yang Ia pertahankan. Jadi ini alasan Rifki repot-repot membawa tas ransel segala, Edward hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rifki.


"Kemana aja lo seminggu ini?"


Rifki hanya menyengir kuda mendengar pertanyaan Edward.


"Lagian itu mapel berdua kenapa harus disatuin sih, masih untung gak dapet Fisika juga dihari itu," gerutu Rifki. Matematika+Kimia\=Ambyar.


"Terus?"


"Bantuin gue lah!"


"Dapet apa kalo gue bantuin lo?"


Rifki berpikir sejenak, kemudian beberapa detik kemudian satu ide melintas di otaknya.


"Gue kirim nomornya Rayla ke lo sekarang," ucap Rifki sembari tersenyum jail. Tanpa menunggu persetujuan Edward, Ia langsung mengotak-atik ponselnya kemudian tak berselang lama ponsel Edward yang berada di saku celananya bergetar menandakan ada pesan yang masuk.


"Itu udah gue kirim," ucap Rifki.


"Lo dapet darimana nomornya Rayla?" tanya Edward menyelidik.


"Dapet di grup kelas," ucap Rifki kemudian tergelak melihat perubahan raut wajah Edward yang nampak kesal.


"Ambil di meja belajar gue," ucap Edward.


"Siap bos ku, makaseh."


Edward hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian Ia mengalihkan pandangannya kearah ponsel yang tengah menyala menampilkan room chat nya bersama Rifki yang dimana terdapat pesan terbaru dari Rifki. Edward dengan ragu menekan foto profil Rayla, dan setelahnya muncul gambar yang menampilkan Rayla tengah berdiri menghadap kamera sembari tersenyum manis. Edward tanpa sadar tersenyum, kemudian pikirannya teralih pada percakapannya tadi siang bersama Rayla. Apakah besok Rayla akan berangkat bersama Sam kembali? Satu pertanyaan muncul di pikiran Edward. Ia menatap lekat layar ponselnya yang masih menampilkan foto Rayla yang tersenyum menghadap ke kamera.


Edward memejamkan matanya ketika bayangan Rayla dan Sam berangkat bersama kembali terlintas di otaknya, baiklah Edward tidak akan menampik lagi rasa yang perlahan muncul di hatinya. Perlahan tapi pasti, Ia akan membuat Rayla menjadi miliknya. Karena seorang Edward, tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah Ia anggap sebagai miliknya.