Please Feel My Love

Please Feel My Love
Jealous?



...'Entah mengapa, aku tidak suka di saat kamu terlihat lebih akrab dengan orang lain yang baru kamu kenal daripada aku.'...


...----------------...


Rifki dengan pasrah mengikuti kemana Edward menariknya, tetapi di dalam hatinya Ia tak ada hentinya mengumpati sosok yang sedang menariknya ini. Ia meratapi nasibnya, jika begini caranya uang jajannya akan terancam besok. Edward lo anak siapa si sebenernya, ngeselin banget sumpah. Ratap Rifki dalam hati.


Tak berselang lama kemudian Edward dan Rifki tiba di kantin sekolah mereka, yup Edward menarik Rifki menuju kantin. Edward memilih untuk duduk di meja paling pojok.


"Lo ngapain sih narik gue ke sini?" tanya Rifki setelah Ia duduk di kursi yang ada di hadapan Edward.


"Makan," jawab Edward santai tanpa memperdulikan perubahan raut wajah Rifki.


"Lo kan bisa makan sendiri!" jawab Rifki geregetan.


"Jadi lo gak mau nemenin gue nih?"


"Ya gak gitu juga,"


"Terus?"


"Lo buat gue kehilangan kesempatan di traktir besok." jawab Rifki lesu.


"Maksud lo?" tanya Edward tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Rifki.


"Gue tuh tadi lagi jalanin misi! Eh malah lo tarik buat ke sini!"


"Sok-sokan jalanin misi lo!"


"Dih gak percaya dia."


"Tampang lo kurang meyakinkan."


"Iya Ed iya, tau kok gue."


"Jadi?" tanya Edward


"Jadi?" beo Rifki tak mengerti dengan pertanyaan Edward.


"Misi lo apaan woy!"


"Acie, kepo ya bang?"


Edward menghembuskan nafasnya kesal, "Gak!"


"Adu-adu baby Edward ngambek." ucap Rifki sembari menoel-noel tangan Edward yang berada di atas meja.


"Apaan sih!" jawab Edward risih kemudian menarik tangannya yang berada di atas meja.


"Jangan ngambek elah, misi gue sebenernya menguntungkan lo juga kok." ucap Rifki dengan senyum penuh arti.


Edward menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya apa maksud dari perkataan Rifki barusan.


"Lo mau nomor handphone Rayla gak?" tanya Rifki dengan nada yang menggoda.


"Gak!" jawab Edward ketus.


"Yakin nih lo gak mau?" tanya Rifki masih dengan tatapan menggoda.


Edward menggidikkan bahunya acuh, seolah tidak perduli dengan ucapan Rifki barusan. Padahal di dalam hatinya Ia bertanya-tanya kenapa Rifki menyebut mendapatkan nomor handphone Rayla adalah sebuah misi?


"Owh, jadi lo gak mau? Ya udah gue mau lanjut jalanin misi dulu, biar besok dapat traktiran dari Rian." ucap Rifki dengan tersenyum jail.


"Maksud lo?" tanya Edward terkejut, Ia tidak menyangka bahwa Rian lah yang memberikan misi kepada Rifki untuk mendapatkan nomor handphone Rayla.


"Buat mendidih seru nih kayaknya," pikir Rifki dengan senyum miringnya.


"Rian mau dapet nomor handphone Rayla, katanya sih buat pdkt." jawab Rifki dengan menahan senyumnya.


Edward sontak membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Rifki.


"Kenapa dia minta tolong ke lo?" tanya Edward penasaran.


"Karena gue tuh ahlinya dalam masalah begituan," jawab Rifki membanggakan dirinya.


"Lo jangan ungkit-ungkit tentang status gue dong! Yang terpenting itu hasilnya,"


"Gue tebak Rayla gak bakal ngasih nomor handphonenya,"


Rifki menyunggingkan senyumnya, "Siapa bilang? Malah tadi dia mau tulis nomor handphonenya di handphone gue, tapi gara-gara lo langsung narik gue ya jadinya gagal deh."


"Kok gue rada gak percaya ya?"


"Terserah mau percaya atau gak, mending gue balik ke kelas menjalankan misi yang sempat tertunda tadi." ucap Rifki dan langsung bangkit dari kursi yang Ia duduki.


Edward yang melihat Rifki mulai beranjak dari tempat duduknya pun langsung mencegah Rifki sebelum Ia melangkah keluar.


"Lo mau ninggalin gue sendiri di sini?" tanya Edward ketus.


Rifki nampak berpikir sejenak, "Bukan ninggalin sih."


"Apa namanya kalo nggak ninggalin junet!"


"Gue kan gak ninggalin, gue cuma pamit bentar mau lanjut jalanin misi. Ntar gue balik lagi kalo udah berhasil,"


"Gak boleh, lo tetep di sini jangan ke mana-mana!"


"Kok lo jadi posesif sih sama gue?"


"Siapa yang posesif, pede amat lo!"


"Oh jelas,"


Edward hanya mendengus mendengar jawaban Rifki.


"Dah lah, gue cabut dulu"


"Tunggu, gue ikut"


"Ngapain lo ikut?"


"Terserah gue lah mau ikut apa enggak!"


"Dih malah ngegas, ya udah ayok!" ucap Rifki kemudian melangkah menuju pintu masuk kantin, Edward pun dengan patuh mengikuti langkah Rifki.


Sepanjang perjalan menuju ruang kelas mereka, Rifki tak hentinya memutar otaknya untuk mencari alasan yang bisa meyakinkan Rayla untuk memberikannya nomor handphonenya. Terlalu sibuk bergelut dengan pikirannya, hingga Ia tidak menyadari jika dirinya dan Edward sudah sampai di ruang kelas mereka.


Rifki pun melirik ke arah Edward yang sepertinya sedang mencari keberadaan Rayla, karena memang Rayla sedang tidak berada di ruang kelas. Entah kemana gadis itu pergi, Rifki juga tidak tahu.


"Kayaknya Rayla gak ada di kelas deh," ucap Rifki yang membuat Edward mengalihkan pandangannya ke arahnya.


"Maybe,"


"Sok inggris!" cibir Rifki.


Edward hanya menggidikkan bahunya acuh kemudian berjalan menuju mejanya sendiri, Rifki pun mengikuti kemana perginya Edward. Rifki mendudukkan dirinya di kursinya kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, berbeda dengan Edward Ia malah sibuk dengan handphonenya sendiri.


Rifki membulatkan matanya ketika melihat Rayla yang datang dengan Samuel. Rifki pun menyenggol tangan Edward agar Ia mengalihkan pandangannya ke pintu kelas mereka. Seolah mengerti dengan kode yang Rifki berikan, Edward pun mengikuti kemana arah pandang Rifki. Dan di sana, Ia menemukan Rayla dan Samuel sedang berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi sepertinya sesuatu yang penting. Terlihat dari Rayla yang sangat serius mendengarkan apa yang Samuel katakan.


Samuel merupakan ketua OSIS di SMA Fulminans Zapota, entah apa kepentingannya dengan Rayla yang notabenenya merupakan murid baru di sekolah mereka. Cukup lama mereka berdua berbincang di depan kelas mereka, hingga mereka mengakhiri perbincangan mereka dengan sama-sama melemparkan senyum. Dan itu semua tidak luput dari penglihatan Edward.


"Hati-hati tuh mata keluar!" ucap Rifki yang sedari tadi memperhatikan Edward.


Edward mengalihkan pandangannya ketika suara Rifki mengusik indera pendengarannya.


"Ngomong sama gue?" tanya Edward.


"Enggak! Gue ngomong sama nyamuk!"


"Oh,"


"Keluar lagi kan ngeselin nya!" umpat Rifki dalam hati.


Edward pun lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah Rayla yang saat ini tengah melangkah menuju mejanya. Sempat Ia lihat Rayla melirik sekilas ke arahnya, tetapi dengan segera Ia mengalihkan pandangannya. Katakan saja Edward tengah menghindari tatapan Rayla.


Rifki yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, pertama kalinya Ia melihat seorang Edward menghindari tatapan mata seseorang. Biasanya dia akan balas menatap dengan tatapan tajam atau tatapan dinginnya. Sepertinya Ia harus membuat suatu penelitian untuk membuktikan firasatnya, baiklah saatnya Profesor Rifki Myron Deswara beraksi!