Please Feel My Love

Please Feel My Love
Pulang Bareng?



...'Kan sakit kalo di tinggal tanpa kepastian, kitanya juga bimbang mau tetap bertahan atau melepaskan.'...


...----------------...


Bu Marina mulai menerangkan materi yang akan di pelajari hari ini, pembawaannya yang sedikit membosankan membuat seluruh murid merasa mengantuk saat mendengarkan penjelasan Bu Marina. Bahkan Rifki sudah tertidur di balik buku yang Ia pegang, sedangkan murid-murid yang lain sibuk dengan khayalan mereka masing-masing. Jika Bu Marina bertanya apakah sudah mengerti atau belum, dengan kompak mereka menjawab sudah. Karena jika mereka menjawab tidak itu berarti membuat Bu Marina menjelaskan ulang dan akan membuat mata mereka semakin mengantuk.


"Kalian sudah paham?" tanya Bu Marina kepada seisi kelas XII IPA 2.


"Paham Bu!" jawaban serentak dari seluruh penghuni kelas.


Mereka sudah tidak sabar untuk menunggu jam pulang, apalagi pelajaran Bu Marina adalah mata pelajaran terakhir hari ini. Jadi mereka bisa langsung pulang dan mengistirahatkan badan mereka yang lelah akibat bertempur dengan segala macam mata pelajaran. Tak lama kemudian bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, seluruh murid-murid bersorak ria dalam hati karena sebentar lagi mereka akan bebas dari belenggu mata pelajaran sejarah yang di cap membosankan itu. Bukan salah mata pelajaran atau gurunya, tetapi hanya cara penyampaiannya yang sedikit keliru.


"Baik anak-anak, pertemuan kita hari ini cukup sampai di sini. Sampai ketemu minggu depan, hati-hati di jalan. Selamat siang," ucap Bu Marina dan berlalu pergi dari ruang kelas XII IPA 2, semua murid mulai merapikan alat tulis mereka dan memasukkan nya ke dalam tas mereka masing-masing. Rayla melangkahkan kakinya menuju pintu kelas nya ketika Ia sudah selesai merapikan alat tulisnya, Ia sudah mengirim pesan kepada Papa nya bahwa Ia sudah pulang sekolah tetapi Ia belum mendapat balasan apapun dari Papa nya. Rayla melanjutkan langkahnya menuju gerbang sekolah, berharap saat sampai di sana Papa nya sudah berada di sana. Saat Ia sudah sampai di depan gerbang sekolah, Ia tidak mendapati Papa nya yang akan menjemput nya.


"Papa kemana sih, tadi katanya mau jemput!" ucap Rayla dengan kesal sembari mengerucut kan bibirnya.


Sedangkan di lain tempat Edward sedang memandang kesal ke arah Rifki, pasalnya tadi anak itu ijin ke toilet sebentar dan menyuruh Edward untuk menunggunya di koridor dekat ruang kelasnya. Tetapi Ia baru kembali setelah lima belas menit, darimana dapet sebentarnya coba.


"Lama banget lo!" semprot Edward ketika Rifki sudah berdiri di hadapan nya.


Rifki menjawab dengan cengengesan, "Ya mangap, gue tadi liat cewek cantik."


Edward mendelik kesal, "Terus?!"


"Ya gue ajak kenalan plus tukar nomor handphone dulu lah!" jawab Rifki pamer.


"Bodo amat!" jawab Edward kesal. Dia menunggu lumayan lama, eh yang di tunggu malah asik-asik kan pdkt sambil bertukar nomor handphone kan kesel.


"Kayak anak gadis lagi pms aja lo!" goda Rifki kepada Edward. Edward malah melengos dan meninggalkan Rifki menuju parkiran sekolah, Rifki yang sudah hafal kelakuan sahabatnya yang sering meninggalkannya tanpa ada kepastian pun hanya pasrah mengikutinya menuju parkiran sekolah. Kan sakit kalo di tinggal tanpa kepastian, kitanya juga bimbang mau tetap bertahan atau melepaskan.


"Sumpah Ed, demen bener lo ninggalin orang." ucap Rifki ketika sudah sampai di parkiran sekolah.


Edward hanya melirik sekilas pada Rifki kemudian memasang helm nya dan naik ke atas motornya tanpa ada niat untuk menjawab ucapan Rifki barusan, sementara Rifki hanya mendumal dalam hati. Rasanya Ia ingin menendang Edward ke kutub selatan yang dingin, agar kembali ke habitatnya yang asli.


Rayla masih saja menggerutu kesal karena Papa nya tak kunjung menjawab pesannya, padahal Ia sudah berdiri di depan gerbang sekolah hampir dua puluh menit lamanya. Jika saja sopirnya tidak sedang izin untuk menjemput anaknya yang pulang sekolah karena istrinya yang biasanya menjemput sedang ada urusan mendadak, Rayla tidak akan mau menunggu Papanya sampai selama ini. Rayla menoleh beberapa kali ke arah kiri, berharap Papanya akan segera datang untuk menjemputnya. Tiba-tiba notif handphone nya berbunyi, dengan semangat Ia membuka handphone nya berharap semoga itu adalah pesan dari Papanya. Tetapi raut wajah nya langsung berubah masam ketika membaca isi pesan itu, memang itu pesan dari Papanya. Tetapi isinya Papa nya tidak bisa menjemput nya karena ada meeting dadakan, dan menyuruhnya untuk pulang menggunakan taksi online atau menggunakan angkutan umum lainnya yang penting sampai rumah dengan selamat. Masih dengan bibir yang mengerucut kesal Rayla mendudukkan dirinya di trotoar jalan, kakinya lumayan pegal berdiri selama dua puluh menit. Tanpa Ia sadari seseorang memperhatikan nya sejak Ia menerima pesan dari Papa nya, ya orang itu adalah Edward. Ia tak sengaja melihat Rayla yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah dengan wajah yang menurutnya sangat mengemas kan, Ia pun hanya duduk di atas motornya sembari memperhatikan gerak-gerik Rayla.


"Lah, lo ngapa masih diem di sini?" tanya Rifki ketika melihat Edward tak bergeming dari tempatnya.


Edward melirik Rifki kemudian melirik Rayla kembali, Ia mengisyaratkan Rifki lewat tatapan matanya. Rifki yang memang memiliki kadar kepekaan yang me-mumpuni pun mengikuti arah pandang mata Edward, Ia manggut-manggut mengerti kenapa Edward hanya diam di tempatnya tanpa ada niat untuk segera pulang seperti yang Ia idam-idamkan saat menunggu Rifki dari toilet tadi.


"Lo mau ngajak dia pulang bareng?" tanya Rifki tepat sasaran, Edward memang berencana untuk menawari Rayla untuk pulang bersama. Karena dilihat dari gerak-gerik nya sepertinya gadis itu belum di jemput oleh siapapun.


"Kalo lo gak mau nganterin dia pulang, biar gue aja deh yang nganterin." ucap Rifki dan segera men-stater motornya. Baru saja Ia ingin melajukan motornya, tetapi di tahan oleh Edward dengan cara memegangi tas Rifki dari belakang.


"Mau kemana lo?" tanya Edward dengan nada yang tidak bersahabat.


Rifki mengerlingkan matanya jahil, "Mau nganterin neng Rayla pulang lah!"


"Gak ada sana pulang lo,"


"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue pulang? Lagian gue gak ada niat jahat, malah niat gue itu baik mau nganterin dia pulang."


Edward memandang jengah Rifki, "Lo pulang aja nanti di cariin Om Herman, Rayla biar pulang sama gue." ucap Edward dan segera men-starter motornya kemudian melajukannya ke tempat di mana Rayla sedang duduk di atas trotoar jalan, sedangkan Rifki hanya menggelengkan kepalanya kemudian melajukan motornya menuju rumahnya.


Rayla masih saja betah duduk di atas trotoar tanpa ada niat untuk mencari angkutan umum atau memesan taksi online, Ia masih asik mencorat-coret di atas aspal dengan menggunakan ranting kayu yang Ia temukan di dekat kakinya. Tiba-tiba di hadapannya berhenti sebuah motor sport yang tidak Ia kenali, merasa bodo amat Ia pun tidak mengalihkan perhatiannya dari aksi mencorat-coret nya.


"Ngapain lo di sana? Latihan jadi pengemis?" tanya Edward.


Rayla yang merasa familiar dengan suara seseorang yang mengendarai motor sport di hadapannya pun mendongak dan menemukan Edward yang sedang mengawasinya.


Rayla mendelik sebal, apa tadi Edward bilang? Dia latihan mengemis? Kembaran IU di bilang latihan mengemis? Sorry ya law, stroberi mangga apel. Sori gak lepel.


"Sembarangan kalo ngomong," jawab Rayla berdecak kesal.


"Ya terus lo ngapain duduk di sana kalo bukan lagi latihan ngemis?"


"Dih, gak tau aja lo gue barusan jadi pahlawan tau gak."


Edward menyatukan alisnya bingung, "Jadi pahlawan?" beo Edward.


"Iya, gue barusan bantuin semut yang mau lahiran."


Edward menetralkan ekspresinya mendengar jawaban absurd dari Rayla, "Mana ada semut lahiran, semut kan bertelur."


"Yah, gue gagal dong jadi pahlawan." jawab Rayla lesu.


Edward hanya tersenyum tipis di balik helm yang Ia kenakan, "Lo mau pulang kan?"


"Iya," jawab Rayla masih dengan nada lesu.


"Ya udah ayok!"


"Ayok kemana?" tanya Rayla gagal paham.


"Pulang lah,"


"Huh?"


Edward menghembuskan nafasnya kasar, "Lo mau sampai kapan duduk gak jelas di sana?"


"Sampai pangeran berkuda putih, dateng nganterin gue pulang" jawab Rayla dengan tatapan polosnya.


Edward melongo mendengar jawaban Rayla, "Mana ada pangeran berkuda putih, yang ada di depan lo ini pangeran berkendara motor hitam."


"Dih, sok banget nyama-nyamain kayak pangeran lo."


"Kenyataannya emang begitu,"


"Ne in biar pali,"


"Huh? Lo bilang apa?"


"Bukan apa-apa,"


"Ya udah, ayok buruan naik gue anterin lo pulang" ucap Edward menawari Rayla kedua kalinya.


Rayla masih tak bergeming dari tempatnya, Ia masih berfikir apakah Ia harus menerima tawaran Edward atau tidak. Rayla sibuk dengan pikirannya sendiri memperhitungkan untung ruginya jika Ia menerima tawaran dari Edward, untungnya jika Ia menerima tawaran Edward adalah Ia tidak usah mengeluarkan uang untuk membayar taksi online ataupun angkutan umum lainnya. Ruginya, Ia dan Edward baru mengenal satu sama lain dan baru bertemu dua kali di hitung dari Ia menggagalkan acara bunuh dirinya. Jika Edward berniat jahat padanya, kemudian menculiknya dan menjual organnya pada orang lain bagaimana? Ia kan masih mau hidup, nikah aja belom masak udah mau mati duluan. Membayangkannya saja sudah membuat Rayla bergidik ngeri.