
...'Jangan pernah merasa sendiri lagi Tuhan selalu ada bersamamu. Karena badai yang hebat sekalipun setelah berakhir pasti akan ada pelangi setelahnya.'...
...----------------...
Suasana malam yang hening, di tambah dengan taburan bintang yang berkelap-kelip indah di langit. Temaram cahaya bulan yang menyinari terasa begitu nyaman dan damai. Tetapi hal itu tidak di rasakan oleh seorang laki-laki yang sedang menatap kosong kearah air danau yang ada di hadapannya. Kedua matanya memancarkan sorot kesedihan yang amat kentara, cobaan yang datang silih berganti ke dalam hidupnya seakan-akan Tuhan tak menginginkan Ia bahagia barang sejenak saja. Menghembuskan nafasnya kasar, perlahan tangannya merogoh saku yang ada di jaketnya dan mengambil sebuah silet yang terdapat disana. Mungkin ini yang terbaik untuknya, ketika takdir yang tersurat untuknya terlalu berat untuk Ia jalani. Mengakhiri hidupnya mungkin pilihan yang terbaik untuk menghindar dari takdir yang terlalu kejam mempermainkan hidupnya.
Dengan menutup matanya, secara perlahan Ia menggoreskan silet yang Ia genggam di atas tangannya tepat pada urat nadinya. Ia memejamkan matanya, menikmati perih yang tercipta dari goresan benda mungil tetapi tajam tersebut. Perlahan darah segar mengucur dari pergelangan tangannya, Ia hanya diam memperhatikan tetes demi tetes darah yang mengucur dari pergelangan tangannya.Tidak ada niat sedikitpun untuk menghentikan darah itu supaya tidak terus menerus keluar, perlahan Ia bangkit dan berjalan mendekati tepi Danau. Memantapkan hati untuk melanjutkan langkah kakinya ke dasar Danau, Ia tidak ingin jenazahnya di temukan. Biarlah Ia menghilang tanpa meninggalkan jejak bak tertelan oleh bumi. Tetapi niatnya Ia urungkan ketika mendengar teriakan seseorang yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Lo gila ya?!" teriaknya dan langsung menarik lelaki itu menjauh dari tepian Danau dan mendudukkannya di kursi yang ada di dekat sana. Matanya membulat sempurna ketika melihat darah yang mengucur dari pergelangan tangan kiri lelaki itu, dengan segera Ia merogoh tas nya dan mengeluarkan sapu tangan miliknya. Dengan telaten Ia membalut luka yang ada di pergelangan tangan lelaki itu dengan sapu tangan miliknya. Sementara lelaki itu terperangah dengan tingkah gadis yang ada di hadapannya saat ini. Sedetik kemudian Ia tersadar dan langsung menarik tangannya dari genggaman tangan gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Kalo ada masalah itu di selesaiin, bukannya malah ngelakuin hal konyol kayak gini!" ucap gadis itu yang sekarang sedang duduk menghadap ke arahnya.
"Lo gak usah ikut campur sama masalah gue," ucap Edward dengan nada datar. Yup nama lelaki yang baru saja ingin mengakhiri hidupnya adalah Edward, Edward Rasia Nafandra.
"Gue gak mau ikut campur masalah lo kok, gue cuma gak mau salah satu ciptaan Tuhan yang ada di bumi ini mati sia-sia."
"Gue mati juga gak akan ada yang peduli, orang tua gue juga gak bakal sedih kalo gue pergi." ucap Edward dengan tersenyum getir. Kerapuhan jelas terpancar dari tatapan mata dan nada suaranya.
"Mustahil ada orang tua di dunia ini yang gak bakal nangis kalo anaknya pergi ninggalin dia,"
"Sayangnya itu cuma berlaku buat anak yang jadi kesayangan orang tuanya, sedangkan gue? Mungkin gue cuma jadi beban buat mereka." ucap Edward lirih dan kembali melanjutkan kalimatnya, "Gue capek sama takdir Tuhan yang seakan-akan mempermaikan gue, satu persatu orang yang gue sayang ninggalin gue sendiri di sini termasuk Bunda gue."
"Lo tau? Semua manusia di bumi ini di ciptain sama Tuhan pasti ada maksud dan tujuan tertentu nya. Lo pernah mikir gak? Dari berjuta-juta elemen yang ada di bumi, kenapa lo yang terpilih untuk terlahir sebagai manusia? Pastinya ada maksud tertentu dari Tuhan, dan itu pr buat lo untuk nyari tau apa maksud Tuhan yang sebenarnya. Jangan pernah lo nyoba buat ngelakuin hal konyol yang bakal ngerugiin diri lo sendiri!"
Edward mematung mencerna kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh gadis yang ada di sebelahnya, ketika Ia sadar dari lamunannya dan menoleh ke samping untuk mengucapkan terimakasih karena telah membuka jalan pikirannya. Gadis itu telah hilang dan hanya sebuah sticky notes yang Ia temukan di atas bangku taman tempat di mana gadis itu duduk sebelumnya. Kertas sticky notes itu berisi tulisan 'Jangan pernah merasa sendiri lagi Tuhan selalu ada bersamamu. Karena badai yang hebat sekalipun setelah berakhir pasti akan ada pelangi setelahnya.'
Sebuah lengkungan senyum terpatri di bibir Edward setelah membaca tulisan yang di berikan oleh gadis bersurai hitam tadi. Ia melihat pergelangan tangannya yang terbalut sapu tangan gadis itu, perlahan tangannya menyentuh pergelangan tangannya. Dahinya mengernyit ketika merasakan perih di pergelangan tangannya, perlahan Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sepeda motornya yang Ia parkir lumayan jauh dari tempat Ia duduk tadi. Ketika helmnya sudah terpasang, Ia segera menghidupkan motornya dan melajukannya pergi meninggalkan tempat yang gagal menjadi saksi bisu dari akhir hidupnya karena gadis bersurai hitam tadi.
"Ke apartemen gue sekarang!" ucap Edward kepada seseorang di seberang sana, tanpa menunggu jawaban seseorang yang Ia hubungi barusan Ia langsung memutus sambungannya sepihak. Ia yakin orang yang baru saja Ia hubungi sudah mengeluarkan sumpah serapahnya di sana, tak berselang lama kemudian bel apartemennya pun berbunyi menandakan manusia yang tadi Ia beri mandat untuk segera datang ke apartemennya sudah sampai.
"Cepat juga itu anak sampainya," gumam Edward sembari berjalan menuju pintu apartemennya.
Setelah Edward membukakan pintu untuk tamunya itu, langsung saja tamu yang Ia undang itu menyemprotnya dengan untaian kata yang beragam.
"Lo apa-apaan sih telepon gue malem-malem begini?! Gak tau apa gue tuh lagi mimpi kencan sama Jennie Blackpink di Korea! Mana gue di tuh mimpi lagi jadi idaman para gadis Negeri Ginseng lagi, tapi gara-gara lo telepon gue ambyar semua mimpi gue!"
"Gue kan orangnya baik! Gak kayak orang yang bakal pura-pura gak denger kalo ada orang yang nelepon padahal dia tahu!" ucap Rifki sedikit menyindir Edward.
"Udah ngomongnya?" balas Edward datar. Ia sama sekali tidak merasa tersindir dengan ucapan Rifki.
"Gue haus habis ngoceh panjang kali lebar kali tinggi, minta minum ya." ucap Rifki dan langsung menyelonong pergi ke dapur Edward.
"Dasar sebleng, di tanya apa jawabnya apa!" gerutu Edward, tak ayal Ia pun mengikuti Rifki pergi ke dapurnya.
"Lo ngapain sih telepon gue malem-malem?" tanya Rifki setelah Ia meletakkan gelas ketempat nya semula.
"Obatin gue," perintah Edward sembari mengangkat tangan kirinya ke udara, memperlihatkan sapu tangan yang melilit lukanya. Rifki yang melihat itupun melotot kaget di buatnya, dengan segera Ia menghampiri Edward untuk mengecek apakah sahabatnya itu benar-benar terluka atau hanya ingin mengerjainya saja alias prank.
"Sakit woi! Gue suruh lo ke sini buat obatin gue bukannya malah buat gue tambah sakit!" ucap Edward sembari memukul pundak Rifki. Kira-kira saja, tangannya lagi sakit eh malah di cengkeram. Dasar Rifki!
"Ya maaf, gue kira lo lagi prank gue." ucap Rifki sembari mengelus bekas pukulan Edward.
"Gak ada kerjaan banget gue prank lo, udah cepetan obatin gue. Malah bengong lo!"
"Lo kayaknya salah manggil orang deh, gue lo suruh ngobatin? Ya mana gue bisa! Lo gak liat tuh luka lo lumayan dalam?" ucap Rifki setelah membuka sapu tangan yang membalut pergelangan tangan Edward.
Edward menghembuskan nafas kasar, "Ceritanya percuma gitu gue manggil lo?"
"Dah lo diem aja di sini, gue telepon tante gue dulu."
"Ngapain lo telepon tante lo? Ini temen lo lagi sakit malah bertukar kabar sama tantenya, dasar temen gak ada akhlak!"
"Astaga Ed! Otak lo ke geser deh kayaknya. Lo lupa kalo tante gue itu dokter?" Rifki menggeram frustasi.
"Hmm" dehem Edward.
Rifki memutar bola matanya malas dan segera merogoh ponselnya untuk menghubungi tantenya, beruntung karena tantenya mendapatkan sift jaga malam di salah satu Rumah Sakit yang ada di Jakarta jadi Rifki tidak terlalu merasa bersalah karena mengganggu waktu tidur tantenya. Kenapa Rifki bisa tau, karena tadi siang Ibunya menyuruhnya untuk mengantarkan bingkisan ke rumah tantenya. Dari sanalah Ia tahu bahwa tantenya hari ini mendapatkan jaga sift malam, karena tidak mungkin tantenya belum berangkat ke Rumah Sakit jam segitu.
"Tunggu sebentar, tante gue lagi otw ke sini." ucap Rifki kepada Edward yang hanya di balas gumaman saja olehnya. Jujur Ia merasa saat ini tubuhnya sangat lemas, mungkin karena luka di tangannya yang belum Ia obati sama sekali. Di tambah Ia belum makan siang ataupun malam, hanya susu dan roti yang sempat Ia makan tadi pagi. Tak lama kemudian Ia merasa seluruhnya berubah gelap. Sebelum semuanya berubah gelap, Edward sempat mendengar Rifki yang memanggil-manggil namanya sebelum kegelapan mengambil alih seluruh kesadaranya.