
...'Ketika telah memiliki niat untuk menjatuhkan orang lain, entah itu menggunakan cara klasik atau modern. Mau memiliki resiko yang besar atau kecil, berbahaya atau tidak. Mereka akan tetap menjalankan cara itu, selagi tujuan mereka bisa tercapai, meski itu hanya akan berhasil di dalam ekspetasi mereka saja.'...
...----------------...
Telah terhitung hampir dua minggu Edward dirawat di Rumah Sakit. Selama itu juga, hanya Bela, Rifki, dan Heru yang menemani Edward. Rayla tidak pernah lagi menjenguk Edward, Ia hanya mendapatkan kabar dari Rifki bahwa kondisi Edward sudah membaik, dan saat ini masih dalam proses pemulihan luka-lukanya.
Hari ini, Rifki berencana untuk menjenguk Edward. Ia pun datang dengan membawa beberapa camilan, dan juga beberapa buah, yang nantinya akan menemani obrolan mereka.
Rifki bersenandung kecil, sembari tangan kirinya membawa dua kantong plastik berukuran sedang.
Rifki memutar knop pintu ruang kamar inap Edward, "Rifki yang paling ganteng sekomplek da--," ucapan Rifki terhenti ketika melihat Bela yang kini tengah duduk di sebelah hospital bed Edward.
Rifki berdehem, kemudian melangkah menuju sofa yang ada di sana.
"Lo bawa apaan tuh?" tanya Edward ketika melihat Rifki datang dengan membawa dua kantong plastik di tangannya.
"Ini? Buah sama makanan ringan," jawab Rifki sembari mengangkat dua kantong plastik yang Ia bawa.
"Tumben lo bawa sesuatu buat jenguk gue," ucap Edward dengan nada jenaka.
"Tadinya gue mau berbagi cerita selama lo koma. Tapi kayaknya, lebih baik gue tunda aja," ucap Rifki sembari duduk di atas sofa, setelah melepas jaket yang Ia kenakan, kemudian membuka kantong plastik yang Ia bawa, sembari mengambil sebungkus chiki kemudian memakannya.
"Cerita aja, gue bakal dengerin kok," ucap Edward penasaran.
"Gue gak bisa cerita, soalnya ada bunglon di sini," ucap Rifki sembari menatap sinis ke arah Bela, yang kini juga tengah menatap ke arahnya.
Edward menatap Rifki datar, "Yang lo maksud bunglon siapa?"
"Entah. Kembarannya cicak mungkin," jawab Rifki sembari mengalihkan pandangannya dari wajah kesal milik Bela.
Bela yang sedaritadi mendengarkan percakapan mereka pun, menggeram kesal, ketika menyadari bahwa yang dimaksud Rifki adalah dirinya. Berani-beraninya Rifki mengatainya bunglon. Lihat saja pembalasan yang akan Bela lakukan, karena telah berani mengatainya!
"Kamu mau aku kupasin apel?" tanya Bela lembut, sembari tersenyum manis ke arah Edward.
"Gak usah," jawab Edward.
Rifki rasanya ingin muntah ketika mendengar Bela yang berbicara lembut kepada Edward, tetapi Ia menahannya, karena cukup puas dengan penolakan yang Edward berikan.
Alhasil Rifki hanya dapat menahan tawanya ketika mendengar penolakan Edward, "Kasian deh di tolak," ledek Rifki.
Bela menatap Rifki dengan raut wajah kesal, "Diem lo!"
Bukannya mendengarkan peringatan Bela, tetapi Rifki malah semakin menjadi-jadi.
"Di sekolah jadi anak gadis kalem, baik, gak tau deh gimana di luarnya," ucap Rifki sembari tersenyum penuh arti ke arah Bela.
"Maksud lo apa?!" tanya Bela yang mulai terpancing.
"Hmm, maksud gue ya?" tanya Rifki, kepada dirinya sendiri, sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bela menggeram marah mendengar ucapan Rifki, "Lo ada masalah apa sama gue? Jangan asal ngomong sembarangan dong!"
"Woww, kalem neng. Kok ngegas gitu sih," ucap Rifki sembari terkekeh.
"Gue cuma asal ngomong aja, kok lo marah gitu, merasa ya?" tanya Rifki semakin memancing amarah Bela.
"Kalau mau menjatuhkan orang itu pakai cara modern dikit, jangan pake cara zaman old doang. Fitnah udah terlalu klasik buat di pakai," jawab Bela sinis.
Rifki menatap remeh ke arah Bela, "Sayangnya, cara klasik itu masih cukup kuat buat jatuhin orang."
"Lo!" ucap Bela tertahan, sedangkan Rifki masih menatap Bela sembari tersenyum remeh.
"Mending lo pulang deh, Rif," ucap Edward setelah melihat perdebatan yang terjadi antara Bela dan Rifki. Jujur, kepala Edward berdenyut sakit mendengar mereka mebicarakan hal yang sama sekali tidak Edward mengerti.
Rifki mengalihkan atensinya ke arah Edward, "Lo ngusir gue?"
"Gue mau istirahat."
"Lo gak denger, ayok pulang. Edward katanya mau istirahat."
"Ngapain lo ngajak gue pulang? Gue di suruh jagain Edward hari ini," ucap Bela sembari memperbaiki posisi duduknya menghadap Edward.
Rifki menoleh ke arah Edward meminta penjelasan.
"Iya. Bela jagain gue hari ini," ucap Edward.
Rifki menggeleng tak percaya, "Wah, wah. Udah ngomong apa aja lo sama Edward, sampe dia nurut banget sama lo?"
"Cukup!"
Rifki terlonjak ketika Edward meninggikan nada suaranya.
"Gue minta lo sekarang keluar, Rif," ucap Edward penuh penekanan. Sedangkan Bela, saat ini tengah tersenyum sinis ke arah Rifki yang tengah menatap Edward dengan tatapan tak percaya.
Dengan segera Rifki mengambil jaket yang tadi Ia sampirkan pada kepala sofa, dan mengenakannya dengan cepat. Setelah itu dengan cepat Rifki melangkah menuju pintu ruang kamar inap. Sebelum benar-benar pergi, Rifki menyempatkan diri untuk menoleh sekali lagi ke arah Edward dan juga Bela.
"Oh iya. Sebelum gue pergi, gue mau bilang. Jangan terlena cuma karena raut wajah polos seseorang. Karena penjahat sesungguhnya, berlindung di balik wajah polos yang mereka ciptakan, sebelum menikam seseorang," ucap Rifki sembari tersenyum sinis ke arah Bela yang kini tengah menatap sengit ke arah Rifki. Sedangkan Edward, tertegun mendengar ucapan Rifki.
Setelah puas beradu pandang dengan Bela, dengan segera Rifki keluar dari ruang inap Edward. Kemudian menutup pintunya dengan kasar, sehingga menimbulkan suara pintu tertutup yang cukup keras.
Selepas kepergian Rifki, Edward terus berpikir apa maksud dari semua hal yang di ucapkan oleh Rifki. Kepala Edward berdenyut nyeri, ketika memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, selama Ia berbaring tak sadarkan diri di Rumah Sakit. Apalagi ditambah dengan Rayla yang sama sekali tidak pernah menjenguknya, selama Ia berada di Rumah Sakit. Membuat Edward menjadi semakin uring-uringan. Bela yang melihat keterdiaman Edward pun, melanjutkan kembali acara mengupas apelnya yang sempat tertunda karena perdebatannya dengan Rifki tadi.
Bela menyodorkan apel yang telah Ia kupas dan Ia potong menjadi beberapa bagian ke arah Edward. Edward memandang bergantian ke arah Bela, kemudian ke arah apel yang tengah Bela sodorkan kepadanya. Baru saja Edward akan menolak apel yang Bela sodorkan, tetapi ucapan Ayahnya beberapa hari yang lalu kembali terngiang di kepala Edward. Akhirnya, Edward pun menerima potongan apel yang Bela sodorkan. Sedangkan Bela tersenyum manis, ketika Edward tidak menolak pemberiannya. Bela menjadi semakin yakin, bahwa Edward, telah perlahan-lahan jatuh ke dalam pelukannya.
"Sebentar, sebentar lagi. Edward bakal jadi milik gue seutuhnya," ucap Bela dalam hati sembari tersenyum sinis.