
...'Jangan hanya menggantungkan sebuah harapan. Karena pada dasarnya, yang dapat memberikan kepastian lah yang akan selalu menang.'...
...----------------...
Edward dan Rayla baru saja sampai di halaman parkir sekolah mereka, seperti biasa. Banyak yang memandang sinis ke arah Rayla, tapi Rayla berusaha untuk tidak perduli dengan tatapan-tatapan sinis, yang ditunjukkan oleh para fans Edward.
"Mau latihan presentasi kapan?" tanya Edward, saat dirinya dan Rayla berjalan menyusuri koridor sekolah.
Rayla mendongak, agar dapat melihat wajah Edward yang lebih tinggi darinya.
"Gue sih, ngikut aja."
Edward mengangguk, "Ntar sore gimana?"
"Boleh."
"Lo mau latihan dimana?"
Rayla nampak berpikir sejenak, "Di rumah gue aja, gimana?" tanya Rayla, ragu.
Edward dengan cepat mengangguk, "Yaudah, nanti mampir ke apartemen gue dulu."
"Ngapain?" tanya Rayla, dengan kening yang mengkerut bingung.
"Gue mau ganti baju dulu," jelas Edward.
"Lo kan bisa ganti baju setelah nganterin gue pulang."
Edward menghembuskan nafasnya kasar, "Keburu malem kalau gitu."
Rayla memberengut, "Iya-iya. Daripada gue diturunin di tengah jalan entar."
"Pinggir jalan. Kalau di tengah jalan, entar ketabrak." koreksi Edward.
Rayla memutar bola matanya malas, "Terserah."
Edward terkekeh melihat Rayla yang nampak kesal. Karena terlalu fokus memperhatikan Rayla, Edward sampai tidak menyadari bahwa mereka telah sampai di ruang kelas mereka.
"Makin lengket aja, kapan di jedornya?" bisik Rifki ketika Edward tengah menaruh tasnya di atas meja.
"Maksud lo?"
"Ya elah, cewek perlu kepastian bro. Jangan cuma ngasi harapan palsu ke anak orang!"
"Siapa yang ngasi harapan palsu?"
"Lo lah! Yakali tukang bubur depan sekolah," ucap Rifki kesal.
"Ke siapa?"
"Apanya?"
"Gue ngasi harapan palsu."
"Ke Rayla lah!"
"Suara lo," desis Edward.
"Ya, maaf. Habisnya gue geregetan sama lo! Ntar udah di tikung, nangis-nangis dah lo di pojokan!"
Edward menatap tak suka pada Rifki, lebih tepatnya, pada ucapan yang baru saja dilontarkannya.
"Mending lo balik ke tempat lo," ucap Edward, ketus.
"Awes aja, kalau sampai lo kena tikung. Gue orang pertama yang bakal ngetawain lo."
Edward melayangkan tatapan tajamnya ke arah Rifki, sialan sekali temannya itu. Bukannya membantu untuk meyakinkan perasaannya, lah ini malah membuat dirinya semakin resah!
Setelah Rifki kembali ke tempat duduknya, lima belas menit kemudian bel tanda pelajaran pertama pun berbunyi. Semua murid, mulai mempersiapkan segala keperluannya untuk mengikuti pelajaran. Beberapa anak laki-laki nampak mulai mengganti seragam mereka mengenakan seragam olahraga. Karena hari ini pada jam pelajaran pertama, mata pelajarannya adalah Penjaskes. Semua anak laki-laki nampak sangat antusias. Bahkan, mereka berlomba-lomba untuk lebih dulu selesai mengganti pakaiannya. Tujuannya? Ya, agar dapat bermain-main lebih lama di lapangan nanti.
Berbanding terbalik dengan anak perempuan, beberapa dari mereka nampak enggan mengganti pakaiannya. Ya, tau sendiri. Olahraga kan panas-panasan, jadi skincare yang mereka gunakan akan bekerja lebih ekstra.
Edward melirik ke arah Rifki, "Bentar lagi."
"Keburu mulai jam pelajarannya!"
Edward memutar bola matanya malas, "Mirip kek ibu-ibu aja lo."
"Sialan!"
Edward bangkit dari duduknya, setelah mengambil setelan baju olahraga yang ada di dalam tas nya.
"Mau kemana lo?" tanya Rifki.
"Mancing kuda laut," jawab Edward asal, sedangkan Rifki mendengus.
"Punya temen kelewat pinter ya begini, kuda laut dipancing," gerutu Rifki.
Dan pada akhirnya, Rifki pun mengikuti langkah Edward menuju kamar mandi khusus lelaki untuk mengganti pakaiannya. Setelah berhasil menyusul langkah besar Edward, Rifki pun kembali bertanya.
"Hari ini kira-kira di suruh ngapain ya?" tanya Rifki sembari berpikir, segala kemungkinan aneh yang mungkin saja dapat terjadi.
"Manjat pohon bambu kali."
"Lo kira, gue panda!?"
"Lo nanya, yaudah gue jawab."
"Jawabnya yang masuk nalar dikit lah, jangan yang nyeleneh!"
"Kayak lo bisa bernalar aja," cibir Edward.
"Justru itu, gue lagi belajar pakai nalar gue."
Edward hanya mengiyakan saja ucapan yang baru saja Rifki lontarkan, karena nyatanya waktu yang mereka punya hanya tinggal sedikit untuk dapat berganti pakaian sebelum jam pelajaran olahraga dimulai.
Setelah usai berganti pakaian, mereka pun bergegas untuk kembali ke kelas menyimpan bajunya dan langsung menuju lapangan, karena sepertinya pemanasan akan segera dimulai. Edward melangkah menuju barisan paling depan, di ikuti oleh beberapa orang di belakangnya.
Setelah pemanasan memakan waktu kurang lebih dua puluh menit lamanya, Pak Yoga yang notabene nya merupakan salah satu guru olahraga di SMA Fulminans Zapota. Mulai memberikan arahan nya.
"Hari ini, saya akan memberikan kalian materi mengenai shooting dalam permainan bola basket. Setelah saya mempraktikkan cara shooting bola basket, selanjutnya kalian boleh berlatih untuk melakukan shooting. Karena hari ini saya ingin mengambil nilai praktik kalian. Apa kalian mengerti?" tanya Pak Yoga, setelah menjelaskan secara panjang lebar.
"Mengerti, Pak," jawab seluruh siswa yang mengikuti pelajaran kali ini.
Pak Yoga pun, mulai mempraktikkan shooting bola basket yang baik dan benar. Murid-murid, terutama yang perempuan memperhatikan dengan seksama segala pergerakan yang dilakukan oleh Pak Yoga. Lima belas menit kemudian, Pak Yoga menyudahi pergerakan nya, dan mulai memerintahkan anak didik nya untuk mencoba melakukan shooting. Semua murid menerima dengan antusias perintah dari Pak Yoga, mereka mulai bergiliran untuk melakukan shooting.
Edward memperhatikan Rayla yang nampak kesulitan dalam melakukan shooting, sudah tiga kali gadis itu mencoba, dan hasilnya masih tetap sama. Ia menyerah, dan mungkin saja merasa tidak enak dengan teman-temannya yang lain, yang belum sempat berlatih melakukan shooting.
Edward menghampirI Rayla yang kini duduk dengan lesu di pinggir lapangan.
"Kenapa lo?" tanya Edward, basa-basi.
Rayla menunduk, "Gak papa."
Edward ikut duduk di sebelah Rayla, "Mau gue ajarin gak caranya. Mumpung masih ada waktu," tawar Edward.
Rayla mendongak, menatap ke arah Ewdard dengan mata yang berbinar.
"Lo mau ngajarin gue?" tanya Rayla antusias, syukurlah masih ada harapan nilai praktiknya terselamatkan.
Edward mengangguk, "Iya."
Rayla tersenyum senang, "Ayok ajarin gue."
Edward bangkit dari duduknya, kemudian mengambil salah satu bola basket yang tersedia di pinggir lapangan, yang tak jauh dari tempatnya duduk barusan.
"Kita latihan di sana aja," ucap Edwrad, menunjuk bagian sisi lain dari lapangan.
Rayla mengangguk, kemudian tanpa berpikir panjang langsung mengikuti langkah Edward, yang menggiringnya menuju sisi lain dari lapangan bola basket. Rayla mulai memperhatikan Edward yang nampak semakin tampan ketika berkeringat, fokus nya menjadi terpecah dan jatuh berceceran entah kemana. Ia yang tadinya bersemangat, sekarang mulai ragu untuk melanjutkan latihannya bersama Edward. Bisa-bisa, Ia kualahan untuk mengatur detak jantungnya nanti. Jangankan nanti, sekarang saja Ia sudah kesulitan mengontrol detak jantungnya. Seseorang tolong Rayla!