Please Feel My Love

Please Feel My Love
Please Don't Leave Me



...'Tolong jangan pergi dari ku.'...


...----------------...


Edward menunggu di luar ruang UGD dengan perasaan yang campur aduk. Rayla tengah di tangani oleh dokter saat ini, bahkan tidak hanya satu dokter yang ada di dalam sana, tetapi dua dokter sekaligus. Hal itu membuat Edward takut akan kondisi Rayla saat ini.


Edward mengacak rambutnya frustrasi, harusnya Ia mencegah Rayla untuk pergi tadi. Tapi dengan bodohnya, Ia malah diam saja ketika Rayla pergi. Jika saja Ia mencegah Rayla, Rayla tidak akan mungkin terbaring di kasur Rumah Sakit saat ini.


Tak lama kemudian, datang Rifki yang nampak tergopoh-gopoh berlari menghampirinya.


"Lo apain Rayla sampai bisa masuk Rumah Sakit kaya gini?" tanya Rifki dengan nada suara yang sarat akan emosi.


"Rayla kecelakaan," lirih Edward.


"Dan itu pasti ada hubungannya sama lo, kan?"


Edward diam, tak menjawab pertanyaan Rifki.


"Mending lo jauh-jauh deh dari Rayla," ucap Rifki setelah melihat keterdiaman Edward.


Edward sontak mendongak ketika mendengar ucapan Rifki, "Maksud lo apa?"


"Rayla bakal terus kena masalah, kalau dia deket sama lo."


Edward menatap Rifki lamat-lamat, "Lo tahu sesuatu?"


Pertanyaan Edward sontak membuat Rifki terkejut. Kenapa Edward peka sekali?


Rifki mengalihkan pandangannya dari Edward, kemudian berlagak tidak mendengar pertanyaan Edward barusan.


"Jawab gue, Rif," desak Edward.


Rifki masih saja bungkam. Ia tidak akan membuka suara, karena Rayla melarangnya untuk memberitahu Edward, bahwa Heru tidak suka jika Edward dekat dengan Rayla.


"Orang tua Rayla, udah lo kabarin?" tanya Rifki mengalihkan perhatian Edward.


Dan hal tersebut berhasil, Edward langsung terperanjat ketika Rifki bertanya seperti itu. Dengan cepat Edward merogoh ponsel yang berada di saku celananya, kemudian mendial nomor orang tua Rayla. Sembari menunggu ponselnya terhubung dengan ponsel orang tua Rayla, beberapa kali Edward melirik kearah pintu UGD untuk melihat apakah dokter telah selesai memeriksa kondisi Rayla atau belum.


Beberapa saat kemudian, telepon Edward dan orang tua Rayla terhubung. Dengan perlahan Edward memberitahu hal yang menimpa putri mereka, Rayla. Edward memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, ketika Ia telah mengakhiri panggilannya dengan orang tua Rayla.


Rifki yang melihat hal itupun, berpura-pura tidak melihat. Ia menyibukkan dirinya dengan ponsel yang saat ini ada di tangannya.


"Rif," panggil Edward setelah Ia duduk di sebelah Rifki.


"Hmm," jawab Rifki yang berpura-pura cuek. Padahal Ia sudah sangat ingin tahu, mengenai hal apa yang akan Edward katakan padanya.


"Jujur sama gue, tentang semua hal yang lo tau, selama gue koma," pinta Edward.


Rifki menarik nafasnya, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ia menoleh ke arah Edward, "Lo bakal tau, kalau waktunya udah tepat."


"Kapan? Gue gak mau hubungan gue sama Rayla makin jauh."


"Lo kan emang harus jauh-jauh dari Rayla, inget Bela, bro!"


"Lo tau sendiri, gue gak pernah suka sama dia."


Atensi Rifki, sekarang sepenuhnya ke arah Edward, "Terus, ngapain lo bela dia waktu ini?"


"Kapan?"


Rifki memutar bola matanya malas, "Gak usah sok bego deh lo."


Edward tersenyum kikuk, "Gue minta maaf soal itu. Gue bela dia, cuma karena dia udah nyelametin hidup gue."


"Maksud lo?"


"Bela kan yang udah donorin darahnya buat gue?" tanya Edward tak yakin.


Rifki membuang muka ketika Edward mengatakan hal tersebut, "Dasar bunglon, pinter banget kamuflasenya!" rutuk Rifki dalam hati.


"Rif," panggil Edward ketika tak kunjung mendapatkan jawaban dari Rifki. Malahan Rifki saat ini, tengah memasang wajah masam, sepertinya Rifki tengah mengumpati seseorang, pikir Edward. Tapi, tidak mungkin dirinya kan?


"Apa?"


"Yang gue bilang barusan, itu bener?"


"Ya, mana gue tau. Gue aja datengnya pas lo udah di pindahin ke ruang ICU," elak Rifki.


Edward menganggukkan kepalanya, dan Rifki bernafas lega di buatnya. Tapi hal tersebut tak berselang lama, karena Edward kembali bertanya.


Rifki tertawa canggung, mendengar pertanyaan Edward, "Buat apa gue bohongin lo? Gak ada kerjaan banget gue."


"Lo kan emang segabut itu," jawab Edward kalem.


Rifki hanya memandang sengit ke arah Edward, tanpa membalasnya.


"Jadi gimana, lo maafin gue gak?" tanya Edward ketika melihat Rifki yang lebih memilih untuk mengacuhkan perkataannya barusan.


"Lo kan gak pernah buat salah sama gue."


"Lo masih marah sama gue?"


"Iyalah!"


"Nah, makanya gue minta maaf sama lo, biar lo gak marah lagi sama gue."


"Oke, gue maafin. Tapi ada syaratnya."


Edward menggelengkan kepalanya, sudah Ia duga akan begini, "Apa?"


"Traktir gue makanan," ucap Rifki sembari menyengir.


"Atur aja tempat sama tanggalnya."


Rifki bersorak gembira mendengar ucapan Edward.


Edward dan Rifki segera bangkit, ketika salah satu dokter yang menangani Rayla keluar dari ruang UGD.


"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter tersebut.


"Kita temannya, dok," jawab Edward.


Dokter tersebut mengangguk, "Kondisi pasien saat ini tengah kritis, karena benturan keras di kepalanya."


Lutut Edward langsung lemas ketika mendengar penjelasan dokter, "T-tapi, masih bisa selamat kan dok?"


Dokter tersebut menghela nafasnya, "Kami para tenaga medis akan berusaha semaksimal mungkin, untuk menyelamatkan nyawa pasien."


"Tolong lakukan yang terbaik untuk teman saya dok," ucap Edward tercekat.


Rifki menepuk bahu Edward, sedangkan Edward hanya menatap nanar pada pintu UGD yang ada di hadapannya.


"Saya permisi dulu, pasien akan segera di pindahkan ke ruang ICU," ucap dokter tersebut, kemudian langsung melenggang pergi.


Rifki langsung menggiring Edward, untuk duduk kembali ke bangku yang tadi mereka tempati. Tak lama kemudian, datang kedua orang tua Rayla dengan raut wajah yang khawatir.


"Edward, gimana keadaan Ayla?" tanya Aleta cemas.


Rifki melirik ke arah Edward, kemudian memutuskan untuk menjawab pertanyaan Aleta, "Ayla kritis, tan."


Aleta langsung lemas ketika mendengar ucapan Rifki, untungnya dengan sigap suaminya, Theo menangkapnya, kemudian menggiringnya untuk duduk di sebelah kursi kosong yang ada di sebelah Rifki.


"Ayla dimana sekarang?" tanya Aleta.


"Masih di ruang UGD, tapi bentar lagi di pindahin ke ruang ICU."


"Apa ada yang bisa jelasin, kenapa anak om bisa kecelakaan seperti ini? Padahal tadi Ayla pamit hanya untuk menghadiri acara pensi," tanya Theo sembari menatap Rifki dan Edward secara bergantian.


Edward semakin menundukkan kepalanya, ketika mendengar pertanyaan tegas Theo.


"Maaf om tapi--," ucapan Rifki terpotong, karena Edward.


"Ayla kecelakaan karena saya, om," ucap Edward. Aleta, Rifki, dan Theo dengan kompak menatap terkejut ke arah Edward.


"Maksud kamu apa Edward?" tanya Theo yang berusaha menahan emosinya.


Edward dengan perlahan mendongak, memberanikan diri menatap mata Theo.


"Saya minta maaf om. Rayla kecelakaan, setelah dia ngobrol sama saya."


Theo diam, setelah mendengar ucapan Edward.


"Bisa kamu jelaskan dengan lebih rinci lagi, Edward?" pinta Theo.


Edward mengangguk, kemudian menjelaskan kembali adegan demi adegan yang Ia dan Rayla lalui, sebelum akhirnya Rayla berakhir berbaring di atas brankar Rumah Sakit.