
...'Cowok emang gitu, sukanya baperin. Terus dihempas pas lagi baper-bapernya.'...
...----------------...
Rayla menatap jengah kearah Edward yang saat ini, dengan santainya duduk disebelahnya. Saat ini, guru-guru tengah mengadakan rapat. Jadi dari jam pelajaran kedua, hingga jam istirahat tiba. Kelas tidak akan melakukan pembelajaran, alias free class.
"Lo ngapain sih!?"
Edward melirik kearah Rayla, "Gue?"
"Iyalah, emang siapa lagi!?" jawab Rayla keki.
"Santai dong mbak, gausah ngegas gitu."
"Lo nya aja yang ngeselin."
"Coba sini deketan, terus kasi tau gue, dimana letak ngeselin nya gue," ucap Edward sembari mendekatkan dirinya kearah Rayla.
Rayla melebarkan matanya ketika Edward mengikis jarak yang ada diantara mereka.
"Lo ngapain deket-deket sih!?" tanya Rayla panik.
Edward menyeringai, "Gue mau lo, jelasin dimana letak ngeselin nya gue."
Rayla diam, guna mencari jawaban dari pertanyaan yang Edward ajukan. Sedangkan Edward masih setia menunggu kalimat yang akan dilontarkan oleh gadis yang saat ini ada dihadapannya.
"Gak usah banyak tingkah deh lo! Sana jauh-jauh!" ucap Rayla sembari mendorong tubuh Edward agar menjauh darinya.
Edwrad masih tak bergeming dari posisinya, Ia masih menatap Rayla. Sedangkan yang ditatap, sudah seperti akan melakukan bungee jumping. Deg-degan gak karuan!
Edward tersenyum geli, melihat tingkah Rayla, "Tadi aja, sok-sokan bilang gue ngeselin. Giliran gue udah minta penjelasan dibagian mananya gue ngeselin, lo malah kayak orang yang habis kepergok maling."
Rayla menatap tajam kearah Edward, "Siapa yang lo bilang maling!?"
"Lo lah," jawabnya santai, tak memperdulikan Rayla yang saat ini menatapnya dengan tatapan membunuh.
Melihat Rayla yang masih saja menatapnya dengan tatapan membunuh, Edward melanjutkan kalimatnya.
"Tapi lo malingnya bukan harta benda duniawi--," ucap Edward memberi jeda.
Rayla mengerutkan keningnya bingung, "Maksud lo?"
"Iya, bukan harta benda duniawi, tapi lo maling harta tak kasat mata yang paling berharga milik gue--,"
Rayla masih menatap bingung kearah Edward. Tapi sedetik kemudian kalimat yang Edward lontarkan berhasil membuatnya, terjungkal, tertikam, sampai terperosok ke dalam keadaan yang dimana disebut dengan kebaperan.
"Hati gue."
Gubrak!
Rayla termangu mendengar kalimat yang baru saja Edward lontarkan. Sangat berbanding terbalik, dengan detak jantungnya yang mulai berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"A-apaan sih lo, ga jelas banget."
"Kurang jelas dimananya? Apa perlu gue minjem toa? Biar lo, sama yang lain denger dengan lebih jelas apa yang barusan gue bilang?"
Rayla menggeleng panik, "Gak usah aneh-aneh deh lo!"
"Tadi katanya kurang jelas," ucap Edward menggoda Rayla.
"Edan," gumam Rayla.
Edward beranjak dari duduknya, kemudian menyuarakan ajakannya.
"Gue mau ke kantin, lo mau ikut gak?"
"Itu pertanyaan atau pernyataan?"
"Dua-duanya."
"Ada opsi buat gue nolak ajakan lo gak?"
Edward berpikir sejenak kemudian menggeleng, "Enggak."
"Yaudah, gak usah ngasi pertanyaan kalo gitu!"
Edward terkekeh, "Sekedar formalitas. Ayok ke kantin."
Rayla mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya. Edward dengan sigap menggandeng tangan Rayla.
"Ya elah bang, kayak mau nyebrang jalan aja," ucap Rifki dan Rian yang entah bagaimana ceritanya sudah ada didekat mereka.
"Iri? Bilang bos!" celetuk Rian.
Rifki menggeplak bagian belakang kepala Rian, "Lo gue ajak ke sini buat gangguin orang yang lagi mesra-mesraan. Bukannya malah ngeledek gue!" sembur Rifki.
Rian meringis mendengar rentetan kalimat Rifki, "Ya maaf. Habisnya lo bully able sih."
"Belom!" semprot Rifki.
Edward mengangguk, "Yaudah lanjutin. Bila perlu sewa ring buat adu jotos, gue mau ke kantin."
Edward langsung menarik tangan Rayla, ketika dirinya telah usai memberikan saran kepada Rian dan juga Rifki.
"Lo mau nyoba gak, sarannya Edward?" tanya Rifki kepada Rian.
"Ogah, mending gue lanjut ngamen sama yang lain," ucap Rian kemudian langsung melengos pergi, meninggalkan Rifki untuk menghampiri sekelompok orang yang saat ini tengah mengadakan acara penggalangan dana untuk membeli semangkok bakso.
"Nasib gue ditinggal mulu deh kayaknya," gumam Rifki, kemudian beranjak mengikuti jejak Rian. Daripada harus nyamperin Edward, yang ada, dia jadi kayak nyamuk yang kekurangan darah!
Di lain tempat, di waktu yang sama. Edward dan Rayla baru saja memasuki kawasan kantin sekolah. Edward langsung menarik Rayla untuk mengikutinya kearah stand penjual makanan ringan.
"Lo mau gak?" tanya Edward sembari menunjukkan sekotak susu kepada Rayla.
Rayla mengangguk dengan semangat, "Rasa cokelat ya."
Edward mengangguk, kemudian mengambil beberapa roti dan juga beberapa makanan ringan lainnya.
"Yuk balik," ucap Edward setelah Ia membayar barang yang Ia beli.
Rayla mengerutkan keningnya bingung, "Lo gamau makan di kantin?"
Edward menggelengkan kepalanya, "Gue tau lo risih kalau diliatin pas lagi sama gue. Kita makannya di kelas aja."
Rayla mengangguk setuju, "Terus, tujuan lo ngajak gue ke kantin buat apa?"
"Biar gue ada temennya," jawab Edward santai.
Rayla mendengus, "Kan bisa ajak yang lain."
"Gak seru, mereka gak bisa di jailin kayak lo," ucap Edward sembari menatap Rayla dengan tatapan menggoda.
Rayla geleng-geleng kepala, mendengar ucapan Edward. Memilih tidak menghiraukan, mereka pun berjalan beriringan menuju ruang kelas mereka.
Mereka berdua mengerutkan keningnya bingung, ketika mereka sampai dikelas, semua penghuni kelas nampak panik.
"Mereka pada kenapa?" tanya Rayla kepada Edward.
Perasaan tadi, ini kelas masih adem ayem. Kok sekarang, udah kayak orang yang dikejar rentenir buat bayar hutang.
"Gak tau," jawab Edward seadanya.
Ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, hingga netranya menangkap sosok Rifki yang saat ini berdiri dengan raut wajah panik di pojokan kelas.
Edward pun mengkode Rifki agar mendekat ke arahnya. Rifki yang paham dengan kode yang diberikan Edward pun, perlahan berjalan mendekat.
"Yang lain pada kenapa? Kok mukanya, pada panik-panik gitu?" tanya Edward setelah Rifki tiba dihadapannya.
Rifki menjawab ragu, "I-ituu."
"Itu apa?" tanya Rayla penasaran.
"I-itu."
"Ngomong yang bener, sebelum lo gue geplak!" ucap Edward galak.
Rifki berdecih, "Si Dean, gak sengaja mecahin jam dinding kelas."
Edward dan Rayla melongo, mendengar ucapan Rifki.
"Kok bisa?" tanya Rayla.
"Si Dean, main lempar tangkep bola sama si Rio. Nah, pas si Dean ngelempar, si Rio gak fokus. Jadilah bolanya nyasar kena jam dinding terus pecah."
"Terus, yang lain kok kelihatannya panik banget?" tanya Rayla yang masih tidak mengerti, dengan penyebab yang membuat teman-teman sekelasnya begitu panik hanya dengan memecahkah sebuah jam. Padahal kan bisa beli lagi, di pasar loak juga banyak.
Rifki menepuk jidatnya, Ia lupa bahwa Rayla adalah murid pindahan.
"Itu jam legend Ay," jelas Rifki.
"Legendnya karena?"
"Itu jam dibeli sama wali kelas kita, dan harganya pun engga kaleng-kaleng."
"Hubungannya?"
"Wali kelas kita sayang banget sama itu jam, kita semua jadi takut, kalau wali kita tau itu jam dipecahin sama Dean, kita sekelas bakal kena imbasnya."
"Tinggal nerima konsekuensi," celetuk Edward yang daritadi hanya diam menyimak.
"Enteng banget tuh mulut bilang nerima konsekuensi," semprot Rifki.
Edward menggidikkan bahunya acuh. Memang benar kan, kalau sudah berani berbuat, harus berani menanggung konsekuensi yang kemungkinan besar akan terjadi.